Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Ruang Sahabat


__ADS_3

Deden tertawa terbahak-bahak, begitu juga dengan Key. Konyol sekali teman-temannya. Gibran membawa ember, Juna ikut-ikutan membawa gayung, Bagas sudah membasahi dirinya dengan air hingga kuyup, dan terakhir Vino yang bersembunyi di bawah ranjang.


"Hahaha ... maneh ngapain sembunyi di bawah, Vin?" tanya Deden dengan gelak tawanya. "Kebakaran tuh keluar bukan sembunyi, yang ada maneh mateng kalo beneran kebakaran."


Vino keluar dari bawah ranjang sambil menampilkan wajahnya yang cemberut. Mereka menatap Deden ganas, berdiri berjajar dengan penampilan yang tak karuan.


"Kak Bagas sejak kapan basah semua?" tanya Key menahan tawanya.


Bagas membuang wajah malu, ia tadi memang segera membasahi diri agar jika benar-benar terjadi kebakaran luka yang didapatnya tak begitu parah.


"Saya ikut protokol kebakaran," ucap Bagas kesal.


Key tertawa melihat wajah para korban Deden. "Yaudah ... gue mau ke kantin rumah sakit. Mau dibeliin apa?" tanya Key masih dengan sisa tawa.


"Saya ikut!" pinta Bagas.


"Gak usah modus!" ucap Deden memperingati. "Key milik urang!"


Wajah Key merona merah ketika Deden berucap jika Key miliknya. Ia bergerak kikuk, suasana berubah jadi canggung.


"B- baju lo basah, Kak," ujar Key mengingatkan.


Bagas menghela napas panjang, benar juga. Baju Bagas basah, ia tak bisa keluar begitu saja. Ini gara-gara alarm kebakaran PHP dari Deden. Sepertinya, sekali-kali mulut Deden harus di servis agar tidak berbunyi seenaknya.


"Sama urang aja mau, Key?" Deden sudah bersiap untuk turun dari ranjangnya. Sesaat kemudian, ia kembali meringis memegangi perutnya.


"Diem ... orang sakit gak boleh banyak gerak. Nanti jaitannya lepas," ucap Key sambil mendecak.


"Kok, denger kalimat maneh, urang berasa kayak orang abis lahiran, ya?" timpal Deden menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Key tertawa mendengarnya. Tawanya semakin keras ketika mengingat kalimatnya tadi.


"Sama gue aja?" tanya Juna antusias menunjuk dirinya sendiri.


"Gak! Pasti niat modus terencana kalo maneh," timpal Deden tegas memberi tatapan tajam.


"Gue sendiri aja, lagian gue ada yang mau dibeli khusus," ucap Key tersenyum lembut. "Samain aja, ya, makananya. Dah ...." Key melangkah pergi, meninggalkan ruangan begitu saja.


"Hati-hati, Key!" teriak Deden melambaikan tangan dengan semangat. "Kalian gak pada sekolah?" Deden beralih pada teman-temannya kebingungan.


"Tanggal merah," jawab Gibran datar.


"Eh, iya gitu? Urang baru tahu," ucap Deden mengangguk.


"Saya izin pulang, deh. Nanti saya balik lagi. Semoga cepet sembuh, Den. Mari ...." Bagas mengangguk, ia berniat pergi.


"Makasih udah bantu urang," ucap Deden tulus. Bagas hanya tersenyum mengangguk.


Setelah kepergian Bagas, suasana mendadak hening. Deden mengerutkan alis ketika ketiga sahabatnya berbisik di depannya.


"Ghibahin apa kalian? Kok telinga urang panas?" tanya Deden memegang telinganya yang memang terasa panas.


Gibran berdehem pelan. "Oke dokter Vino, Dokter Juna, kita apakan pasien?" Gibran mendekat ke arah Deden diikuti Vino dan Juna.


Perasaan Deden tak enak, ia menelan ludahnya kasar. Suasana berubah menjadi mencekam, rasanya seperti Deden akan dimutilasi.

__ADS_1


"Silakan pasien berbaring," ucap Juna sopan.


Entah kenapa, mungkin karena saking takutnya Deden hanya mengikuti perintah dan tidur berbaring di atas ranjang.


"Bagaimana kondisinya?" Juna menempelkan gayung pada dada Deden seolah-olah itu stetoskop.


"Detak jantung 100% dangdutan lagu kereta malam. Denyut nadi 80/120 liter gerak jalan, tapi gak pake hormat. Tekanan darah, tak bisa diprediksi sepertinya terlalu tertekan dan butuh banyak hiburan. Pernapasan lancar, sesekali keluar gas berbau bangkai dari bawah." Vino menjelaskan serius, sedangkan Deden sudah tertawa sedari tadi. Penjelasan macam apa itu?


Gibran memasukkan kepala Deden ke dalam ember, membuat layaknya helm.


"Woy gelap! Siapa yang matiin lampu!" teriak Deden setengah panik.


"Siap! Operasi penambah kegesrekan akan dimulai, ditambah operasi balas dendam karena menipu orang," jelas Gibran bersiap, entah untuk apa.


"Satu ... dua ... tiga!" titah Juna memberi aba-aba.


Mereka mengelitiki Deden bersamaan, Deden yang tak kuat geli bergerak tak karuan. Kepalanya sesekali terbentur ember yang dipakai, ia juga meringis karena luka yang kembali terasa nyeri.


