Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Minta Maaf


__ADS_3

"Aku sudah menyakitimu ratusan kali, jadi untuk apa aku marah hanya karena kau yang menyakitiku beberapa kali?" Keyara Valensia.


~     ~     ~     ~     ~


"Jadi siapa lo? Deden atau Kafa?" tanya Gibran memperjelas orang didepannya saat ini.


"Gue gak suka Kafa, Den. Gue lebih suka Deden yang otaknya pensiun separuh," ucap Vino berharap Deden memberikan jawaban sesuai yang diinginkannya.


"Gimana kalo gue jadi siluman aja?" tanya Deden yang lebih seperti pernyataan.


"Lo nyupang? Apa ngepet? Sama apaan? Ibab? Atau ******? Siapa yang biasa jagain lilin? " Gibran mencerca Deden dengan banyak pertanyaan karena terkejut mendengar jawaban Deden yang tiba-tiba.


"Musyrik lo! Tobat, lo cepetan tobat sana. Gue takutnya pas lo lagi keliling lilinnya ketebas angin. Inget mati! Nanti jenazah lo gak diterima," timpal Vino melanjutkan tak kalah terkejut.


Ptakk ....


Deden memukul keras kedua kepala sahabatnya itu. Ia tak habis pikir sebenarnya bagaimana kedua cunguk ini diciptakan. Gak mungkin kan mereka lahir karena didownload, terus servernya error hingga jadilah mereka. Bagaimana bisa mereka berpikir jika dia ngepet? Yang benar saja.


"Bukan itu maksud urang cunguk!" Deden mencoba menjelaskan. "Urang masih ada urusan sama masa lalu yang mengharuskan urang untuk jadi Kafa, tapi untuk sekarang urang juga lebih suka jadi Deden."


"Eh, urang-maneh?" Vino sedikit terkejut menyadari perbedaan cara bicara Deden. "Jadi Deden berarti nih?"


"Terus gimana maksud lo?" tanya Gibran meminta jawaban yang jelas.


"Gue akan jadi Deden, tapi jangan kaget kalo suatu saat gue adalah Kafa," jawab Deden dengan muka seriusnya.


"Loh sekarang Kafa?" tanya Vino masih kebingungan.


"Kan tadi udah urang jelasin. Yaudahlah, mending sekarang kalian bantu urang buat minta maaf sama Key."


"Loh, jadi Deden lagi?"


"IQ lo berapa sih, Vin? Udah diem aja deh," ucap Gibran merasa kesal dengan teman sepercungukannya. "Jadi sekarang kita mau gimana, Den? Lo ada ide?"


Deden menyeringai sejenak ia melangkah ke meja guru dan mengambil sebuah spidol.


"Ayo kita jadi tentara sebentar," ucap Deden tersenyum senang.


Sekarang penampilan mereka sudah sangat, Aneh. Sekali lagi mereka beruntung, karena hari ini guru sedang mengadakan rapat dadakan hingga tidak ada yang mengajar. Perilaku mereka sudah selevel dengan komandan rumah sakit jiwa. Para siswa sekelas mereka menatap sambil sesekali tertawa.


Deden dan duo cunguk sedang menenteng sapu masing-masing yang mereka pegang bak senapan laras panjang. Wajah mereka terdapat tanda hitam coretan spidol.


"Den, ini kita tentara atau hello kitty sih?" tanya Gibran menatap wajahnya di layar ponsel.

__ADS_1


"Iya, Den. Tentara mana yang garis di wajahnya kayak kumis kucing begini?" timpal Vino menyetujui.


Tadi Deden menggambar tiga garis di masing-masing pipi kanan dan kiri mereka secara bergantian. Mungkin karena Deden yang tidak pernah melihat tentara perang secara langsung, jadi saja ia menggambar garis diwajah mereka dengan spidol asal-asalan. Hasilnya, mereka lebih terlihat seperti sedang menggunakan efek kucing didalam aplikasi ponsel, daripada seorang tentara.


"Udah deh gak usah dipeduliin. Muka kalian dicoret enggaknya gak bakal berubah jadi cakep kok. Makin jelek iya," ucap Deden tak acuh.


"Justru itu yang kami takutin, Den."


"Udahlah, ayo berangkat."


Mereka pergi meninggalkan kelas menuju kelas Key sambil membawa sapu. Seksi kebersihan di kelas mereka bahkan sempat memaki mereka yang membawa sapu kelas. Siswa yang lainnya malah menahan tawa karena tak kuat melihat Deden dan sahabatnya, tapi mereka takut jika Deden akan tiba-tiba berubah jadi Kafa. Karena berubahnya sikap Deden menjadi Kafa lebih menakutkan dari seorang macan betina PMS.


"Naik kereta api ... prett ... prett ... prett ..., siapa jodoh kita ... dicari-cari ... enggak ketemu ... yasudah pasrah aja ...." Langkah kaki Deden dan duo cunguk berderap, mereka berbaris panjang kebelakang. Sapu masih tergenggam manis ditangan. Para siswa sudah terbiasa melihat kelakuan aneh mereka, jadi mereka hanya melihat dan sesekali tertawa terpingkal-pingkal.


"Posisi siap!" ucap Deden memerintah, Duo cunguk berdiri tegap dengan sapu di sebelah tubuh mereka.


