
“Pa, Papa kapan ada waktu luang?” tanya Matahari kepada Hadi.
“Kenapa memangnya?”
“Ada hal penting yang mau aku bicarain sama Papa,” ucap Matahari serius.
Hadi meneguk teh hangat miliknya lalu menegakkan posisi duduknya.
“Mau bicara soal apa? Kenapa gak bicara sekarang saja?” tanya Hadi.
Matahari melirik Indira lalu beralih kepada Bulan yang juga sedang ada di ruang keluarga bersama Hadi.
“Matahari mau bicara empat mata sama Papa, tapi gak di sini,” ucap Matahari. “Kalo Papa punya waktu luang, tolong kabari Matahari,” sambungnya lagi.
Hadi menghela napas panjang. Beberapa detik kemudian lelaki paruh baya itu menganggukkan kepala meskipun dia bingung akan hal apa yang ingin putri sulungnya itu bicarakan dengannya.
Setelah selesai bicara Matahari berbalik badan hendak pergi dari sana. Dia sangat enggan bergabung dengan Indira dan Bulan yang ujung-ujungnya pasti akan membuatnya emosi.
“Gimana keadaan kamu sekarang?”
Pertanyaan itu sukses membuat langkah Matahari terhenti. Gadis itu kembali berbalik melihat ke arah Hadi.
Dia diam sembari menatap wajah papanya dengan pendar yang sulit diartikan.
Ini pertama kali selama seumur hidup Matahari karena tiba-tiba saja Hadi menanyakan keadaannya. Jujur saja, Matahari sangat terharu.
“Seperti yang Papa lihat, aku sudah merasa lebih baik sekarang,” jawab Matahari bernada dingin.
‘Dan aku akan semakin merasa baik kalau papa mau bersikap hangat setiap hari kepadaku.’
Tentu saja kalimat itu hanya Matahari ucapkan dalam hatinya saja.
“Syukurlah,” ucap Hadi sembari menganggukkan kepalanya. “Kamu harus minta maaf sama Tante Indira dan Bulan, Matahari,” ucap Hadi.
“Maksudnya?”
Kening Matahari mengernyit dalam. Dia menatap Hadi tak percaya lantas beralih ke arah Indira dan Bulan yang sedang tersenyum merasa menang.
“Pa?” panggil Matahari. “Kenapa aku harus minta maaf ke mereka?” tanyanya kemudian.
“Kamu sudah membully Bulan dan mempermalukannya. Papa sudah lihat videonya dari Bulan,” ujar Hadi.
Matahari menarik sebelah sudut bibirnya. Baru saja dia merasa terharu akan sikap Hadi yang tiba-tiba peduli kepadanya. Lalu perasaan itu seketika dipatahkan lagi.
“Jelas-jelas aku yang jadi korbannya. Harusnya mereka yang minta maaf bukan kebalikannya,” sahut Matahari, sinis.
“Kalo Kak Matahari gak mau minta maaf sama aku juga gak papa, tapi seenggaknya Kakak minta maaf sama Mama atas sikap Kakak kemarin,” ucap Bulan.
__ADS_1
Gadis itu merasa memiliki kekuasaan karena mendapat dukungan dari Hadi.
“Sebelum lo nyuruh gue, mending lo sama nyokap lo duluan deh yang minta maaf ke gue,” ujar Matahari sinis.
“Gak sadar diri. Kalian tuh banyak dosa ke gue. Buruan insyaf kalian berdua sebelum kedok kalian kebongkar semuanya, m4mpus kalian!”
Indira melotot mendengar perkataan Matahari yang begitu sarkas.
“Kamu. Kamu semakin ke sini makin kurang ajar ya, Matahari. Pantesan suami saya benci sama kamu. Emang pantes, suka ngelunjak gini,” ujar Indira, geram kepada Matahari.
“Sudah cukup, Matahari! Papa gak pernah ngajarin kamu kurang ajar kaya gini. Cepat minta maaf!” bentak Hadi yang sudah dicuci otaknya oleh Indira.
“Papa emang gak pernah ngajari aku apa-apa kalo Papa lupa.” Matahari tersenyum miring dengan sorot mata berkaca-kaca.
“Kamu—“
“Kenapa? Mau marah? Bukannya kenyataannya begitu kan. Papa gak pernah ngajarin aku apa-apa. Selama ini Papa nggak pernah peduli sama Matahari. Papa Cuma peduli sama mereka padahal di belakang Papa, mereka itu nusuk Papa!” ujar Matahari dalam satu tarikan napas, memotong perkataan papanya.
Dia benar-benar kesal dengan sikap Hadi yang sudah kelewat batas.
Air mata Matahari meleleh tanpa dia minta. Gadis itu mengusapnya dengan kasar lalu berlari menuju ke kamarnya.
Sesak. Matahari merasakan dadanya seperti tertindih benda yang sangat besar hingga rasanya untuk bernapas pun dia merasa kesulitan. Air matanya terus meleleh tak terbendung lagi.
