Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Kesalahan


__ADS_3

"Hah ... dunia jahat, ya. Bahkan baginda papa benci sama gue," ucap seorang siswa bersandar di motornya.


Jam-jam segini, seharusnya siswa sudah masuk dan belajar di sekolah. Namun, tidak dengan kedua siswa yang duduk di motornya masing-masing sembari menunggu seseorang. Mereka berbincang di dekat taman, masih mengenakan seragam sekolahnya yang bertuliskan Abbundan junior high school di dada kiri mereka.


"Bukan dunia yang jahat, Kafa, tapi orang-orang yang menuhin dunia ini dengan dendam, amarah, benci, yang buat kita membenci dunia." Seorang siswa lainnya yang memiliki tahi lalat di bawah mata sebelah kiri membalas ucapan temannya.


"Seenggaknya gue beruntung punya sahabat kayak lo sama Juna. Kalian buat gue sesaat lupa tentang kehidupan yang mengenaskan."


"Gue juga beruntung, karena ketemu sama kalian. Seenggaknya gue gak usah pake bahasa inggris setiap ngobrol." Siswa itu terkikik geli, terlihat lesung pipit di kedua pipi ketika ia tertawa.


"Rayyan!" panggil Kafa sedikit menyentak.


"Oyy! Kita deket kali gak usah teriak," timpal Rayyan sedikit kesal.


"Lo tahu, kan, mata gue?"


"Kenapa mata lo? Ada beleknya?" Rayyan tertawa keras.


Kafa memukul kepala Rayyan keras hingga berbunyi. "Si-alan! Gue nanya serius juga."


"Nama gue Rayyan bukan Alan, jadi harusnya si-Rayyan bukan si-Alan." Rayyan lagi-lagi tertawa.


"Gue jitak juga lo!"


"Iya ... gue tahu. Itu mata ibu lo, 'kan?" tanya Rayyan menghentikan tawanya. "Lo cuma cerita tentang mata lo doang."


"Iya, gue rasa gara-gara mata ini baginda papa natap gue selalu dengan amarah," ucap Kafa menghela napas. "Pas kecelakaan, baginda mama berusaha ngelindungi gue, tapi percuma, kita berdua tetap terluka. Baginda mama meninggal, waktu itu gue menghampiri baginda mama dengan mata buram. Gue terlempar lumayan jauh, kirain mata gue cuma buram biasa ternyata awal dari kebutaan."


"Terus?" tanya Rayyan penasaran akan kelanjutan cerita.


"Baginda mama kayak tahu gitu aja. Baginda papa dateng, Baginda mama minta baginda papa buat donor matanya ke gue. Gue berharap saat itu baginda mama cuma tidur, ternyata dia gak pernah bangun lagi." Kafa menghela napas untuk kesekian kalinya. "Hah ... entah kenapa gue pengen cerita sama lo. Gue terus-terusan inget kejadian itu."


"Nah, karena lo udah cerita ke gue, giliran gue cerita," ucap Rayyan mulai serius.


Kafa menaikkan sebelah alisnya, sedikit kebingungan. Namun, sesaat kemudian ia mengangguk.


"Mama Rena depresi kehilangan papa. Setiap hari dia manggil gue Gilbert, dia nganggap gue suaminya."


"Eh? Terus gimana?" Kafa terkejut mendengarnya.


"Awalnya gue biasa aja, tapi akhirnya gue beraniin diri buat jujur kalo gue anaknya. Mama Rena gak percaya, gue dipukul beberapa kali sampe berdarah, gue diem." Rayyan tersenyum hingga lesung pipitnya terlihat. "Akhirnya, sekarang dia nerima gue perlahan."


"Happy story, terselesaikan dengan baik," timpal Deden sambil tersenyum.


"Lega bukan?" tanya Rayyan. "Ketika lo cerita, seenggaknya beban di hati dan pikiran lo sedikit berkurang. Makanya gue kadang cerita ke seseorang, termasuk sama lo."


Kafa mengangguk. "Ya ... gue ngerasa lebih baik."


"Gimana kalo gank motor kita ngadain acara rutin buat curhat?" ucap Rayyan memberi saran.


"Phoenix?" Kafa tertawa. "Cuma gue, lo, sama juna aja dibilang gank," lanjut Kafa masih tertawa.


