Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 42


__ADS_3

“Apa benar yang dikatakan Matahari? Kamu hamil, Bulan?”


Hadi menatap Bulan dengan sorot tajam hingga membuat gadis itu gugup dan takut.


“Pa ....”


“JAWAB!” bentak Hadi.


Sama hal nya dengan Bulan, Indira pun sangat terkejut mendengar bentakan Hadi. Indira yang tak percaya putrinya melakukan hal memalukan itu pun langsung maju mendekati suaminya untuk menenangkannya.


“Mas tenang dulu. Bulan gak mungkin hamil, dia anak baik-baik. Mas tau sendiri kan selama ini Bulan selalu patuh kepada kita sebagai orang tuanya,” ucap Indira.


Namun perkataan wanita itu tak menyurutkan gejolak amarah di mata Hadi. Dia tetap ingin mendengar jawaban dari mulut putrinya sendiri.


Setelah mencoba untuk menenangkan diri, Bulan maju mendekat kepada Hadi, mencoba untuk menjelaskan semuanya.


“Be-benar kata Mama, Pa. A-aku gak mungkin hamil. Aku gak mungkin membuat malu keluarga ini,” ucap Bulan.


Meski sudah berusaha tenang, tetapi tetap saja Bulan berbicara dengan gugup. Dia sangat berharap papanya percaya kepadanya.


“Tapi Matahari bilang kamu hamil,” ujar Hadi.


“Papa dengar sendiri kan kalau Bulan nggak hamil. Gak mungkin dia bohong, Pa,” sahut Indira. “Mama yakin itu akal-akalannya Matahari saja supaya kita ribut,” sambungnya lagi.


“Iya, Pa. Yang dikatakan Kak Matahari itu fitnah. Dia sengaja melakukannya supaya Papa benci sama aku,” ucap Bulan.


“Sayangnya, aku punya buktinya,” ucap Matahari.


Semua mata langsung tertuju padanya. Gadis itu berjalan menuruni anak tangga menuju ke arah mereka.


Setiap langkah Matahari tak lepas dari pandangan Bulan yang sudah merasa tak tenang. Bulan benar-benar takut rahasianya terbongkar.


“Jangan sembarangan kamu, Matahari. Jangan suka memfitnah orang lain apa lagi yang kamu fitnah itu anak kesayangan kami,” ujar Indira emosi.


Matahari tak menghiraukan perkataan wanita itu. Dia melihat Bulan lalu tersenyum miring kepadanya.

__ADS_1


“Ini, Pa. Ini alat tes kehamilan milik Bulan dan hasilnya positif.”


Matahari memberikan alat tes kehamilan itu kepada Hadi. Diambilnya benda tersebut oleh lelaki itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


Sementara itu degup jantung Bulan semakin kencang. Matanya membulat sempurna melihat benda yang diberikan Matahari kepada papanya. Itu adalah miliknya yang sudah dia buang sebelumnya. Tak menyangka Matahari menemukan alat itu.


“Apa ini, Bulan?” Hadi menatap anak kesayangannya itu tajam.


Bulan menggelengkan kepalanya. “Itu bukan punya aku, Pa. Sungguh,” ucapnya gugup.


Dia melihat ke arah Matahari. “Kakak jangan fitnah aku, Kak. Gak nyangka, Kak Matahari ternyata jahat banget sama aku,” katanya kemudian.


“Kalau ini bukan punya kamu, terus ini punya siapa?” tanya Hadi.


“Bulan juga gak tau, Pa. Mungkin aja itu punya Kak Matahari,” ucap Bulan sembari melirik Matahari.


“Iya, itu pasti punya Matahari, Mas. Dia kan selama ini tanpa pengawasan kamu, Mas. Pasti dia selalu melakukannya dengan teman laki-lakinya tanpa sepengetahuan kita, Mas,” ucap Indira.


“Jangan sembarangan ngomong ya, Tante. Meskipun selama ini aku tinggal sendirian di rumah ini, tapi aku gak pernah macem-macem,” sahut Matahari, menyangkal tuduhan Indira dan Bulan.


