
Hari ujian terakhir. Entah kenapa Key merasa hening, Deden tak menyapa atau menegurnya ketika di sekolah. Mungkin ... dia perlu waktu untuk menyendiri. Namun, Key kesal juga lama-lama didiamkan. Ia jadi merasa punya salah pada Deden.
Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi, hampir semua siswa sudah pulang. Pelajaran di hari terakhir ujian memang tak terlalu sulit, hanya harus mengingat teori.
Katakanlah Key sudah gila. Ia jadi sering memperhatikan Deden sepulang sekolah. Ketika sahabat-sahabat Deden tidak dipedulikan dan diacuhkan oleh Deden. Key masih bersikukuh untuk berada di dekatnya. Seperti saat ini, ruang ujian Deden sepi, hanya Deden seorang di dalam, Gibran pun sudah pulang di awal waktu. Key tadi sempat berpapasan dengannya dan mengetahui keberadaan Deden dari Gibran.
Key mengendap-endap di balik pintu ruangan, mengintip Deden yang menatap kosong ke arah lantai. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, banyak. Banyak pesawat kertas dari origami yang Key buat saat jam luang, ia bahkan hingga meminta Viera untuk membantunya.
Sekitar tujuh pesawat kertas yang telah Key siapkan. Lebih dari satu banyak, bukan? Di dalam pesawat kertas ada tulisan-tulisan yang hanya Key tahu apa isinya.
"Sampe, gak, ya?" gumam Key di balik pintu, tempat duduk Deden cukup jauh dari pintu.
Sebuah pesawat kertas dilemparkan ke arah Deden, Key berharap sampai dengan selamat. Pesawat tersebut meliuk-liuk di udara, dan akhirnya jatuh di dua meja depan Deden. Key menghela napas pasrah, pesawatnya gagal mendarat sesuai tempat.
Deden tidak menyadarinya, ia masih menunduk menatap lantai, entahlah mungkin ada uang di bawah. Gadis itu memutar otak, ia mengeluarkan sebuah penghapus dan dilemparkan tepat mengenai kepala Deden.
"Aduh," ucap Deden meringis pelan, mengusap-usap pelipisnya yang terkena lemparan. Deden masih tak menyadari adanya pesawat kertas.
Key mengeluarkan sebuah rautan kecil, dilemparkannya kembali ke arah Deden.
"Aduh! Siapa, sih, yang jail?" tanya Deden mulai kesal.
Gadis yang bersembunyi di balik pintu itu gemas, Deden masih tak menyadari pesawat kertas berwarna biru itu, ya ... walaupun semua pesawat kertas yang dibuat Key biru semua, sih. Habisnya, Key suka warna itu.
Key mengeluarkan buku paket fisika yang selalu ia bawa, buku yang tebalnya setara dengan segelas susu berkualitas. Eh, bukan-bukan, malah jadi iklan. Buku tersebut terdiri dari 1.062 halaman, belum ditambah kata pengantar dan daftar isi. Lebar bukunya juga persis dengan luasnya jidat Pak Kasim. Eh, maaf, Pak Kasim. Intinya selebar amplop dokumen kerja.
Key mengangkatnya sekuat tenaga, melemparnya tepat ke arah kepala Deden.
Jduk!
"Anj-" Deden memekik tertahan, Key menahan tawanya dari balik pintu. "Urang ketiban apaan tuh tadi?" tanya Deden mengusap kepalanya yang sakit. RIP kepala Deden, sepertinya sebuah benjolan akan bertengger manis di sana.
Deden melihat buku yang terjatuh di bawah. "Fisika? Apa urang bakal pinter hukum newton, hukum archimedes sama perhitungan gerak bebas kalo ditimpuk ini buku? Tapi kan urang anak IPS," ujar Deden berbicara sendiri, Key tertawa pelan.
"Weh, pesawat!" ucap Deden mendekat, mengambilnya di antara deretan meja di depannya.
"Yes! Berhasil." Key berseru gembira, tinggal melanjutkan aksinya.
