
Deden sesekali tampak menahan tawa menatap telapak tangannya. Ia mengerjakan satu soal, kemudian melihat tangannya lagi, mengerjakan soal lagi, menatap tangannya lagi, mengerjakan soal lagi, menatap tangannya lagi. Terus saja begitu, hingga Gibran yang diam-diam memperhatikan mengira Deden sudah gila, eh tapi bukankah sejak dahulu sikap Deden sudah aneh?
"Deden! Kamu mencontek?!" tanya Pak Tono menatap tajam, mendekat ke arah bangku Deden.
Siswa-siswi yang sedang sibuk mengerjakan soal ujian mengalihkan perhatian mereka ke arah bangku Deden karena penasaran.
"Enggak, Pak. Selagi masih ada kancing buat cap-cip-cup, kenapa urang harus nyontek?" Deden berujar jujur, tapi tidak patut ditiru. Disarankan jika kalian akan ulangan dengan nilai bagus caranya ... BELAJAR!
"Terus kamu kenapa liat-liat tangan kamu terus?" tanya Pak Tono masih curiga.
"Ish ... bapak kepo!"
"Mana saya liat tangan kamu!"
"Gak bisa dong, Pak!"
Pak Tono menarik paksa tangan Deden di lihatnya sebuah tulisan, ekspresi Pak Tono mendadak berubah.
"Kamu nulis ini sendiri, ya?"
"Urang gak sejones itu, Pak. Ori nih, tanpa perantara."
"Kamu kira jualan lahan apa?!" Pak Tono mengangguk-angguk, rasa curiganya menghilang. "Oh baru pacaran, ya."
Gibran yang mendengarnya terkejut. Deden pacaran? Apa Key kesadarannya mulai menghilang? Atau dicuci otaknya? Apakah Deden berpacaran dengan orang yang tak tahu rimbanya di mana? Deden berpacaran dengan 'Pinky' motornya sendiri?
"Iya, dong, Pak," jawab Deden menunjukan cengirannya.
"Pasti alay, kan? Pasti awal-awal udah saling cemburu, kan? Pasti keduanya baperan, kan?" tanya Pak Tono bertubi-tubi.
"Kok ... tua? Eh, tau." Deden segera memperbaiki ucapannya sebelum Pak Tono menunjukan kekuatan tersembunyinya.
"Iyalah, saya juga pernah muda, gaes!"
"Wih, bapak gaul!"
"Kerjakan! Jangan ngeliatin tangan
terus!"
Mata pelajaran satu persatu telah diujiankan. Tangan terasa pegal, mata perih, otak apalagi, panasnya poll sampe ke ubun-ubun. Deden merapikan peralatannya untuk ujian, ya, walaupun hanya sebuah pulpen dan pensil, untuk kekurangan alat lainnya ia tinggal meminjam.
Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi, cepat-cepat Deden keluar kelas tanpa menyadari Gibran yang baru saja hendak mendekatinya.
Deden segera saja berlari menuju kelas Key, langkahnya terhenti ketika seseorang menghadangnya.
"Kak Deden!" teriak seorang siswi berdiri mengahadang Deden.
"Loh, Sesha?" Deden terlihat bingung, ia tersadar dan segera menunjukan telapak tangan kanannya. "Urang udah ada yang punya."
Sesha mendecak sebal. "Tahu Sesha juga, Kak! Tuh, kan, potek, kedengeran gak, Kak? Ada yang patah, tapi bukan penggaris."
Deden tertawa. "Terus kenapa?" tanya Deden bingung.
"Kak Deden dipanggil pak kepsek, disuruh keruangannya, bye!" Sesha berbalik arah meninggalkan Deden yang tampak berpikir, tapi tak jadi karena otaknya sudah tak kuat seharian berpikir.
Deden memutar arah menuju ke ruangan kepala sekolah, tasnya diperbaiki letaknya, di sampirkan dengan benar. Siswa itu mengetik sesuatu di ponselnya, mengirimkan pesan pada seseorang.
Majikan
[Key, urang ada urusan, jangan pulang duluan! Pulang sama urang!]
Pintu ruangan diketuk, terdengar sahutan dari dalam yang memerintahkan Deden untuk masuk.
"Siang, Pak," sapa Deden setengah menunduk.
__ADS_1
"Duduk, Den, duduk," pinta Pak Jahid mempersilakan.
