Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 26


__ADS_3

Andai waktu dapat diputar ulang, dan andai semesta dapat mengabulkan satu permintaan di antara banyaknya harapan. Langit ingin mengubah takdir hidupnya yang dianggap hina.


Andai takdir bisa diubah, Langit ingin mencegah pertemuan antara mamanya dengan Angkasa, walaupun jika semua itu benar bisa terjadi, dia mungkin tidak akan ada di dunia ini.


Semua itu jauh lebih baik bagi Langit dari pada terlahir dari sebuah kesalahan dan dosa.


Bukan. Bukan Langit menyesal terlahir dari rahim seorang ibu hebat seperti mamanya. Bukan berarti Langit tak menyayangi mamanya. Hanya saja efek dari dosa itu kini berimbas pada kehidupan dan masa depannya.


Langit harus menanggung akibat dari perbuatan orang tuanya.


Langit menghela napas kasar. Dia menutup kembali laci yang terdapat surat terakhir yang ditulis tangan oleh mendiang mamanya untuknya.


Langit bergegas meninggalkan apartemennya dengan mengendarai motor kesayangannya menuju ke sekolah.


Kedatangan Langit di sekolah tepat bersamaan dengan Venus yang juga baru sampai. Venus dan Langit sama-sama memarkirkan motor di area yang sama dengan tempat yang berbeda.


Tak lama berselang, Matahari juga baru sampai di sekolah diantar oleh sopirnya. Gadis itu tak menyadari kehadiran Langit karena orang pertama yang dia lihat adalah Venus.


Pandangan mantan pasangan kekasih itu beradu dan terkunci selama beberapa detik sebelum kemudian Matahari memutusnya dengan memalingkan wajah ke arah lain tepat bersamaan dengan suara seorang gadis memanggil nama Venus.


“Kak Venus,” panggil Bulan.


Langkah gadis itu sempat terhenti ketika dia melihat Matahari ada di sana. Namun setelah itu Bulan melanjutkan niatnya menghampiri Venus dengan kotak bekal di tangannya.


Bulan menyodorkan kotak bekal miliknya kepada Venus.


“Ini Kak, aku bawain makanan buat Kakak. Nanti Kak Venus makan ya,” ucap Bulan.


Menghela napas panjang. Matahari mencengkeram ujung tali tasnya.


Biar bagaimanapun, sedikit banyaknya Matahari merasakan hatinya panas melihat Venus dengan gadis lain selain dirinya. Meskipun Matahari sudah berusaha untuk mengikhlaskannya.


Venus mengalihkan pandangannya dari Matahari ke Bulan. Dia melihat sekilas kotak bekal yang diberikan Bulan lalu menerimanya dengan senyum manis.


“Thanks, nanti aku makan,” ucap Venus.


Matahari tak tahan lagi melihat pemandangan di depannya. Hal tersebut disadari oleh Langit yang juga masih ada di sana tak jauh dari Matahari.


Langit berjalan meninggalkan motornya ke arah Matahari. Lalu tanpa aba-aba dia menggenggam tangan kanan Matahari dan menariknya pergi bersamanya.


Sontak saja hal tersebut membuat Matahari terkejut. Namun keterkejutan itu tak berlangsung lama karena selanjutnya gadis itu mengikuti langkah Langit tanpa penolakan ataupun persetujuan.


“Eh, bukannya itu Kak Langit? Mereka udah makin deket ya, sekarang,” ucap Bulan.


Dia sengaja mengatakan semua itu untuk memanas-manasi hati Venus. Supaya kekasihnya itu berhenti memikirkan Matahari dan hanya fokus kepadanya seorang.


Venus diam, tak menggubris perkataan Bulan. Pandangannya masih tertuju pada Langit yang membawa Matahari pergi.


“Kayaknya bentar lagi mereka bakal jadian deh,” ucap Bulan lagi.


Venus mengalihkan pandangannya dari Matahari ke arah Bulan. Menatap gadis itu beberapa detik dengan sorot yang sulit diartikan. Selanjutnya dia berjalan melewati Bulan dengan perasaan tak menentu.


