Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Menghilang


__ADS_3

"Gimana Key, lo udah ketemu sama Deden?" Viera bertanya saat Key yang baru masuk kelas itu menghampiri nya.


"Belom," jawab Key sambil menggeleng.


Sudah hampir seminggu sejak Key bertemu Deden terakhir kalinya, ia tak pernah melihat Deden lagi. Key takut jika motor ninja merah yang hancur ditemukan adalah milik Deden.


"Rumahnya?" tanya Viera lagi.


"Gue gak tahu rumahnya."


"Lagian lo sok-sok an, pas orangnya ada di cuekin, disuruh jauh-jauh lagi. Giliran orangnya gak ada malah dicariin," ucap Viera yang mengetahui jika Key memerintahkan Deden menjauh darinya.


"Emangnya lo udah nyari kemana aja?"


"Ke kelasnya, kantin, ruang guru, parkiran, lapangan sekolah, warung depan sekolah, Gudang, WC, atas pohon, panci pak kasim, dibawah keset, selokan, sama tong sampah."


"Eh ... buset, dikiranya Deden belatung nangka kali, nyari sampe ke tong sampah."


"Ya terus gimana, Ra."


"Kenapa jadi nanya ke gue? Tanyain deh sama rumput yang bergoyang."


"Bantuin Ra, Please."


"Sebelumnya gue mau tanya, lo harus jawab jujur."


"Apa?"


"Lo suka sama Deden?"


"Gak bisa, Ra."


"Loh kok gak bisa? Gimana, Kenapa?"


"Deden suka sama Zea."


"Ap-  hmmf" Key langsung menutup mulut Viera sebelum ia mengeluarkan suara oktafnya. Dilihatnya Bu Fida memasuki ruangan sambil menenteng buku paket fisika yang sebegitu tebalnya.


"Jangan berisik, Ra." Viera mengangguk paham melihat Bu Fida yang masuk dan langsung menerangkan pelajaran, perlahan Key melepas tangannya.


Viera menunduk menyembunyikam tubuhnya dibalik teman didepannya, wajahnya di dekatkan ke telinga Key yang juga mengikutinya.


"Lo tahu dari mana Deden suka sama Zea?" ucap Viera berbisik.


"Deden yang bilang sendiri." Balas Key ikut berbisik. Viera menatap Key tak percaya, sedangkan Key mengangguk meyakinkan.


"Kalo lo ketemu Deden lagi, lo mau apa?" ucap Viera kembali berbisik


"Gue gak tahu, Ra."


"Tapi kan lo yang nyuruh Deden pergi, kenapa lo malah balik nyari? Apa kata ultraman, eh ... Dunia."


"Gue juga gak tahu, Ra. Makanya bantuin gue, gue butuh saran."

__ADS_1


"Tapi lo suka sama Deden?"


"Kalo akhir-akhir ini jantung gue berdetak lebih kencang setiap deket dia. Itu artinya suka atau penyakit jantung?"


"Jantung berdetak lebih kencang? seperti genderang mau perang. Aku hanya ingin, mencinta karena ... mungkin ada kamu, disini ... aku ingin. " bisik Viera yang malah bernyanyi penggalan lagu dari Ahmad Dani.


"Suara kamu bagus, Ra. Tapi kenapa bisik-bisik? Jantungnya berdetak lebih kencang ya? Itu artinya kalian masih hidup, gak tahu kalo beberapa menit lagi." Key dan Viera tersentak kaget karena mendengar sebuah suara yang ikut berbisik. Ternyata Bu Fida ikut berbisik dan sudah diantara mereka entah sejak kapan.


"Astaghfirullah, Gue kira setan," ucap Key mengelus dada. Sedetik kemudian, Ia segera menutup mulutnya ketika baru sadar apa yang barusan ia katakan.


"Apa yang kamu bilang, Key?" tanya Bu Fida, terlihat kilatan marah dimatanya.


"Maksud Key, dia kira Bu Fida mirip Donald Trump. Iya hehe ...." Viera menggaruk kepalanya yang tak gatal, bermaksud membela sahabatnya. Namun, sepertinya usaha Viera sia-sia. Bu Fida semakin menunjukan ekspresi marahnya.


"Gawat! Harusnya tadi gue bilang Bu Fida mirip angelina Jolie aja, salah kan melencengnya malah ke Donald trump." ucap batin Viera memaki kesalahannya.


Alhasil, sepanjang pelajaran Key dan Viera berubah menjadi patung dengan kaki diangkat sebelah dan tangan yang menarik kuping masing-masing di depan kelas. Hukumannya gak seberapa, malunya itu lho.


*   *   *   *    *


Saat jam pelajaran istirahat, Viera dan Key langsung bertapa sambil duduk nyaman di bangku Depan kios Pak kasim, rasanya sudah lama mereka tidak makan bakso.


"Itu artinya lo suka sama Deden, Key." Viera melanjutkan obrolan mereka tadi yang terhenti. Ia memukul-mukul kakinya yang pegal, karena dihukum.


"Gue masih gak yakin, Ra."


"Lo mau nunggu sampe kapan, kapan lo akan jujur sama perasaan sendiri?"


"Gue gak tahu. Mungkin nunggu kura-kura ninja berubah jadi kura-kura samurai."


"Kalo bawa kenapa, Ra?"


"Gue pahat jadi kayu, kenapa emang? Sebel gue sama lo, Key."


