
Waktu terus berjalan, dan tampaknya hujan akan bertahan cukup lama. Langit yang merasa tidak betah dengan kondisi ini mencoba menghibur Matahari yang tampak sedih. Dengan tersenyum, Langit mengajak matahari untuk bermain hujan.
“Mau mencoba sesuatu yang baru bersamaku?” tanya Langit.
Panggilan aku-kamu yang Langit ucapkan sangat asing di pendengaran Matahari, namun meskipun begitu terdengar lucu hingga membuat Matahari tak bisa menahan senyumnya.
“Aku kamu?” tanya Matahari.
Langit pun mengangguk. “Bukannya kita udah jadi pasangan kekasih? Jadi, nggak ada lagi lo gue di antara kita,” katanya.
Lagi, Matahari tersenyum mendengarnya. Lalu gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jadi, gimana?” tanya Langit.
“Apanya?”
“Mau mencoba bermain hujan bersamaku?” tanya Langit lagi.
Matahari tak langsung menjawabnya. Gadis itu melihat ke depan, menatap rintik hujan yang masih turun dengan deras. Hanya saja sudah tak ada lagi gemuruh petir seperti tadi.
“Aku takut,” ucap Matahari.
Langit tersenyum lembut. Dia mengalihkan pandangannya dari Matahari untuk melihat hujan, sedetik kemudian dia kembali menatap Matahari.
Tanpa mengatakan apa pun Langit menarik pergelangan tangan Matahari untuk bermain hujan bersamanya.
"Kenapa kita tidak membuat hujan ini terasa lebih menyenangkan?" ucap langit dengan penuh semangat.
Matahari yang awalnya sedih langsung bersemangat. Mereka berdua merasakan adanya ikatan khusus yang tumbuh di antara mereka.
Matahari dan Langit pun mulai menikmati momen indah yang tercipta di tengah guyuran hujan. Mereka bermain menangkap tetes hujan, melompat-lompat, dan bergulat di genangan air. Sinar matahari memantul pada air hujan yang jatuh, menciptakan kilauan berwarna-warni yang menakjubkan.
“Bukankah ini menyenangkan?” tanya Langit kepada Matahari.
Gadis itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Iya, Langit. Ini sangat menyenangkan,” ucapnya.
Di tengah permainan hujan mereka, Matahari dan Langit saling tersenyum dan tertawa. Keduanya seperti diliputi oleh suatu energi yang tak terdefinisi.
__ADS_1
Air hujan yang jatuh mengalir di antara rambut Matahari yang terpancar dengan sinarnya yang cerah. Sementara itu, tetesan hujan yang terjatuh di langit tampak seperti sekuntum bintang yang terpantul dalam kilauan kebahagiaan mereka.
Perlahan-lahan, atmosfer di antara Matahari dan Langit berubah menjadi romantis. Matahari mulai merasakan kehangatan hati yang dia tidak pernah rasakan sebelumnya di dalam halte bus ini. Dia terpesona oleh aura kelembutan langit yang berpadu dengan gemerlap hujan. Sementara itu, Langit mencintai keceriaan dan kehangatan matahari yang menghangatkan hari-hari mereka.
Langit mengulas senyum manis melihat Matahari menari bersama hujan. Satu pemandangan yang sangat indah telah semesta ciptakan untuknya.
“Gue cinta sama lo, Matahari,” gumam Langit.
Tiba-tiba Matahari berhenti bermain. Dia diam sembari menatap Langit dalam-dalam.
“Makasih ya, Langit. Aku senang. Ini pertama kali aku bermain hujan tanpa rasa takut. Semua berkat kamu,” ucap Matahari tulus.
“Aku akan berusaha melukis kenangan manis dalam hidup kamu. Aku mencintaimu, Matahari. Sangat mencintaimu,” ucap Langit serius.
Tak mengapa Matahari belum bisa membalas kalimat cintanya, yang terpenting gadis itu sudah memberikan satu kesempatan untuknya melukis kebahagiaan dalam hidupnya.
Hujan pun masih belum juga reda, tetapi sekali lagi mereka berdua merasakan kekuatan dan keindahan dalam kebersamaan mereka. Kedua hati mereka saling berbagi dan bersatu, merasakan cinta yang tumbuh dengan pergumulan hujan.
Setelah hujan akhirnya berhenti, Matahari yang berseri-seri memandang Langit dengan tatapan penuh harapan. Mereka berdua mengetahui bahwa saat ini adalah awal dari cerita cinta yang akan terus berkembang di antara mereka.
