
[Hai, Matahari. Gimana kabar lo sekarang?]
Kening Matahari mengernyit membaca satu pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tak dia kenal. Berniat mengabaikannya, tetapi tiba-tiba dia kembali mendapatkan pesan dari nomor yang sama lagi.
[Gue Langit. Ingat gue kan?]
Tiba-tiba saja Matahari tersenyum, lalu kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya. Entah apa yang lucu dari pesan tersebut.
Ini kali pertama Matahari mendapat chat pribadi dari nomor selain milik Venus dan Jasmin. Itu sebabnya dia sedikit bingung harus merespons seperti apa pada chat tersebut.
[Lo tahu nomor gue dari mana?]
[Jasmin. Boleh kan gue save kontak lo?]
Ternyata Jasmin pelaku yang telah membocorkan nomor Matahari kepada Langit. Matahari menghela napas sebelum dia kembali mengetik untuk membalas pesan Langit. Namun karena bingung akhirnya Matahari menjawabnya dengan sederhana. Ya, dengan hanya satu kata saja.
[Boleh]
[Udah seminggu lo gak masuk sekolah. Gimana sakitnya? Sudah mendingan? Kalau belum gue sama teman teman mau jenguk lo.]
Menghela napas panjang kemudian Matahari melihat tangannya yang dipasangi jarum infus. Seminggu yang lalu saat Matahari kabur dari rumahnya dan menginap di apartemen Jasmin, semuanya baik-baik saja. Bahkan keesokan paginya Matahari berniat untuk pulang, namun tiba-tiba saja kesehatannya memburuk hingga Matahari diharuskan dirawat di rumah sakit hingga hari ini.
[Makan teratur dan jangan terlalu banyak pikiran supaya lo cepet sembuh]
Satu pesan lagi masuk ke ponsel Matahari. Gadis itu langsung membacanya dan tersenyum, entah mengapa dia jadi teringat kepada Venus.
Dulu, awal-awal berpacaran dengan Venus, lelaki itu begitu sangat perhatian kepada Matahari. Dia akan menjadi orang pertama yang ada di samping Matahari apa pun keadaannya. Namun sekarang, entah mulai sejak kapan tepatnya, Venus mulai berubah.
“Aku kangen Kak Venus yang dulu,” gumam Matahari lirih.
Matahari menyalakan lagi ponselnya dan langsung membuka ruang chat bersama Venus. Dia mulai membaca kembali pesan-pesan yang pernah di kirimkan Venus kepadanya dari awal hingga chat terakhir.
Gadis itu tersenyum-senyum sendiri dibuatnya. Namun, raut wajah Matahari tiba-tiba berubah sendu ketika mulai membaca chat terbaru yang hanya penuh dengan chat darinya yang hanya sesekali dibalas oleh Venus. Dia menyadari Venusnya benar-benar telah berubah. Secara mendadak dada Matahari terasa sesak.
Perhatian Matahari teralihkan, dia tersadar dari lamunannya ketika tiba-tiba pintu kamarnya dibuka seseorang yang tak asing lagi baginya.
Seorang pria muda mengenakan sneli berwarna putih berjalan mendekati Matahari. Dia tersenyum ramah kepada gadis itu seraya menyapa, “Halo, Matahari. Gimana perasaan kamu sekarang? Sudah lebih baik?”
Matahari mengangguk. “Sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya,” jawab Matahari.
__ADS_1
“Syukurlah.”
“Kapan aku boleh pulang, Dok?” tanya Matahari.
Dokter muda dan tampan itu memeriksa detak jantung Matahari dan juga tensi darahnya. Setelah itu dia mulai melepaskan jarum infus yang terpasang pada tangan Matahri.
“Hari ini kamu sudah boleh pulang,” jawab sang dokter.
Matahari menghela napas lega karena akhirnya sudah diperbolehkan untuk pergi dari rumah sakit ini. Dia sudah merasa sangat bosan dan mual mencium bau aroma obat-obatan. Entah kenapa? Namun Matahari selalu merasa ajalnya sudah sangat dekat jika dirinya dirawat seperti sekarang ini.
“Matahari,” panggil sang dokter.
Matahari yang baru saja akan pergi pun kembali menoleh ke belakang, melihat sang dokter.
“Ya?”
“Kamu masih ingat pesan saya kan?” tanya Kevin— sang Dokter.
Matahari terdiam sejenak, kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya sehingga sang Dokter tersenyum melihatnya.
“Jangan sungkan untuk mengabari saya jika kamu sedang dalam kesulitan,” ucapnya. Kevin sedang mengingatkan kembali pesan yang pernah dia katakan kepada Matahari.
“Terima kasih, Dokter. Saya tidak akan sungkan merepotkan Dokter suatu hari nanti,” ucap Matahari. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya selepas berbicara. Setelah itu, Matahari pun berpamitan untuk segera pulang.