Matahari bukan gadis yang kuat. Dia terlalu lemah, dia butuh seseorang untuk memeluknya dengan tulus.
“Mama, aku kangen Mama. Aku gak tahan lagi, Ma. Aku lelah.”
“Aku gak yakin bisa ngejalanin amanah Mama buat jagain Papa dari mereka. Papa bener-bener udah dicuci otaknya sama wanita jahat itu, Ma. Dan aku juga masih belum dapetin bukti-bukti kejahatan mereka,” lirih Matahari.
***
“Hai, Kak Matahari,” sapa Bulan yang sudah duduk manis di dalam mobil Matahari.
“Lo?” Rahang Matahari mengeras, matanya menatap tajam. “Nagapain lo di mobil gue? Turun!” ujar Matahari penuh penekanan.
Bukannya turun, Bulan malah duduk santai tak menghiraukan teriakan Matahari. Gadis itu semakin berani memperlihatkan wajah aslinya yang seperti ular.
“Lo budeg ya? Gue bilang turun!” titah Matahari sekali lagi.
“Kalo gue gak mau, gimana dong?” Bulan tersenyum meremehkan.
Benar-benar sangat menyebalkan.
“Ini mobil gue! Lo gak ada hak naik mobil ini!” tegas Matahari.
“Sayangnya mulai sekarang mobil ini jadi mobil gue juga, Kak. Mobil kita berdua,” ucap Bulan dengan nada yang sangat sangat menyebalkan.
__ADS_1
Matahari sangat kesal. Dia menutup pintu mobilnya dengan sangat kasar, lalu berjalan kembali memasuki rumah untuk menemui Hadi yang masih ada di meja makan.
“Pa, kenapa Papa ngizinin Bulan naik mobil aku?” tanya Matahari yang dengan sekuat tenaga berusaha menahan emosinya.
“Memangnya kenapa? Kalian kan satu sekolah, jadi gak ada salahnya berangkat bareng,” ucap Hadi dengan begitu santainya.
“Gak bisa. Itu mobil Matahari peninggalan Mama Melati. Gak ada yang boleh pake mobil itu selain aku dan tanpa seizin ku,” ucap Matahari penuh penekanan.
“Kamu ini masalah kecil aja dibesar-besarkan. Tinggal berangkat bareng apa susahnya? Lagian Bulan adik kamu, dia juga punya hak atas semua yang kamu miliki di rumah ini,” ucap Indira dengan tidak tahu malunya.
Matahari menarik sebelah sudut bibirnya. “Sekali penjilat, selamanya penjilat!” gerutunya yang didengar jelas oleh Hadi dan Indira.
“Matahari, jaga bicaramu! Gak sopan!” bentak Hadi.
Matahari memutar bola matanya malas. Lalu pergi dari sana tanpa mengatakan apa pun lagi.
Begitu sudah di depan pintu, Matahari menghela napas kasar. Dia menoleh ke belakang sesaat, lalu kembali melihat ke depan.
Tiba-tiba, senyum misteriusnya terukir di wajah Matahari.
“Jalan, Mang!” titah Matahari kepada Mang Ujang, sopirnya.
“Siap, Neng.”
Tak ada kata yang terucap dari mulut Matahari selama dalam perjalanan. Begitu mobilnya sudah berada cukup jauh dari rumahnya dan dari sekolah, tiba-tiba saja Matahari meminta Mang Ujang berhenti secara mendadak.
“Kenapa berhenti di sini, Neng?” tanya Mang Ujang kepada Matahari.
“Kak, ngapain lo nyuruh dia berhenti di tengah jalan? Lo mau kita terlambat datang ke sekolah?” gerutu Bulan.
Matahari tak menjawab pertanyaan mereka. Dia membuka pintu mobil lalu turun dan berjalan memutar hingga berhenti tepat di depan pintu penumpang belakang tempat Bulan duduk. Matahari membuka pintunya secara tiba-tiba hingga membuat Bulan terheran-heran.
“Ngapain lo—“
Belum sempat Bulan menyelesaikan perkataannya, Matahari menarik paksa Bulan hingga gadis itu keluar dari mobilnya.
“Lo pikir gue sudi berbagi mobil sama lo?” Matahari tersenyum sinis. “Jangan kebanyakan mimpi jadi ratu!”
Matahari memasuki mobil lalu mengunci pintunya. Tak peduli dengan teriakan Bulan yang memintanya membukakan pintu.
“Kak Matahari, buka!” Bulan menggedor kaca mobil, tetapi Matahari tak menghiraukannya.
“Sialan lo ya, Kak. Liat aja gue bakal aduin ini ke Papa,” teriak Bulan, frustrasi.
Matahari tetap tak menghiraukannya. Gadis itu malah tersenyum puas.
“Jalan, Mang!” titah Matahari.
__ADS_1
“Tapi itu si Neng Bulan gimana?” tanya Mang Ujang.
“Udah biarin aja dia ngesod ke sekolahnya,” sahut Matahari tanpa perasaan.