Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Kampanye Jomblo


__ADS_3

SMA Bhayangkara, hari ini sedang mengadakan pesta demokrasi. Pemungutan suara untuk pemilihan Ketua OSIS baru dilaksanakan hari ini, tampak ketiga calon ketua OSIS baru berkampanye untuk mendapatkan suara dari para siswa.


Key baru sadar jika hari ini merupakan waktunya para calon OSIS untuk berkampanye, ia bahkan sebelumnya tidak tahu jika tidak diberitahu oleh Viera. Sebenarnya Key tidak terlalu peduli dengan acara ini, tugasnya hanya tinggal memilih salah satu calon, selesai. Para anggota OSIS yang lama pun sibuk mempersiapkan acara ini, tak terkecuali Bagas yang sedari tadi mondar-mandir mengatur anggotanya.


Sepertinya untuk pemilihan hari ini Key tidak bisa tidak peduli, dilihatnya sekarang Deden sedang berdiri di atas kursi kantin ia menyuarakan ajakan untuk para siswa agar memilihnya. Gibran,Vino dan Zea pun terlihat sedang membagikan beberapa selebaran.


"Tuh Key liat, gebetan lo kayaknya bakal bener-bener bikin bumi pindah ke pluto deh."


Viera menunjuk Deden, mereka tadinya berniat sarapan karena tadi pagi belum sempat. Hari ini belajar dibebaskan karena acara kampanye, lebih baik waktunya dimanfaatkan untuk makan bukan?


"Gak kenal gue siapa tuh orang," ucap Key datar dan duduk bersiap memesan.


"Tahu gak, Key, yang kemaren katanya Deden ngelamar Zea itu padahal dia lagi bujuk Zea biar jadi tim suksesnya, haha ... niat banget tuh anak." Viera tertawa menceritakan hal yang dia tahu, ia pun duduk di hadapan Key.


Key tahu Deden waktu itu berlutut bukan untuk melamar tapi untuk membujuk Zea, tapi dia membujuk Zea untuk menjadi tim suksesnya? Yang benar saja.


Hari ini Pak Kasim tidak berjualan entah mengapa, jadi saja sekarang Key dan Viera memesan mie ayam.


Deden mendekati meja Key dan Viera saat ia melihat mereka, dia berdiri dihadapan dua cewek yang sedang makan itu.


"Jangan lupa pilih urang ya nomor 2, dijamin hidup jomblo kalian bakal bahagia ditangan urang. Bener, gak, Key?"


Deden memberikan selebaran kampanyenya pada Key dan Viera masing-masing. Isinya sungguh mengejutkan, foto seorang Deden dengan angka dua terpampang dikertas hapir memenuhi tiga perempatnya, biodata seorang Deden dengan nomor telpon yang disensor dan sisanya hanya tulisan besar 'Ayo dipilih, kehidupan jomblo kalian aman di tangan orang ini' sebenarnya ini selebaran kampanye atau pencarian orang hilang? Key juga heran.


Key yang sedang makan pun hampir tersedak melihat selebaran konyol itu, tapi aneh memang sepertinya banyak siswa yang mendukung Deden dibuktikan dengan banyaknya siswa yang berkumpul di tempat Deden tadi.


"Lo yakin, Den?" tanya Key miris.


"Den, jangan bilang lo lagi kesambet sekarang?" tambah Viera menimpali.


"Ditunggu aja nanti bukti dari urang, urang buktikan kalo urang bisa. Yaudah, urang mau lanjut nyampein Visi Misi di depan siswa-siswa, sampai ketemu lagi, Key," ucap Deden pergi ke tempatnya yang tadi.


Tempat Key dan Viera duduk tidak terlalu jauh, jadi segala yang dibicarakan Deden dan tim suksesnya dapat terdengar jelas ditempat Key.


*   *   *   *   *


"Acara selanjutnya, Calon ketua Osis kita akan menyampaikan Visi dan Misinya," ucap Gibran memimpin acara.


"Hidup Deden!" teriak Vino menyemangati.


"Hidup!" Siswa-siswi yang berkumpul menimpali serempak.


"Pertama-tama, karena tidak ada yang kedua, sungguh yang mendua itu dusta, nanti kalian jadi sengsara, yang penting usahakan setia. Urang sebagai calon Ketua OSIS berterimakasih atas semua dukungannya, tapi urang berharap gak usah ada yang nyorakin 'Hidup!' gitu lah kan memang urang lagi hidup dan bernapas pakai paru-paru dengan baik." Deden berdiri di atas kursi dan berbicara bak pejabat pemerintahan.


"Mati Deden!" Vino mengepal tangannya ke udara mengganti sorakannya untuk menyemangati Deden.


"Mati!" ucap semua serempak menjawab.


"Jangan mati juga atuh, jadi keliatannya kayak kalian mau demo ke urang merintahin buat mati. Serem kan jadinya," ucap Deden mengelus dadanya.


"Pingsan Deden!" ucap Vino mengubah sorakan penyemangatnya lagi.

__ADS_1


"Pingsan!" jawab semua masih serempak.


"Kumaha dinya wae lah! (Gimana kalian aja lah)" ucap Deden pasrah.


Visi


Mensejahterakan dan membahagiakan hidup para jomblo disekolah ini


Misi


Menyemangati dan membantu segala keperluan misi para jomblo dengan segenap hati untuk mendapatkan tujuannya.


Memberikan modal kepada para jomblo untuk move on dan melangkah lebih maju ke kehidupan selanjutnya.


Memberikan pendidikan bucin yang berkualitas dan ilmu pengetahuan baper yang upgrade juga maju, agar tidak melakukan kesalahan yang sama.