"Woy kalian ... hahaha ... geli! Hahaha ... buset ... geli. Aduh ... duh, sakit. Woy! Anj(satu)ir ... haha brengkresek! Hahaha ... kep(empat)rat!"


Deden tak henti-hentinya tertawa, cercaan dan umpatan aneh ia keluarkan. Untung saja ia berada di ruangan VIP yang disiapkan Dirga sehingga tak mengganggu pasien lain. 


"Woy lepas! Aduh ... duh. Ampun ... ampun ... hahaha ... urang minta maaf," ujar Deden sambil meringis. Air mata keluar karena Deden tak kuat terus-terusan tertawa.


Gibran, Vino, dan Juna menghentikan aksi mereka, lagipula Deden telah minta maaf.


"Aduh ... jahitan urang perih," ucap Deden masih meringis. "Semoga gak robek."


"Siapa suruh ngejahilin kita?" timpal Vino puas, ia menepuk ember di kepala Deden kemudian membukanya.


"Urang ngatain kalian tahu, gak? Pake kata umpatan yang di sensor!" cerca Deden tak terima.


"Kenapa di sensor?" Gibran terlihat kebingungan.


"Takut gak lolos review sama pihak yang berwenang! Bisa-bisa dimarahin sama menteri Susi Pudjiastuti," ucap Deden menahan tawanya.


"Loh, bukannya menteri Susi itu menteri kelautan dan perikanan? Apa hubungannya?" Alis Juna berkerut semakin kebingungan oleh ucapan Deden.


"Bukannya kalian emang makhluk sejenis lumba-lumba dan ikan pesut? Jadinya ... cocok!" Tawa Deden kian keras terdengar, ia puas melihat wajah sahabat-sahabatnya yang terlihat konyol.


"Siapkan operasi kedua!" ucap Vino tampak geram.


"Eh ... jangan-jangan! Jangan Kelitikin urang lagi!" Deden takut-takut menatap ketiga sahabatnya.


Hasilnya nihil, ketiga sahabatnya itu tak mempedulikan ucapan Deden dan malah kian mendekat. Vino bahkan kembali memakaikan kepala Deden sebuah ember.


"Woy Gelap! Haha ... heh! Nanti kotak tertawa urang habis," ucap Deden di sela tawanya.


"Tenang, nanti Si Vino yang donor," ucap Gibran meyakinkan.


"Hahaha ... as-toge, bayem, kangkung, buncis. Berhenti, Woy!" Deden meracau tak jelas.


"Kalian lagi apa?" tanya Key yang entah sejak kapan berada dalam ruangan. Ia membawa satu bungkusan kresek besar.


"Gak, gak apa-apa," jawab Juna kikuk, mengambil gayung di dada Deden.

__ADS_1


"Key, tolongin ... urang disiksa," ucap Deden kedua tangannya terangkat ke atas.


Gibran buru-buru mengambil ember di kepala Deden ketika Key meliriknya. Mereka semua terdiam, menunggu tanggapan dari Key.


"Makan, yuk?" tawar Key menunjukan bingkisan yang dibawanya.


Duo cunguk dan Juna bernapas lega, mereka kira Key akan memangsa mereka, ternyata tidak.


"Bubur?" Vino menatap sterofom berisi makanan di hadapannya, "kan yang sakit cuma Deden. Kenapa kita makan bubur juga?" lanjutnya bertanya, tapi tetap dimakan juga.


Gibran, Vino, dan Juna duduk lesehan di lantai, sedangkan Key duduk di kursi samping ranjang Deden.


"Hehe ... gue nemunya cuma tukang bubur," ucap Key jujur.


Mereka makan dengan tenang. Key jadi lebih banyak diam, bubur di hadapannya tidak tersentuh.


"Suapin!" pinta Deden yang duduk, menyodorkan buburnya pada Key, mulutnya sudah terbuka.


"Lo, kan, bisa makan sendiri, yang sakit perut lo bukan tangan," ucap Key datar.


Deden kebingungan melihat perubahan sikap Key. Ia membuka bungkusan makanan, menyendok dan menyodorkannya ke arah mulut Key.


"Pesawat datang! Aaa ...." Deden memerintahkan Key untuk membuka mulut.


"Gue bisa makan sendiri." Key berujar dingin.


Deden mengubah posisinya berhadapan dengan Key. Ia mengusap kepala gadisnya lembut.


"Kenapa? Urang ada salah, ya?" tanya Deden sambil tersenyum manis.


"Gue mau pulang." Key beranjak dari duduknya, berbalik dan pergi.


"Loh, kemana, Key?" tanya Bagas yang baru saja tiba.


"Pulang."


Semua orang di dalam ruangan menatap Bagas, Gibran tetap fokus memperhatikan sambil menyuapkan bubur ke mulutnya.


"Kenapa?" tanya Bagas bertanya tanpa suara. Mereka semua menggeleng, tak ada yang tahu.


"Tunggu! Saya anter kamu, Key," ucap Bagas berbalik, hendak menyusul Key. "Ini ada makanan dari bunda Devi." Bagas menyimpan bungkusan di sebelah Juna yang berada dekat pintu.


"Key kenapa, Den?" Juna tampak penasaran.


"Urang gak tahu."


* * * * *


Hy! Hy! Mohon kritik dan sarannya yang membangun. Kalo ada salah marahin aja authornya.


Urang  \= Saya


Maneh \= Kamu


Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorite, dan RATE bintang lima. See you next part.

__ADS_1


__ADS_2