"Ada apa, Pak?" tanya Deden yang sudah duduk manis di hadapan Pak Jahid.
Pak Jahid masih sibuk dengan laptopnya, seperti mencari suatu folder di dalamnya.
"Kamu lihat ini," ucap Pak Jahid membalikan arah layar laptop ke arah Deden.
Sebuah video terputar menunjukan seorang siswa yang sedang mengendap-endap memasuki ruangan kepala sekolah, siswa tersebut mengacak-acak dokumen, berlarian tak jelas, berdiam diri di pojok ruangan, hingga keluar ruangan sambil memasukan sebuah dokumen ke balik bajunya. Anehnya, mengapa seekor kecoak tak tertangkap kamera? Apakah itu kecoak gaib? Deden merasa orang yang berada di dalam video itu sangat tampan, iyalah, orang itu dirinya sendiri. Percaya diri sekali Deden ini.
"Ganteng, Pak. Cocok buat jadi model atau boyband," ucap Deden mengangguk-angguk.
"Itu kamu, 'kan?"
Deden menghela napas pendek. "Iya, Pak."
"Kenapa?"
"Urang gak mau pindah, Pak."
"Tapi, papa kamu yang minta."
"Urang dipaksa baginda papa."
"Pantas saja dokumen yang hilang hanya dokumen perpindahan sekolahmu saja," ucap Pak Jahid paham, wajahnya tampak berwibawa. "Lalu yang menyalakan musik di ruang penyiaran dan pemicu alarm kebakaran?"
"Urang nyuruh temen buat bantu. Hukum aja urang, Pak. Mereka jangan, urang yang nyuruh mereka."
"Kenapa kamu tidak berbicara dengan papamu?"
"Gak akan mempan, Pak."
"Kamu tahu, kan, yang kamu lakukan itu salah."
Pak Jahid melihat ke arah luar jendela, ia melihat ada yang sedang mengintip diam-diam.
"Kamu saya hukum keliling lapangan seratus kali."
Deden terkejut, tapi iya menaati perintah Pak Jahid. "Sekarang, Pak?"
"Iya."
"Yaudah, urang pamit laksanain hukuman, Pak." Deden beranjak dari duduknya, ia melangkah ke luar ruangan.
"Den," panggil Pak Jahid, sorot matanya teduh, jauh berbeda dengan papa Deden. Makanya, Deden sangat menghormatinya. "Saya sahabat Dirga, nanti saya bantu kamu untuk berbicara." Pak Jahid tersenyum hangat.
"Bener, Pak?!" tanya Deden antusias. "Makasih, Pak, makasih." Wajah Deden berubah sumringah.
"Hukumannya jangan lupa," ucap Pak Jahid mengingatkan.
"Siap, Pak!" Deden hormat, membalik badannya seperti sedang baris-berbaris.
Dari luar ruangan tiga orang cunguk, grasak-grusuk segera bersembunyi, mereka sedari tadi menguping pembicaraan Deden dengan Pak Jahid. Tiga cunguk itu berjongkok sembunyi, berderet di balik tong sampah tinggi. Pas sekali, memang cunguk selalu mencari tempat seperti itu, sepertinya jiwa cunguk mereka sudah sepenuhnya melekat.
Majikan
[Key pulang duluan aja. Maaf gak bisa ngenterin, urusan urang masih panjang.]
Deden mengirimkan pesan singkat tersebut, setelahnya ia mengantungi ponsel dan menuju ke arah lapangan. Deden menaruh tasnya di bawah pohon di samping lapangan, para siswa banyak yang berlalu lalang hendak pulang. Deden mulai berlari, mengelilingi lapangan yang luasnya, seluas cintaku padamu, eh.
"Seratus putaran ... lama kayaknya. Urang keburu tua gak, ya, pas selesai? Gak punya kaki cadangan lagi. Bakso kayaknya enak, nih. Pak Kasim punya anak berapa, ya?" pikiran Deden tak jelas entah mengarah ke mana.
Pak Jahid melihat dari kejauhan, matanya melihat nanar ke arah siswa yang tengah berlari. Sedikit-banyak, ia mengetahui bagaimana kehidupan anak itu.
Deden sudah berlari sebanyak lima putaran, wajahnya memerah mulai kelelahan, apalagi sekarang matahari sedang eksis-eksisnya nonton di atas kepala. "Haduh ... masih 95 putaran lagi," ucap Deden dengan napas tak beraturan.