Rayyan menggeleng. "Walaupun cuma tiga orang, dengan berbagi cerita kita bakal semakin kuat. Mungkin aja anggotanya nambah."


"Ya ... bolehlah," timpal Kafa seadanya. "Si Juna kemana, sih? Niat bolos gak dia?"

__ADS_1


"Gak tahu tuh anak ke mana." Rayyan melihat sekeliling, mencari seseorang. "SMA-nya bareng lagi, yuk? Bentar lagi, kan, kita lulus."


"Ogah, gue satu sekolah lagi sama lo!" ucap Kafa sarkas. "Jauh-jauh sana!" Kafa mengusir pelan dengan tangan.


"Dih, gue sakit hati tahu!"


"Emang lo punya hati?"


Rayyan mendecih kesal. "Gue bacok juga lo!"


"Gue bosen, nih. Balapan, yuk? Kalo lo menang gue bakal ikutin lo ke mana pun!"


"Sekolah bareng terus? Lo bakal ngikutin gue ke WC juga?" Rayyan tampak berpikir, Kafa kembali memukulnya keras. "Bahaya tapi, kayaknya lalu lintas di sini gak memungkinkan."


"Cemen lo!"


"Heh! Kita masih SMP kelas tiga. Kita bisa naek motor gede aja masuk kategori nakal. Harusnya kita tuh naek sepeda, naik kaki, naik unicorn, naik haji."


"Rayyan cemen ... kayak cewek ...." Kafa mengejek sambil berjoget tak jelas.


Rayyan segera memakai helmnya. "Hati-hati lo kalah!" ucapnya tegas.


Seperti burung yang bebas dari sangkarnya, kedua murid itu saling kejar-kejaran mencapai kebebasan. Mereka tertawa lepas melawan angin yang melewati. Suara tawa mereka beriringan dengan suara knalpot dari masing-masing motor. Mereka saling mendahului, saling mengalahkan.


Kafa mempercepat laju motornya, jarum pada spidometer terus merangkak naik. Ia meninggalkan Rayyan di belakang.


Mata Rayyan seketika membulat, ia melihat jalan di depan terdapat persimpangan yang ditujukan hanya untuk menuju jalan satu arus. Sepertinya ada sesuatu yang sedang diperbaiki.


"Kafa pelan-pelan!" teriak Rayyan memperingati.


Terlambat, Kafa sudah terlalu jauh di depan. Kafa hanya fokus pada kecepatan, ia tidak melihat sebuah mobil bus berukuran sedang yang datang ke arahnya. Siswa itu secepatnya membelokan stirnya ke samping, begitu juga sopir mobil bus yang terkejut.


"AAARGH!" Kafa meringis, kedua kakinya tertimpa motor sendiri. Sikut Kafa berdarah, begitu juga dengan pelipisnya. Bagian samping helmnya pecah, motornya juga lecet bergesekan dengan aspal jalanan.


Rayyan menghentikan motor di sembarang tempat, ia membuka helm dan segera berlari mendekat menuju tempat kecelakaan.


Jalanan cukup sepi karena memang saat ini jam kerja dan sekolah sudah di mulai. Rayyan bingung hendak meminta tolong siapa.


"Kafa lo gak apa-apa?" tanya Rayyan terlihat khawatir.


"B- busnya," ucap Kafa meringis tertahan, ia menunjuk bis yang berada beberapa meter di depannya.


Rayyan mengangguk, ia berlari menuju bus yang terguling. Pintu bus terbuka, posisinya berubah di atas. Siswa berlesung pipit itu loncat dan masuk ke dalam.


"Bagi yang masih bisa berjalan. Cepat keluar!" teriak Rayyan memerintah.


Beberapa orang tertatih-tatih keluar dari bus. Sekitar lima orang terluka parah, hingga hanya bisa berteriak kesakitan.


Rayyan bingung, ia tak tahu harus berbuat apa. Dia melihat seorang siswi dengan napas terengah-engah, sekujur tubuhnya penuh darah, tangannya juga terkena serpihan kaca. Seragamnya persis seperti yang Rayyan kenakan, Rayyan kenal, dia adik kelas di sekolahnya.


"Uhukk ... uhuk," siswi itu menangis, sekujur tubuhnya terasa sakit. "Help me!" Dia merintih dengan tatapan memohon.


Rayyan terkesiap, ia segera memapah siswi tersebut agar keluar.