***
“Pa, aku capek. Kalo mau marah besok aja ya. Sekarang aku mau istirahat dulu,” ucap Matahari tanpa mengurangi rasa sopannya terhadap Hadi.
Gadis itu ingin segera ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya serta mengganti pakaian hangat lalu beristirahat.
“Kamu ini mau jadi apa, Sunny? Harusnya kamu mencontoh adik kamu, Bulan, dia selalu pulang tepat waktu,” ujar Hadi.
Matahari mengerlingkan matanya, merasa muak dibanding-bandingkan dengan Bulan.
“Pa, bisa nggak, gak usah banding-bandingin aku sama Bulan? Lagian selama ini juga Papa gak tau apa-apa tentang aku,” sahut Matahari sedikit sewot.
“Kamu itu ngelawan terus kerjanya. Contoh Bulan, dia selalu nurut kalau dinasehatin sama orang tua. Gak seperti kamu!”
“Tadi Papa dapat laporan dari sekolah, nilai kamu menurun. Ini pasti karena kamu selalu keluruyan gak jelas. Bahkan Papa dengar kamu sering bolos akhir-akhir ini,” ujar Hadi sembari menatap tajam Matahari.
“Gimana nilai sekolahnya gak turun, Kak Matahari tuh sekarang kerjanya pacaran terus, Pa. Tadi juga aku gak sengaja lihat Kak Matahari sama cowok main ujan-ujanan. Romantis banget,” ucap Bulan. Dia menyeringai licik kepada Matahari.
__ADS_1
“Lo—“
“Bagus. Mulai sekarang kamu gak boleh keluar rumah tanpa seizin Papa. Pulang sekolah kamu harus langsung ke rumah!” ujar Hadi memotong perkataan Matahari.
“Pa,” protes Matahari.
“Nah betul itu, aku setuju sama kamu, Mas. Matahari jangan banyak keluar rumah supaya dia jadi anak terdidik. Selama ini kamu terlalu ngebebasin dia, makanya sekarang dia tumbuh jadi anak pembangkang,” ujar Indira.
Bulan dan Indira menyeringai licik kepada Matahari.
“Diam kalian berdua! Jangan coba-coba menghasut Papa buat benci sama aku,” sungut Matahari kepada Indira dan Bulan.
“Kamu yang harusnya diam! Sekarang juga kamu pergi ke kamarmu! Mulai sekarang Papa akan ambil semua fasilitas kamu,” ujar Hadi.
Matahari menatap Hadi dengan sorot berkaca-kaca. “Gak bisa gitu dong, Pa. Papa gak berhak ambil apa pun milik aku! Papa jangan lupa, kalau semua ini termasuk perusahaan milik mama aku. Jadi, jelas Papa gak ada hal atas semua ini,” ujarnya penuh emosi.
“Sebentar lagi usia aku 17 tahun, dan itu artinya aku sudah bisa mengambil semuanya termasuk perusahaan. Siap-siap kalian akan jadi gelandangan!” ujar Matahari lagi.
Matahari pergi setelah mengatakan semua itu kepada papanya. Namun, begitu dia akan menaiki anak tangga, Matahari berhenti sejenak lantas berbalik melihat ke arah Hadi, Indira dan Bulan.
“Selama ini Papa pikir aku anak yang pembangkang dan suka keluyuran kan? Dan Bulan, dia anak baik-baik menurut Papa. Coba Papa tanyakan ke anak kesayangan Papa itu, anak siapa yang ada dalam perutnya,” ucap Matahari.
Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas sembari menatap Bulan dengan sorot yang sulit dijelaskan.
Sementara itu Bukan terlihat panik mendengar perkataan Matahari baru saja.
“Apa maksud kamu, Matahari?” tanya Hadi.
“Jaga bicaramu, Matahari. Kamu jangan fitnah anak saya!” ujar Indira ketus.
“Tanyakan saja langsung pada anak kesayangan kalian itu. Dia pasti mengerti maksud perkataan ku,” ucap Matahari.
Setelah itu dia bergegas pergi ke kamarnya tak menghiraukan teriakan Indira yang marah dan tak terima Matahari memfitnah Bulan.
“Bulan, jawab Papa! Apa maksud perkataan Matahari tadi?” tanya Hadi serius.
Hadi menatap mata Bulan tajam, lalu dia beralih melihat perut gadis itu yang terlihat masih rata.
__ADS_1
“Pa, aku—“