
Seragam sudah melekat manis di tubuh gadis yang masih mengantuk itu, bagaimana tidak? Dia mungkin hanya tertidur selama tiga jam semalam. Key berdiri di depan gerbang rumahnya menunggu ojek online yang ia pesan, Arkan sudah pergi terlebih dahulu menggunakan angkot.
Hari ini, Key sedang tidak ingin menggunakan angkutan umum, ia takut ketiduran dan malah terlewat sekolahnya.
Suara mesin motor perlahan mendekat, tepat berhenti di hadapan Key. Pengemudi motor ninja merah tersebut membuka helmnya, melempar senyum manis ke arah Key.
"Pagi, Princess," sapa Deden bertumpu pada helm di atas motornya.
"Ngapain, lo?" tanya Key mengalihkan perhatiannya dari ponsel.
"Jemput pacar." Deden masih tersenyum, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Gue udah pesen ojek online."
Panjang umur sepertinya tukang ojek online, baru saja Key membicarakannya, ia datang dan berhenti dekat dengan mereka.
"Dengan, Mba Keyara Valensia?" tanya Bang ojol tersenyum manis.
"Kok ganteng?" Deden tak terima, ia melihat wajah tukang ojek online yang mirip Justin Bieber.
"Mas Arga, ya?" Key balik tersenyum, tidak mempedulikan ucapan Deden. "Iya, saya yang pesan."
"Silakan, mba, helmnya," ucap Arga kembali tersenyum, menyodorkan helm berwarna hitam.
Deden segera turun dari motornya, wajahnya terlihat kesal. Dia saja jarang mendapat senyuman dari Key, dengan mudahnya tukang ojol mendapatkannya. Deden mengambil paksa helm yang disodorkan sebelum Key menerimanya.
"Tas maneh, Key," pinta Deden.
"Tas?"
Deden membuka tas yang Key kenakan, memakaikan asal tas tersebut helm. Aneh memang, masa tas dipakaikan helm. Siswa itu menaruh tas Key di bagian depan pengemudi ojol begitu juga dengan tasnya.
"Anterin, Bang." Deden menunjuk tas mereka berdua. "SMA Bhayangkara, depan gerbang nanti ada yang ngambil. Wajahnya mirip cunguk," ucap Deden datar tanpa ekspresi.
"Mbanya, enggak?" tanya Arga kebingungan.
"Gue naek ojol aja deh, Den," ucap Key sudah bersiap untuk naik.
Deden menghalangi gerakan Key. "Enggak, Bang. Mbanya pake ojek khusus. Jangan di embat tasnya, isinya cuma kertas."
Tukang ojek itu hanya mengangguk. "Gak akan lah, Mas. Saya orangnya bertanggung jawab."
Deden menarik tangan Key mendekat ke arah motornya, memakaikannya helm yang sudah ia persiapkan sejak tadi.
"Lo kenapa, sih?" Key kebingungan menatap wajah Deden yang terlihat sangat kesal.
Deden kembali terlebih dahulu menghampiri tukang ojek online. "Bang kenapa jadi tukang ojek, sih? Jadi model, kek, atau artis gitu."
"Memangnya kenapa, Mas?"
"Gak." Deden menyodorkan uang selembar lima puluh ribuan. "Anterin aja tasnya, Bang. Pacar urang jangan, kembaliannya ambil aja."
Deden berbalik kembali ke motornya, pengemudi ojek online itu sudah pergi terlebih dahulu. Ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada seseorang dengan nama kontak 'Cunguk Terbang'.
[Vin, tolong jemput tas urang sama Key di depan gerbang!]
[T4s loeh j4l4n sendirih ke sekul?]
[Aish, mata urang mendadak blur. Kebiasaan maneh kalo ngetik alay. Kagak, lah. Mamang ojol yang nganterin.]
[Em4ng m0t0r loeh kem4n4?]
[Ada, udahlah ribet ceritanya. Urang sebel banget. Mamang ojolnya yg punya muka bekas cetakan Justin Bieber.]
[Wih ... Justin Bieber jadi ojol?]
[Tumben keyboard maneh normal.]
[Iyups, dung!]
[Jyjyq, loeh]
[Woy! Keyboard gue tuh dipake.]
[Sabodo teuing! (Gak peduli!)]
Deden mematikan ponselnya, menaruh ke dalam saku celana.
"Yuk, Key, berangkat!" ucap Deden menaiki motornya.
