Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Perkelahian


__ADS_3

"Diem, yang jelas. Gimana kita ngelawan mereka?"


Deden juga bingung, ia kurang percaya pada Bagas yang tiba-tiba datang. Apa Bagas bisa berkelahi? Murid teladan seperti dia?


"Maneh bisa berantem?" tanya Deden sudah siap dengan kuda-kudanya.


"Kamu ngeremehin saya?" timpal Bagas tak terima.


Sebongkah kayu dilayangkan ke hadapan Deden, ia langsung menghindar. Deden berkelahi melawan tiga orang bersenjata, sedangkan Bagas melawan dua orang lainnya. Deden dan Bagas kebanyakan hanya bisa mengelak, tidak ada celah untuk mereka, terlalu banyak musuh.


Bagas kewalahan begitu juga Deden. Wajah mereka memucat, tak bisa terus-terusan hanya menghindar. Beberapa luka lebam telah mereka dapat, napas oun tak karuan. Dua motor berjalan mendekat, Deden yang teralihkan fokusnya dipukul di bagian rahang bawahnya begitu saja hingga terpental ke belakang.


"Kok mereka ada di sini?" tanya Deden masih dalam posisi siaga.


"Saya yang tadi hubungin Vino," timpal Bagas seadanya.


Gibran, Vino dan Juna datang mereka menampilkan wajah garang. Lima lawan lima, sekarang semuanya tampak seimbang. Deden melawan pria dengan kumis tipis bermata coklat, dia orang yang dikalahkan oleh Deden dalam balapan.


"Mana duit lo?!" pinta pria berkumis tipis dengan nada  mengancam.


"Maneh kira, urang bapak maneh? Seenaknya minta uang!" Deden mendecih. "Maneh Aryo, 'kan?"


"Berisik lo!"


Deden menyiapkan tinju di depan wajah, ia memukul lurus ke depan dengan gaya jab. Tidak kena, Aryo berhasil menghindar. Aryo menendang perut Deden hingga terdorong kebelakang, cukup kuat hingga membuat Deden kesakitan. Deden memukul Aryo dari bawah, mengincar rahangnya, dengan gaya uppercut Deden berhasil membuat luka hingga terdengar bunyi gemeretak.


Aryo kalut, ia mengeluarkan sebuah pisau lipat di balik jaketnya, mengarahkannya pada Deden berkali-kali. Deden sebisa mungkin menghindar, sesekali ia berhasil memukul lurus wajah Aryo hingga sudut bibirnya berdarah. Luka lebam sudah memenuhi wajah masing-masing dari mereka. Semuanya kelelahan, napas mereka tak beraturan.


Wajah Deden memucat, ia kelelahan, ia juga merasa tak bertenaga. Senyum miris terpampang di wajahnya, ia prihatin melihat teman-temannya terluka. Ia juga merasa sakit di pinggangnya. Namun Deden bahagia, ia bersyukur memiliki teman-teman yang tak hanya ada dikala ia senang, tapi juga mau membantunya.


"Deden!" panggil Vino berharap dibantu, wajahnya tak karuan penuh luka. Lawannya memegang balok kayu, melawan Vino yang hanya bermodalkan kemampuan.


Deden bersiap pergi membantu Vino, tapi apa daya. Ia juga kesulitan menghadapi lawannya.


Suara motor terdengar bersahut-sahutan dari belakang, perhatian mereka teralihkan. Juna yang berbaring karena dipukul telak tersenyum penuh kemenangan, akhirnya yang ditunggu tiba. Mereka semua datang. Sekitar 30 motor datang berbondong-bondong, persis seperti mau tawuran. Lima orang bersenjata kalang kabut.


"KAPTEN!" teriak mereka serempak.


Seluruh anggota 'Phoenix' langsung datang setelah mendapat kabar jika kapten mereka sedang kesulitan. Mereka bersorak, bersiap tempur. Ada yang masih memakai kolor saja. ada yang memakai baju tidur, bahkan ada yang memakai sendal jepit. Bagi mereka solidaritas nomor satu! Mereka harus menolong sesama apalagi Deden sebagai kapten mereka.


Lawan mereka semakin panik, mereka segera berlarian menuju motor. Sayang sekali, anggota phoenix berhasil mengepung mereka sekitar 50 orang lebih anggota phoenix mengepung lima orang musuh. Memegangi mereka dan mengawasi agar tak ada yang kabur.


Deden tertawa penuh kemenangan, keluarganya membantunya, anggota phoenix membantunya.


"Bawa! Habisi!" teriak Juna memerintah.


"Ahsiap ...." jawab mereka bersamaan.


Deden, Juna, Bagas dan duo cunguk tertawa terpingkal-pingkal mengejek wajah masing-masing yang sudah tak terbentuk karena luka lebam.


"D- den, perut lo ...." Gibran mendadak panik, ia menunjuk perut Deden yang jaket bagian luarnya basah.

__ADS_1


Deden menunduk melihat perutnya, ia melihat tangannya yang sedari tadi memegangi perut. Wajah Deden semakin pucat, tubuhnya kian lemas.


