Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Siasat


__ADS_3

"Key!" Viera berteriak memasuki kelas, ia menghentak-hentakan kesal kakinya ke lantai.


Beberapa teman sekelas yang memang selalu datang pagi termasuk Key, sudah terbiasa dengan kebiasaan Viera yang satu ini. Jadi, mereka tidak terlalu peduli padanya.


Key mendongak malas, pikirannya penuh dengan Deden. Bukan-bukan, ia tidak ingin mengakui jika ia sedang memikirkan Deden. Dia tidak memikirkannya, tetapi ia sangat mengkhawatirkannya. Bukankah itu berbeda?


"Key ...." Viera mendudukan dirinya di bangku sebelah Key, matanya mulai berkaca-kaca.


Siswi yang sedari tadi dipanggil namanya tampak acuh, ia melihat ponselnya, berharap ada kabar dari orang yang telah membuatnya khawatir saat ini. Bagaimana tidak? Kemarin ia bolos sekolah, dan kemarinnya lagi ia pergi begitu saja dari rumah Key.


"Ish, Key ... dengerin gue, dong. Gue lagi galau, nih," pinta Viera memohon, menggoyangkan lengan Key pelan.


Key mengalihkan pandangan pada sahabat di sebelahnya. "Kenapa, Ra?" tanya Key tersenyum paksa.


Wajah Viera memerah, gadis itu berteriak, "Huwa ..., Key!" rengeknya menangis tiba-tiba.


"E- eh, kenapa?" Key panik melihat Viera menangis tiba-tiba.


Ingus yang meluncur itu Viera tarik kembali keperadabannya. "Gue putus sama Vino," ucapnya tersedu-sedu, air mata yang mengalir tak henti-hentinya ia hapus dari pipi.


"Kok bisa? Bukannya kalian baru jadian?" Key menyodorkan beberapa tisu dari dalam tasnya pada Viera.


Ekspresi Viera mendadak penuh emosi. "Iya, kan!" ujarnya meledak-ledak, mengacung-acungkan selembar tisu. "Padahal kita baru jadian 2 bulan 15 hari setengah. Apa coba pikiran si Kafan!"


"Kenapa kalian putus?" tanya Key mencoba menenangkan, gadis manis itu mengusap-usap punggung Viera pelan.


Mata Viera berapi-api. "Si cunguk itu, ya! Sering gak peduliin gue! Dia lebih mentingin game online sama temen-temen gank motornya daripada gue," ucap Viera kesal, tangannya terangkat ke atas. Mirip seperti pejuang kemerdekaan.


"Mungkin dia butuh hiburan, Ra," timpal Key.


"Gak bisa, Key. Kita juga udah beda kepercayaan," ucap Viera pelan, matanya kembali berkaca-kaca.


"Maksud, lo. Si Vino murtad?" Key terkejut mendengarnya.


"Ih, bukan! Gue tuh percaya kalo bumi itu bulat, dia malah percaya kalo bumi datar. Dia suruh gue liat atlas! Harusnya kan liat globe? Bener gue kan, Key! Dia tuh bener-bener nyebelin!" Viera memaki-maki cowok yang sekarang berstatus mantannya dengan semangat, dadanya naik turun karena emosi.


"Aish, bunuh sahabat dosa gak, ya? Jadi, mereka putus cuma gara-gara teori konspirasi?" cerca Key dalam hati.


Key tersenyum manis, masih berusaha menenangkan Viera. "Sabar ya, Ra, mungkin belom jodoh."


"Harusnya kita bisa pertahanin hubungan, Key!" bentak Viera.


Key meringis pelan. "Emang siapa yang ngajak putus duluan, Ra?" tanya Key ragu.


"Gue ...." Tangisan Viera kembali pecah. Suara isak tangisnya terdengar lebih keras daripada tadi.


