
"I belive, i can fly," gumam Deden bernyanyi, ia berjalan sambil melompat-lompat kecil. Hatinya seperti penuh dengan kupu-kupu setelah istirahat yang hanya 15 menit tadi.
"Deden fokus!" Gibran berteriak, ia kesulitan mengontrol bola di kakinya.
Sejak babak ke-dua dimulai, Deden bertingkah sangat aneh, ia tidak fokus terhadap pertandingan. Sepanjang pertandingan, Gibran, Vino dan Bagas berkali-kali kehilangan bola karena kekurangan pemain. Deden hanya berputar-putar mengelilingi lapangan tak peduli pada bola yang dioper padanya ataupun yang numpang izin lewat di hadapannya. Waktu pertandingan tersisa hanya lima menit, dan perlu usaha keras hingga Gibran sekarang mengendalikan bola di kakinya.
"Deden kenapa sih, Bran? Dia jadi aneh, ya ... walaupun sebelumnya udah aneh, sih, tapi sekarang makin parah." Vino berteriak, ia berusaha mencari celah dari Leonard yang terus-terusan menghadangnya.
"Gak tahu, tadi dia bareng Key," jawab Gibran mengoper bola ke samping, pada Bagas yang berhasil mengecoh Tuxul yang menahannya.
Bagas menerima bola dengan cepat, ia berlari ke depan, lagi-lagi tim lawan berusaha mencegah dan mengambil bola darinya."Deden! Kalo kamu gak fokus dan hari ini kita kalah. Saya akan nikahin Key, dan lamar dia ke ayah sama bunda hari ini juga," ucap Bagas ketus, ia sudah tak tahan akan tingkah cunguk yang masih senyum-senyum sendiri itu.
Deden terkejut, langkahnya terhenti seketika. Ia langsung berlari, merangsek ke daerah pertahanan lawan. "Kalian lemah! Segitu aja gak bisa. Sini oper," geram Deden melambaikan tangan meminta bola.
Bagas tersenyum penuh kemenangan. Jadi di sini sebenarnya siapa yang lemah? Ternyata, mudah mengatur Deden dengan alibi demi Key. Bagas mengoper bolanya pada Deden di depan, tim lawan yang tadinya mengacuhkan Deden karena merasa pemain satu itu mendapat serangan depresi tiba-tiba, segera mengejarnya yang jauh berlari ke depan.
Bola melambung tinggi, tepat datang ke arah Deden, ia dengan segera menerimanya dengan dada. Deden berbalik, ia memasuki kotak pinalti dengan mudahnya. Beberapa meter lagi gawang lawan sudah terlihat di depan, Deden sudah siap mengambil ancang-ancang. Kiper tim lawan telah bersiap, ia merentangkan tangannya tinggi-tinggi. Suasana mendadak tegang, Deden bersiap, bola ditendang, dan ....
Gubrak!
Deden terjatuh, terbelit kakinya sendiri, orang-orang di sekeliling nampak terkejut, beberapa ada yang tertawa. Kiper yang menjaga lengah karena ikut mentertawakan Deden, dalam posisi jatuh terduduk, Deden menendang bola yang dekat dengan kakinya.
Tuing!
Hening sejenak, bola bergulir pelan menuju gawang, sang kiper masih sibuk mentertawakan Deden hingga tak sadar ada yang diam-diam mendekat, tapi bukan ingin jadi gebetan. Suasana tampak riuh-redam sebelum sebuah suara memecah gendang telinga.
"Gol! Gol! Gol! Gol! Gol! Akhirnya pecah telur juga, bung. Setelah hampir sepanjang pertandingan tidak ada yang mencetak gol ... akhirnya penantianku terwujud, aku bisa minum boba dengan tenang!" ujar Komentator berteriak heboh, merasa terharu. Suaranya menggelegar ke seluruh penjuru lapangan. "Eh, sebentar-sebentar, apa hubungannya tanding futsal sama minum boba, ya?" lanjutnya kebingungan sendiri.
Prit ... prit ... pritt ....
"Pemenang pertandingan kali ini yaitu tim bhayangkara!"
* * * * *
"Woy, cepetan! Beban hidup urang udah berat ditambah maneh lagi," cerca Deden menahan beban di kedua pundaknya.
