Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 46


__ADS_3

"Kita mau ke mana, Lang?"


"Kamu maunya pergi ke mana?" Bukannya menjawab, Langit malah balik bertanya kepada Matahari. Jelas saja hal itu membuat Matahari menjadi bingung sebab dia sendiri saat ini tidak memiliki tujuan pergi ke suatu tempat.


"Loh, malah nanya aku sih? Kan kamu yang ngajak jalan tadi," ucap Matahari.


Dari kaca spion motornya Langit bisa melihat Matahari dengan ekspresi badmood-nya. Langit mengulum senyum karena meski sedang cemberut di matanya Matahari tetaplah cantik dan menggemaskan.


"Kalo tau kamu gak ada tempat tujuan mending tadi aku tiduran aja di kamar," gerutu Matahari.


Lagi-lagi Langit mengulum senyumnya.


"Sebenarnya aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat, tapi aku gak yakin kamu bakalan suka," ucap Langit.


"Gimana bisa tau aku suka atau nggak sama tempatnya kalo ke sana aja belum," sahut Matahari ketus.


Langit tak menjawab. Dia menarik pedal gas menambah kecepatan laju motornya. Tak lama kemudian Langit menepikan motornya itu di depan salah satu minimarket.


"Kamu gak salah, Lang? Jadi kamu mau bawa aku ke sini?" tanya Matahari.


Langit membuka helmnya lalu menoleh ke belakang melihat Matahari.


"Kita turun bentar di sini, Sayang. Aku mau beli beberapa cemilan dulu," ucap Langit lembut.


Matahari tercekat. Matanya mengejap sekali pasalnya dia baru saja mendengar Langit memanggilnya "Sayang".


Entah mengapa? Tapi sesuatu di dalam dadanya seperti sedang bertalu-talu sangat cepat hingga membuat suhu di sekitarnya menjadi terasa hangat.


"Malah bengong. Ayo turun! Mau ikut masuk gak?"


"Eh, iya."


Matahari tersadar dari lamunannya. Dia buru-buru turun dari motor lalu mengejar Langit yang sudah berjalan lebih dulu memasuki minimarket.


Meski bingung tetapi tak lantas membuat Matahari banyak bertanya. Dia hanya mengikuti Langit mengitari setiap lorong minimarket mengambil beberapa camilan serta susu kotak.


"Kamu mau beli apa? Ambil aja jangan sungkan. Biar nanti sekalian aku bayar," ucap Langit. Namun Matahari malah menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak ingin membeli apa pun di sana saat ini.


Setelah Langit merasa cukup dengan belanjaannya, dia pun berjalan menuju ke tempat kasir diikuti Matahari.


"Serius kamu gak mau beli apa gitu? Mumpung kita masih di sini, biar sekalian bayar," tanya Langit sekali lagi menawarkan Matahari untuk membeli sesuatu yang gadis itu inginkan. Namun Matahari tetap menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, nanti kalo kamu mau sesuatu bilang aja ya, Cantik," ucap Langit sembari mengulas senyum.

__ADS_1


Matahari mengangguk dan entah kenapa? Lagi-lagi dia merasa terhipnotis dengan sikap Langit yang lembut.


Penjaga kasir yang sedang bertugas pun tersenyum-senyum sendiri melihat perlakuan Langit terhadap Matahari. Sederhana tetapi menyentuh hati.


"Mbak, pacarnya Mas ini ya?" tanya sang penjaga kasir.


Matahari refleks menatap Langit begitu pun sebaliknya, Langit menatap Matahari hingga pandangan mereka terkunci selama beberapa detik karena setelahnya Matahari memutus kontak mata mereka.


"Hm," gumam Matahari.


"Beruntung banget Mbaknya punya pacar seperti Mas-nya," ucap sang penjaga kasir lagi.


Mendengar hal itu Langit pun tersenyum. Dia memberikan nominal uang sejumlah harga belanjaan yang dia beli.


"Bukan dia yang beruntung, Mbak, tapi saya yang sangat beruntung punya pacar secantik dan sebaik pacar saya," ucap Langit sembari menatap Matahari lalu mengulas senyum manis.


"Dia dunia saya, Mbak. Tanpa dia hidup saya pasti akan berantakan," ucap Langit lagi.


"Uuuh ... So sweet banget Mas nya," ucap Mbak penjaga kasir. "Saya doakan semoga hubungan kalian langgeng," ucapnya lagi.


