Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 43


__ADS_3

"Ayah dari anak ini adalah Kak Venus," lirih Bulan.


Matahari yang mendengar semua itu menggelengkan kepalanya lantas memutar bola matanya, geram.


"Lo yakin itu anaknya Kak Venus?" tanya Matahari menyindir.


Bulan mendelik sangat benci kepada Matahari. Dia bersumpah setelah ini akan membalas perbuatan Matahari karena telah membocorkan rahasianya.


"Maksud lo apa, Kak? Jelas ini anaknya Kak Venus. Saat itu kami sama-sama nggak sadar karena pengaruh alkohol," ujar Bulan dengan emosi yang menggebu.


Matahari melihat ke arah Hadi yang masih terdiam dalam kekecewaan. "Papa dengar itu kan? Bahkan putri kesayangan Papa ini sudah berani minum alkohol. Hebat!" ujarnya.


"Diam kamu, Matahari! Jangan menambah suasana menjadi semakin kacau!" tegur Indira sinis.


Matahari tak peduli. Dia hanya mengendikkan kedua bahunya tak acuh.


"Terserah!" ujar Matahari, ketus.


Dia sudah cukup puas dengan kekacauan ini. Matahari memutuskan untuk pergi dari sana ke kamarnya. Seluruh tubuhnya sudah sangat lelah, Matahari ingin segera beristirahat.


Indira memandang Bulan dengan tatapan kecewa dan marah yang sulit ditangisi. Hatinya hancur melihat putrinya, Bulan, yang baru berusia 16 tahun, terpaksa menghadapi konsekuensi dari tindakan yang sembrono dan tidak bertanggung jawab.


Sementara itu Hadi nampak bungkam, namun jelas kekecewaan tersirat pada sorot matanya. Selama ini Hadi merasa telah mendidik Bulan dengan sangat baik dibandingkan Matahari. Namun tak disangka Bulan malah menyalah gunakan kepercayaannya.


Di ruang keluarga mereka yang tenang, suasana berubah menjadi tegang. Tak ada yang bisa menggambarkan betapa hancurnya hati Indira melihat putrinya yang masih sangat muda terjebak dalam situasi yang rumit ini. Ragam pertanyaan dan emosi bergejolak dalam benaknya, namun marah adalah emosi yang mendominasi saat ini.


"Mengapa kamu melakukan ini, Bulan?!" seru Indira, suaranya yang biasanya lembut pecah dalam keputusasaan dan kemarahan. "Kamu masih sangat muda! Bagaimana kamu bisa membiarkan dirimu terjebak dalam keputusan sembrono seperti ini?"


Bulan berdiri di depan Indira, air mata mengalir deras dari matanya. Wajahnya yang biasanya ceria dan penuh harapan kini penuh dengan penyesalan yang mendalam. Meski dia tahu bahwa konsekuensi dari perbuatannya akan berat, tetapi dengan kekhawatiran yang mendera hatinya, Bulan tidak dapat menahan diri untuk tidak memberi tahu ibunya tentang kehamilannya.


"Maafkan aku, Ma," raung Bulan dengan suara bergetar. "Aku nggak bermaksud melakukannya. Aku nggak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi."


Hati Indira bergetar oleh luka. Setiap orang tua pasti melewati kekecewaan seperti ini ketika anak mereka membuat kesalahan besar, namun rasa terpukul yang dirasakannya saat ini tak terbendung.

__ADS_1


Hadi tetap diam selama interaksi ini. Tatapannya terpaku pada Bulan, namun rasa kecewa yang memenuhi hatinya hampir sulit dikendalikan. Bagi Hadi, Bulan adalah putri kesayangannya. Dia telah selalu percaya bahwa Bulan akan tumbuh menjadi wanita yang baik dan tangguh. Namun, sekarang, semua harapan dan impian itu tampak pupus dalam sekejap.


"Ma, Pa, jangan diam saja. Aku benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi. Sekarang aku gak tau harus bagaimana," ucap Bulan dengan air mata yang terus bercucuran membasahi pipinya.


Indira menghela nafas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosinya yang meluap. Dia tahu bahwa saat ini giliran dirinya untuk bertindak sebagai ibu yang bijaksana. Memarahi Bulan tidak akan memperbaiki situasi, melainkan hanya memperdalam luka yang ada.


Hadi, yang selama ini dengan patah hati hanya diam, akhirnya mendekati Bulan. Dia memeluk putrinya dengan lembut, namun masih dalam keheningan yang lekat dengan kekecewaan. Beberapa saat kemudian Hadi menjauhkan Bulan darinya lalu menatap gadis itu dalam-dalam.


"Gugurkan anak itu, Bulan!"


Satu kalimat itu seketika keluar dari mulut Hadi hingga membuat ibu dan anak itu membelalakkan matanya.