"Siap!" timpal mereka serempak.


"Tembak!"


"Siap! Tembak apa?"


"Burung!"


"Eh?" Duo cunguk menunduk melihat kebawah mereka, entah melihat apa.


"Tapi kan ini sapu, Juminten! Gimana bisa nembak?" cerca Gibran kesal terhadap perintah Deden.


"Oh iya, yaudah lanjut."


Mereka kembali melangkah menuju kelas Key. Sesekali siswa yang melihat, menanyakan pada mereka obatnya sudah ditelan atau belum.


"Kelas kalian sudah dikepung!" ucap Deden berteriak memasuki kelas. Mengarahkan sapunya ke depan seperti bersiap menembak.


Siswa-siswi didalam kelas Key ada yang kebingungan, ada juga yang terkejut, bahkan ada juga yang mengangkat tangannya refleks. Tapi kemudian mereka menahan tawa karena melihat penampilan Deden dan sahabat-sahabatnya. Ah sepertinya Deden sudah sembuh, dan sembuhnya Deden berarti kegilaannya bertambah.


Deden dan duo cunguk berbaris sejajar didepan kelas, siswa lainnya yang sedang menikmati pelajaran kosong itu mengalihkan perhatiannya pada mereka bertiga.


"Terdapat korban sakit hati di kelas ini. Harap diam!" Deden kembali berteriak semua siswa yang paham langsung melirik kearah Key. Alhasil, sekarang Key merasa menjadi artis karena menjadi pusat perhatian.


Gibran dan Vino sudah mendorong-dorong pelan tubuh Key ke depan kelas, tangannya ditekuk ke belakang dan dipegangi. Bukankah tadi Deden bilang ia adalah korban? Mengapa sekarang ia malah menjadi seperti seorang tersangka? Lagipula mereka telah mengganggu Key yang sedang asyik membaca Novel.


Sekarang Deden sudah berhadap-hadapan dengan Key. Jarak mereka cukup dekat, hanya sejengkal jarak ujung sepatu mereka berjauhan.

__ADS_1


"Deden?" tanya Key kebingungan melihat penampilan Deden. "Maaf, maksud gue Kafa," Key menunduk tak berani kembali menatap Deden.


"Urang Deden. Kafa lagi tidur." ucap Deden tersenyum hangat ke arah Key.


Hati Key kembali berdegup kencang, degupan yang selalu ia rasakan akhir-akhir ini setiap bertemu dengan Deden.


Sekarang di samping mereka Vino sudah menjadikan sapunya sebagai mic, ia menyanyikan lagu seriosa. Walaupun suara Vino terdengar ancur bin bikin sakit telinga, tapi semua orang tetap fokus melihat yang terjadi di depan.


"Oke sekarang kita mulai." Gibran sudah berada di antara Deden dan Key. Mereka juga berbalik menghadap Gibran.


Gibran menjulurkan tangannya ke arah Deden dan Deden berbalik menerimanya. Vino menyampirkan sebuah taplak meja hijau yang kusam milik kelas Key di atas kepala Deden dan Key yang menghadap Gibran. Sekarang mereka tampak seperti akan melangsungkan akad nikah dengan Gibran sebagai penghulunya. Para siswa semakin antusias menonton, beberapa siswa lain juga menemani Vino bernyanyi seriosa, sungguh paduan suara yang membuat gendang telinga pecah.


"Deden tukang bubur, gue ikrarkan lo meminta maaf kepada Keyara Valensia dengan seperangkat hati tulus dibayar ikhlas!" ucap Gibran sedikit menghentakan tangannya yang berjabat dengan Deden.


"Urang terima kesalahan urang, dan berikrar sungguh-sungguh meminta maaf kepada Keyara Valensia dengan seperangkat hati tulus di bayar ikhlas!" timpal Deden lantang dengan satu tarikan napas.


"Gimana para buciners? Sah?" tanya Gibran pada seluruh siswa di dalam kelas.


"Sah!" Semuanya berucap lantang dan serentak, Vino yang berteriak paling kencang. Semoga saja tidak kedengaran hingga kelas lain bahkan ruang guru.


"Gimana, Key?" tanya Deden menatap Key yang sedari tadi menahan tawanya.


Key mengangguk pelan sambil tersenyum. "Gue maafin lo!"


"Hore!"


Kelas kembali ricuh, sorak sorai terdengar gembira. Para siswa mulai menyalami Key dan Deden sambil berjajar satu persatu layaknya menyalami sepasang pengantin.


"Hahaha ... "


Sura tawa keras terdengar dari bangku belakang, mereka semua beralih mencari sumber suara.


"Jadi itu cewek lo, Fa? Atau harusnya gue panggil Deden?" Juna melangkah kedepan mendekat ke arah Deden dan yang lainnya.


"Loh, Juna?" tanya Deden kebingungan melihat teman satu gank motornya.


"Padahal tadinya gue mau jadiin cewek itu pacar. Ternyata udah jadi hak milik kapten Pheonix," lanjut Juna tersenyum yang tak dapat diartikan.


*     *     *     *     *


Holla semuanya! Deden is Back, Uwu .... Jadi ada yang bilang lagi.


Urang \= Saya

__ADS_1


Maneh \= Kamu


Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan rate bintang lima yaa ... See you next part.


__ADS_2