
"A ... assalamu'alaikum, Pak. Permisi, urang Deden," ucap Deden gugup, suaranya tampak sedikit bergetar.
"Wa'aalikumussalam, paswordnya?" sebuah suara menjawab dari dalam, Deden belum berani mendorong pintu agar lebih terbuka.
Deden menunduk berusaha mengingat-ngingat, ia menarik napas panjang. Setelah mulai merasa yakin Deden mengangkat kepala dan membusungkan dadanya. "A- Alhamdulillah urang gak tahu, Pak. Sejak kapan ada passwordnya? Kok urang gak tahu?"
"Haha ... masuk-masuk, Den. Saya cuma bercanda. Emang saya akun fakebook pake password."
Deden membuka pintu ruangan, terlihat seorang pria berusia 40 tahunan tersenyum kearahnya. "Mungkin maksud bapak facebook," ucap Deden berusaha sesopan mungkin mencoba membenarkan. Ia tidak mau jiwa bar-barnya keluar begitu saja, bisa-bisa seluruh penghuni kebun binatang merasa terpanggil olehnya.
"Saya gak bisa bilang facebook," ucap Pak Wiryo, pria yang tadi berbicara, ia memperbaiki letak kacamatanya sambil mengisyaratkan Deden untuk duduk.
"Lah, itu apa, Pak?"
"Itu kan contoh." Deden hanya mengangguk paham, ia tak ingin terjadi tawuran antar individu dimulai.
Tidak ada guru lain di dalam ruangan, apalagi meja Pak Wiryo berada di pojok ruangan dan bersekat triplek tipis sehingga orang lain tak dapat melihat dan mengetahui apa yang dikerjakannya.
Deden melangkah mendekat, ia sudah menyiapkan mental dan pikirannya bersiap mendapat pertanyaan. Deden duduk menghadap Pak Wiryo yang masih sibuk menulis di bukunya. Mejanya terlihat rapi dengan beberapa buku tersusun dan alat tulis yang tersimpan pada tempatnya.
"Sesuatu yang melekat ketika dipakai. Menyamarkan yang disembunyikan, menampilkan kepalsuan. Seperti sebuah hasil penggandaan, tetapi berbanding terbalik dengan kenyataan," ucap Pak Wiryo sambil terus fokus menulis pada buku di hadapannya.
Deden melongo tak percaya, baru saja sedetik yang lalu ia duduk, Pak Wiryo sudah memberinya sebuah teka-teki. Alasan para siswa termasuk Deden takut di panggil ke ruang BK bukan karena gurunya yang galak dan terkesan kejam, tetapi Pak Wiryo ini adalah orang yang penuh teka-teki. Para siswa diharuskan menjawabnya atau mereka akan mendapatkan konsekuensinya. Beruntung orang yang memiliki IQ tinggi hingga bisa menjawabnya, bagaimana jika yang dipanggil malah sudah menjual separuh otaknya? Bagaimana nasib mereka? Apakah ginjal mereka akan dijual? Ataukah mereka akan di asingkan ke planet pluto?
"E- eh, itu. Otak urang ketinggalan di kolong meja, urang ambil dulu ya, Pak." Deden sudah beranjak dari duduknya, tetapi ia dicegah oleh jurus seribu bayangan, eh ... bukan-bukan maksudnya jurus lemparan pulpen Pak Wiryo. "Aduh ...." Deden meringis saat sebuah pulpen mendarat telak di kepalanya.
"Kamu kira upil, ada di bawah meja! Balik duduk," ucap Pak Wiryo tegas, Deden kembali berbalik. "Jangan lupa, tolong ambilin pulpen saya yang tadi."
"Tolong, Pak. Kali ini aja, gak usah pake teka-teki," ucap Deden memohon, ia menunjukan mukanya yang di melas-melaskan. "Otak urang bisa-bisa ber-ucok, eh, ber-asep maksud urang. Ucok sama asep beda tipis lah, mereka sahabatan," ucap Deden gugup, ia kembali duduk di kursi berhadapan dengan Pak Wiryo. Tak lupa, Deden mengembalikan pulpen yang tadi menyakiti kepalanya, andai pulpennya adalah makhluk bernyawa sudah sedari tadi Deden sedot tintanya. Biar dia merasakan sakit yang sama seperti di kepalanya, kenapa malah nyalahin pulpen, ya?
"Ya bagus dong kalo berasap, kali aja bisa dipake buat ngasapin ikan Indos*ar. Kan enak tuh."
Deden menghembuskan napas pasrah. "Boleh tolong ulang, Pak. Clue-nya apa tadi?"
" Sesuatu yang melekat ketika dipakai. Menyamarkan yang disembunyikan, menampilkan kepalsuan. Seperti sebuah hasil penggandaan, tetapi berbanding terbalik dengan kenyataan," ucap Pak Wiryo mengulang teka-tekinya yang tadi. "Saya kasih kamu waktu 15 menit, kalau kamu tidak bisa menjawab. Saya akan menelpon orang tuamu dan memberitahukan kelakuanmu ketika di sekolah."
"Emang urang kenapa disekolah, Pak?"