"Gue cuman mau pastiin Deden baik-baik aja Ra. Gue takut Deden terlibat kecelakaan waktu itu, buktinya ia gak sekolah seminggu. Gue gak mau dia kenapa-kenapa." Wajah Key berubah sendu, matanya mulai berkaca-kaca. "Gue gak akan biarin diri gue suka sama Deden Ra, Karena gue yakin Deden sebenernya gak suka sama gue. Gue takut sakit hati."


Ptakk ...


Viera memukul Key dengan sendok yang sudah siap ia pegang sambil menunggu pesanan baksonya, Key terkejut mengelus kepalanya.


"Lo pikir deh, kalo Deden gak suka sama lo. Gak mungkin dia segitu ngebetnya sama ngejer lo, Key."


"Gue cuman pelampiasan, Ra."


"Masa sih? Segitu usahanga orang cuman buat pelampiasan?"


"Deden itu sukanya Zea, Ra. Gue pelampiasan semata. Gue gak mau cuman jadi pelampiasan, gue rasa itu bakal lebih sakit daripada tahu siapa orang yang dia bener bener suka."


Viera merasa bersimpati, ia melihat mata Key yang terus-terusan menahan tangis. Ia memeluk sahabatnya itu, memastikan jika semuanya akan baik-baik saja.


Ptakk ....


Kepala Key kembali dipukul oleh sendok, tapi kali ini bukan Viera yang melakukannya.

__ADS_1


"Aduh ... ini kepala, bukan mangkok. Kenapa diketok terus sih?" ucap Key mulai geram. Ia melihat orang dibelakang yang memukulnya.


"Oh bukan mangkok ya." Bagas mengambil tempat duduk tepat di depan Key, ia memegang sendok menunjuk ke arah Key. "Lagi ngomongin apa sih?"


"Kepo deh kak," jawab Key acuh.


"Oh, Kepo ya."Bagas menyubit pipi Key gemas.


"Aw ... hakit kak." Bagas tak memperdulikan ucapan Key, gerakannya terhenti ketika melihat wajah Key dengan seksama.


"Kamu abis nangis? Kok matanya sembab?" tanya Bagas melihat mata Key yang membengkak. Semalam Key memang mengingat kembali percakapannya dengan Deden yang membuatnya kembali menangis hingga ketiduran.


"Kurang tidur ini, kak." Key mencoba berkelit, berharap Bagas percaya.


"Deden?" tanya Bagas tepat hingga mendapatkan dua juta rupiah. Eh ... ini kan bukan kuis.


Key bingung harus menjawab apa, ia tidak pandai membuat alasan.


"Dijual ... dijual ... dijual. Kacang ... kacang, dikacangin gak enak tapi untungnya kacang lagi mahal. Yuk dipilih yuk." Viera menyindir kedua orang yang disebelahnya, ia mengetuk-ngetuk dua porsi mangkok bakso yang baru sampai sambil berbicara seperti pedagang cangcimen di bis.


Key bersyukur, sahabatnya memang terbaik. Bagas perhatiannya sekarang teralihkan.


"Apaan sih, Ra." Protes Bagas, orang kacangnya gak ada. Kalo ada beneran, bagas akan membeli.


"Lagian dunia serasa milik berdua, yang lain cuman numpang napas. Ini disini juga ada seonggok manusia, jangan dikacangin ngapa."


"Maafin ya seonggok manusia," ucap Key terkikik geli.


Key mengambil mangkok baksonya, bersiap meraciknya super pedas seperti biasa. Melihat gelagat Key yang mengerikan Bagas menahan tangan Key yang telah memegang botol sambal cabai kesukaannya.


"Kak, kali ini aja. Boleh ya?" bujuk Key memohon sambil menunjukkan puppy eyesnya.


Bagas mengangguk, ia tak bisa menolak permintaan Key jika sedang memohon karena terlihat sangat imut.


"Tapi, jangan terlalu banyak."


Sejenak Key dapat melupakan Deden setelah melihat mangkok baksonya penuh dengan cabai. Dasar Deden dirinya kalah dan ditendang dengan cepat dari pikiran Key hanya karena semangkok bakso penuh cabai.


Sejenak mereka makan dengan tenang, Key makan dengan lahap. Bagas juga menyusul memesan makananya.


Sekelebat arwah, maksudnya manusia, dua orang lagi. Mereka Vino dan Gibran yang tertangkap oleh ujung penglihatan Key. Mereka melewati kantin, sambil membopong seseorang di pundak mereka menuju arah UKS. Kesempatan itu tidak akan Key sia-siakan. Dengan cepat Key berdiri, hendak mengejar duo cunguk untuk menanyakan keadaan Deden. Gerakannya yang tiba-tiba sempat membuat Bagas dan Viera terkejut.


"Vino, Gibran, tunggu!" ucap Key berteriak keras. Siswa-siswi dikantin termasuk Pak Kasim hingga memperhatikannya.


Duo cunguk melihat pada orang yang memanggil mereka, dengan sekejap mereka malah berlari menghindarinya. Menyeret orang yang sedang mereka bawa dengan paksa.


* * * * *


Di part ini Dedennya lagi gak ada, jadi gak ada yang bilang,


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu

__ADS_1


wkwk See you next part. Jangan lupa, like, Vote, komen, rate bintang lima dan klik favorite. bye bye.


__ADS_2