Key menahan diri untuk tidak menimpuk orang di sebelahnya. "Sabar, ya, Ra. Sabar," ucap Key. padahal, justru, ia yang sedang mati-matian untuk bersabar.


"Gue sakit hati ...." Viera masih terisak, Key memeluknya dengan erat.


"Lo kan yang ngajak putus, Ra? Kenapa jadi lo yang paling tersakiti?" tanya Key kebingungan. Ia memang tidak paham, jelas lah, hubungannya dengan Deden saja sangat kering karena terlalu lama di gantung.


"Pokoknya dia nyebelin! Gue gak mau ketemu dia lagi! Kalo bisa tenggelemin itu anak ke segitiga bermuda!" ucap Viera ketus, tangisannya berangsur terhenti.


Bel masuk kelas berbunyi, mereka tidak sadar jika sebuah curhatan memakan waktu banyak, jadi disarankan jangan terlalu banyak curhat. Viera mengatur wajahnya agar kembali normal, mengusap semua bercak air mata di pipinya.


Para murid masuk tunggang-langgang ke kelas, beberapa ada yang jatuh, tersenggol dan terdorong-dorong. Key yang melihatnya meringis, takut akan terjadi pertumpahan darah tiba-tiba.


Bu Risma masuk menenteng buku paket Kimia bersampul cerah, berbanding terbalik dengan siswa-siswi yang menatap buku tersebut bagaikan novel horror pembunuhan.

__ADS_1


"Oke, anak-anak, karena minggu depan kita mulai ujian. Ibu akan memberi kalian beberapa soal latihan beserta pembahasan. Kalian perhatikan ke depan," ucap Bu Risma lembut, tetapi siswa yang mendengarnya seakan mendapatkan ancaman terror. "Beberapa dari kalian nanti ada yang maju untuk mengerjakan soal," lanjut Bu Risma.


Siswa di kelas mendadak panik, semuanya serentak membuka buku kimia untuk mempersiapkan diri. Tuh kan, benar-benar horror. Bu Risma mulai menuliskan soal di papan tulis, dengan gumam nyanyian yang justru semakin membuat para siswa merasa was-was seakan-akan diawasi.


Seorang siswa dengan baju seragam yang agak kebesaran mengendap-endap memasuki kelas, sesekali ia mulai merangkak. Ia berusaha menimbulkan suara sekecil mungkin agar tidak ketahuan oleh Bu Risma.


Siswa lain yang berada di dalam kelas, menatapnya penasaran. Beberapa ada yang memekik tertahan saat siswa yang baru masuk itu hampir ketahuan.


Siswa tersebut langsung duduk di jajaran sebelah bangku Key, ia meminta siswa yang tadinya duduk di situ agar pindah ke belakang, entah belakang mana. Dia duduk bersama Juna dan bersisian dengan Viera.


"Deden ngapain ke sini?" tanya Viera berbisik pada Key. "Cari mati, tuh anak. Bu Risma lagi ngajar juga," lanjutnya menggeleng-gelengkan kepala.


Key juga terkejut melihat Deden yang tadi mengendap-endap memasuki kelas. Dilihatnya Deden tengah serius membicarakan sesuatu pada Juna yang terus mengangguk-angguk. Sepertinya Deden titisan genderuwo, bahkan Bu Risma tidak menyadari saat Deden masuk kelas. Eh, tapi, mana ada genderuwo setampan dia.


Key terus saja memperhatikan Deden yang berbisik serius pada Juna, ia bahkan mengacuhkan Bu Risma yang menjelaskan cara pengerjaan soal. Setidaknya, rasa khawatirnya sudah berkurang saat melihat Deden baik-baik saja.


Key mencoba fokus pada bukunya, ia juga merasa takut jika harus di perintahkan maju ke depan. Masalahnya, Bu Risma ini memberi penjelasan dengan contoh yang mudah dipahami dan dimengerti. Sedangkan, memberi soal latihan yang seakan-akan, seperti menggunakan sandi morse yang di padukan dengan huruf yunani kuno untuk membuatnya.