"Pa,"


"Mas!"


Indira dan Bulan jelas memprotes keputusan Hadi yang ingin menggugurkan kandungan Bulan. Meskipun sebenarnya Indira pun tak menginginkan hal ini terjadi. Namun, melenyapkan janin sama saja mencelakai Bulan.


"Apa Mas sadar dengan yang Mas ucapkan? Bagaimana mungkin Mas malah nyuruh Bulan gugurin kandungannya?" ujar Indira kepada suaminya.


Bulan langsung mendekati Hadi dengan air mata masih membanjiri wajahnya.


"Pa aku mohon jangan lakukan ini. Aku, aku gak mau gugurin anak ini," ucap Bulan sembari memohon belas kasihan papanya. "Kita bicarakan semua ini dengan keluarga Kak Venus dulu. Mereka harus tau semua ini," sambung Bulan lagi.


***


Hadi, Indira, dan Bulan melakukan perjalanan 0menuju rumah Venus dengan hati yang berdebar. Mereka tahu bahwa pertemuan ini tidak akan mudah, tetapi merasa penting untuk menghadapinya. Venus adalah laki-laki yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Bulan, dan mereka ingin meminta pertanggungjawaban serta menyelesaikan masalah ini dengan baik.


Ketika Hadi, Indira, dan Bulan tiba di depan pintu rumah Venus, mereka disambut dengan tatapan penuh kejutan dan kekhawatiran dari orang tua Venus. Langsung terbersit di pikiran mereka bahwa Venus belum memberi tahu keluarganya tentang konsekuensi dari perbuatannya.


"Maaf kami datang dengan kejutan seperti ini. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan dengan kalian," kata Indira dengan suara lembut, merasakan kekhawatiran orang tua Venus.


"Kita bicara di dalam saja," ucap Merry.

__ADS_1


Merry mengundang mereka masuk ke dalam rumah dengan cepat. Setelah duduk di ruang tamu yang penuh ketegangan, mereka mulai berbicara tentang apa yang telah terjadi.


Merry dan Angkasa sangat penasaran akan hal penting yang dimaksud oleh Indira dan Hadi. Mereka mempersilakan keluarga Bukan untuk duduk lalu menjamu dengan minuman serta camilan seadanya.


"Di mana Nak Venus, Merry?" tanya Indira.


"Dia sedang di luar. Katanya Venus sedang ada latihan basket untuk pertandingan di sekolahnya nanti," jawab Merry apa adanya.


Indira menatap Hadi kemudian beralih ke arah Bulan, putrinya.


Suasana di ruang tamu kediaman Angkasa mendadak terasa canggung sekarang.


"Kalau boleh tahu, sebenarnya ada apa kalian tiba-tiba berkunjung ke rumah kami?" tanya Angkasa.


"Langsung saja pada intinya," ucap Hadi sembari menegakkan duduknya. "Kami datang ke sini karena ingin meminta pertanggungjawaban Nak Venus."


Angkasa saling menatap dengan Merry, keduanya tak mengerti maksud perkataan Hadi baru saja.


"Maaf, pertanggungjawaban apa ya, Pak Hadi?" tanya Angkasa lagi.


"Nak Venus sudah menghamili putri kami, Bulan," jelas Indira.


Bagai tersambar petir di siang bolong. Angkasa dan Merry benar-benar sangat syok mendengar kabar tersebut. Mereka tak percaya putranya akan melakukan tindakan bodoh dan tak terdidik seperti itu.


Indira mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara dengan penuh belas kasihan, "Kami mengerti bahwa ini adalah situasi yang sulit untuk semua orang. Saya dan suami saya pun sangat syok dengan pengakuan putri kami bahwa dia mengandung anaknya Nak Venus di usianya yang masih sangat muda."


"Nggak mungkin. Ini nggak mungkin. Venus tidak akan bertindak sampai sejauh itu. Saya sangat mengenal Venus, dia tidak mungkin melakukannya," ucap Merry.


Dia mencoba menyangkal tuduhan keluarga Bulan. Merry sangat percaya kepada putranya bahwa dia tidak akan melakukan hal yang tidak terpuji.


"Tapi ini kenyataan, Tante. Kak Venus sudah melakukannya padaku," ucap Bulan dengan suara penuh kesedihan. "Aku hamil anak Kak Venus, Om, Tante," sambungnya lagi.


Angkasa mengusap wajahnya kasar. Demi apa pun juga dia merasa sangat kecewa kepada Venus yang telah menyia-nyiakan kepercayaannya. Begitupun dengan Merry, dia benar-benar sangat syok dan masih tak percaya akan semua ini.

__ADS_1


"Nggak, itu semua bohong!"


__ADS_2