Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Phoenix


__ADS_3

"Punten! Bunda ... mau nyulik anaknya sebentar!" ucap Deden setengah bereriak di depan gerbang, memanggil sang pemilik rumah.


Waktu menunjukan pukul 19:30, langit sudah menggelap. Deden memarkirkan motornya di depan gerbang, sesuai janjinya ia menjemput Key untuk suatu hal.


Pintu terbuka, menampilkan Bunda Devi yang memakai baju santainya. Bunda menghampiri Deden dan membuka pintu gerbang.


"Minta tebusan gak, nih?" Bunda Devi tertawa. "Jangan malem-malem pulangnya!"


Deden menegakkan tubuhnya, hormat dengan tangan. "Siap, Bos!"


"Nih, ambil," ucap Bunda Devi menyodorkan sebuah bingkisan.


"Apa?"


"Cookies. Jangan lupa dimakan! Bikinan bunda, tuh."


"Oh, jelas. Asiap!"


Key melangkah mendekat, ia sudah siap dengan sling bag hitamnya. Gadis cantik itu mengenakan celana jeans berwarna navy, dan juga jaket serta kaos putih di dalamnya. Rambutnya ia kuncir satu ke belakang, bergerak ke kanan dan kiri saat berjalan.


"Yuk," ucap Key mengangguk. Ia tersenyum tipis.


"Bunda, kok bisa?" tanya Deden tak jelas.


"Bisa apa?" Bunda balik bertanya kebingungan.


"Ngelahirin bidadari."


Bunda Devi menarik sebelah telinga Deden hingga memerah. "Jago gombal sekarang, ya?"


"A- aw, sakit bunda. Urang berasa anak tiri."


Key tertawa, entah kenapa ia merasa sangat puas. Key masih mengingat jelas kejadian di sekolah tadi, hingga saat ini ia benar-benar masih merasa malu.


"Jagain anak bunda! Kamu gak apa-apa, kan? Terakhir kali ke sini wajahnya ancur banget."


"Masa orang ganteng gini. Wajahnya dibilang ancur. Bunda gimana, sih?"


Bunda Devi kembali tertawa. "Maksudnya ekspresimu. Yaudah sana berangkat. Inget jangan malem-malem!" titah Bunda Devi tegas.


"Key pergi, Bunda," ucap key menyalami tangan Bunda Devi hormat.


"Urang jamin. Anaknya bunda gak akan tergores sedikitpun," ucap Deden ikut memberi salam


Sebuah helm diberikan pada Key, Deden juga sudah siap dengan helm fullfacenya. Mereka berangkat dengan kecepatan sedang, jalanan cukup ramai, memang jam-jam seperti ini merupakan jam sibuk.


*      *      *      *       *


"Nah sekarang gimana? Ada yang mau berkeluh-kesah?" tanya Deden duduk di bagian tengah para anggota phoenix yang melingkar.


Key duduk di sebelah Deden, ada Viera juga yang duduk bersebelahan dengan Key selanjutnya Vino. Juna berada di sisi sebelah Deden yang satunya.


"Key, ini apa, sih? Gue diajak Vino ke sini, ngangguk aja," tanya Viera berbisik pelan.


"Gue juga gak tahu, Ra. Gue juga diajak Deden," balas Key ikut berbisik.


Key tahu tempat ini, mereka tengah berada di sebuah rumah kosong dekat danau. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah Key.


"Den, ini kita ngapain, ya?" Key beralih, berbisik pada Deden di sebelahnya.


Hampir sekitar 35 orang berada dalam ruangan, mungkin lebih. Ruangan tampak penuh, banyak juga makanan ringan yang tersaji.


"Ini Phoenix, gank motor urang. Kita lagi adain kegiatan rutin. Urang ngajak maneh ke sini karena urang pengen maneh tahu gimana kehidupan urang selama ini," jawab Deden.


"Kok gue baru tahu? Mereka sering ngadain ini? Di sini?" tanya Key lagi.


"Phoenix baru beberapa bulan ini urang aktifin lagi. Di sini paling cuma setengahnya kurang yang datang, belum semua."

__ADS_1


"Setengah? Orang satu RT gini setengah dari seluruh anggota? Lo bikin gank motor atau mau bikin negara baru?"