Viera mendekatkan selembar kertas ke hadapan Key. Key menautkan alis kebingungan melihatnya.


"Dari Deden," ucap Viera tanpa suara.


Key membuka kertas tersebut, terdapat sebuah tulisan di dalamnya.


[Hallo, Princess.]


Dilihatnya Deden yang sedang tersenyum manis ke arah Key, Key menuliskan kalimat dan meminta Viera memberikannya pada Deden.


[Gue benci sama, lo!]


Mulai dari sekarang, Viera harus tabah menjadi kurir surat antar meja, menjadi perantara antara Key dan Deden. Sungguh, kasian nasibnya.


[Pergi sana ke Antartika!] Titah kalimat Key dalam suratnya.


[Ngapain?]


[Ternak bebek!]


[Urang ada salah, ya?]


[Lo tahu, gak? Gue tuh khawa (Tulisan di coret-coret) Makanya jangan nyari dosa mulu! Ngapain lo di sini?]


[Apaan tuh yang di coret? Urang ada urusan sama Juna.]


[Bodoamat!]


[Jangan jutek-jutek. Nanti cantiknya ilang, lho.]


[Bodo!]


[(Tulisna di coret-coret) Oh.]


[Apaan tuh yang di coret?]


[Urang suka sama maneh.]


[Basi!]


[Tapi cinta urang gak akan pernah basi.]

__ADS_1


[Gembel!]


[Nyari uang receh, dong?]


Key menahan tawa melihat surat mereka.


[Gue benci sama, lo!]


[Urangnya yang suka. Gimana dong?]


[Bodo!]


[Sekolahin dong.]


[Udah, ah.]


[Udah apanya? Jangan ambigu, Key.]


[Apasih, gak jelas.]


[Tapi rasa suka urang sama maneh, bener-bener jelas. Titik dua bintang.]


[Titik dua bintang?]


Key menerima kertas dari Viera yang sekarang tengah meregangkan tangannya karena pegal. Jelas saja, Viera harus bolak-balik memberikan selembar kertas. Beberapa kali Viera bahkan mendecih karena kesal melihat tingkah Key dan Deden. Mending kalo dia dibayar, sedangkan ini tidak.


[Itu tanda cium via tulisan.]


Key mengernyit membaca tulisan yang tertera, matanya membelalak kaget setelah memahaminya, detak jantung Key mulai tak teratur, gerakannya semakin cepat.


"Atau mau yang via kenyataan aja?" bisik Deden yang entah sejak kapan sudah duduk berada di sebelah Key.


"Aaaa!"


Plak!


Key yang terkejut secara refleks menampar Deden, bahkan hingga berteriak.


"Ada apa, Key?" tanya Bu Risma menghentikan penjelasannya.


Key melirik Deden yang mengelus pipi sambil menundukan kepalanya agar tak ketahuan.


"Itu ... ada. A- ada nyamuk, bu. Nyamuknya genit lagi mau cium saya," jawab Key menepuk-nepuk udara kosong.


"Oh, kamu mau di gigit nyamuk mungkin maksudnya. Jangan teriak-teriak! Digigit nyamuk paling cuma bikin bentol," ucap Bu Risma kembali melanjutkan pembelajaran.


"Tuh, kan. Paling cuma bentol." Deden kembali berbisik sambil menahan tawanya, Key yang mendengar hanya menatapnya tajam.


Mereka tidak tahu bagaimana perasaan nyamuk yang sebenarnya, karena malah ia yang di salahkan. Mungkin saja the real of nyamuk akan tersinggung.


*      *       *        *        *


Holla Semuanya! Makin gaje aja ni cerita😂 Jangan lupa kritik dan sarannya, ya. Author banyak salah. jadi marahin aja.


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


Jangan lupa like, komen, vote, klik favorit dan rate bintang lima. See you next part!

__ADS_1


__ADS_2