
"Key, kamu pulang sendiri?" tanya Bunda Devi melihat anak sulungnya yang memasuki rumah.
"Tadi dianter Kak Bagas, tapi Kak Bagas pergi lagi ke tempat Deden."
Key berjalan tak bertenaga, mendekati ibunya yang duduk di sofa menghadap televisi yang menayangkan acara masak.
"Bagaimana kabar Deden?" Bunda Devi tampak tak fokus antara menanggapi anaknya dan melihat acara televisi "Dia baik-baik aja?"
"Persiapkan alat dan bahan," ucap seorang koki perempuan cantik dalam acara.
"Deden baik-baik aja," jawab Key dingin dan datar. "Anak bunda yang lagi gak baik."
"Kenapa?" tanya Bunda Devi lagi sedikit memelankan suara di televisi.
"Potong dan cincang bawang kecil-kecil." Suara di televisi masih terdengar.
"Iya, bunda. Itu cowok emang harus dicincang sama dipotong-potong."
"Eh?" Bunda Devi menanggapi tak paham.
"Haluskan adonan kulit hingga kalis, dan diamkan sejenak."
"Emang tuh cowok harus diulek-ulek biar halus! Remukin semua tulangnya!" ujar Key kesal.
"Key?" Bunda Devi semakin tak paham.
"Bungkus tumisan daging dengan kulit dari adonan yang telah dibuat. Gunakan putih telur sebagai perekat."
"Mutilasi! Bungkus! Buang ke antartika kalo perlu! Gak usah pake telur! Cowok kayak gitu emang nyebelin!" ucap Key penuh emosi.
"Kenapa, sih, anak bunda?" tanya Bunda mengelus rambut Key pelan.
"Goreng dan tunggu hingga kecoklatan, kemudian tiriskan."
"Goreng! Bakar! Biarin biar gosong! Cowok kayak gitu buat apa? Bisanya cuma bisa bikin darah tinggi!"
"Risol isi ayam siap di santap." Koki di televisi menunjukan hasil masakan yang sudah jadi.
"Deden jelek! Siap di bully," ucap Key menirukan koki di televisi.
"Kenapa? Deden, ya?"
"Bunda ...." Key merengek memeluk bundanya seketika. "Deden jahat!"
"Kenapa, Sayang?"
"Masa tadi Key denger dia mau pindah," ucap Key mulai terisak. "Ke Amerika, Bun, dia gak bilang sama Key! Amerika, kan, jauh ...." Punggung Key gemetar isakannya berubah menjadi tangisan.
"Kamu denger dari siapa?" Bunda Devi mencoba menenangkan.
"Dokter Haidar ... sama papanya. Key tadi denger di rumah sakit," ucap Key semakin menangis.
"Kamu udah tanya sama Dedennya?"
"Belom! Abis ... tiap Key lihat mukanya, Key inget kata-kata papanya. Key jadi pengen nonjok Dedennya!" Tangisan Key semakin kencang.
"Kamu bicarain baik-baik sama Deden. Gak boleh marah sepihak gitu."
__ADS_1
"Bunda, kok, belain dia?"
"Bukan, gitu. Kalo kamu pake emosi, kan, kamu gak akan tahu kenapa Deden pindah."
"Iya, deh, Bunda," Key mengusap air mata di pipinya. "Bunda ... Key deja vu. Key pernah nangis gini, ya?"
"Pernah! Sama lagi, gara-gara Deden," ucap Bunda Devi terkikik pelan.
* * * * *
Ruangan rumah sakit tempat Deden dirawat lebih seperti kapal pecah. Bayangkan saja, setiap perawat yang masuk untuk memeriksa kondisi tubuh Deden, ia menatap tajam dan mendecih pada orang-orang yang berada di dalam. Ruangan Deden benar-benar mirip kapal titanic yang sudah menabrak gunung es. Siapa lagi pelakunya kalau bukan para cecunguk gesrek.
"Kalian pulang aja. Besok sekolah, gue yang akan nunggu Deden di sini," ucap Juna memberi usul.
Bintang-bintang sudah bertaburan di langit malam. Mereka menghabiskan waktu untuk bersenda gurau, hingga tak terasa waktu sudah berlalu begitu saja. Waktu sudah menunjukam pukul 10 malam, waktu jenguk sudah habis.
"Yah ... padahal gue masih kangen sama Deden," ucap Gibran sendu, wajahnya cemberut.
"Iya ... gue mau di sini aja," timpal Vino tegas.
"Heh! Ibu, bapak kalian gak nyariin? Berapa lama kalian di sini?" Bagas berujar menengahi. "Lagian besok bisa ke sini lagi!"
"Itu si Juna, di sini aja boleh!" Vino menanggapi tak terima.
"Dia, kan, sahabat Deden dari kecil!" ucap Bagas menjelaskan. "Udah biarin Deden istirahat."
"Gue bakal kangen kegesrekan lo, Den!" teriak Gibran serius.
"Jijik maneh! Pulang kalian sana!" titah Deden sambil tertawa.
"Dadah ... my friend," ucap Vino dramatis. Ia ditarik oleh Bagas keluar diikuti Gibran.
Malam sudah semakin larut, tapi Deden masih belum terpejam. Juna sudah manggut-manggut duduk di sofa karena mengantuk.
Pukul dua dini hari, udara terasa dingin walaupun berada di dalam ruangan. Orang-orang terlelap beristirahat, suasana terasa sangat sunyi.
Pintu ruangan terbuka, menampilkan seseorang berjas putih dengan wajah panik dan pucat.