Deden tertawa mendengar ucapan Key. "Kebanyakan dari kita anak broken home. Kita saling menguatkan, kita udah nganggep satu sama lain keluarga. Bener, gak, lur?" tanya Deden mengeraskan suaranya.


"Bener, Kapten!" jawab Semuanya serentak.


Viera terkejut kaget karena mereka berbicara bersamaan bahkan Vino juga. Gibran tidak datang karena katanya ada acara keluarga.


"Oh, iya, kenalin," ucap Deden merujuk pada Key, semuanya memperhatikan dengan seksama. "Ini Key, dia ... pacar urang! Sebelahnya Viera, dia sahabatnya pacar urang."


Semua orang dalam ruangan tampak ikut bahagia mereka bertepuk tangan, bersorak, dan bersiul.


"Key, sejak kapan lo resmi jadi pacar Deden. Kok gue gak tahu?" tanya Viera mengintimidasi. Nah, kan, sahabatnya sendiri pun tidak tahu.


"Hehe ... nanti gue cerita, Ra. Bantuin, sekarang gue malu," ucap Key dengan wajah yang memerah.


Deden memang kalo berbicara suka seenak jidat, sepertinya Key harus membeli wajah baru karena saking malunya.


"Lengkap sudah! Ada ibu kapten sekarang, Woy!" teriak salah satu anggota.


Suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Mau taruh di mana muka Key sekarang?


"Kapten!" Seseorang mengangkat tangan.


"Ya, Lena kenapa?" tanya Deden menyebut nama orang yang memanggilnya, ia terlihat berwibawa dan itu membuat Key tak percaya jika orang di sebelahnya adalah Deden.


"Deden kenal semua anggotanya?" tanya Key dalam hati.


"Gue mau cerita," ucap Lena, semua orang di dalam ruangan langsung memperhatikannya.


"Silakan, kita semua akan dengerin maneh. Sebisa mungkin kita bantu maneh," ujar Deden mempersilakan.


"Orang tua gue maksa gue buat jadi dokter. Ayolah ... liat darah aja gue kejang-kejang. Mereka gak peduli ... yang mereka tahu keinginan mereka harus tercapai. Gue punya mimpi sendiri, kenapa gue harus ngejar mimpi mereka?" Lena mulai terisak, matanya berkaca-kaca. Seorang gadis lain di sebelahnya mengelus-elus punggungnya pelan.


Deden mendengarkan serius. "Gak apa-apa kalo maneh gak sanggup lanjut cerita," ucap Deden menenangkan.


"Gue capek ... gue pusing dengerin mereka terus. Gue capek tertekan." Air mata sudah memenuhi wajah cantik Lena. Ia mengakhiri cerita, beberapa teman lain di sekitarnya beralih memeluknya.


Key mulai paham, mereka saling menyemangati. Mereka memberikan yang sebelumnya tak di dapatkan. Sebuah kasih sayang, mereka saling memberikannya satu sama lain. Tak terasa Key ikut meneteskan air matanya, sedangkan Viera sudah berkali-kali menarik ingusnya agar kembali naik.


Orang-orang di sini ... orang-orang kuat. Mereka saling memahami, mereka saling mengerti perasaan masing-masing. Tak ada tatapan meremehkan yang diberikan, semuanya memberikan sebuah perhatian.


"Semangat Lena!"


"Fighting! You are the best!"


"Kita bangga padamu!"


Benar-benar keluarga yang hangat. Kalimat-kalimat yang menguatkan, Key nyaman di sini, terasa menenangkan.


"Maneh ... kuat! Maneh ... tegar! Maneh pasti bisa," ucap Deden ikut menyemangati.


Deden berdiri mendekati gadis yang masih menangis ditenangkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Pria yang dipanggil kapten itu duduk di hadapan Lena.


"Coba speak up! Bilang ke orang tua maneh apa yang maneh inginkan. Jangan takut! Kalo perlu bantuan, kita siap datang, kapan pun. Setiap orang punya hak masing-masing, setiap orang punya mimpi. Genggam mimpi itu. Ketemu jalan buntu? Pilih jalan lain! Ada rintangan? Buang, rapikan! Maneh pasti bisa," ucap Deden tersenyum menenangkan.


