Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Best Friend


__ADS_3

"Sahabat kemarin, sahabat hari ini, sahabat untuk esok, dan sahabat untuk selama-lamanya."


~   ~    ~     ~     ~


"Halo duo cunguk! Gimana kabarnya? Masih bernapas dengan dua lubang hidung?" Deden menyapa kedua sahabatnya, tetapi sapaannya tak digubris oleh mereka.


Sudah tiga hari sahabatnya itu menjauhi Deden dan tak memperdulikannya. Sebenarnya Deden bisa berteman dengan siapa saja, bahkan para siswi akan setia 1×24 jam wajib lapor jika Deden memintanya. Sebentar, sebenarnya ini Deden apa Pak RT ya? Yasudahlah. Bagi Deden sahabatnya ini adalah segalanya, mereka tak pernah bersikap sok baik atau cari muka terhadapnya, dan terutama mereka tak pernah bersikap munafik. Mereka juga mau bersahabat dengannya apa adanya.


"Yo! Vino, Apa warna kolor hari ini?" Deden masih mencoba mengalihkan perhatian duo cunguk yang sedang asyik main saling jambak-jambakan duduk di bangku paling depan kelasnya.


"Gibran ... Mamah masak nasi dirumah? Beras masih banyak kan?" tanya Deden beralih pada Gibran. Deden ini sebenarnya pemerintah atau apa? Mengapa ia bertanya pasal beras? Apa kalo beras di rumah Gibran sudah habis Deden akan memberikan 'Kartu Orang Rindu Enaknya Nasi Gratis' disingkat KORENG? Eh ... kenapa malah kesitu.


"Siapa dia, Vin?" tanya Gibran yang sekarang menatap Deden bingung.


"Gak tahu. Gue liat diberita kemarin sih katanya ada orang utan yang lepas dari kebun binatang," jawab Vino enteng, Deden hanya terkejut mendengarnya.


"Jadi ini orang utan, Vin? Nama orang utannya siapa katanya?"


"Katanya sih namanya Kafa."


"Keren amat nama orang utannya, udah punya anak belum katanya?"


Deden hanya diam memperhatikan kedua cunguk berbincang, kepalanya tertoleh ke kanan dan kiri mengikuti suara orang yang berbicara.


"Udah, bran. Anaknya udah dua, gue jadi kasian sama keluarganya yang ditinggal gitu aja."


"Jahat bener tuh orang utan."


"Istrinya juga dicampakan, bran. Masa istrinya bilang sayang malah dibikin nangis," ucap Vino menerangkan.


"Sumpah, sadis tuh orang utan."


"Iya kan? Padahal dia mati-matian supaya dapetin istrinya, giliran udah dapet malah disakitin."


"Kenapa tuh gara-garanya?"


"Katanya sih orang utannya ikutan genk motor gitu. Terus jadi playboy."


Tunggu, tunggu. Ini hanya perasaan Deden saja atau cerita orang utan itu mirip kisah hidupnya? Lagipula darimana Vino mengetahui cerita tentang orang utan itu begitu mendetail? Dan lagi orang utan mana yang bisa naik motor sampe masuk gank seperti itu.


"Kayaknya kenal sama tuh orang utan," ucap Deden menunjukan wajah berpikir.

__ADS_1


"Vin, gue merinding. Kayak ada suara tapi gak ada wujudnya," ucap Gibran mengelus tenguknya.


"Iya gue juga denger, gue rasa sekarang kita jadi anak Indomie. Bukan-bukan, indigo maksud gue," timpal Vino celingukan seperti mencari sesuatu.


"Kalian kenapa sih? Gue kan bukan virus corona yang harus dijauhin," ucap Deden kesal pada dua sahabatnya. "Kalian masih anggap gue temen gak sih? Gue juga bisa kali cari temen baru."


"Lo yang kenapa? Temen kita itu Deden bukan Kafa!" Gibran mulai emosi, wajahnya sudah memerah menahan marah. "Temen kita itu Deden dengan ciri khasnya yang selalu bilang urang-maneh. Bukan malah gue-lo. Dia juga paling anti sama yang namanya nangisin cewek." Rahang gibran mengeras tangannya terkepal keras.


"Sabar, bran. Sabar," ucap Vino menenangkan.


Para siswa jadi mengalihkan perhatian mereka pada ketiga sahabat itu, mereka sampai rela meninggalkan kegiatan yang tadi sedang mereka lakukan. Untung saja saat ini sedang jam pelajaran kosong, jadi guru tak datang untuk mengajar.


"Jadi cuman kalian gitu yang boleh bilang gue-lo? Diskriminatif macam apa itu?" ucap Deden mendecih sembari tersenyum sinis, ia juga mulai tersulut emosi hingga berbicara setengah berteriak tadi.


"Sabar, Den. Sabar," ucap Vino sekarang beralih menenangkan Deden.


"Gue kecewa sama lo, Den. Sikap lo berubah! Lo ... yang berubah jadi sampah." Gibran menghadap lurus ke arah Deden, ia memasang muka menantang.