"Amin," ucap Langit.


Sama hal nya seperti Langit, Matahari pun mengaminkan doa Mbak penjaga kasir tersebut. Hanya saja dia tidak mengucapkannya di mulut, tetapi di dalam hati terdalamnya.


"Sama-sama."


Setelah pembayaran selesai, Langit mengajak Matahari pergi bersamanya.


"Kamu belanja segini banyaknya buat apaan, Lang?" tanya Matahari yang sedari tadi penasaran.


"Nanti juga kamu bakal tau," sahut Langit.


Dia mengambil helm milik Matahari lalu memakaikannya di kepala gadis itu dengan hati-hati.


Dalam diam Matahari terpaku menerima perlakuan manis dan lembut Langit kepadanya. Dia benar-benar terhipnotis, namun di satu sisi semua ini tanpa sengaja mengingatkannya pada kenangan di masa lalu bersama Venus.


Bagaimanapun dua tahun itu bukan waktu yang sebentar. Sedikit banyak masih ada kenangan Venus yang belum bisa Matahari lupakan sepenuhnya.


"Ayo naik!" titah Langit.


Tanpa berbicara Matahari menurut kepada Langit. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka membelah jalan raya menuju ke suatu tempat.


***

__ADS_1


"Kak Langit ...."


Sepasang anak berusia sekitar lima tahunan berlari dengan semangat menghampiri Langit yang baru saja tiba.


Matahari bergeming. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman yang luas. Ada banyak anak-anak kecil sedang bermain-main di sana. Tak jauh dari taman ada bangunan rumah dengan plang "PANTI ASUHAN CINTA KASIH" di depannya.


Pandangan Matahari teralihkan pada sepasang anak tadi yang berebut ingin dipeluk oleh Langit. Kedua anak itu nampak begitu senang dengan kehadiran Langit di sana.


"Kak Langit, Kakak ke mana aja? Kenapa lama sekali ke sininya?" tanya anak perempuan yang kini ada di pangkuan Langit.


"Iya, Kak. Kami sangat merindukan Kak Langit," ucap anak laki-laki yang wajahnya mirip sekali dengan anak perempuan yang sedang digendong Langit.


Tatapan mata dua anak itu berbinar polos dan tanpa kebohongan. Mereka merindukan Langit yang sudah hampir dua bulan tidak berkunjung ke panti.


Lelaki itu mengulas senyum manis. Dia mencubit pipi gembil sang anak dengan gemas. Setelah itu dia menurunkan anak perempuan itu dan meraih kembarannya untuk dipeluk bersama-sama.


"Maaf kakak baru sempat nengokin kalian lagi," ucap Langit lembut. "Gimana kabar kalian?" tanyanya kemudian.


"Kami semua baik-baik saja kak," jawab sang anak. "Tapi kakak ke sini sama siapa?" tanyanya kemudian.


Langit mendongak menatap Matahari yang sedang berdiri di sampingnya kemudian dia mengulas senyum manis.


"Oh iya, Albiru, Alura, kenalin ini Kak Matahari," ucap Langit memperkenalkan Matahari kepada dua anak kecil kesayangannya.


Matahari tersenyum manis. Dia mengulurkan tangannya untuk mencubit pelan pipi kedua anak kembar itu karena gemas.


"Hai, aku Matahari, nama kalian siapa?" tanya Matahari.


"Namaku Albiru, dan ini adik kesayanganku namanya Alura," ucap sang anak laki-laki kepada Matahari.


"Nama kalian bagus, persis seperti orangnya. Yang satu tampan satunya lagi cantik," sahut Matahari masih dengan seulas senyum bertahan di bibirnya.


"Nama kakak juga cantik sama seperti orangnya," ucap Alura dengan polosnya. "Kak Matahari pacarnya Kak Langit ya? Kalian sangat serasi," sambungnya lagi.


"Apanya yang serasi?"


Atensi Matahari dan Langit juga Alura dan Albiru seketika langsung tertuju kepada seorang wanita paruh baya yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Ini Bunda, Kak Langit datang bawa pacarnya," ucap Alura.


Wanita yang dipanggil bunda pun lantas melihat Matahari dan Langit secara bergantian lantas tersenyum ramah kepada mereka.


"Bunda, apa kabar? Bunda sehat kan?" Langit langsung menyalami wanita itu sembari menanyakan kabarnya.

__ADS_1


__ADS_2