
Key berlari mengejar Gibran dan Vino yang sedang membopong seseorang, ia berharap itu adalah Deden karena perawakannya yang memang mirip. Key ingin melihat Deden baik-baik saja, hanya ingin memastikan.
"Gibran! Vino!" ucap Key memanggil, napasnya mulai tersenggal kelelahan. Duo cunguk terus saja berlari menyeret orang yang sedang mereka bawa.
"Key!" panggil Bagas ikut berlari mengejar Key dari belakang.
"Key! Kak Bagas! Duo cunguk!" Viera juga ikut berlari, ia kewalahan mengejar Key dan Bagas yang berlari cepat didepannya. Lah ini kenapa malah saling Kejar-kejaran ya? Yasudahlah.
"Hey kalian, baksonya belom dibayar!" Oke, yang ini entah suara siapa.
Key dan yang lainnya kebingungan mendengar suara panggilan yang terakhir. Mereka berhenti berlari serentak, dan menengok ke belakang. Pak Kasim terpogoh-pogoh berlari sambil memegang sendok sup, kumisnya nampak naik turun kelelahan.
"Kalian ... belum bayar," ucap Pak Kasim merunduk mengatur napasnya.
"Oh iya lupa, Ra tolong bayarin dulu ya." Key memohon kepada Viera, kemudian kembali melanjutkan larinya mengejar duo cunguk yang mulai menjauh.
"Eh, kok gue? Kak tolong bayarin ya," ucap Viera pada Bagas, ia menyusul berlari mengejar Key.
"Kenapa ujung-ujungnya saya yang jadi korban?" ucap Bagas menghela napas pasrah.
"Mana tong?" ujar Pak Kasim menengadahkan tangannya.
"Berapa pak?"
"Tadi tiga mangkok ditambah tiga minuman, jumlahnya Rp. 69.000."
"Abis deh uang jajan saya." Bagas mengeluarkan dompetnya, kemudian menyodorkan uang selembar seratus ribu kepada Pak Kasim. Ia langsung mendapatkan kembaliannya, gercep juga Pak Kasim.
Pak Kasim kembali ke alamnya, maksudnya kantin. Bagas yang hendak kembali mengejar Key malah kehilangan jejaknya.
"Gibran! Vino!"
Key kelelahan, ia tak kuat untuk berlari lagi.
"Gimana key, kekejar enggak?" tanya Viera yang baru menyusulnya.
"Enggak, Ra."
"Gue cuman pengen tahu keadaan Deden. Sebegitu susahnya ya?" ucap Key sendu.
"Tenang, Key. Gue akan bantu lo. Nanti pulang sekolah kan ekskul futsal latihan, kita seret tuh duo cunguk." Viera menepuk pundak Key menyemangati.
"Bener lo bakal bantu gue?"
"Gue janji dan ikhlas. Tapi bayarannya bakso satu porsi."
"Itu sih lo perhitungan, Ra."
"Gue gak bisa ngitung. Gue cuman minta bayarin makan, Key."
"Sama aja, dodol."
"Kalian ... ngejar apa sih?" tanya Bagas yang baru datang terengah-engah. Ternyata dia dari tadi tidak tahu tujuannya berlari. Bagas memang hanya refleks berlari, saat Key tiba-tiba berlari.
"Itu Key mau tanya tentang keadaan Deden. Dia khaw-" Viera menghentikan ucapannya, karena ia merasakan Key yang sedang menatapnya tajam. Untung saja mata Key tidak mengeluarkan laser. Jika iya, habislah Viera. "Gue ke kelas dulu, tadi ada yang bilang buku gue tiba-tiba berubah jadi kotak, " ucap Viera asal. Bukannya buku memang bentuknya kotak ya? Viera pun langsung pergi meninggalkan Bagas dan Key, ia tidak ingin terlibat dimulainya perang dunia.
"Jadi ini semua karena Deden?" tanya Bagas. Key hanya menunduk diam tak berani menjawab. " Jawab,Key!"
Key tersentak saat mendengar Bagas yang meneriakinya, ia tak tahu apakah yang ia rasakan ini artinya dia menyukai Deden atau tidak. Pastinya sekarang Key sedang khawatir dan sangat ingin bertemu Deden untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Untung saja sekeliling mereka cukup sepi, sehingga tidak ada orang yang memperhatikan.
__ADS_1
"Gue ... kayaknya suka sama Deden, kak," ucap Key mengambil keputusan akan hatinya.
"Cowok playboy kayak gitu kamu suka?"
"Gue gak tahu kak."
"Apa yang kamu suka dari orang gila kayak gitu, Key?"
"Gue udah gak kuat tahan perasaan gue kak. Gue sepertinya udah bener-bener suka sama Deden," ucap Key malah menangis.
"Saya kecewa sama kamu, Key. Kamu tahu kan, kalo saya juga suka sama kamu?" Key mengangguk menanggapinya, air matanya malah mengalir semakin deras. "Terus kenapa? Apa yang kurang dari saya?" tanya Bagas, matanya terlihat marah menahan emosi.
"Maaf, kak."
"Yasudahlah, saya gak akan peduli lagi sama kamu."
Bagas hendak beranjak pergi meninggalkan Key yang masih menangis.
"Kak." Key tiba-tiba memeluk Bagas dari belakang, tangisan yang tadinya tanpa suara berubah menjadi isakan. "Harusnya gue gak boleh suka sama Deden. Tapi gue juga gak bisa ngatur hati gue, gue udah nganggap lo sebagai kakak yang paling gue sayang. Tolong kak, jangan berubah. Jangan tinggalin gue."