__ADS_1
Seseorang berlari mengikuti langkah di sebelahnya. Seorang gadis manis yang selalu membuat jantung Deden berdetak tak karuan.
"Maneh ngapain, Key?Kok belum pulang?" tanya Deden mengusap keringat di dahinya, kecepatan larinya mulai menurun.
"Nemenin pacar," jawab Key datar.
Deden tersenyum, energinya serasa kembali terisi penuh. "Baik banget, sih. Pacar siapa ini?" tanya Deden menggoda Key yang masih berwajah datar.
"Diem, deh. Lari aja yang khusu'." Mereka berlari berdua, beriringan satu sama lainnya. Siswa-siswi yang tadinya berniat hanya numpang lewat menjadi penonton dadakan di pinggir lapangan, mereka bersorak menyemangati pasangan yang berlari bersama itu.
"Pak! Kita Demo! Kita juga salah, Pak! Kita mau dihukum!" ucap Gibran bersemangat.
Gibran, Vino, dan Juna yang mengetahui alasan Deden dihukum menghampiri Pak Jahid dan menyampaikan keberatan kepadanya.
"Hukum kita, Pak. Hukum!" timpal Vino mengepalkan tangan ke udara.
"Iya!" ucap Juna hanya ikut saja.
"Yasudah, silakan," ujar Pak Jahid dengan entengnya, senyum tipis terlihat di wajahnya. Pak Jahid tahu mereka akan tak terima, jika sahabatnya dihukum seorang diri.
"Ehm ... itukan seratus putaran, Pak. Kita yang lari, kan, banyakan .... Bagi-bagi ya, Pak. Biar adil," pinta Vino mengusulkan.
"Iya!" Juna menimpali setuju.
"Yasudah, silakan," ucap Pak Jahid kembali menyetujui.
"Bener, Pak?" tanya Gibran memastikan.
"Saya suka solidaritas kalian," ucap Pak Jahid tersenyum, suaranya terdengar bijaksana.
Trio junguk bersorak gembira, mereka berbondong-bondong menuju lapangan, menyimpan tas dan ikut berlari beriringan bersama Key dan Deden.
"Kalian ngapain? Kok belum pulang?" tanya Deden kembali kebingungan.
"Nemenin, Kapten!" jawab trio cunguk serempak.
Tunggu dulu, Deden merasa deja vu. Ia tak mempedulikannya, Deden merasa terhura, eh terharu, karena teman-temannya tetap mau bersamanya walaupun sedang kesulitan. Mereka memang sahabat terbaik.
"Maneh ngapain lagi di sini? Kok belum pulang?" tanya Deden melihat seorang siswi yang baru saja ikut berlari.
"Lo ikut lari juga, Ra?" tanya Key yang baru saja melihat kembali sahabatnya sejak ulangan.
"Semenjak gue putus sama Si Kafan, kerjaan gue makan seblak terus. Gue mau diet," jawab Viera tak acuh, ia terus berlari beriringan bersama yang lainnya.
Dua orang kembali ikut kedalam pelarian tanpa tujuan itu, mereka mengikuti langkah orang-orang yang sudah bergabung sebelum mereka.
"Woy! Kenapa jadi berasa lomba marathon? Kak Bagas sama maneh kenapa ikutan, Ze?" tanya Deden yang semakin frustasi karena banyak orang yang ikut berlari.
"Nemenin musuh!" jawab Bagas datar.
"Nemenin mantan!" Zea tersenyum, ia ikut berlari mengimbangi langkah yang lainnya.
Semua yang sedang berlari, kecuali Deden tampak terkejut tak percaya. "Mantan?!" tanya mereka bersamaan.
"Mantan gebetan! Sensi banget kalian!" ucap Zea terkikik geli.
Pak Kasim lewat sambil membawa panci penuh dengan bakso. Dia kebingungan melihat para siswa yang berlari bersamaan, sedangkan siswa lainnya ikut menyoraki dari samping.
"Pak Kasim ngapain ikut-ikutan!" tanya Deden dan kawan-kawan bertanya bersamaan.
* * * * *
Hallo, Gaes! Gimana kabarnya? Dimohin kritik dan saran yang membangun, ya. Author banyak salah, jadi marahin aja.
Urang \= Saya
__ADS_1
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorit dan RATE bintang lima .... See you next part!