Deden membacakan Visi dan Misi hasil rancangannya sendiri kepada semua siswa disana, semua tampak bertepuk tangan takjub dan mendukung Deden dengan sepenuh hati.


"Jangan lupa pilih urang, nomor 2!" ucap Deden menutup pidatonya.


* * * * *


Waktu kampanye telah selesai, acara debat antar calon ketua OSIS juga sudah dilakukan dengan serius kecuali Deden yang setiap ucapannya membuat yang mendengar menjadi terbahak.


Siswa-siswi sudah mengaspirasikan suaranya untuk memilih ketua OSIS di tahun berikutnya, dan kini saatnya untuk mengumumkan siapa yang menjadi ketua OSIS baru.


Key sangat berharap bukan Deden yang jadi pemenang suara, Key sangat mengharapkannya, entah apa yang terjadi jika Deden benar-benar terpilih.


"Oke fiks, kiamat!" ucap Key pelan.


Langit menjadi gelap, tampak awan hitam dan petir bersahut-sahutan, Sebuah piringan terbang besar mendarat perlahan di lapangan sekolah, jumlahnya tidak satu tapi ratusan.


Pintu piringan terbang itu terbuka, menampilkan sosok alien tinggi hijau dan kurus yang memiliki mata empat sedang memegang senjata.


"Hancurlah ... makhluk bumi!"


Alien itu menembaki seluruh orang dan bangunan-bangunan, mereka menyebar ke seluruh penjuru bumi dan menebar terror kehancuran. Kiamat benar-benar telah terjadi!


*   *   *  *   *


Kriiing ... kriiing ... kriiing ....


"Key bangun ini udah siang, nanti kamu telat!" ucap Bunda Devi berteriak dari lantai bawah.


Key tersentak bangun, keringat membasahi seluruh tubuhnya, napasnya terengah-engah kelelahan. Dia benar-benar telah bermimpi buruk, ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap berangkat sekolah.


"Bunda Key buru-buru, gak sempet sarapan bareng. Dah bunda ... Key berangkat." Key yang baru turun itu segera mengambil sepotong roti dan meminum setengah gelas susunya.


Key menyalami kedua orang tuanya, dan tak lupa menjitak kepala adik laki-lakinya.


Sesampainya disekolah, entah mengapa Key diliputi rasa was-was. ia melangkahkan kakinya cepat menuju kelas Deden.

__ADS_1


"Deden ... mana?" tanya Key dengan napas tak teratur.


Salah satu siswi menunjuk kumpulan siswa di belakang, Key melangkah menuju kumpulan itu dan melihat mereka sedang bermain game online.


Key mendekati Deden yang juga sedang memainkan ponselnya, saat yang lain sedang memainkan game online dan Key melihat Deden yang malah sedang memainkan permainan 'Pou'. Oke, Key mencoba untuk tak peduli.


"Den, gue boleh bicara sebentar?" pinta Key menghentikan Deden yang sedang bermain.


Deden tersenyum jahil menanggapinya, ia pun mengangguk mengiyakan.


"Boleh ... apa sih yang enggak buat princess," ucap Deden memasukan ponsel ke sakunya, sontak saja ucapannya itu mendapat sorakan dari teman sekelasnya.


Key melangkah duluan ke luar kelas, menyembunyikan mukanya yang memerah akibat rasa malu.


Sekarang mereka sedang duduk di kursi panjang di depan kelas Deden.


"Den, yang waktu itu maksud lo ngebujuk Zea buat apa?" tanya Key.


"Cie ... kepo, emang kenapa sih mukanya kok pucet banget, sakit?"


Deden menempelkan tangannya di dahi Key, dan itu membuat jantung Key dangdutan tak karuan. Ah ... Key lupa hendak memeriksakan jantungnya.


"Bentar lagi kan pemilihan ketua OSIS nih, ya. Lo gak ikutan nyalon, 'kan?" tanya Key langsung pada intinya.


"Emang kenapa sih kalo urang pengen ikut? anti banget yaa kalian kayaknya," ucap Deden bingung.


"Pokoknya jangan deh, nanti ada alien, terus tembakan terus-"


"Iya tenang aja, maneh gak usah panik, urang gak bakal nyalon jadi ketua OSIS, kok. Tapi kalo nyalon jadi suami maneh aja boleh?"


Deden mengedipkan sebelah matanya sambil mengelus puncak kepala Key lembut, Key hanya terdiam melihat wajah Deden yang tampak serius.


"Gue ke kelas deh," ucap Key kikuk.


Sebenarnya apa yang merasuki Key ya hingga terbawa suasan mimpi dan langsung menemui Deden seperti ini, benar-benar tidak mencirikan seorang Key.


"Lo jadi, Den, mau nyalon jadi ketos?" tanya Gibran melihat Deden yang memasuki kelas.


"Iya, Den, gue sama Zea udah siap jadi tim sukses lo, nih," timpal Vino diikuti anggukan dari Zea.


"Haha ... gak jadi, istri urang tadi udah ngelarang gak boleh ikutan. bener juga sih, kan emang urang pengen jadi ketos buat ngelawan dan nunjukin ke kak Bagas, tapi karena Key sendiri yang minta, ya, urang mundur."


Deden mengambil kertas formulir pengajuan ketos dari tasnya, ia meremas tas itu dan melemparnya ke tong sampah.


Gibran, Vino dan Zea hanya mengangguk mendukung apapun itu kepurtusan Deden sebagai sahabat mereka.


*   *   *   *   *


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu

__ADS_1


Warning! Mohon dukungannya untuk Author dengan cara klik like, favourite dan memberikan saran. Terimakasih ... :)


__ADS_2