
“Jadi, Kakak udah putusin Kak Matahari?” tanya Bulan.
Venus mengangguk mengiakan. Hal tersebut membuat Bulan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Gadis itu langsung berhambur memeluk Venus.
“Makasih, Kak. Kak Venus udah pilih aku buat jadi pacar kakak seutuhnya,” ucap Bulan.
Venus membalas memeluk, dia mengusap kepala Bulan dengan lembut.
“Hm,” gumamnya.
Bulan tersenyum di balik dada bidang Venus. Selama tiga bulan ini sejak dirinya dekat hingga memutuskan untuk menjadi kekasih gelap Venus, Bulan harus rela bertemu secara sembunyi-sembunyi agar hubungannya tidak ketahuan Matahari. Namun sekarang, dia tidak perlu takut lagi karena dirinya satu-satunya perempuan yang jadi pacar Venus.
Venus menjauhkan Bulan dari tubuhnya. Dia menatap gadis itu dalam-dalam sembari berpikir, “sudah benarkah keputusannya putus dengan Matahari?”
Saat tengah larut dalam lamunan tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu yang hangat di pipinya. Begitu tersadar, Venus mendapati Bulan menciumnya.
“Aku cinta sama Kak Venus. Aku janji akan jadi pacar yang baik, bahkan lebih baik dari Kak Matahari,” ucap Bulan.
Belum sempat menjawab, Venus kembali dikejutkan oleh Bulan yang tiba-tiba menciumnya lagi. Namun kali ini sentuhan itu dix bibirnya.
Memang, ini bukan pertama kali mereka melakukannya. Hanya saja biasanya Venus yang memulainya lebih dulu, tak seperti sekarang Bulan yang memulainya.
Venus berdehem untuk mencairkan suasana canggung di antaranya dan Bulan.
“Ini udah siap semua? Gak ada barang-barang lain lagi yang mau di bawa?” tanya Venus.
Lelaki itu melihat satu koper ukuran besar dan dua tas jinjing di atas lantai tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sore ini Bulan meminta Venus untuk mengantarkannya pindah ke rumah baru. Gadis itu akan tinggal bersama mama dan papanya yang sudah lebih dulu pindah.
“Udah semua kok. Aku udah siap pindahan,” jawab Bulan.
Venus mengangguk. “Mau berangkat sekarang?”
“Iya. Takutnya nanti keburu malem,” jawab Bulan.
Venus menggeret koper milik Bulan, memasukkannya ke dalam bagasi mobil bersama dengan dua tas lainnya. Setelah itu, Venus dan Bulan pun naik mobil bersiap untuk pergi.
“Aku udah sharelock alamat rumah baru aku ke HP Kakak,” ucap Bulan.
“Oke.”
Venus merogoh ponsel di saku celananya lalu menyalakannya. Kening Venus mengernyit dalam setelah mengetahui lokasi rumah baru Bulan. Lelaki itu langsung menoleh ke arah Bulan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
“Ini beneran alamat rumah baru kamu?”
“Iya. Kenapa?” sahut Bulan.
Venus terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu, tetapi kemudian lelaki itu menggelengkan kepalanya.
“Gak papa,” ucapnya.
__ADS_1
Tak berkata apa-apa lagi, Venus mulai menyalakan mesin mobil lalu melajukannya meninggalkan rumah lama Bulan. Semakin dekat dengan lokasi tujuan, Venus semakin merasa ada yang aneh.
Tempat yang dikunjunginya begitu sangat familiar. Saking familiarnya bahkan beberapa jam yang lalu Venus baru saja berkunjung ke tempat ini. Perasaan Venus pun mulai tidak nyaman.
Dan benar saja, titik terakhir tujuannya ialah sebuah bangunan rumah yang sering kali dia kunjungi dalam dua tahun ini.
“Kak, ayo turun!”
Entah sejak kapan Bulan turun dari mobil, yang jelas suara gadis itu berhasil membuyarkan lamunan Venus.
“Oh, iya,” sahut Venus. Dia melepas sabuk pengamannya kemudian turun dari mobil.
Venus membantu Bulan menurunkan barang-barangnya di bagasi mobil dan kini pandangannya tertuju pada dua orang paruh baya yang sedang menyambut Bulan dengan gembira. Venus mengenal salah satu dari mereka.
“Venus, makasih ya sudah anterin Bulan pindahan,” ucap Indira kepada Venus. “Maaf ya, jadi ngerepotin kamu. Sebenarnya tadi Om dan Tante mau jemput, tapi kata Bulan dia mau bareng kamu. Jadi, ya gitu deh,” jelas Indira.
“Sama-sama, Tante.”
Venus tersenyum ramah lalu berjalan mendekat ke arah Hadi dan Indira. Dia mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan mereka.
“Kak Venus, kenalin ini Papa aku,” ucap Bulan kepada Venus.
“Pa, ini Kak Venus.” Bulan memperkenalkan Venus kepada Hadi.
Dua lelaki berbeda generasi itu bersalaman, Hadi menyambutnya dengan ramah. Hal tersebut membuat Bulan menjadi sangat senang.
“Jadi ini yang bikin anak papa suka ketahuan senyum-senyum sendiri.” Hadi menggoda Bulan sehingga gadis itu bersemu merah karena malu.
“Ih, Papa apaan sih,” sahut Bulan.
“Nak Venus, ayo masuk dulu. Tante bikinkan teh hangat buat kamu,” ucap Indira.
Sayang, Venus tak menyahuti. Lelaki itu masih terhanyut di dalam lamunannya.
“Kak. Kak Venus,” panggil Bulan sembari menarik ujung jaket yang dikenakan Venus hingga lamunan Venus buyar seketika.