Bulan diam-diam tersenyum lantas bergegas mengejar langkah Venus tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Bulan tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya yang terlihat sinis kepadanya. Dia tak merasa bersalah dan tak harus malu dengan perbuatannya merebut Venus dari Matahari.


“Kak Ven—”


“Kamu ke kelas sendiri ya. Aku ada urusan sebentar,” ucap Venus memotong perkataan Bulan.


“Urusan apa?” tanya Bulan sembari menatap Venus curiga.

__ADS_1


Venus tersenyum lalu mengusap puncak kepala Bulan lembut.


“Bukan hal yang begitu penting. Udah sana kamu ke kelas, bentar lagi bel masuk,” ucap Venus.


Bulan diam sesaat sembari menatap Venus, mencoba mencari sesuatu di mata kekasihnya itu. Namun, dia tidak bisa menemukan apa pun selain rasa curiga yang sedari tadi sudah memenuhi hati dan pikirannya.


“Hm, aku ke kelas dulu,” ucap Bulan akhirnya.


Venus mengangguk dan tersenyum manis kepada Bulan. Dia diam sejenak melihat punggung Bulan yang perlahan menjauh dan hilang dari pandangannya.


Setelah itu Venus berbalik badan, dia berjalan dengan langkah lebar menuju ke lantai dua mengejar Matahari dan Langit.


Langkahnya terhenti dengan napas tak beraturan. Dia terpaku melihat Matahari dan Langit yang sedang berdiri di koridor depan kelasnya saling berhadap-hadapan dengan posisi Langit masih menggenggam tangan Matahari.


“Lo gak papa?” tanya Langit.


Matahari menatap Langit sesaat, lalu menggelengkan kepalanya.


“Sunny.”


Refleks Matahari dan Langit melihat ke arah sumber suara secara bersamaan. Venus berjalan dengan tenang mendekati mereka dan Langit pun langsung melepaskan tangan Matahari.


Venus melihat Langit sesaat. “Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya kepada Matahari.


“Mau ngapain lagi lo deketin Matahari?”


Bukan Langit yang berbicara demikian melainkan Jasmin. Entah sejak kapan gadis itu ada di sana, namun yang jelas tatapannya begitu sinis dan tajam kepada Venus dengan kedua tangan melipat di atas dadanya.


Matahari, Langit, dan Venus refleks melihat ke arah sumber suara. Jasmin berjalan mendekat ke arah Matahari.


“Udah deh mending lo urus tuh cewek baru lo, gak usah deketin Matahari lagi,” ucap Jasmin lagi dengan nada sinis.


Venus diam sembari menatap Jasmin sekilas, lalu beralih ke arah Matahari.


Namun, niatnya tertahan oleh Langit yang tiba-tiba saja mencegahnya.


Seketika itu pandangan Langit dan Venus beradu. Sorot mata keduanya sama-sama tajam dengan kobaran permusuhan.


Matahari menghela napas panjang. Dia melepaskan tangan Langit sembari menatapnya tenang.


“Gak papa, gue mau bicara sama Kak Venus sebentar,” ucap Matahari kepada Langit.


“Lo yakin mau bicara sama dia?” tanya Jasmin.


Matahari tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


“Kalian tenang aja, gue gak bakal nyakitin Sunny,” ucap Venus kemudian.


Mau tak mau, suka tidak suka Langit pun mengalah. Dia membiarkan Venus membawa Matahari.


Venus menatap Langit lalu tersenyum miring kepadanya sebelum dia pergi dengan Matahari.


Langit terpaku menatap kepergian Matahari. Tangannya refleks mengepal tetapi hanya beberapa detik saja.


“Lo cemburu?”


Seketika itu Langit menoleh ke arah sumber suara.


“Maksud lo?” tanya Langit.


“Lo cemburu lihat Matahari sama Venus?” ulang Jasmin sembari menatap Langit dalam-dalam. “Lo takut mereka balikan?” tanyanya lagi.

__ADS_1


Langit kembali melihat Matahari yang sudah menjauh bahkan menghilang dari pandangannya. Dia menunduk sesaat sebelum kemudian melengos hendak masuk ke kelasnya tanpa menjawab pertanyaan Jasmin.


