
"Kafa!"
Deden yang baru saja pulang sekolah, dan hendak menaiki tangga menuju kamarnya menghentikan langkahnya.
Ia menoleh ke arah sumber suara, seorang pria berpenampilan rapi dan memakai jas menatap Deden dengan ekspresi yang tak dapat diartikan.
Deden mendekat hingga berhadapan dengan pria tersebut, ia menatap datar tanpa ekspresi pada orang di hadapannya.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi sebelah kiri Deden, sudut bibirnya sedikit robek dan mengeluarkan darah. Deden menyekanya dengan segera, setelahnya ia menatap sinis orang di hadapannya.
"Mau jadi apa kamu?! You're my son! Papa sekolahin kamu itu biar hidupmu bener! Kalau kelakuanmu terus seperti ini, mau ditaruh di mana muka papa! " ucap Dirga emosi, tangannya mengepal kuat, Mukanya memerah karena marah.
"Oh maaf, sepertinya urang hanyalah seonggok manusia yang sedang rutin bernapas setiap waktu. Jadi apa masalahnya? Kalo untuk muka, mau diambilin baskom?" tanya Deden datar, ia melangkah menuju meja kecil di sebelahnya.
Ruangan tamu itu, ruangan yang biasanya hampa dan dingin, tiba-tiba terasa panas dipenuhi amarah dan emosi.
Dirga ---Ayah Deden--- yang sekian lama tak pernah lagi menginjakan kaki di rumah ini, tiba-tiba datang membawa seluruh rasa benci dan amarahnya.
"Dasar anak tak tahu diuntung! Seharusnya kamu melakukan semua perintah saya dengan baik! Tidak terkecuali!" ucap Dirga menunjuk wajah Deden yang sudah kembali sambil memegang selembar kertas dari laci meja yang tadi ia hampiri. "Gank motor! Tindakan pembunuhan! Ruang Bk! Perilaku tidak baik! Apalagi kelakuan burukmu?!"
"Wadaw ... wadidaw," ucap Deden berpura-pura terkejut sambil menaruh tasnya sembarangan. "Benarkah? urang kira 'Baginda Papa' sudah tidak memperdulikan hamba sebagai anak," ucap Deden sembari menekankan pada beberapa kata.
"Berani-beraninya kamu! Kelakuanmu buruk! Mirip seperti ibumu!" ucap Dirga berteriak, rahangnya mengeras karena emosi.
Deden yang mendengarnya naik pitam, napasnya naik-turun menahan emosi agar tak terluap. Deden sebisa mungkin menahan amarahnya, ia tidak boleh terlihat lemah. "Kalo memang seperti itu, silahkan coret nama urang dan ibu urang dari daftar kartu keluarga, biar baginda papa tidak perlu memiliki anggota keluarga lagi, mudah, 'kan?" Deden tersenyum sambil menyodorkan selembar kertas dan pulpen ke hadapan dirga, sebuah kartu keluarga, Deden ternyata mengambil kertas itu tadi.
Plak!
Sekali lagi, sebuah tamparan keras itu mendarat di pipi Deden, Deden hanya meringis pelan kemudian tersenyum lebar, ia tidak boleh terlihat lemah.
Darah kembali mengalir di sudut kiri bibirnya, wajahnya yang separuh terasa kaku dan kebas.
"Ada lagi yang hendak baginda papa sampaikan?" tanya Deden dengan senyum riangnya.
"Percuma saya membesarkan kamu, jika hanya menjadi sebuah aib!"
"Apakah baginda papa pernah mendengar pepatah tentang buah jatuh, tak mungkin ke atas melainkan ke bawah? Itu adalah sebuah realita, mungkin saja perilaku urang menurun dari baginda papa?" tanya Deden masih menunjukan senyum manisnya.
"Dasar kau- "
"Tunggu sebentar," ucap Deden yang melihat tangan Dirga terangkat hendak kembali menamparnya. Deden mengusap-usap pipi sebelah kanannya. "Silahkan tampar urang di pipi satunya, sudah bersih. Pipi kiri urang sudah terasa kaku, jika ditampar gak akan terasa sakit. Kalau baginda papa benar-benar berniat menyakiti, pipi kanan urang belum merasakannya."
Plak!
__ADS_1
Dirga kembali menampar Deden di tempat yang sama, ia tak memperdulikan ucapan Deden.
"Kalo bukan karena saya! Kamu mungkin akan di penjara seumur hidupmu! Dasar anak ha*am!"
Deden sudah tak kuat menahan emosinya, ia segera mengambil tasnya dan pergi ke luar rumah.
"Mau kemana kamu! Saya belum selesai berbicara!"
Deden tak memperdulikan lagi teriakan dan makian Dirga, ia menyalakan motornya dan segera menjauh dari rumah mewah yang lebih tepat ia namakan neraka.
"Topeng, jawabannya topeng." Suara Pak Wiryo ketika di ruangan BK kembali terngiang di kepala Deden. "Saya tahu jika selama ini kamu memakai topengmu kemana-mana," ucap suara Pak Wiryo masih terbayang.
Deden menarik gas nya kuat-kuat, ia ingin segera menjauh dari satu-satunya tempat ia pulang.
"Kalo kamu punya masalah, cerita saja. Kamu tahu kan kalo guru BK itu tugasnya bukan hanya menghukum, kami juga siap membantu menyelesaikan masalah siswa semampu kami," ucap Pak Wiryo ketika di ruang BK. "Lepas topengmu, sesuatu yang palsu akan selalu menyesakkan." Perkataan Pak Wiryo selalu terngiang di kepala Deden, napasnya terasa sesak, ia semakin mempercepat laju motornya.
