Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 15


__ADS_3

“Neng, kita udah sampai,” ucap Mang Ujang.


Matahari tersadar dari lamunannya. Dia melirik ke arah luar dan mendapati dirinya sudah sampai di sekolahnya. Kening Matahari mengerut saat suasana di sekitar sekolah sudah mulai sepi, refleks dia melihat jam di pergelangan tangannya.


“Sial. Gue telat lagi,” gumamnya.


Matahari membenarkan tasnya lalu bergegas turun dari mobil. “Makasih ya, Mang Ujang,” katanya kepada sang sopir sembari pergi dengan terburu-buru.


“Pak, tunggu, jangan dulu di tutup gerbangnya,” ucap Matahari kepada Pak Satpam saat akan menutup gerbang sekolahnya.


Matahari mengerahkan seluruh kekuatannya berlari berusaha menerobos gerbang. Namun usahanya gagal. Tepat saat dia sampai, gerbang itu sudah berhasil dikunci oleh Pak Satpam.


“Pak bukain pintunya dong, plis,” ucap Matahari memelas.


“Gak bisa, Neng. Maaf.”


“Pak, plis. Hari ini saya ada ulangan matematika, bukain gerbangnya, ya.”


“Siapa suruh malah telat datang. Mending sekarang kamu pulang saja sana!”


“Sekali aja, Pak, bukain gerbangnya. Lagian saya cuma telat lima belas menit doang kok. Nanti saya traktir beli bakso deh sekalian sama minumnya.” Matahari masih berusaha membujuk Pak Satpam, tetapi rupanya tak semudah itu merayunya supaya berbaik hati membukakan gerbang untuknya.


“Tapi saya gak tertarik tuh. Saya gak suka makan dari hasil suap.”


Matahari menghela napas kasar. Bibirnya mengerucut kesal, dia kecewa karena tidak diizinkan masuk oleh Pak Satpam.


Saat Matahari hendak berbalik akan pergi, sebuah motor berhenti tepat di hadapannya. Tak lama orang yang mengendarai motor tersebut turun dan membuka helm-nya. Nampak jelas ekspresi panik terukir di wajahnya.


“Langit? Lo telat juga?”


Langit melihat Matahari. Demi apa pun yang ada di dunia ini, rasanya Langit akan rela datang terlambat setiap hari jika pada akhirnya dirinya akan disapa duluan oleh Matahari. Pasalnya tak ada angin atau pun badai, tetapi semesta seolah menciptakan sebuah kebetulan yang manis bisa terjebak dengan Matahari lagi.


“Iya, nih. Nggak boleh masuk, ya?” sahut Langit.


“Iya,” jawab Matahari.


Langit terpaku menatap Matahari. Penampilan gadis itu tidak pernah gagal, selalu terlihat sangat cantik dan sempurna. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai dengan pita bando menghiasi kepalanya.


Matahari menghela napas panjang, setelah itu dia berbalik hendak pergi dari sana. Sepertinya hari ini Matahari akan membolos saja.


“Lo mau ke mana?” tanya Langit.


Langkah Matahari terhenti saat tiba-tiba Langit menahan pergelangan tangannya. Dia berbalik kembali berhadap-hadapan dengan Langit tanpa melepaskan tangannya dari cekalan lelaki itu.


Terdiam sejenak, Langit terkejut oleh ulahnya sendiri yang refleks berani menyentuh Matahari. Dia langsung menjauhkan tangannya dari Matahari.


“Sorry,” ucap Langit.


“Lo masih mau masuk atau mau bolos?” tanya Langit beberapa saat kemudian.


“Bolos lah. Kan lo tahu sendiri gerbangnya udah ditutup,” sahut Matahari.

__ADS_1


Langit melihat ke arah gerbang sekilas, lalu kembali menatap Matahari.


“Lo sendiri gimana?” tanya Matahari.


“Gue mau masuk.”


“Emang bisa? Gimana caranya?”


Langit tersenyum. “Sebenarnya gue tahu jalan lain untuk bisa masuk.”


“Caranya?” tanya Matahari. “Jangan bilang kalau lo mau manjat tembok yang super tinggi ini.”


Langit tersenyum tenang. “Ya, gimana lagi. Cuma itu satu-satunya cara supaya bisa ikut ulangan matematika.”


Matahari terdiam sejenak menimang usulan dari Langit. Dia melihat tembok tinggi sekolahnya lalu kembali melihat Langit yang masih berdiri di hadapannya.


“Gue mau ikut, tapi gue gak bisa manjat,” ucap Matahari.


“Tenang aja, gue bantuin.”


Langit menarik pergelangan tangan Matahari menuntun gadis itu untuk ikut bersamanya menuju ke belakang sekolah. Sedangkan Matahari terlihat pasrah saja mengikuti Langit.