"Come on, i will help you."

__ADS_1


Rayyan terus memapah siswi yang kesulitan berjalan itu menuju tempat Kafa di dekat trotoar. Tangannya mulai ikut berlumuran darah.


"Kafa? Lo butuh bantuan?" tanya Rayyan panik dan kebingungan.


"Gue oke," jawab Kafa menahan rasa sakitnya.


Rayyan kembali ke dalam bus ia kembali membawa korban dengan luka yang cukup parah.


"AAARGHH!" Sekuat tenaga Kafa menjauhkan motor dari kakinya. Keringat bercucuran di dahi, berkali-kali Kafa mengerahkan seluruh tenaga agar kakinya terbebas.


"Rayyan!" teriak Kafa melihat Rayyan yang kembali sambil membopong seorang anak kecil.


Kaki Kafa sudah terbebas, tapi sakit menjalar dari ujung kakinya hingga pinggang.


"R- Rayyan," ucap Kafa memanggil, ia berusaha berdiri tapi kakinya sangat sulit di gerakkan. "Kaki gak guna! Gue gak guna!" cerca Kafa berbicara sendiri.


Rayyan kembali ke tempat bus berada, asap yang keluar dari bus semakin pekat.


"Me ...." Seseorang terdengar merintih dari bus bagian belakang, tangannya terangkat meminta pertolongan.


Rayyan terkejut melihat seorang pria tua yang terjepit di antara kursi, hanya kepala dan tangannya yang berdarah terbebas, hampir seluruh tubuhnya terperangkap.


"Ayo! Ayo! Ayo!" ucap Rayyan berulang kali, ia berusaha mengangkat kursi. Beberapa kali ia gagal, ia juga kesal hingga menendang dan memukul kursi di dekatnya.


"Ayo! Sebentar lagi!"


"Rayyan! Keluar!" Suara teriakan Kafa terdengar panik, ia memanggil Rayyan yang masih menyelamatkan orang lain di dalam bus.


Asap yang keluar semakin menebal, percikan api mulai terlihat. Kafa yang melihat semakin kalut dibuatnya. Apalagi ketika Kafa menyadari tangki bensin yang bocor dan bensinya mengalir di dekat bus.


"Rayyan! Busnya bisa meledak!" Suara Kafa terdengar serak, teriakannya semakin keras.


"Ayo! Sedikit lagi! Ayo!" Rayyan masih berusaha mengangkat kursi yang menjepit korban. Urat di lehernya terlihat, rahangnya juga mengeras. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh Rayyan.


Kafa memukul-mukul kakinya yang tak dapat digerakan. Ia kesal, merasa dirinya tak berguna. Tangan Kafa gemetar, ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.


Rayyan datang, membawa korban lainnya yang berdarah, penuh luka. Dibaringkannya korban tak sadarkan diri di sebelah Kafa.


Sirine mobil pemadam kebakaran mulai terdengar, orang-orang yang tak sengaja lewat segera menghubungi pihak berwajib dan mulai berkerumun.


"Jangan kembali ... jangan! Kumohon!" pinta Deden serius, ia menahan lengan Rayyan yang hendak kembali ke dalam bus.


"Hiduplah dengan baik," ucap Rayyan tersenyum, ia kembali berjalan ke dalam bus, mencari korban lainnya.


Tersisa satu korban atau lebih tepatnya mayat. Rayyan bersikukuh untuk membawanya, ia harus menyelamatkan semua orang. Walaupun orang tersebut sudah tidak bernyawa, setidaknya keluarganya dapat melihat untuk terakhir kali.


"Rayyan!"


DUARR!


Bus meledak kobaran api menyelimuti Rayyan yang menghilang dibaliknya. Deden menangis, ia benar-benar tak berguna.


Mobil berwarna hitam datang dan berhenti dekat dengan Kafa. Dua orang berjas rapi segera membawa paksa Kafa dan mengangkutnya ke dalam mobil.


"Enggak! Rayyan! Selamatin sahabat gue! Selamatin dia! Gue bilang selamatin Rayyan breng*ek! Selamatin dia!" ucap Kafa berusaha memberontak.

__ADS_1


Seorang siswa berseragam mirip dengan Kafa melihat dari kejauhan tatapannya terlihat nanar. "Apa yang sebenernya terjadi, Kafa?" lirih Juna.


* * * * *


__ADS_2