
"Lo pernah suka sama Zea?" Deden tampak diam sejenak, ia menatap Key yang balik menatapnya penasaran.
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?"
"Ma-u ta-hu," ucap Key mengeja.
"Pernah."
Mata Key membelalak tak percaya, ternyata Deden pernah menyukai Zea. Namun, mengapa hingga detik ini mereka tidak pacaran. Apa mungkin mereka pernah pacaran dan putus, kemudian menjadi mantan tetapi tidak saling menjatuhkan. Hubungan mereka tampak baik-baik saja.
"Kalo sekarang?" tanya Key kembali, ia sedikit ragu menanyakannya.
"Sekarang apa?" Deden balik bertanya.
"Lo ... masih suka sama Zea?" Key mengigit bibir bawahnya gusar, hatinya tak karuan saat akan mendengar jawaban.
"Yakin maneh mau tahu?"
Key mengangguk-anggukan kepalanya seperti anak kecil. Deden menatapnya semakin intens, berpikir apakah ia harus memberitahukan Key atau tidak.
"Masih," jawab Deden datar.
Hati Key tiba-tiba terasa perih mendengar jawaban Deden. Seakan waktu berhenti sejenak, sekeliling Key terasa sunyi. Tak ada suara. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
"Kenapa lo gak sama Zea aja? Kenapa lo malah deketin gue? Apa lo berniat jadiin gue pelampiasan?"
Entah kenapa ia merasakan sakit didadanya, matanya mulai berkaca-kaca. Walaupun begitu Key memperlihatkan senyumannya. Dugaan Key benar, walaupun Deden sudah lama mendekatinya tapi setiap ia melihat kedalam mata Deden seakan mengatakan bahwa hatinya bukan untuknya. Itu alasan kenapa selama ini Key masih enggan menerima Deden.
"Urang juga gak tahu Key, yang jelas sekarang urang pengennya suka sama maneh,"
"Jadi sampe sekarang itu masih sebuah keinginan. Rasa suka lo didasarkan dari sebuah keinginan." Key mengangguk paham menegaskan, ia masih tersenyum menahan air matanya yang memaksa keluar. "Apa lo gak pernah berpikir sebelumnya. Gimana rasanya kalo misalkan nanti gue udah terlanjur suka sama lo, tapi hati lo bukan buat gue."
"Urang gak tahu," jawab Deden sendu.
"Jadi sebenernya apa tujuan lo deketin gue?"
"Urang gak tahu."
Key mendongakan kepalanya ke atas, menahan agar air matanya tak turun. Sakit, sangat sakit hatinya.
"Gue minta lo gak usah deketin gue lagi ya, please." Key memohon menampilkan senyuman termanisnya.
"Tapi kenapa, Key?"
"Gue takut." Key mengahapus air matanya sebelum berhasil meluncur di pipi. "Gue takut, saat ini gue udah mulai suka sama lo."
"Karena cukup saat ini gue dengar lo masih suka sama Zea, hati gue udah cukup ngerasa sakit." batin Key melanjutkan ucapannya.
Deden tampak berpikir sejenak, menatap wajah Key yang menahan tangis. "Kalo itu kemauan maneh, urang bakal berhenti deketin maneh."
Seharusnya Key tidak pernah membuka hati, seharusnya Key membiarkan perasaannya membatu.
__ADS_1
"Maaf, urang gak bakal ngulangin lagi. Gak bakal deketin maneh lagi. Maaf. Jangan nangis." Sepertinya alasan Deden mendekati Key selama ini memang salah. Ia bahkan sudah melukai hati Key. Namun, Deden masih enggan memberitahu alasan sebenarnya. Belum saatnya.
Key tersenyum melihat cowok dihadapannya, merubah ekspresinya menjadi bahagia. Ia menghapus sisa air mata yang sedari tadi berusaha menerobos keluar
"Untuk hari ini, ayo kita lanjutin kencannya sampai akhir. Seperti gue yang belom tahu apa-apa."
Key berdiri semangat. Deden mengangguk ikut berdiri menatap Key dengan senyum yang sarat akan kesedihan. Ia masih berpikir, ternyata keputusannya untuk berusaha menyukai Key salah.
"Es krim gue jatoh, terus meleleh." Key menunjuk es krimnya yang sisa separuh di bawah kursi, sedangakan milik Deden dari awal sudah habis.
"Mau beli lagi?" tanya Deden menawarkan sambil tersenyum. Key menggeleng pelan.