Deden malah memainkan pesawat biru tersebut seperti anak kecil, seolah-olah ia adalah seorang pilot. Ia menerbangkannya berkali-kali hingga pesawat itu berputar-putar tak tentu arah di dalam ruangan kelas.
"Dih! Si Ogeb!" cerca Key kesal.
Key keluar dari tempat persembunyiannya, menyilangkan lengan di depan dada, ia berdiri di depan ruangan. Siswi itu masih memperhatikan Deden yang masih asyik bermain sendiri.
"Ekhm." Key sengaja terbatuk cukup keras.
"Eh? Key?" tanya Deden berhenti ia menatap Key kebingungan.
"Di pesawat itu ada tulisannya!" ucap Key gemas.
Deden menghampiri Key di depan, ia mengajak duduk bersila di depan kelas. Mereka duduk berhadapan di atas lantai.
"Tulisan apa?" tanya Deden masih kebingungan.
"Baca aja sendiri!" ketus Key. "Gue bikin banyak, nih." Key menyodorkan semua pesawat biru buatannya.
"Buat apa gitu?"
"Gak peka banget, sih, lo! Gue tuh lagi nyoba jadi romantis sama pacar sendiri tahu, gak? Gue mau ngehibur, lo! Gue khawatir sama, lo! Gue takut lo kenapa-kenapa! Dan yang terpenting gue kangen banget sama, lo! Lo kira enak gak dipeduliin sama pacar sendiri?!" Key terkesiap, ia baru tersadar. Gadis itu memukul-mukul mulutnya pelan. "Aduh ... otak gue kemana, ya?" Key mulai berkelit ia hendak berdiri dan meninggalkan Deden saat itu juga karena tak kuat menahan malu.
__ADS_1
Deden menahan lengan Key agar kembali duduk, ia tersenyum mengelus pipi Key lembut.
"Makasih, ya, udah khawatir," ucap Deden menunjukan senyum menawannya, beralih mengusap kepala Key pelan. Key terkena serangan jantung mendadak, ia tidak akan mati bukan?
"I- iya," timpal Key gugup.
Deden semakin mendekat ke arah Key, ia menarik gadis itu ke arahnya. Dalam sekali gerakan, Deden sudah memeluk Key erat, ia menyembunyikan wajahnya di balik leher Key.
Mereka saling mendengar suara detak jantung masing-masing, sangat cepat. Seakan-akan sedang saling berlomba menuju garis final.
"Sekali lagi, makasih, udah khawatir sama urang," bisik Deden pelan. "Urang juga kangen ... banget sama maneh." Deden semakin menenggelamkan kepalanya.
Key membeku, wajahnya merona merah, ia tidak kuat menahan detak jantungnya yang semakin cepat.
Deden melepaskan pelukannya, ia tersenyum melihat wajah Key yang terlihat sangat menggemaskan. Key buru-buru mengambil air minum di dalam tasnya yang tinggal separuh, diminumnya hingga tak tersisa.
Deden membuka pesawat kertas yang tadi ia mainkan, ia juga menarik ke arahnya pesawat kertas lain yang Key tunjukkan.
[Hallo, Prince!]
Deden menunjukan tulisan di dalam pesawat kertas, ia tersenyum hangat. "Hallo, Princess!" ucapnya menjawab tulisan pada pesawat.
Key menatap Deden was-was. "Dia mau jawab semua tulisan, sambil nunjukin ke gue?" batin Key semakin tak karuan.
[Lo gak apa-apa?]
Deden mengangguk. "Selama ada maneh, urang gak akan kenapa-kenapa. Jangan pernah kemana-mana, ya?" tanya Deden, Key mengangguk ragu.
[Semangat! Kalo ada apa-apa bilang aja sama gue.]
"Urang bahagia bisa jadi orang yang maneh suka."
"I miss you."
Key menutup wajahnya malu, apa-apaan jawaban Deden itu? Sudah dapat di pastikan jika wajah Key semerah kepiting rebus.
[I Miss You!]
Deden terkekeh menunjukan isi tulisan dalam kertas. "I miss you more!"