"Sabar, bran. Sabar," ucap Vino kembali menenangkan Gibran.


"Lo gak tahu apa yang sebenernya terjadi. Lo tuh gak tahu apa-apa tentang gue. Itu artinya lo gak berhak nilai gue," ucap Deden tak kalah emosi.


"Sabar, Den. Sabar," ucap Vino sekarang kembali beralih menenangkan Deden.


"Sabar, bran. Sabar," ucap Vino lagi-lagi menenangkan Gibran.


"Lo jangan sabar-sabar mulu, Vin. Sebenernya lo mihak siapa?" ucap Gibran dan Deden bersamaan.


"Kalian yang kayak bocah! Kalian kira gue gak kesel sama kalian berdua?!" kini Vino yang tersulut emosi, dadanya naik turun tak beraturan. Ia berbicara sambil berteriak kencang, sampai-sampai ada siswa yang terkejut karenanya.


"Lo, Den. Kita itu sahabat lo. Kalo ada masalah jangan dipendem sendiri! Lo kira ada kita sebagai sahabat buat apa? Buat digantung dipohon toge gitu? Kalo lo ada masalah lo bisa cerita sama kita! Berasa gak berguna banget gue jadi sahabat." Vino sudah tidak bisa menahan emosinya, ia keluarkan seluruh keluh kesahnya pada Deden sambil menunjuknya. "Lo juga, bran. Harusnya denger dulu penjelasan Deden! Jangan main hakim dan nilai orang sembarangan! Setiap orang pasti punya alasannya masing-masing," ucap Vino yang sekarang beralih menunjuk Gibran.


Deden dan Gibran melongo tak percaya, seorang Vino ternyata bisa juga mengeluarkan kata-kata bijak. Mari beri tepuk tangan untuk Vino, seharusnya kita malah membuat tumpeng untuk syukuran.


Napas Vino terengah-engah setelah berteriak tanpa jeda. Tenggorokannya terasa kering, tapi ia senang karena telah mengeluarkan unek-uneknya.


"Sabar, Vin. Sabar," ucap Deden dan Gibran sekarang berbarengan.


"Eh?" Vino terkejut mendengarnya, sedetik kemudian ia ikut mengelus dadanya. "Sabar, Vin. Sabar," ucapnya pada diri sendiri.


"Mending sekalian, apa ada yang masih punya unek-unek lagi?" tanya Vino pada kedua sahabatnya, yang dijawab dengan gelengan. "Pokoknya setelah ini, kita harus saling jujur!" ucap Vino tegas.

__ADS_1


"Jadi gimana? Kita tetep sahabatan?" tanya Deden yang dijawab anggukan oleh duo cunguk.


Mereka membenturkan kepala mereka bertiga, hingga terdengar bunyi yang cukup keras. Untung saja kepala mereka tidak benjol, setelahnya mereka malah tertawa terpingkal-pingkal seperti tak pernah terjadi apa-apa.


Para siswa yang sedari tadi memperhatikan bertepuk tangan takjub, tepuk tangan itu semakin riuh ketika mereka mendongakkan kepala. Mereka hingga lupa kalo mereka sedang berada di kelas dan ditonton oleh banyak siswa.


*     *      *      *      *


"Hallo! Nama gue Arjuna Ghefandrata," ucap Juna tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada Key dan Viera.


Ia sedang duduk dibangku depan Key setelah berhasil mengusir pemiliknya. Tak henti-hentinya ia tersenyum hingga membuat para siswi memekik gembira. Ia berbalik ke meja Key dan menatapnya dengan serius.


"Viera," ucap Viera tersipu malu, ia menerima uluran tangan dari Juna.


"Dan lo?" tanya Juna yang sekarang beralih kepada Key yang tengah asyik membaca novel.


Viera yang paham akan tatapan Juna menyenggol bahu Key pelan.


"Gue gak mau kenalan sama lo. Gak penting," ucap Key melirik sejenak kepada Juna kemudian kembali fokus pada bacaannya


Juna menarik uluran tangannya yang kemudian sekarang ia lipat di atas meja menghadap Key.


"Haha, lo jutek. Tapi gue malah suka sama cewek jutek."


"Tapi gue gak suka sama lo."


"Terus siapa yang lo suka?"


"Deden," ucap Key singkat, padat dan jelas.


Viera yang disebelahnya terkejut mendengar jawaban Key. Sejak kapan Key jadi bar-bar akan perasaannya, dan lagi, apa ia tak sakit hati akan perlakuan Deden padanya tiga hari yang lalu?


"Deden? Maksud lo Kafa?"


*    *     *     *      *   


Halo semuanya! Apa kabar? Gara-gara ngetik ada virus coronanya jadi pengen nyampein ke kalian untuk selalu jaga kesehatan wkwk. Udah gitu aja.


Deden masih jadi Kafa ya. Jangan lupa sama kata,


Urang \= Saya

__ADS_1


Maneh \= Kamu


Jangan lupa juga untuk like, komen, vote, rate bintang lima dan klik favorit. See you next part.


__ADS_2