Sepertinya alam berusaha mewakili perasaan kedua orang yang memasang wajah bahagia, menunjukan jika sebenarnya hati mereka tengah terluka. Entah luka karena sekarang tahu kebenaran yang selama ini ia pertanyakan, atau luka karena alasan yang sungguh belum bisa di ucapkannya.
Hujan gerimis mulai membasahi keduanya. Dari rintik yang tadinya renggang mulai merapat.
"Kita neduh dulu ya." ucap Deden menawarkan.
"Kita pulang aja ya."
"Nanti kita kehujanan, urang gak mau maneh sakit."
"Gue pengen hujan-hujanan."
Motor ninja merah itu membelah jalanan menantang hujan. Alasan Key ingin hujan-hujanan sebenarnya karena ia tak kuat ingin menangis tetapi tak ingin Deden melihatnya. Bersamaan dengan turunnya air hujan Key menetekan air mata yang sedari tadi ia tahan, ia membekap mulutnya tak ingin terdengar isakan.
"Zea juga suka sama lo," ucap Key setelah sampai didepan teras rumahnya, tubuhnya basah kuyup sama seperti Deden.
Satu hal yang Key tidak paham, Deden menyukai Zea, Zea juga menyukai Deden. Terus apa masalah diantara mereka?
* * * * *
Key menyelimuti dirinya sambil menonton TV, setelah sampai tadi ia segera mandi agar tidak sakit seperti yang Deden perintahkan. Pikiran Key masih mengingat percakapannya dengan Deden, percakapan yang membuat hati Key sakit.
"Kamu sakit, Key?" tanya bunda Devi melihat putrinya yang memakai selimut.
"Gak apa-apa, bun."
"Bagas?" tanya Bunda Devi menebak. Ia memeluk Key dan mengelus pelan kepala putrinya. Key menggeleng sebagai jawaban.
"Deden?" Key mengangguk pelan, membenamkan kepalanya di tubuh Bunda Devi. Isak tangisnya mulai terdengar, sebuah tangisan yang penuh akan luka.
"Seharusnya Key gak usah tanya, biarin Key gak tahu aja." Key berbicara sambil menangis sesenggukan.
"Kamu suka sama Deden?"
"Gak tahu, bunda."
"Sakit?" tanya Bunda Devi Key mengangguk di sela-sela tangisannya.
"Kalo kamu ngerasa sakit, berarti kamu suka sama Deden."
__ADS_1
"Gak bisa. Deden gak suka sama Key." Tangisan Key semakin kencang, semakin erat juga ia memeluk bundanya.
"Kamu tahu itu dari mana?"
"Deden yang bilang, dia suka Zea."
"Terus kamu maunya gimana?"
"Key mau nangis aja."
"Tapi gak ada yang jualan nangis disini, sayang" Key sontak tertawa mendengarnya.
"Bunda ... Key lagi khusyu nangis juga."
Bunda Devi mengusap kepala Key lembut, sentuhan yang menenangkan.
"Bunda gak akan ikut campur urusan kamu, kamu yang harus menentukan dan memilih."
Key menantap wajah bundanya yang sedang tersenyum, ia tersenyum balik.
"Key udah nyuruh Deden pergi jauh-jauh."
Bunda Devi menautkan alisnya kebingungan. "Kalo Deden pergi beneran, emang kamu nanti gak kangen?"
"Emang Deden pergi kemana, Bunda?"
"Harusnya kamu jujur sama diri sendiri."
Arkan terlihat tergesa menaiki tangga menuju lantai atas, tetapi langkahnya terhenti sesaat ia melihat Key dan Bunda.
"Kak tahu gak? Tadi ada kecelakaan di perempatan deket rumah kita, tabrakan. Gue lihat motor ninja merah yang keren hancur disana, sama mobil truk yang berasap."
"Motor ninja merah?"
* * * * *
Deden melajukan motornya tergesa setelah ia mengantarkan Key pulang. Notifikasi di ponselnya membuat Deden terkejut. Ia kalut dan terus saja menekan gas motornya hingga menyentuh angka 120km/jam. Jalanan sore itu cukup licin, banyak kendaraan berlalu-lalang.
Deden kehilangan Kendali saat hendak berbelok di perempatan.
Brakk ....
[Gelap]
* * * * *
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, vote, komen, rate bintang lima dan klik favourite yaa gaes. See you next part.
__ADS_1