Jantung Key dangdutan tak jelas, iramanya seperti lagu jaran goyang. Eh?
"Aaa! Pengen teriak rasanya!" batin Key, ia semakin menundukan kepalanya.
[Jangan sedih. Kalo lo sedih, gue akan ngerasa lebih sedih.]
"Alasan urang tersenyum adalah maneh. Jadi maneh harus selalu tersenyum setiap deket urang."
Key mengambil paksa pesawat kertas terakhir di tangan Deden yang hampir membukanya. Isinya berbahaya, berupa dokumen rahasia! Etdah, berasa soal ujian nasional.
"Kenapa diambil?" tanya Deden bingung, menaikan sebelah alisnya.
"Yang ini gak boleh!"
Deden mendekat, ia tersenyum. Deden memperbaiki posisinya menghadap Key, jarak mereka sangat dekat.
"I love you too," ucap Deden memperbaiki anak rambut Key, menautkannya pada daun telinga.
Ibaratkan Key sebuah komputer, mungkin sistemnya sudah error karena kepanasan. Key sudah tidak dapat berpikir jernih. Bagaimana Deden tahu isi terakhir tulisan di pesawatnya. Ada yang tahu cara tenggelam ke inti bumi saat ini juga?
__ADS_1
Deden mengambil kertas terakhir dari tangan Key, gadis itu berusaha merebutnya kembali walau gagal.
Key sudah menyembunyikan kepalanya di balik lipatan tangan, susah sekali mengatur detak jantungnya agar kembali normal.
[I Love You]
Deden kembali tertawa. "Harus berapa kali lagi urang bilang. I really love you. I love you more."
"Gila! Gila! Gue gak kuat! Butuh donor jantung dengan segera," ucap Key dalam hati. Entah, sudah semerah apa wajahnya.
Key berdiri ia terburu-buru meninggalkan ruangan. Deden hanya tertawa melihat tingkah Key yang menurutnya lucu. Perlahan Deden membereskan peralatan Key yang tadi dilempar. Ia mengejar gadis tersebut secepat mungkin.
"Kalo pacaran itu gandengan," ucap Deden menggenggam tangan Key erat, setelah berhasil menyusul.
Key terkejut, tapi kali ini ia tak menolaknya. Siswi itu menunduk, untung sekolah sudah cukup sepi.
"Kenapa? Baper, ya?" goda Deden.
"Enggak, tuh," jawab Key ketus.
"Kok mukanya merah?" tanya Deden sambil tersenyum menyelidik.
"I- ini karena. Panas! Ya ... panas." Key membuat alibi, mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.
"KEYARA! I LOVE YOU!" teriak Deden sekeras-kerasnya.
"Ih! Apaan, sih." Key berjalan cepat mendahului Deden.
Deden ikut mempercepat langkah menyusul. "Kalo baper bilang aja. Kalo maneh suka, urang juga suka."
"Gak jelas banget, sih, lo!"
"Nanti sore urang jemput, ya. Ajak Viera sekalian. Nanti urang suruh Vino jemput Viera."
"Ngapain?"
"Ada, deh. Eh, beneran maneh gak baper?"
"Enggak, tuh."
"Wah, padahal urang ngomong tulus banget loh itu."
"Berisik." Key semakin mempercepat langkahnya.
Deden tertawa lepas. "Maneh imut kalo malu gitu. Makin cantik juga. Gimana, nih, urang makin suka. Mau tanggung jawab, gak?" ujar Deden masih menggoda siswi di sampingnya.
"Deden!" ucap Key geram. Ia mengambil buku Fisika yang Deden bawa dan memukul-mukulnya pada tubuh Deden.
"Tuh, kan, makin imut." Deden terkekeh geli.
"Gue benci ... sama lo! Benci! Benci!"
* * * * *
Hy! Hy! Mohon kritik dan sarannya yang membangun. Makin gaje nih cerita, hehe. Kalo ada salah marahin aja authornya.
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorite, dan RATE bintang lima. See you next part.