Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Deja Vu


__ADS_3

"Deden. Gue suka sama lo!"


Key menutup matanya, takut melihat ekspresi Deden. Semua siswa yang memperhatikannya tampak tak percaya dengan apa yang Key katakan. Sejenak semuanya hening, bermain dengan pikiran masing-masing.


Jantung Key sudah berdetak tak karuan, seperti hendak keluar dari tubuhnya.


"Terima! Terima!" ucap Vino yang tiba-tiba berada di belakang Key sambil bertepuk tangan.


Gibran dan siswa lainnya ikut bersorak dan bertepuk tangan, bahkan Pak Kasim yang tak tahu menahu ikut menepuk kedua tangannya.


"Terima! Terima!"


Key membuka matanya perlahan, terharu karena banyak yang mendukungnya. Viera menatapnya was-was dari samping. Deden masih diam mematung tak memberikan jawaban, sedangkan Zea menatapnya tak suka.


"Murahan banget sih khamu jadi cewek. Gak ada harga dirinya!" ejek Zea menatapnya sinis. Zea sedari tadi tatapannya pada Key jika tidak sinis ya meremehkan, yang ngetik sampe bosen. Eh ....


Sorakan dan tepuk tangan dari para siswa yang tadinya riuh mendadak berhenti, kecuali Vino sendirian yang masih menyemangati dan bertepuk tangan sambil sesekali menggoyangkan badan.


"Woy, cunguk diem," ucap Gibran menepuk jidat Vino, hingga ia seketika terdiam.


Perkataan Zea menyakiti hati Key terasa perih. Namun, ia tak membutuhkan komentar Zea yang sekarang ia butuhkan hanyalah jawaban dari Deden yang sedari tadi hanya diam.


Para siswa menatap semakin seru, seperti menonton drama korea dengan kearifan lokal. Deden yang sedari tadi hanya diam mulai berdiri, ia melangkah menuju warung sebelah kemudian kembali menghadap Key.


Degup jantung Key semakin tak karuan. Jaraknya dengan Deden hanya tersisa setengah meter. Tubuhnya merinding karena terlalu panik. Wajah Key memerah, dan tangannya gemetar. Ternyata se-ekstrem ini rasanya nembak cowok.


"Gue terima," ucap Deden tersenyum memperhatikan wajah Key yang sudah merona dengan seksama. "Dengan satu syarat. Lo harus makan ini." Deden menyodorkan sebatang coklat dihadapan Key sambil tak henti-hentinya tersenyum puas.


Key menatap coklat tersebut ngeri, wajahnya berubah pucat dan ketakutan. Tubuhnya mulai gemetar, keringat mulai membasahi wajahnya. Key memundurkan tubuhnya lebih jauh, membuat jarak dengan coklat itu. Matanya terlihat menahan tangis, ia ketakutan.


"Lo mau bunuh Key! Lo tahu kan kalo dia phobia coklat!" Viera berteriak marah menunjuk wajah Deden, ingin rasanya ia memukul wajah Deden yang sekarang hanya menyeringai seram.


Key memegang lengan Viera menenangkan, memberitahukan jika ia baik-baik saja. Padahal keringat sudah membanjiri tubuhnya dan napasnya mulai tak teratur. Ya, Key memiliki Xocolathopobia atau phobia terhadap coklat. Pobia yang sangat langka.


Saat kebanyakan orang merasa senang karena diberi sebatang cokelat, maka para xocolatophobia mungkin akan sedih. Pasalnya para xocolatophobia memiliki perasaan takut pada cokelat. 


Sebenarnya Key lebih memilih memakan satu kilogram cabai daripada harus memakan sebatang coklat. Ragu-ragu Key mulai mendekat dan hendak mengambil coklat dari tangan Deden.


"Gak. Lo gak perlu lakuin hal ini," ucap Viera mencegah tangan Key yang hendak menggapai coklat tersebut dengan tangan gemetar.


"Gak, Ra. Gue harus!"


"Jangan bodoh!"


"Please, Ra." Key menatap Viera memohon. Viera melepaskan tangan Key yang ia cengkram erat perlahan.

__ADS_1


Apa ini? Deja vu? Rasanya hal semacam ini pernah terjadi. Begitu yang para siswa pikirkan. Mereka seperti mencoba mengingat-ingat hal yang mereka lupakan. Tak sedikit siswa yang menatap Key prihatin dan berujar agar Key tak perlu memakannya.


"Gimana? Khamu berani cewek mura*an?" ucap Zea memanas-manasi suasana. Viera menatap Zea sebal, ingin sekali ia membunuh Zea tapi takut dosa.


Deden membuka bungkus coklatnya dan menyodorkannya lebih dekat pada Key. Key hendak mengambilnya ragu-ragu, tangannya masih gemetar tak karuan. Napas Key sesak, dadanya naik turun kesakitan. Air matanya turun begitu saja melintasi pipinya.