"Terus tas gue."
__ADS_1
"Udah tenang aja."
Key duduk di jok belakang motor Deden, memposisikan dirinya senyaman mungkin.
"Padahal gue mau naek ojol aja."
Deden mengernyit, menoleh ke belakang. "Kenapa gitu? Karena mamang ojolnya ganteng?"
"Dih, lo kenapa, sih?"
"Gak."
"Lo PMS, ya?"
"Urang kan cowok, Key."
"Terus kenapa?"
"Urang cemburu! Terus kenapa? Boleh, 'kan?" Deden menyalakan motornya, mulai mengendarai Pinky dengan kecepatan sedang.
Key menunduk, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. "Cowok gila! Gak bisa, ya, sehari aja bikin gue gak deg-degan," batin Key.
"Tidur, Key," titah Deden bersuara di balik helm fullfacenya.
"Jatoh dong gue. Masa tidur pas naek motor."
"Makanya pegangan."
"Ini gue lagi pegangan, lo kira motor lo enak buat di naekin? Mending sama mas tadi, motornya lurus gak nukik," Key tersenyum tipis di belakang, menggoda Deden yang cemburu ternyata seru juga. Bisa-bisa itu menjadi hobi Key yang baru.
"Karena motornya atau karena mamang ojolnya yang ganteng?" ucap Deden terdengar dingin dan datar.
"Masih cemburu?" tanya Key terkikik pelan.
"Gak. Urang masih bernapas."
Key melingkarkan tangannya di pinggang Deden erat. "Padahal ojek yang lagi nganterin gue sekarang lebih ganteng."
Deden menarik rem motornya mendadak, hingga helm mereka terantuk cukup keras. Untung saja ia masih dapat mengendalikan dan melanjutkan perjalanan.
"Hati-hati dong!" maki Key kesal.
"Yakali gue setiap mau ngomong, izin dulu. 'Permisi ... gue mau ngomong dulu, ya'. Gitu?"
"Ya ... gak gitu juga."
"Den, lo tadi ngasih ongkos ke ojolnya kebanyakan, deh. Padahal ongkosnya cuma 20 ribu."
"Berarti maneh yang harus bayar!"
"Kok gitu?"
Motor tersebut memasuki area parkiran sekolah, Deden menempatkannya di antara barisan motor yang ia kenal milik duo cunguk dan Juna.
Key turun dari motor, membuka helmnya, diikuti dengan Deden.
Notifikasi ponsel Key berbunyi, Key melihat sebuah pesan dan membalasnya sejenak.
"Siapa?" tanya Deden penasaran.
"Abang ojol yang tadi."
"Hah?!" Deden terkejut berlebihan. "Maneh chattan sama dia? Urang gak suka, ya."
"Bisa aja kali ... gak usah cemburu. Abangnya cuma minta rate bintang lima, kok." Key tertawa, mencubit kedua pipi Deden gemas.
"A- aw ... siapa yang cemburu? U- urang enggak, tuh," ucap Deden menahan senyumannya, ia mengelus pipinya pelan, berpura-pura kesakitan.
"Iya, deh. Gue ke kelas duluan, ya. Mau tidur sebelum ujian," ucap Key meminta izin. Key juga tak paham kenapa ia secara refleks berbicara.
Deden menggenggam tangan Key erat dan menariknya. "Bareng," ucapnya pelan.
"Apaan, sih. Lepas deh, gue malu. Ini di sekolah." Key melepaskan genggaman tangan Deden darinya.
"Maneh malu deket sama urang?"
"Bukan gitu ...."
Deden berjalan mendahului Key, mengambil langkah cepat-cepat.
"Deden!" Key memanggil setengah berteriak.
__ADS_1
Deden terus berjalan, Key mengikuti dari belakang. Secara sengaja Deden menggenggam tangan seorang siswi dengan rambut bergelombang, sepertinya ia adik kelas. Deden tersenyum menatap siswi tersebut.
"K- kak Deden, I- ini beneran? K- kak Deden, kok, p- pegang tangan Sesha," ucap siswi tersebut terbata-bata, matanya terlihat berbinar-binar.
"Gak apa-apa, 'kan? Urang pegang tangan maneh?" tanya Deden menaikan sebelah alisnya, menampilkan senyum termanis.