Wajah Deden memerah dan berkeringat, ia sedang menahan tubuh Vino yang berpijak di pundaknya, Vino yang kesulitan menaiki tembok pembatas hanya mendecak sambil terus berusaha naik.
"Segitu berat, Den. Apa kabar gue yang di bawah? Mati deh gue habis ini, siap-siap foto buat buku Yassin, " ucap Gibran kesal. Posisinya berada di paling bawah diantara mereka.
Mereka sedang berusaha memasuki area sekolah diam-diam. Entah bagaimana, mereka secara kompak kesiangan, gerbang depan sekolah sudah terkunci rapat. Akhirnya, mereka berusaha masuk lewat dinding samping sekolah yang cukup tinggi. Atas ide dari Vino, mereka saling bahu-membahu memposisikan diri seperti peserta panjat pinang, Gibran paling bawah, Deden ke-dua, dan Vino yang badannya paling kecil berada di atas.
"Eh, motor kita nanti gimana?" tanya Vino berhenti sejenak dari usahanya untuk melewati dinding.
"Eh, lo! Banyak bac*t. Ini gue yang dibawah udah sekarat! Cepet naik!" teriak Gibran protes, wajahnya sudah seperti orang menahan buang air besar karena kelelahan.
"Susah tahu! Temboknya ketinggian!" timpal Vino membela diri.
__ADS_1
"Maneh kali yang kependekan! Ayo, Vin, loncat dikit lah! Napas urang tinggal separo, berasa udah aki-aki, kan," ucap Deden mulai merasa nyeri di pundaknya. "Urusan motor gampang, nanti pas istirahat kita pindahin."
Hap!
Vino berhasil memegang ujung tembok, ia sempat kesulitan naik, hingga akhirnya bisa terduduk di atasnya. Deden turun dari pundak Gibran perlahan, ia dan Gibran menjatuhkan diri telentang di atas tanah, mereka menarik napas sejenak.
"Berasa kuli, jir," ucap Gibran mengatur napas, keringat jatuh dari rambutnya menjatuhi wajah. Jika ada para siswi dapat dipastikan mereka akan terpesona melihat Gibran yang kelelahan. "Ini gak apa-apa, kan. Motor kita simpen pinggir kebun gini?"
Sekolah mereka memang salah satu sisinya bersebrangan dengan kebun orang, iyalah punya orang. Sehingga tak jarang para siswa dan siswi yang telat masuk lewat jalur ini, walaupun sulit melewatinya.
"Udah, aman." Deden menekan-nekan pundaknya yang terasa nyeri.
"Woy cepet! Nanti guru dateng." Vino mengintrupsi mereka dari atas, ia masih terduduk manis di atas tembok.
Deden berdiri, ia melempar tasnya yang langsung diterima oleh Vino. "Di situ ada tali, iket ke pohon sebelah lo, noh!" ucap Deden menunjuk pohon mangga di sebelah Vino yang duduk.
"Ngapain lo bawa tali ke sekolah, Den?" tanya Vino kebingungan, ia mngeluarkan tali tambang dari tas Deden. "Mau bunuh diri, lo?" Vino terkikik geli akan pertanyaannya sendiri, ia segera mengikatkan kencang tali pada batang pohon dan melempar ujungnya ke arah Deden dan Gibran.
"Iya! Urang sering kepikiran mau bunuh diri. Makanya tiap hari bawa tali," jawab Deden datar dan dengan santainya tanpa ekspresi.
Gibran yang baru berdiri langsung menepuk punggung Deden keras, hingga Deden meringis kesakitan. "Eh, Dadang lotre! Gue emang gak tahu masalah, lo. Lo berhak lelah sama kehidupan, lo," ucap Gibran berkacak pinggang. "Lo punya nyawa berapa, hah? Awas aja kalo lo mikir mau bunuh diri lagi, gue akan bunuh lo sebelum lo bunuh diri. Bunuh diri tuh dosa! Mending dibunuh temen sendiri, ya, gak? Nanti dosanya gue yang tanggung, deh, biar lo aman," lanjutnya sambil menaik turunkan alis.
"Gue juga ikhlas kecipratan dosa! Nanti gue bantu bunuh Si Dadang lotrenya!" teriak Vino mengikuti dari atas.