Bugh .... (an enemy has been slain)


Bagas memukul Deden keras, coklat yang ia pegang terlempar entah kemana. Key berlari meninggalkan kantin dengan cepat. Sudut bibir Deden terlihat berdarah, Zea terkejut melihat Deden yang tiba-tiba dipukul itu.


"Ban*i lo! Dasar Ba*ingan!" ucap Bagas emosi, dadanya naik turun. Wajahnya memerah menahan marah. Rahangnya masih mengeras dan tangannya yang terkepal semakin kencang.


Bagas yang sedari tadi hanya memperhatikan bersama kumpulan siswa lainnya mulai kesal. Kesabarannya telah habis ketika melihat Key yang mulai menangis. Ia berlari mengejar Key yang pergi tak tentu arah.


"Dasar cowok sampah!" ucap Viera menampar pipi Deden keras hingga pipinya memerah. (Double kill)


"Lo bukan temen gue lagi, Den." Gibran menepuk pundak Deden dengan ekspresi kecewa, lalu ia pergi begitu saja meninggalkannya. (Triple kill)


"Ha- , ah ... gue gak tahu harus ngomong apa," ucap Vino berlalu pergi menyusul Gibran. (Maniac)


"Gue bodoh!" ucap Deden memaki diri sendiri. (Savage).


(Defeat. You lose.)


Key menangis tersedu-sedu. Ia gemetar ketakutan, ditambah hatinya yang sakit karena perlakuan Deden. Ia tengah duduk di kursi bawah pohon rindang di sekolah. Sesekali para siswa lain menatapnya iba tetapi tak berani mendekat.


"Key," ucap Bagas yang sekarang sudah duduk disampingnya.


"Kakak ...." Key memeluk Bagas. Air matanya yang tadi ia tahan mengalir begitu saja.


Bagas membalas pelukan Key. Punggung Key terasa bergetar, isak tangis semakin terdengar kencang.


"Udah ... tuan putri gak boleh nangis," ucap Bagas menepuk punggung Key pelan.


Tangisan Key malah semakin kencang, seragam Bagas sudah basah terkena air mata.


"Udah cukup. Cowok kayak gitu gak pantas kamu tangisi," ucap Bagas menenangkan sambil mengelus rambut Key pelan. "Mana kakak liat muka jelek kamu dulu."


Key mendongakkan kepalanya menatap Bagas yang tersenyum manis.


"Muka kamu kayak dakocan kalo nangis." Key tertawa mendengarnya. Bagas menghapus sisa air mata di wajah Key.


"Berarti kakak pernah suka sama dakocan dong."


"Sampai sekarang juga kakak masih suka sama dakocan."

__ADS_1


Key kembali menenggelamkan wajahnya di dada Bagas, ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Key! Gue cari lo kemana-mana. Eh ... malah mesra-mesraan," ucap Viera menyilangkan tangannya di dada.


"Lo gak papa kan, Key?"  tanya Viera yang sekarang sudah duduk di sisi lain Key.


Key beralih memeluk Viera kemudian mengangguk pelan. "Gue gak apa-apa."


"Tenang aja, Key. Kalo dia macem-macem lagi sama lo, gue kubur tuh orang hidup-hidup."


"Makasih, Ra." Key semakin mengeratkan pelukannya.


*     *     *      *      *


Keesokan harinya, Key sedang  menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya yang terlipat. Matanya terasa berat karena semalaman menangis, ia seperti tak ingin berbicara dengan siapapun.


Di luar siswa-siwi ribut berhamburan keluar. Mereka penasaran dengan siswa tampan yang sekarang sedang melangkah disepanjang koridor mengikuti seorang guru. Sesekali para siswi memekik histeris saat siswa itu melemparkan senyum ke arah mereka. Populasi cogan bertambah di SMA Bhayangkara.


"Selamat pagi!" ucap Bu Risma memasuki ruangan kelas Key. Disampingnya tengah berdiri seorang siswa yang membuat siswi lain menatapnya tak mau berkedip walaupun sekali.


"Key liat deh," ucap Viera menggoyangkan tubuh Key pelan.


Key yang merasa matanya sangat berat malas-malasan mengakkan tubuhnya dan menatap Viera sambil menyipitkan matanya yang sembab.


"Itu," ucap Viera menunjuk siswa yang sedang berdiri di depan.


Key mengikuti arah telunjuk Viera, ia menatap Bu Risma kemudian beralih kepada siswa di sebelahnya. Sejenak Key dan siswa tersebut saling tatap, kemudian siswa itu tersenyum ke arah Key.


"Itu kan- " ucap Key menutup mulut menatap terkejut menatap siswa di depan.


"Salam kenal semuanya. Nama gue Arjuna Ghefandrata, kalian bisa panggil gue Juna."


                      *     *     *     *     *


Note :


Déjà vu, dari bahasa Prancis, secara harfiah "pernah dilihat", adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.


Hy Gaes! Deden masih jadi Kafa ya. Masih gak ada yang bilang.


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


Jangan lupa like, komen, vote, rate bintang lima dan klik favorit. See you next part.

__ADS_1


__ADS_2