"Ngapain maneh ke sini? Urang udah bilang, gak akan ketemu maneh lagi!" ketus Deden ketika melihat Haidar yang berdiri mematung di ambang pintu.
Juna seketika bangun, ia kembali terjaga. Alisnya berkerut bingung ketika melihat Haidar yang hanya berdiri mematung.
"Nyonya Rena!" ucap Haidar panik.
"Mama Rena?"
Perasaan Deden tak enak, ia segera turun dari ranjang dan melepas infusnya dari tiang penyangga.
"Apa? T- tante Rena ada di sini? Mamanya Rayyan?" Juna semakin dibuat terkejut.
Deden berlari keluar kamar, tak lagi meminta penjelasan dari Haidar. Kantong infus terseret seperti mobil-mobilan yang ditarik anak kecil. Deden tak peduli, jika ia menarik selang infus dari dari tangannya seperti di film maka akan menimbulkan luka dan robek kulitnya. Jadi, Deden hanya menariknya agar mengikuti.
Pintu ruangan Rena tertutup, Dokter dan perawat sedang berusaha menanganinya.
Haidar dan Juna ikut melongok kedalam ruangan. Sepertinya keadaan sangat keos di dalam.
"Jelasin ke gue. Apa ini?!" bentak Juna menarik kerah baju Deden. "Kenapa Mama Rena ada di sini?!"
__ADS_1
"Maaf," ucap Deden menunduk.
"Ngomong! Gue gak butuh maaf dari lo!" Juna semakin mengeratkan cengkramannya.
"Gue minta maaf, maaf. Gue gak tahu harus ngomong apa, tapi ... maaf," lirih Deden semakin menundukkan kepala.
"Gue bilang gue gak butuh permintaan maaf lo!"
Deden menarik napas panjang, sesingkat mungkin ia menjelaskan kejadian sebenarnya pada Juna. Wajah Deden terlihat menyesal, sesekali ia merutuki dirinya sendiri. Juna tampak terkejut dan terpukul, tatapan benci seketika ia layangkan pada orang di hadapannya.
"Siapa walinya?" Seorang dokter berperawakan tinggi dengan rambut sedikit memutih keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan nyonya Rena, Dokter Adam?" tanya Haidar yang baru saja menyusul. Di perjalanan menuju ruangan Rena ia agak tersendat tadi.
"Maaf-"
"Jangan minta maaf!" bentak Deden setengah berteriak. "Tanganin Mama Rena cepet! Dia kenapa?!"
"Bisa saya minta untuk berbicara secara pribadi?" pinta Adam dengan tatapan teduh.
"Cepet bilang ke gue sekarang juga! Mama Rena kenapa?!" ucap Deden memaksa.
"Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Namun, penyakit yang dialami Nyonya Rena sudah semakin parah. Saat ginjal tidak dapat melakukan fungsinya dengan baik, organ ini akan menghasilkan agen inflamasi, yaitu sitokin," ucap Dokter Adam menghela napas sejenak. "Sitokin inilah yang kemudian akan membuat inflamasi atau peradangan pada pembuluh darah. Akibatnya, fungsi pembuluh darah terganggu dan berisiko mengalami penyempitan. Inilah yang memicu terjadinya serangan jantung."
"Mama Rena gak apa-apa, 'kan?" bentak Deden semakin tak sabaran.
"Dia mengalami serangan jantung. Kematian dicatat pada Hari Senin, 15 juni 2020, pada pukul 02:27 dini hari." Dokter Adam terlihat merasa sangat bersalah. "Maafkan kami, kami sudah berusaha sebaik mungkin."
"Gak mungkin!" Deden merangsek masuk ke dalam ruangan.
Tubuh Rena sudah ditutupi seluruhnya dengan kain putih, para perawat yang berada di dalam ruangan keluar setelah berpamitan.
"Mama bangun! Jangan ada yang boleh ninggalin gue lagi! Gak ada yang boleh!" teriak Deden mulai menangis. "Mama bangun! Jangan pergi ... tolong! Gue gak mau kehilangan seorang ibu lagi."
Haidar berbalik, ia meninggalkan ruangan. Tak kuasa melihat semua yang terjadi begitu saja.
Bugh!
Juna menarik tubuh Deden dan memukul wajahnya keras. Emosi sudah menyelimuti dirinya.
"Jangan pikir gue gak tahu. Si*lan!" Sebuah pukulan kembali diberikan pada pipi Deden setelah ia berdiri. "Ternyata lo!"
Deden kembali berdiri, sudut bibirnya robek dan berdarah. "Gue ... gue yang bikin Rayyan meninggal," ucap Deden sambil menangis. "Gue juga ... gue juga yang sekarang bikin Mama Rena meninggal karena gak becus ngurusnya. Pukul gue, Jun! Gue mau dipukul!" teriak Deden.
"Maksud lo, dengan lo jadi Deden lo bisa nyelesein semuanya? Kafa breng*ek!" Juna terus-terusan menghujam Deden dengan tinjunya. Deden hanya pasrah menerimanya.
"Gue berusaha tanggung jawab," lirih Deden pelan, air mata terus mengalir di pipinya. "Mama Rena ... udah seperti mama gue sendiri."
"Gue ... bener-bener kecewa sama lo!" ucap Juna pergi dengan perasaan kesal.
"Gue gak akan peduli lagi. Gue gak akan peduli lagi sama Deden apalagi Kafa!" ucap Juna dalam hati.
* * * * *
Hy! Hy! Mohon kritik dan sarannya yang membangun. Kalo ada salah marahin aja authornya.
Urang \= Saya
__ADS_1
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorite, dan RATE bintang lima. See you next part.