"Tindakan percobaan merusak fasilitas sekolah, ketika kamu dan temanmu mencoba mengganti papan nama sekolah."
"Kan urang sama duo cunguk udah di hukum bersihin perpustakaan, Pak."
"Seminggu tanpa kehadiran dan tak memberi keterangan."
"Untuk yang itu, urang gak bisa jelasin alasannya, Pak."
"Membawa satu pasukan gank motor ke sekolah. Itu pasukan gank motor atau kamu mau buat negara baru?"
"Hehe ...." Deden hanya tersenyum merasa bersalah, ia tak bisa berkata-kata.
"Sering bikin konser dadakan di lingkungan sekolah."
__ADS_1
"Stop, Pak. Stop. Urang udah paham. Ternyata dosa urang banyak juga, pantes ini badan makin berat."
"Ayo jawab," ucap Pak Wiryo kembali mengingatkan teka-teki yang belum terjawab.
"Menyamarkan yang disembunyikan, menampilkan kepalsuan," ucap Deden mengulang kalimat pertama teka-tekinya, ia terlihat sedang berpikir. "Batok mimi peri!" jawab Deden sangat yakin.
"Bukan."
"Manohara KW 10?"
"Bukan."
"Cewek-cewek an?"
"Apa itu cewek-cewek an?"
"Ba*ci?"
"Bukan."
"Seperti sebuah hasil penggandaan, tetapi berbanding terbalik dengan kenyataan," ucap Deden beralih ke kalimat berikutnya, dahinya semakin berkerut memikirkan jawaban.
"Lama banget kamu jawabnya! Soal gampang gitu."
"Gak ada bantuan ya, Pak? Pilih tirai satu atau amplop di kantong saya. Gitu kek, Pak."
"Kamu kira ini kuis."
"Mending kalo kuis dapet dua juta rupiah dipotong pajak, urang jawab ini, gak dapet apa-apa."
"Metong dong urang, Gak etis banget cara matinya."
"Kamu nyerah?"
"Belum, Pak. Hingga tersisa batang otak terakhir urang gak bakal nyerah."
"Tapi waktu kamu sudah habis." Pak Wiryo mulai melakukan panggilan di telepon, ia menunggu beberapa waktu hingga panggilan tersambung.
Deden tampak terkejut saat panggilan dapat tersambung, ia memperhatikan Pak Wiryo yang tampak berbincang dan menjelaskan suatu hal, sesekali juga Pak Wiryo menyebutkan namanya.
"Nih, Den. Ayah kamu," ucap Pak Wiryo memberikan telpon ke arah Deden.
Sekilas Deden menunjukan wajah penuh emosi, ekspresi riangnya dengan segera menutupi kilatan marah yang terlihat di matanya dalam sepersekian detik.
"Cunguk black sianida, passwordnya?" ucap Deden membuka pembicaraan di telepon, wajahnya tak henti-hentinya menampilkan senyuman lebarnya.
"Ya benar! Maneh mendapatkan karma selama dua kali puasa dan dua kali lebaran. Selamat bang Toyib! " ucap Deden yang langsung menutup sambungan.
* * * * *
"Key, lo kenapa belom nerima Deden jadi pacar lo, sih?" tanya Viera mengalihkan perhatian Key dari novelnya.
__ADS_1
"Bagi gue Deden masih terlalu misterius, gue belum kenal dia sepenuhnya," jawab Key menatap Viera serius.
"Emang itu yang sebenarnya atau karena lo yang masih menampik perasan lo?"
"Gak, gue masih ingin kenal dia lebih jauh."
"Jadi sebenernya lo suka sama Deden gak, sih?"
"Gue suka, dan sepertinya gue udah jatuh."
"Jatuh cinta?"
"Bukan, gue udah menjatuhkan hati gue pada orang yang belum gue pahami betul. Gue takut kalo gue belum memahami dia sepenuhnya, dia akan pergi dan gue gak akan bisa bangkit."
"Kata-kata lo! udah kayak di grup 'quotes baper 2k20' di aplikasi chat gue," ucap Viera tertawa. "Tapi bagus sih, gue jadiin status ya?"
"Terserah lo, Ra. Gue gak peduli."
"Eh, Key. Si Kafan chat gue, dia ngajak nonton mereka tanding antar sekolah nih nanti. Lo ikut gak? Deden juga kayaknya ikut main sih."
"Kafan siapa?"
"Bebep gue."
"Najis amat, lo."
"Ish, lo sih gak tahu rasanya kasmaran."
"Jijik tahu, Ra."
"Jadi gimana ikut, gak?"
"Gue sih ikut-ikut aja. Tapi bukannya Deden jarang latihan ya? Waktu itu gue sekali doang nemenin dia."
"Cie ... tahu banget sih."
"Diem deh, Ra."
"Eh katanya lo di bully Zea, emang bener?"
"Gak salah tuh? Seorang Key di bully?"
"Oh iya bener, Lo kan nyeremin," ucap Viera yang langsung mendapat tatapan tajam dari Key.
* * * * *
Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂
Ada yang tahu gak nih apa jawaban teka-tekinya? Kalo tahu aku kasih ....
Urang \= Saya
__ADS_1
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan Rate bintang lima yaa ... See you next part.