“Lo bisa naik pake tangga ini,” ucap Langit.


Benar saja, terdapat sebuah tangga di sana. Sepertinya ini sering digunakan oleh para siswa yang akan membolos atau telat seperti mereka sekarang.


Matahari menunduk, dia tersadar memakai rok pendek sekarang. Hal tersebut juga baru disadari oleh Langit membuat lelaki itu langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Gue pake rok, pendek pula. Kalau gue naik nanti lo ngintip.” Bibir Matahari mengerucut, matanya mendelik kepada Langit.


“Ayo naik!” titah Langit kemudian.


Waktunya sudah sangat mepet, mereka harus segera masuk supaya bisa mengikuti ulangan matematika.


“Tenang aja, gue gak bakalan ngintip. Janji!” ucap Langit lagi.


Matahari terdiam sembari menggigit bibir bawahnya. “Beneran ya, jangan ngintip. Awas aja sampe lo ketahuan ngintip, gue gak akan segan colok mata lo!” ancamnya kepada Langit.


“Iya, Matahari.”


Matahari berdiri di dekat tangga. Dia terdiam sejenak, merasa ragu-ragu.


“Lo percaya sama gue kan?” tanya Langit.


“Gak tau.”


“Ish, yaudah cepetan naik!”


“Iya, bawel. Tutup dulu mata lo!” ujar Matahari.


“Iya iya, gue tutup mata.”

__ADS_1


Langit berdiri membelakangi Matahari sembari menutup matanya sesuai permintaan gadis itu.


“Awas lo jangan ngintip!” peringat Matahari.


Gadis itu mulai menaiki satu per satu anak tangga dengan sangat hati-hati. Demi apa pun juga, ini adalah pengalaman pertamanya terlambat datang ke sekolah hingga harus memanjat tembok seperti ini.


“Udah belum?” tanya Langit.


“Udah, tapi ini gimana turunnya? Gue takut jatoh.”


Langit membuka matanya. Dia berbalik badan lalu mendongak melihat Matahari yang sedang duduk di atas tembok yang tinggi. Sontak saja Langit tak bisa menahan tawanya.


“Langit, anjir malah ketawa. Ini gimana nasib gue selanjutnya?” gerutu Matahari kesal.


“Tunggu,” ucap Langit. Dia mulai menaiki anak tangga hingga dirinya berada di atas bersama Matahari.


Langit melihat ke bawah sejenak sebelum akhirnya terjun menjatuhkan dirinya di atas tanah.


“Ayo turun. Gue bakal tangkap lo di sini,” teriak Langit. Beruntung suasana sekolah sepi, tak ada guru piket yang berjaga di sana.


“Gak mau, takut.”


“Jangan takut, ada gue yang bakal nangkap lo di sini. Percayain semuanya sama gue,” ucap Langit berusaha meyakinkan Matahari.


Matahari menelan ludahnya sendiri yang mendadak terasa serat di tenggorokannya. Dia sangat takut, tetapi berusaha percaya kepada Langit bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“Gue hitung sampai tiga, lo harus loncat dari sana,” ucap Langit.


“Satu ... dua ... tiga.”


Matahari melompat sembari memejamkan matanya. Dia sudah pasrah andai tubuhnya akan terluka karena terjatuh ke tanah.


Grep!


Bruk!


Langit sempat berhasil menangkap Matahari. Namun sedetik kemudian tubuhnya kehilangan keseimbangan sehingga terhuyung dan akhirnya jatuh di atas tanah sembari memeluk Matahari. Langit merelakan tubuhnya menjadi penahan agar Matahari tidak terluka.


“Lo gak papa?” tanya Langit.


Perlahan Matahari membuka matanya. Dia mendapati dirinya terjatuh di atas tubuh Langit. Pantas saja Matahari tidak merasakan sakit sedikit pun.


Sejenak pandangan Langit dan Matahari saling beradu dan terkunci. Langit merasa semua ini bagaikan mimpi indah bisa sedekat ini dengan Matahari. Bagaimanapun selama ini Langit tak berani berharap meskipun sekadar untuk bermimpi.


Bagi Langit, Matahari adalah sesuatu yang sangat mustahil dia gapai.


“Lo gak mau bangun?” tanya Langit membuyarkan lamunan Matahari.


Gadis itu tersadar, dia langsung melepaskan diri dari langit dengan wajah yang bersemu kemerahan karena malu. Matahari membersihkan seragamnya dari dedaunan yang menempel.


“Lo gak papa kan, Lang?” tanya Matahari beberapa saat kemudian.

__ADS_1


“Hm, seperti yang lo lihat, gue baik-baik saja.”


“Thanks, ya, Lang. Dua kali lo nolongin gue.”


__ADS_2