“Alat itu aku dapat dari kamar Bulan. Kalau bukan punya dia, terus punya siapa dan kenapa bisa ada di kamar Bulan?” ujar Matahari.


“Gak mungkin. Jangan fitnah, Bulan gak mungkin punya alat seperti itu.” Indira masih kekeh membela putri kesayangannya.


Matahari memutar bola matanya merasa muak. Dia memanggil Simbok yang saat itu sedang di dapur.


“Mbok, coba jelaskan ke mereka Mbok dapat alat ini dari mana?” Matahari meminta Simbok menjelaskan semuanya karena Simbok lah yang menemukan benda tersebut di dalam tong sampah di kamar Bulan lalu memberikannya kepada Matahari.


Simbok melirik Bulan, lalu menatap Indira dan Hadi.


“Maaf, sebelumnya. Mbok dapat benda itu dari tong sampah yang ada di kamar Non Bulan. Mbok gak tau itu apa, jadi Mbok tanyakan ke Non Matahari,” jelas Simbok.


Matahari menarik sebelah sudut bibirnya. “Jadi, sudah jelas kan sekarang, kalau Bulan sedang hamil,” ujarnya.


Matahari menghela napas panjang dengan kedua tangan dia lipat di depan dad4nya.

__ADS_1


“Gak heran sih, kenapa Bulan bisa seperti ini. Buah tak jatuh jauh dari pohonnya,” sindir Matahari.


Indira masih tidak percaya dengan semua yang Matahari katakan. Dia terus menyangkal dan percaya kepada putri kesayangannya itu.


“Ini bohong kan, Bulan. Matahari cuma fitnah kamu aja kan, Bulan?” tanya Indira kepada Bulan sembari menggoyangkan tubuh gadis itu dengan kedua tangannya.


Bulan bergeming dengan ribuan rasa takut bergerilya di dalam pikirannya. Gadis itu menunduk dengan mata berkaca-kaca. Mulutnya bergetar. Dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada orang tuanya tentang kondisinya saat ini.


“JAWAB, BULAN! KATAKAN KALAU INI NGGAK BENER!” Bentakan Hadi sukses membuat semua orang terkejut terutama Bulan.


Gadis itu tak bisa lagi menahan tangisnya. Dia memberanikan diri menatap Hadi dan Indira, berharap mereka tidak akan memarahinya.


“Jawab atau Papa akan cari tahu sendiri!” bentak Hadi lagi. Kemudian dia melihat ke arah istrinya. “Sekarang juga kamu bawa Bulan ke rumah sakit untuk melakukan tes!” titahnya serius.


Bulan langsung bersimpuh di hadapan Hadi dan Indira yang membuat kedua orang itu membulatkan mata mereka.


“Ampun, Ma, Pa. Maafin Bulan karena udah ngecewain Mama sama Papa. Bulan menyesal, Bulan minta maaf.” Bulan meraung sembari meraih tangan Hadi dan Indira memohon pengampunan.


Namun, kekecewaan kini tersirat di raut wajah kedua orang tuanya itu. Mereka tak menyangka putri kesayangannya akan melakukan hal hina dan mengecewakan mereka.


“So, kalian lihat sendiri kan, ternyata yang kelakuannya sampah itu anak kesayangan kalian,” ujar Matahari sembari menyeringai sinis.


Bulan terus menangis sementara Hadi merasakan dadanya sesak. Dia benar-benar merasa kecewa kepada Bulan.


Indira yang tak tahan lagi langsung memukuli Bulan secara bertubi-tubi sembari meraung karena sangat kecewa dan sakit hati oleh Bulan.


“Kurang ajar kamu, Bulan. Kamu tega melakukan semua ini sama Mama. Kamu mengecewakan Mama!”


“Ampun, Ma. Maafin Bulan. Maaf, Ma,” Raung Bulan.


“Siapa? Siapa orang yang udah melakukan hal itu sama kamu, Bulan? Bilang sama Mama, siapa laki-laki itu?”


 


 

__ADS_1


__ADS_2