"Makasih, Kapten," jawab Lena tersenyum, mengusap air mata di pipinya. "Gue udah keluarin unek-unek gue, seenggaknya gue lega."


"Fighting Lena!" Deden menyemangati.


"Satu hal lagi kapten. Gue suka sama seseorang, dia seorang pemimpin sebuah gank motor, tapi gue baru denger kalo dia udah punya pacar," ucap Lena menatap Deden sendu. "Gue udah lama suka sama orang itu. Dia selalu jadi penyemangat untuk semua orang, tanpa orang lain tahu apa yang dia rasakan."


Deden masih diam mendengarkan, ia menunggu apa yang akan Lena ucapkan selanjutnya.


"Tapi seenggaknya, dengan gue tahu dia punya pacar. Gue yakin dia bahagia," lanjut Lena bercerita.


"Siapa?" tanya Deden was-was, perasaanya tak enak.

__ADS_1


Key mulai penasaran, ia khawatir jangan-jangan yang Lena maksud kemungkinan yang Key pikirkan.


Lena memeluk Deden seketika, semua orang terkejut. Apalagi Key, ia membelalakan matanya kaget.


"Ternyata jatuh cinta bisa sesakit ini," ucap Lena kembali terisak.


Pria itu membeku, ia sejenak membalas pelukan Lena. "Maneh cantik, baik, wanita kuat. Urang yakin maneh bakal ketemu yang lebih baik," tepukan pelan Deden berikan. Membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.


"Key?" panggil Viera takut melihat wajah Key yang memerah.


"Ah ... benar-benar panas, Ra." Key mengipas-ngipas tangannya pada wajah. Padahal udara dingin, semua jendela dan pintu juga terbuka.


"Lo gak apa-apa?"


"Wah ... gak ada AC-nya nih ruangan."


"Key... jangan gitu gue takut liat lo. Di sini dingin, lho."


"Panas! Bener-bener panas!" Suara mulai Key tinggikan, ia berjalan ke luar rumah. "Angin! Mana angin!"


Viera hendak mengejar Key, tapi langkahnya dihadang oleh Deden. Entah sejak kapan Deden ada di situ.


"Biar urang aja, Ra," ucap Deden mengangguk meyakinkan.


Deden ke luar rumah, ia tersenyum melihat Key yang berdiri di depan sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.


"Cemburu, ya?" tanya Deden.


"Enggak, tuh. Wah ... panas banget!" jawab Key masih mengipas wajah dengan tangan.


"Yakin?" Deden merangkul Key.


"Emang harus, ya? Kapten kayak gitu?!" tanya Key meledak-ledak menyingkirkan lengan Deden di bahunya. "Jadi setiap ada yang cerita, lo meluk mereka gitu? Berapa orang anggota cewek? Berapa cewek yang lo peluk?"


Deden malah tertawa. "Gemesin! Pacar urang cemburu," ucapnya menarik kedua pipi Key.


"Diem, deh!"


"Pacar urang cantik!" bisik Deden pelan. Key hanya terdiam.


"Pacar urang gemesin." Deden kembali berbisik.


"Pacar urang lucu kalo marah. Jadi pengen peluk." Deden masih berbisik, Key mati-matian menstabilkan detak jantungnya.


"Kok seneng, ya, dicemburuin pacar. Langsung lamar ke bunda aja apa ya, besok gitu?"


"Deden. Stop!" ucap Key setengah berteriak.


"Cie ... salting! Pipinya merah," ucap Deden menggoda orang di sebelahnya.


"Stop!"


"Marah nih ceritanya? Jadi tambah suka." Deden menarik hidung Key pelan.


"Lo gak bisa diem, ya! Gue tuh deg-degan. Lo tahu, gak? Jantung gue detaknya cepet banget setiap lo ngomong! Diem dulu sebentar! Gue takut mati!"


Deden tertawa terpingkal-pingkal. Key memang menggemaskan. Ia terus-terusan tertawa, sedangkan Key semakin kesal dibuatnya.


* * * * *


Hy! Hy! Mohon kritik dan sarannya yang membangun. Makin gaje nih cerita, hehe. Kalo ada salah marahin aja authornya.


Urang  \= Saya


Maneh \= Kamu


Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorite, dan RATE bintang lima. See you next part.

__ADS_1


__ADS_2