Langkah Bagas terhenti. Ia membalikan tubuhnya, membalas pelukan Key. "Saya sakit hati. Sakit sekali, Key," ucap Bagas mengelus lembut kepala Key.
Key semakin erat memeluk Bagas, rasanya seluruh beban dan rasa sakit hatinya ia tumpahkan dihadapan Bagas.
"Maafin gue, kak."
"Saya kecewa, karena tahu cinta saya bertepuk sebelah tangan," ucap Bagas menghembuskan napas panjang. "Tapi saya akan sangat sedih, jika melihat orang yang saya suka menangis." Key mendongak, melihat wajah bagas yang tersenyum. Tapi senyuman itu ia lakukan hanya untuk menutupi rasa sakit hatinya.
"Kakak gak marah kan?"
"Gak akan, asal kamu jangan nangis lagi," ucap Bagas menarik hidung Key pelan.
"Nah sekarang, karena adik muka datar kakak yang nyebelin ini sudah bisa menentukan pilihannya. Saya akan berubah jadi kakak dan support adeknya, tapi kalo si Gesrek itu berani nyakitin kamu, siap-siap tuh anak di doain berjamaah."
"Serem amat kak, ucapannya."
"Saya juga akan berusaha dapetin hati kamu lagi Key, kalo si Deden itu sia-sia-in kamu," ucap Bagas menatap Key dengan senyum evil. "Yaudah sekarang ke kelas gih sana, bel masuk udah bunyi."
Key mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Bagas.
"Eh, tunggu-tunggu."
"Kenapa kak?"
"Tadi saya yang bayarin makan, mana gantinya," pinta Bagas menyodorkan tangannya terbuka.
"Hehe ... hehe ...." Key cengengesan tak jelas, ia mundur perlahan. "Kabur!"
Bagas terkikik geli melihat tingkah Key yang tiba-tiba berlari ketika diminta bayaran. Namun, tatapannya seketika berubah menjadi sendu.
"Arti cinta itu bukan hanya memiliki, tapi juga harus bersedia merelakan. Bener kan, Key?" ucap Bagas dalam hati.
* * * * *
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi, Key dan Viera juga sudah menunggu satu jam lamanya ekskul futsal latihan. Mereka mengendap-endap hendak menangkap duo cunguk untuk ditanya dimana keberadaan Deden.
"Vino! Gibran!" ucap Key dan Viera berteriak bersamaan.
Vino dan Gibran yang baru selesai membersihkan badan setelah latihan pun terkejut dan spontan berlari tanpa arah.
__ADS_1
"Woy Gibran tungguin!" ucap Vino yang tertinggal karena terjatuh, ia langsung menelungkupkan tubuhnya saat Key dan Viera mendekat.
"Mau kemana lo hah?" tanya Viera kejam.
"Gue batu. Batu gak bisa ngomong. jangan ajak gue ngomong. Gue batu. Gue batu. Anggap gue patung. Pergi sana yang jauh," ucap Vino meracau tak jelas.
"Itu lo kan lagi ngomong, Vin. Katanya batu. Ogeb kok dipelihara, Pelihara bebek tuh biar bertelur," ucap Key kesal karena seharian ini selalu dihindari.
"Lagian ketemu kita kayak ketemu setan aja lo. Gimana nih Key angkut jangan?" tanya Viera menarik telinga Vino yang memgaduh kesakitan.
"Angkut, Ra. Kita injek cunguk satunya lagi."
Gibran terus berlari tak tentu arah, ia panik dan tidak memperhatikan jalan hingga terhenti di jalan buntu. Di depannya tembok tinggi yang berada di belakang sekolah. Dia terkepung dan tak bisa berpikir, sedangkan dibelakangnya Key dan Viera sudah sangat dekat.
"Eh, tembok. Gimana kabar, sehat?" tanya Gibran yang panik dan sudah terpojok.
[Tembok diam, tembok tak tahu apa-apa.]
"Masih datar aja lo dari dulu, melengkung ngapa sekali-kali."
[Tembok masih diam.]
"Mau diganti warna? Gue liat tembok depan sekolah kinclong, baru ganti warna. Lo kapan?"
[Tembok tetap diam.]
"Jangan diem aja dong! Gibah ngapa gibah."
[Tembok selamanya diam.]
"Gak asyik lo diajak ngobrol," ucap Gibran memukul tembok pelan.
[Apa salah tembok ya tuhan ....]
"Key, yang ini tingkat kegilaannya sudah stadium akhir. Angkut jangan?" tanya Viera pada Key yang sedari tadi memperhatikan Gibran. Tangannya kanannya tak terlepas dari menarik telinga Vino.
"Ra, kok mereka gak ada yang waras ya? Gue jadi takut kalo nanti deket Deden. Sebenernya mereka semua salah makan apa?"
"Gue juga gak tahu, Key."
"Yaudah angkut ra, kita sidang!"
"Kita gak tahu apa-apa sumpah deh," ucap duo cunguk bersamaan sembari mengikuti tarikan Viera ditelinga. Namun, Key dan Viera tetap tak peduli dan tetap terus menyeret mereka.
Viera menarik telinga Gibran dengan tangan kirinya, ia menarik duo cunguk paksa mengikuti Key.
* * * * *
"Den, dimana lo? Masa peran utama ngilang," ucap Author celingukan mencari castnya.
"Den, nih ada dedak kesukaan lo," lanjut author menaburkan dedak di lantai.
"Den? Apa mau diilangin aja dari cerita?" Author masih kebingungan mencari Deden.
"Deden masih belom ada gaes, jadi masih gak ada yang bilang...
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
__ADS_1
Jangan lupa Klik favorite, Like, komen, vote dan rate bintang lima yaa. See you next part.