* * * * *
Tempat yang damai, tidak banyak orang berlalu lalang. Seorang siswa masih berseragam lengkap tampak berdiri menundukkan kepala sedalam-dalamnya, seperti ia sedang begitu banyak menahan beban di punggungnya.
Setelah Deden hampir berjam-jam berkeliling dengan motornya, ia memutuskan pergi ke danau dekat rumah neneknya. Danau yang selalu membuatnya tenang saat pikirannya kacau dan masalah membelitnya.
"Nek, Apa urang masih kuat?" tanya Deden bergumam pelan menatap tanah di bawahnya. "Aargh!"
Deden mengacak rambutnya, ia juga sesekali melemparkan batu ke arah danau. Ia berteriak sekencang-kencangnya, tidak peduli apakah orang akan mendengar.
[Grep]
Seseorang memeluk Deden erat, menghentikan gerakannya yang terus manjambak rambutnya.
Deden terdiam, ia melihat orang yang memeluknya. Key sedang memeluknya erat sambil menutup mata, seakan-akan ia tak akan kembali melepaskannya.
"Gak apa-apa, semuanya akan baik-baik aja," ucap Key menepuk-nepuk pelan punggung Deden. "Menangis bukan artinya lo lemah, lo hanya sudah cukup kuat menahannya selama ini sendirian."
"Gue ternyata lemah, gue rasa gue sudah ada di batasnya," ucap Deden menenggelamkan kepalanya di leher Key, ia membalas pelukan Key erat.
Key merasakan tubuh Deden yang bergetar, ia semakin mengeratkan pelukannya. "Harusnya lo jangan pernah tersenyum saat hati lo sedih. Jangan pernah lagi ngelakuin hal yang terbalik."
Key tidak pernah menyangka, seorang Deden yang selalu tersenyum, seorang Kafa yang terkesan dingin, dan ternyata ia masih tak mengenali orang yang ada di hadapannya. Ia masih tak mengenali Deden ataupun Kafa dan sekarang ia sedang menghadapi orang yang terkesan kuat tetapi sangat rapuh.
"Sesakit itu ya, Den. Sampe Deden yang gue kenal nangis?" Key hanya berucap dalam hati, ia masih membiarkan Deden meluapkan rasa sakitnya.
Beberapa saat mereka berpelukan hingga situasi kembali tenang, Deden dan Key terdiam tanpa suara bahkan Deden sengaja memalingkan muka dari Key.
"Kok maneh ada di sini sih, Key?" tanya Deden yang masih memalingkan muka dari Key.
__ADS_1
"Rumah gue kan deket sini. Gue tadi gak sengaja lewat pas udah beli gula pasir."
"Oh, iya." Deden tak ingat jika rumah neneknya dulu juga berada dekat dengan rumah Key sekarang.
"Lo kenapa ngebelakangin gue, sih? Muka gue nyeremin emang kalo malem-malem?"
"Bukan, Key. Mau kapan aja muka maneh tetep cantik, urang tetep suka," ucap Deden dengan santainya, padahal Key wajahnya sudah merona merah saat ini. "Tapi ini loh muka urang kayak abis ditonjok transformers."
"Hahaha ... lo lucu."
"Emang."
Key menghampiri Deden dan berjongkok di hadapannya, ia menatap wajah Deden serius seperti tengah menelisik sesuatu. Deden yang di tatap hanya mengangkat sebelah alisnya kebingungan.
"Walaupun habis di tonjok transformers, tapi tetep cakep, kok," ucap Key tersenyum malu-malu.
Deden membelalakan matanya, tak percaya akan ucapan Key barusan. "Apa-apa? Coba ulang. Telinga urang berasa mampet."
Key semakin mendekatkan wajahnya pada Deden, jarak mereka sekarang sangat dekat. "Lo cakep," ucap Key pelan namun tegas.
Dengan sekali gerakan, sekarang Key yang memalingkan wajahnya membelakangi Deden. Wajahnya memerah bak kepiting rebus setelah mengucapkannya.
Deden terdiam sejenak, ia masih memproses ucapan Key. Jantungnya berdetak tak karuan, mood nya membaik, ia merasa sangat senang.
"Apa-apa? Gak denger?"
"Gak ada pengulangan."
"Belom ngerekam urang, Key. Buat jadi nada dering." Deden semakin menggoda Key yang mukanya semakin memerah.
"Gak!" Key menelungkupkan wajahnya di kedua lengan karena malu, ia tak ingin Deden melihatnya.
"Tapi, bohong. Urang udah rekam dong suaranya," ucap Deden memperlihatkan ponselnya pada mode berhasil merekam, ia memutar suara Key berulang-ulang.
"Ih ... Deden!" Key berusaha menggapai ponsel Deden. "Hapus, Gak!"
"Gak akan, wlee ...." Deden menjulurkan lidahnya, ia berusaha mengelak setiap kali Key mencoba merebut ponselnya.
Malam itu, sebuah tangisan dalam sekejap dapat berubah menjadi tawa bahagia. Sebuah hati yang terluka dapat terobati karena kehadiran sebuah hati yang berharga.
* * * * *
Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂
Urang \= Saya
__ADS_1
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan rate bintang lima yaa ... See you next part.