"Hahaha ... pada gelo emang maraneh. (Hahaha ... pada gila memang kalian.)" Deden tertawa, ia bersyukur memiliki sahabat seperti duo cunguk, mereka memang sahabat yang setia.
Deden dan Gibran naik dengan tali bergiliran, hingga mereka bertiga duduk bersamaan di atas tembok.
"Gara-gara maen ludo sampe malem nih kita kesiangan," ujar Gibran tertawa, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gak ada yang elite dikit gitu, ya? Masa habis menang futsal, selametannya main ludo sambil ngemil rengginang di rumah Si Vino."
Deden tertawa kencang. "Kita bisa barengan gini lagi telatnya, kebolotan yang poll sampe ke tulang-tulang," ucap Deden masih dengan sisa tawanya. "Urang tertipu lagi, toplesnya engkong ghuan isinya rengginang."
"Mama gue emang gitu," timpal Vino ikut tertawa. " Ngomong-ngomong di sini nyaman juga, ya. Satu sekolah keliatan semua."
Tanpa mereka sadari seseorang tengah menatap mereka dari bawah dengan tatapan 'Masih diliatin ... belom tak sleding!' sambil melipat tangan di dada.
"Iya, di sini dulu, deh. Urang ngerasa tenang, pelajaran sih gampang," ucap Deden menarik napas panjang, ia tersenyum melihat seluruh bagian sekolahnya.
"Saya hitung sampai tiga! Kalo kalian gak turun juga, siap-siap kenalan sama kloset sekolah," ujar orang yang berdiri di bawah menatap marah pada Deden dan duo cunguk. "Satu ... tiga!"
Gubrak!
"Duh, siap-siap jawab teka-teki," ucap Deden meringis memegangi pinggangnya, ia terjatuh karena terburu-buru menuruni pohon mangga berebut dengan duo cunguk.
* * * * *
"Selamat Pagi, Pak Dirga," ujar Kepala sekolah SMA Bhayangkara menjabat tangan orang di hadapannya.
__ADS_1
"Selamat Pagi, Pak Jahid." Pak Dirga balas menjabat tangan dari Pak Jahid.
"Ada apa pagi-pagi datang? Ada masalah?" tanya Pak Jahid mempersilakan duduk. "Semuanya baik-baik saja, bukan?"
"Ah ... ini perihal Kafa."
"Deden kenapa?" tanya Pak Jahid mengangkat sebelah alisnya kebingungan. "M- maksudku Kafa? Dia kenapa?"
"Dia tidak membuat masalah?"
"Tidak ... hanya masalah-masalah kecil."
"Baguslah, jika anak itu tak membuat masalah," ujar Pak Dirga meyenderkan tubuhnya di kursi. "Jadi, proses perpindahannya pun akan cepat."
"Apa maksudnya?" tanya Pak Jahid masih tak paham. "Semenjak kau titipkan dia padaku. Perilakunya baik-baik saja."
"Bukan masalah itu," ucap Pak Dirga mengibas-ngibaskan lengannya. "Untuk terakhir kalinya aku minta tolong Jahid. Tolong kau urus berkas perpindahan sekolah untuk Kafa."
"Apa?! Kenapa? Ini terlalu mendadak. Kemana Kafa akan pindah? Sekolah dimana pun sama saja, Dirga."
"Bukan sekolahnya. Aku akan memindahkannya ke Amerika. Secepat-cepatnya akhir semester ini."
* * * * *
"Ning, nang, ning, nang, euu ...." Seseorang tengah bergoyang heboh dengan gaya abstrak di depan televisi yang mati. Kasihan keluarga televisinya, hiks.
"Thor! Maneh lagi apa?" tanya Deden kebingungan.
"Bersemedi!"
"Semedi tuh tenang ... jangan bar-bar!"
"Stop! Pendapatmu tak diperlukan."
"Author! Kemana aja? Lama banget maneh up nya!"
"Habis nyari kitab sakti sama Sun Go kong!"
"Urang mencium bau-bau bibit orang stress," ucap Deden mengelus dada. "Hallo gaes! Apa kabs? Ada yang kangen urang? Jangan lupa like, komen, vote, Rate bintang lima dan klik fav, okeh! Okeh-okeh?! Authornya lagi kehilangan otak kayaknya."
Kamus mini, tapi gak lebih mini dari Amoeba.
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu.
See you next chapter!
__ADS_1