
Demi apa pun yang ada di dunia ini, Langit menyesal tak memfilter mulutnya saat mengakui perasaannya pada Matahari.
Bukan. Bukan pengakuannya yang Langit sesali, tetapi pemilihan waktunya yang tak tepat.
Tak seharusnya Langit mengungkapkan perasaannya kepada Matahari di saat gadis itu sedang tidak baik-baik saja seperti sekarang ini. Alhasil keadaannya berubah menjadi canggung.
“Lo nembak gue?” tanya Matahari.
Gadis itu mengusap hidungnya yang masih berair efek dari menangis tadi.
“Gu-gue ....” Perkataan Langit tertahan, dia menghela napas panjang.
“Lo gak harus jawab sekarang kok,” ucap Langit pada akhirnya.
Sudah terlanjur mengaku, tidak mungkin harus diralat lagi kan?
Matahari terdiam cukup lama menatap Langit dengan setumpuk pikiran bergelayut dalam otaknya.
Beberapa saat kemudian gadis itu memalingkan wajah ke arah lain, kemudian dia berjalan menjauhi Langit untuk melihat langit yang mulai diselimuti awan hitam. Meskipun begitu, belum tentu tetesan air di langit akan turun ke bumi.
Semilir angin menerpa wajah Matahari hingga menggoyangkan rambut hitamnya yang terurai. Tak seperti tadi, embusan angin membawa hawa panas, sekarang embusannya terasa sejuk.
“Sejak kapan?” tanya Matahari beberapa saat kemudian.
Matahari menoleh ke arah Langit yang masih bergeming di tempatnya semula.
“Sejak kapan lo suka sama gue?” tanyanya memperjelas.
Matahari menatap Langit serius menunggu lelaki itu menjawab pertanyaannya.
“Gue gak tau tepatnya sejak kapan, yang pasti jauh sebelum lo kenal dan jadian sama Venus,” aku Langit.
Akhirnya dia bisa jujur tentang perasaannya terhadap Matahari. Walaupun Langit tidak tahu gadis itu menyukainya juga atau tidak.
Itu bukan menjadi permasalahan utama. Tak peduli walau akhirnya Matahari akan menolak. Harapan Langit hanyalah gadis itu tak menghindarinya setelah semua ini terjadi.
__ADS_1
Langit berjalan mendekati Matahari, berdiri bersisian dengan gadis itu menatap bentangan alam yang luas dari atas rooftop.
“Lo gak harus balas perasaan gue, Sunny. Tapi gue harap setelah lo tau perasaan gue yang sebenarnya, lo gak akan ngehindarin gue,” ucap Langit.
Matahari menghela napas panjang. Jujur saja dia terkejut, bahkan sangat kaget mendengar pengakuan Langit baru saja.
Dia tak menyangka ada seseorang yang diam-diam menyukainya bahkan sampai selama itu.
Munafik namanya kalau Matahari tak senang dengan fakta tersebut. Fakta bahwa masih ada seseorang yang menyukainya selain Venus.
Namun ada sesuatu hal yang tak bisa dia jelaskan sehingga gadis itu tidak bisa membalas perasaan Langit. Apa lagi saat ini dia baru saja menerima pengkhianatan. Rasanya tak mudah untuk bisa membuka hati untuk orang baru.
“Kita temenan aja ya, Langit,” ucap Matahari.
Dia menatap Langit dalam-dalam begitu pun sebaliknya, Langit juga menatap Matahari dengan binar yang sulit dijelaskan.
“Gue bakal pura-pura gak denger yang lo katakan barusan,” ucap Matahari lagi.
Langit tersenyum lantas menganggukkan kepalanya. Dia sangat menghargai keputusan Matahari apa pun itu termasuk penolakan.
“Gue gak nolak lo, Langit.”
“Lah, terus yang barusan lo bilang maksudnya apa?”
Matahari tersenyum lalu menepuk jidat Langit dengan gemas.
“Kan gue lagi pura-pura gak tau kalo lo suka sama gue,” ucap Matahari enteng.
Hal tersebut membuat Langit berdecak serta memalingkan wajah ke arah lain.
Matahari melihatnya lantas tersenyum. Kalau dilihat-lihat Langit ini memang manis dan tampan juga ternyata. Apa lagi saat sedang cemberut seperti sekarang ini, terlihat menggemaskan.
“Kenapa? Marah ya?” tanya Matahari.
Langit menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Terus kenapa itu bibir monyong gitu. Jelek tau, Langit kalo kaya gitu.”
Matahari terkekeh pelan dan tawanya itu menarik perhatian Langit untuk melihatnya.
Wajah yang semula sembab penuh kesedihan seketika terlihat cerah, secerah namanya. Ma-ta-ha-ri.
Pemandangan indah yang membuat Langit ingin selalu melihatnya setiap hari.
“Lo harus banyak senyum kaya gini, Sunny,” ucap Langit yang membuat Matahari langsung diam sembari menatapnya.
“Seperti nama lo, Matahari. Lo cantik saat tersenyum seperti tadi,” sambung Langit lagi.
“Sa ae lo, Lang.”
Dan entah sudah berapa lama mereka di atas rooftop. Yang jelas sekolah sudah mulai sepi dari lalu lalang aktivitas para murid.
“Ngomong-ngomong ini kita mau di sini terus? Gak mau pulang?” tanya Langit.
“Balik lah. Ya kali nginep di sini,” sahut Matahari.
Sepasang remaja itu berjalan beriringan hendak meninggalkan rooftop. Tempat yang menjadi saksi di mana Langit mengungkapkan perasaannya kepada Matahari setelah sekian lama memendamnya sendirian.
“Lo suka senja?” tanya Langit.
Dia harus mengeraskan suaranya karena saat ini mereka sedang di atas motor dalam perjalanan pulang.
“Suka. Kenapa?” balas Matahari.
“Lain kali gue bakal ajak lo ke suatu tempat buat lihat senja,” ucap Langit.
“Serius?”
Langit mengangguk.
“Oke, gue mau.”
__ADS_1