“Eh, ya?” Venus gelagapan.
“Itu dipanggil Mama,” ucap Bulan.
Venus langsung melihat ke arah Indira. Wanita paruh baya itu tersenyum menyadari Venus sedang melamun, meskipun dia tidak tahu hal apa yang sedang teman anak gadisnya itu pikirkan.
“Masuk dulu, nge-teh bareng kami,” ucap Indira.
“Oh Iya, Tante, makasih. Tapi kayaknya saya harus pulang sekarang soalnya sudah malem juga kan ini,” sahut Venus.
“Hm, ya sudah kalau gitu. Sampein salam Tante ke Mama sama Papa kamu ya, Venus,” ucap Indira.
“Iya, Tante, nanti Venus sampein ke mereka.”
Tepat saat Venus hendak berpamitan untuk pulang, tiba-tiba ada sebuah motor berhenti dan mengalihkan perhatian mereka semua.
__ADS_1
Matahari yang diantar pulang oleh Langit turun dari motor, membuka helmnya lalu memberikan benda itu kepada pemiliknya. Langit pun ikut turun, dia pikir hendak ingin menyapa keluarga Matahari karena rasanya tidak sopan jika harus pergi begitu saja.
“Makasih ya, Lang, lo udah anterin gue balik,” ucap Matahari kepada Langit.
“Elah pake makasih segala, kaya sama siapa aja. Kita kan temen, jadi harus saling tolong menolong,” ujar Langit santai.
Matahari hanya tersenyum menanggapinya. Kini perhatian Matahari beralih pada orang-orang yang sedang berkumpul di depan rumahnya. Gadis itu mengernyitkan alisnya melihat pemandangan yang tidak biasa.
“Ada apa ini? Kenapa kalian ngumpul di sini?” tanya Matahari heran.
“Kak Matahari,” gumam Bulan.
Matahari melihat Bulan, detik berikutnya pandangannya beralih pada lelaki yang ada di samping gadis itu.
“Kak Venus? Kakak ngapain di sini?” tanyanya kepada Venus.
“Kalian ngapain di rumah gue?” tanya Matahari lagi. Dia menatap satu per satu orang-orang yang ada di hadapannya.
Matahari merasa heran karena Venus terlihat sangat akrab dengan papa dan ibu tirinya. Lalu Bulan, Matahari tak mengerti kenapa anak itu ada di sini sekarang.
“Sunny, gue ....” Perkataan Venus menggantung karena Indira memotongnya.
“Matahari, kamu sudah pulang, Nak.” Indira maju mendekati Matahari dan hendak meraihnya, tetapi gadis itu segera menghindar.
“Maaf Mama dan Papa gak bilang soal ini ke kamu. Hari ini Bulan adik kamu akan tinggal bersama kita,” jelas Indira. “Dan Venus, dia yang membantu Bulan pindahan ke sini.”
Kedua bola mata Matahari membulat sempurna, refleks gadis itu mengepalkan kedua tangannya. Dia melihat ke arah Venus lalu menatap Hadi yang sedari tadi masih diam saja untuk meminta penjelasan atas semua ini.
“Maksudnya apa ini?” tanya Matahari.
“Yang dikatakan mamamu itu benar, Matahari. Bulan ini adik kamu. Papa harap kamu menerimanya dan kalian hidup akur sebagai adik dan kakak,” ucap Hadi.
Bukan hanya Matahari, Venus pun terkejut dengan semua ini. Venus tak menyangka kalau ternyata Matahari dan Bulan adalah saudara.
Sedangkan Langit, sedari awal dia tidak mengerti permasalahan keluarga Matahari. Dalam diam fokusnya hanya tertuju pada Matahari. Memerhatikan ekspresi sedih bercampur kecewa yang tergambar di wajah gadis itu.
Matahari memalingkan wajahnya ke arah lain sembari tersenyum miring. Sedetik kemudian gadis itu kembali melihat ke arah orang-orang yang ada di hadapannya.
“Lo tau semua ini?” tanya Matahari kepada Bulan.
Refleks Venus pun menatap Bulan. Dia juga sangat penasaran dengan jawaban gadis itu.
Bulan melihat Indira dan Hadi lalu kembali menatap Matahari. Dia menggigit bibir bawahnya merasa ragu untuk menjawab pertanyaan Matahari baru saja. Namun sedetik kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya.
“Iya, Kak. Aku tahu sejak lama kalau kita ini saudara,” jawab Bulan.
“Papa sudah menceritakan tentang kamu kepada Bulan. Itu sebabnya dia sekarang ingin sekolah di sekolah yang sama sama kamu supaya kalian bisa sering bertemu,” ucap Hadi.
Alangkah terkejutnya Venus mendengar semua itu. Dia merasa telah dibohongi oleh Bulan.
Jika Bulan sejak awal sudah tahu Matahari adalah kakaknya dan Venus adalah kekasih dari kakaknya sendiri, lalu kenapa gadis itu mendekati Venus dan tetap ingin menjadi selingkuhan dari pacar kakaknya sendiri?
__ADS_1
“Jadi kalian ....” Perkataan Venus menggantung. Dia menatap Bulan, meminta penjelasan darinya. Jelas terlihat ekspresi kekecewaan tergambar di wajah Venus sekarang. “Kenapa kamu gak pernah cerita semua ini?” tanyanya kemudian.
“Maaf,” ucap Bulan. “Aku takut kalau aku cerita, Kak Venus akan jaga jarak dari aku. Aku sayang Kak Venus. Aku gak mau kehilangan Kakak,” ungkapnya tanpa memikirkan perasaan Matahari.