Gadis itu tersenyum tanpa sepengetahuan Langit. Setelah itu dia pun ikut menyusul Langit menuju ke kelasnya.


Di sisi lain, Matahari diam sembari menatap Venus dengan sorot yang sulit dimengerti. Gadis itu menunggu Venus mengatakan sesuatu yang katanya ingin dibicarakan dengannya.


“Kakak mau ngomong apa sampe bawa aku ke sini?” tanya Matahari.


Saat ini Matahari dan Venus ada di rooftop berdua.


“Kamu ada hubungan apa sama Langit?”


Kening Matahari mengerut. “Maksudnya?”


“Kamu jangan terlalu dekat sama Langit apa lagi sampai memiliki hubungan spesial sama dia,” ucap Venus.


Sebelah alis Matahari menaik sembari menatap Venus. Dia berusaha mencerna maksud perkataan Venus baru saja.


Mendapat tatapan seperti itu membuat Venus menjadi gugup, tetapi dia berusaha menyembunyikannya dan tetap bersikap tenang.


“Dia bukan cowok baik-baik. Jadi, aku peringatin kamu untuk menjaga jarak dari dia,” jelas Venus.


Matahari menghela napas panjang lalu mengalihkan pandangannya ke samping. Sedetik kemudian dia kembali menatap Venus datar.


“Langit bukan cowok baik-baik?”


Venus mengangguk.


“Terus cowok yang baik itu kayak gimana? Cowok yang seperti Kak Venus, gitu?”


Venus tercekat. Dia menatap Matahari dengan sorot tak percaya dengan sikap Matahari saat ini yang sudah berani membantahnya. Tak seperti sebelum-sebelumnya, biasanya Matahari selalu mendengarkan apa pun perkataannya.


Lama tak mendapat jawaban membuat Matahari kesal. Dia melengos melewati Venus hendak pergi dari sana. Namun, niatnya tertahan. Venus mencegah dengan mencekal pergelangan tangannya.


“Kamu berubah, Sunny,” ucap Venus.


Pandangan mereka bertubrukan dan terkunci selama beberapa detik.


Ada yang berdesir ngilu tepat di ulu hati Matahari seperti disayat-sayat pisau tajam.


“Kita sepakat untuk jadi teman meskipun hubungan kita sudah berakhir bukan,” ucap Venus.


Matahari menghela napas panjang. “Kayaknya aku bakal cabut kembali ucapanku waktu itu,” ucapnya.


Ada jeda selama beberapa detik sebelum gadis itu melanjutkan perkataannya.


“Tadinya aku mau hubungan kita tetap baik meski hanya sebagai teman. Tapi faktanya gak bisa kayak gitu.”


Matahari menatap Venus dalam-dalam. Sedetik kemudian pandangannya tertunduk lalu menghela napas panjang.


“Hati aku akan merasakan sakit setiap kali melihat Kak Venus. Entah itu sedang sendiri atau saat Kakak sedang bersama Bulan, hati aku sakit,” ucap Matahari dengan suara bergetar.


Matanya sudah berkaca-kaca. Mungkin satu kedipan saja maka cairan bening yang menggenang di matanya akan tumpah.


Rahang Venus mengeras. Kedua tangannya mengepal erat seiring matanya terpejam singkat. Mulutnya mendadak kelu untuk berbicara.


Venus menatap Matahari. Dia ingin mengusap cairan bening yang berhasil lolos dari mata gadis itu. Namun, Matahari menolak dengan memalingkan wajahnya ke samping.


“Kalo udah gak ada yang mau dibicarain lagi mending aku balik ke kelas sekarang. Lagian bel masuk juga bentar lagi bunyi,” ucap Matahari.


Di berbalik membelakangi Venus lalu melangkahkan kakinya hendak pergi. Namun, Lagi-lagi Venus menahan niatnya.

__ADS_1


“Kalo aku ceritain semuanya kenapa aku bisa jadian sama Bulan, apa kamu mau maafin aku? Apa kamu bakal ngasih kesempatan buat aku memperbaiki hubungan kita?”


__ADS_2