"Pantes lemes, tadi gak berasa," ucap Deden terbata. "Ternyata berdarah ...."


Tubuh Deden ambruk seketika, tanpa Deden sadari Aryo menusuk perutnya dan membuat luka menganga, tangan Deden juga berdarah.


Para anggota phoenix termasuk Bagas seketika khawatir. Mereka segera menghampiri Deden yang tak sadarkan diri.


"Urus musuhnya! Yang lain ikut gue," titah Juna ikutan kalap.


"G- gue bawa mobil," ucap Bagas menawarkan.


"Bawa! Bawa Deden ke rumah sakit!"


*       *         *         *        *


Para petugas rumah sakit kebingungan melihat serombongan orang yang datang menggunakan motor. Mereka datang di pagi hari, seakan-akan hendak berdemo.


"Dokter! Kapten terluka, Dokter! Mana dokter?!" teriak salah satu anggota panik, menggoyang-goyang tubuh perawat yang malah menatapnya kebingungan.


'Ini anak siapa?' ucap perawat dalam hati.


Bagas dibantu oleh lima orang lainnya, entah siapa saja, membopong Deden masuk. Para petugas yang sigap segera memberi perintah untuk membaringkan Deden di atas ranjang beroda dan membawanya ke ruang UGD.


"Loh, Deden kenapa?" tanya Haidar yang kebetulan lewat, ia melihat Deden yang tak sadarkan diri digiring menuju ruang UGD.


Semua orang ikut panik, hingga tidak ada yang menggubris pertanyaan Haidar.


"Jun, kita gimana, nih?" tanya salah satu anggota Phoenix.


"Yaudah ... kalian gak apa-apa pulang aja. Gue sama yang lain yang bakal jaga Deden."


*      *       *       *       *


"Selamat datang, Dirga!" ucap Jahid menyambut orang yang baru datang.


Hari masih pagi, Jahid sengaja meminta Dirga bertemu untuk membicarakan masalah Deden. Mereka membuat janji temu di cafe dekat SMA Bhayangkara.


"Bisa cepat? Aku sibuk," timpal Dirga melonggarkan dasinya.


"Oke, aku langsung ke intinya," ujar Jahid tanpa berniat basa-basi lagi. "Kenapa kau berniat memindahkan Deden?"


"Apa kau harus tahu?" tanya Dirga menaikan sebelah alisnya.


"Ya ... aku sudah berjanji pada Kafa untuk membantunya."


"Aku sayang padanya," ucap Dirga sendu.


"Sayang? Kenapa Deden, eh, Kafa malah terlihat tertekan?" tanya Jahid mengernyit heran. "Aku bukan menghakimimu, tapi sepertinya dia malah membencimu."


"Aku juga membencinya," timpal Dirga.

__ADS_1


"Wah, sekarang kau membuatku pusing." Pak Jahid memijat kepalanya yang berdenyut, ia bersandar pada kursi.


"Entahlah, anak itu-"


"Dia anak kandungmu, 'kan?"


"Jelas, lah! Apa yang kau pikirkan? Kafa anak kandungku."


"Lantas kenapa?" tanya Jahid tak sabaran, ia gemas sendiri. "Apakah kau selingkuh? Kau punya wanita simpanan?"


Dirga mendecak sebal. "Aku jadi ingin mencekikmu. Kata-katamu melantur!"


"Lantas kenapa?" tanya Jahid lagi.


"Matanya milik ibunya, dia terlihat sangat mirip."


"Hey, aku kepala sekolah, tapi aku merasa bod*h saat kau berbicara separuh-separuh. Jelaskan lebih detail!"


"Rumit untuk dijelaskan."


"Ayah macam apa kau ini," ucap Jahid menggeleng pelan. "Jangan terlalu mengekang putramu! Kau tahu? Dia ingin di sini, jangan memaksanya untuk pindah."


"Tidak bisa, akan sulit untukku jika Kafa di sini. Aku ingin memantaunya dari dekat, hampir seluruh pekerjaanku berada di Amerika."


"Setidaknya berbicaralah baik-baik dengannya. Jangan gunakan nada mengancamu."


"Aku ingin lebih dekat dengannya. Namun sulit, masa lalu yang menciptakan jarak antara kami."


"Sejak kapan kau jadi puitis?"


"Entahlah, semuanya terasa rumit."


Seuara dering ponsel terdengar, Dirga segera mengangkat panggilan telepon dari Haidar.


"Halo, Haidar? Ada apa?" tanya Dirga menyapa.


[Rayyan, eh, Deden, eh, Kafa. Pokoknya anak anda tadi tiba di rumah sakit dalam keadaan terluka.]


Dirga segera memutus sambungan teleponnya, wajahnya mendadak khawatir.


"Aku harus pergi."


*     *     *     *     *


Hy! Hy! Mohon kritik dan sarannya yang membangun. Makin gaje nih cerita, hehe. Kalo ada salah marahin aja authornya.


Urang  \= Saya


Maneh \= Kamu


Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorite, dan RATE bintang lima. See you next part.

__ADS_1


__ADS_2