"Gak apa-apa banget, Kak!" jawab siswi tersebut kikuk, ia mendadak berteriak. "Huwa ... aku terharu. Sesak napas, jantung mau copot! Mimpi apa Sesha semalem sampe di deketin cogan bhayangkara!"
Deden tersenyum menanggapi siswi di sebelahnya. "Maneh adik kelas, ya? Nama maneh siapa tadi? Sesha?"
"Bunda! Sesha gak kuat! Nih kakak kelas gak ada akhlak, cakep banget!" Siswi tersebut semakin histeris ditanya oleh Deden.
Deden tertawa lepas, siswa-siswi yang berlalu lalang baru datang, beberapa ada yang melirik penasaran.
"Gak perlu teriak-teriak, Sesha, urang denger kok maneh ngomong apa."
"Please, napas buatan! Kak mau gak jadi pacar Sesha?"
"Eh?" Deden terkejut mendengarnya.
Seseorang melepas paksa pautan antara tangan Deden dan Sesha, wajahnya tampak memerah menahan emosi.
Key memegang tangan Deden erat, menyembunyikan tubuh Deden di baliknya. Ia seperti anak kecil yang menyembunyikan mainan, takut di ambil teman sebayanya.
"D- dia milik gue. J- jangan deket-deket," ucap Key entah kenapa menjadi terbata-bata.
Deden menahan tawanya, merasa lucu karena tingkah Key yang baru ia ketahui.
"Loh, Kak Key ... aku kira Kak Deden nyerah sama kakak jadi mau cari gebetan baru," ujar Sesha tampak kecewa.
Key melirik Deden sejenak, sebal sekali rasanya melihat wajah Deden yang tersenyum penuh kemenangan.
"Gak! Dia udah jadi milik gue ... sepenuhnya!" jawab Key tegas.
"Maaf, Kak. Sesha gak tahu." Sesha menunduk merasa bersalah.
"Eh, Gak apa-apa, kok," ucap Key ikut merasa bersalah.
"Yaudah, Kak. Aku izin ke kelas." Sesha tersenyum kepada dua orang di hadapannya.
"Tunggu!" Deden menghentikan langkah Sesha, Key menatap Deden dengan pandangan maut. "Pinjem pulpen," lanjut Deden menunjukan cengiran khasnya.
Sesha membuka tasnya sejenak dan memberikan pulpen bermerek 'Biasa-biasa saja' alias stan*ard pada Deden. "Ambil aja, Kak. Buat Kak Deden," ucap Sesha tersenyum.
Deden menerimanya, mengedipkan sebelah mata pada Sesha. "Makasih, ya."
Sesha mengangguk pelan, wajahnya merona merah. "Huwa ... bunda! Sesha meleleh ... tapi dia udah punya orang lain!" ucap Sesha berlari menjauh.
"Gue benci sama, lo!" ujar Key kesal.
"Maneh cemburu, ya ...."
"Enggak, tuh."
"Wah ... ada kakak kelas cantik, tuh."
Key menendang tulang kering sebelah kiri Deden, hingga si empunya kaki meringis kesakitan.
"Iya, gue cemburu! Puas, lo!"
"Urang juga cemburu, Key, karena urang seneng. Hampir setahun lebih urang berusaha dapet perhatian maneh, akhirnya berhasil. Urang seneng Key ...." Deden tersenyum, sangat menawan. "Mungkin maneh mikir urang lebay, tapi urang bener-bener bahagia, makasih, ya, Key."
Deden menarik tangan Key menggenggamnya sejenak, dilihatnya telapak tangan kanan Key yang putih bersih.
Deden membuka pulpen yang didapatnya dari Sesha, di goreskannya tinta itu di atas telapak tangan Key. 'MILIK DEDEN', dengan dibubuhi tandatangan.
"Kalo ada yang jahatin, tunjukin ini aja. Dijamin gak akan ada yang berani. Sayangnya, gak ada materai, biar lebih resmi gitu." Deden tertawa, ia benar-benar merasa bahagia.
"Lo kira gue surat kontrak! Pake materai segala!"
Key mengambil pulpen di tangan Deden, ia juga melakukan hal yang sama di telapak tangan kanan Deden. 'MILIK KEY! GAK BOLEH ADA YANG REBUT, TITIK!', dengan tandatangan.
* * * * *
Hallo, Gaes! Gimana kabarnya? Dimohin kritik dan saran yang membangun, ya. Author banyak salah, jadi marahin aja.
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorit dan RATE bintang lima .... See you next part!
__ADS_1