***
Matahari terdiam sembari menatap ke arah bangunan rumah yang sudah 16 tahun dia tinggali. Terdapat dua mobil terparkir rapi di halaman rumah tersebut. Satu miliknya dan satunya lagi milik Hadi.
Kedua tangan Matahari mengepal erat. Kemudian gadis itu menghela napas panjang untuk menguatkan mentalnya sebelum memasuki rumahnya sendiri. Setelah merasa sudah memiliki cukup kekuatan gadis itu pun berjalan menuju ke arah pintu masuk.
“Bagus, tahu jalan pulang juga ternyata kamu!”
Suara bariton itu menggelegar di pendengaran Matahari menyambut kedatangannya yang baru saja pulang. Di ruang keluarga Hadi berdiri tegap sembari menatap Matahari dengan sorot tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya hidup-hidup. Tepat di belakang pria itu ada istri barunya yang juga sedang melihat Matahari.
Matahari menghela napas panjang. Dia membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Hadi dan membalas tatapan pria paruh baya itu dengan sorot datar.
“Dari mana saja kamu, Matahari?! Jadi begini kelakuan kamu selama papa nggak ada di sini? Pergi keluyuran sampai lupa waktu pulang,” ujar Hadi.
Sebelah alis Matahari terangkat ke atas. Dia masih mencerna perkataan Hadi baru saja. Merasa tak habis pikir dengan apa yang telah dikatakan oleh papanya itu.
__ADS_1
“Memangnya papa tahu apa tentang aku? Jangan hanya karena kejadian ini lalu papa dengan seenak sendiri menyimpulkan kalau aku ini seperti yang papa katakan baru saja,” sahut Matahari.
“Sudahlah, Mas, kasihan Matahari. Dia pasti capek sekarang, biarkan dia istirahat dulu.” Tiba-tiba saja Indira turut berbicara.
Indira mengusap pundak Hadi, menenangkannya. Lalu setelah itu Indira berjalan mendekat ke arah Matahari. Setiap pergerakan Indira saat ini tak lepas dari perhatian Matahari.
“Matahari kamu pasti capek, lebih baik sekarang kamu istirahat sebentar lalu mandi. Mama akan menyiapkan makan siang untukmu,” ucap Indira kepada Matahari.
Sebelah alis Matahari terangkat. “Mama?” ulangnya. Gadis itu menatap Indira kemudian tersenyum meremehkan. “Sepertinya Anda ini sangat ingin menjadi mamaku, tapi sayangnya aku gak menerima mama pengganti!” tegas Matahari.
“Matahari! Yang sopan kamu kalau berbicara sama orang tua!” tegur Hadi yang tak suka dengan sikap Matahari kepada Indira—istrinya.
“Kenapa? Mau nampar aku lagi, Pa?” Matahari berbicara kepada Hadi tanpa rasa takut. “Perlu kalian ingat, sekali lagi aku tegaskan bahwa tak akan pernah ada orang lain yang bisa menggantikan posisi Mama sebagai mamaku termasuk dia!”
Dengan tatapan tajam Matahari menunjuk ke arah Indira yang bergeming di tempatnya. Wanita paruh baya itu mati-matian berusaha menahan diri agar tidak sampai terpancing oleh Matahari.
Tanpa menunggu sahutan dari Hadi gadis itu pun langsung melenggang menaiki anak tangga hendak ke kamarnya.
“Matahari, mau ke mana kamu. Papa belum selesai berbicara!” teriak Hadi tetapi tak digubris oleh Matahari.
“Sudahlah, Mas. Nanti saja kamu bicara sama Matahari. Sekarang biarkan dia tenang dulu,” ucap Indira kepada Hadi.
“Tapi sikap Matahari ke kamu itu sangat kurang ajar. Aku tidak bisa membiarkannya seperti itu,” ucap Hadi.
Indira menghela napas panjang berusaha tetap bersikap tenang walau sejujurnya dirinya pun sangat tidak menyukai Matahari. Namun, Indira tidak bisa memperlihatkan ketidaksukaan tersebut secara gamblang apa lagi di hadapan Hadi— suaminya.
Matahari melempar tasnya ke sembarang arah kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia menghela napas panjang lalu memejamkan matanya untuk menenangkan diri. Gadis itu membuka matanya kembali saat mendengar suara dering dari ponselnya yang diiringi getaran.
“Kak Venus?” gumamnya. Bibir Matahari mengembang membentuk senyum manis, dia begitu senang mendapat panggilan telepon dari Venus. Matahari pun langsung menggeser icon berwarna hijau sebelum teleponnya berakhir.
“Halo,” sapa Matahari.
“Kak Venus ke mana saja? Kenapa baru menghubungi aku sekarang?” tanya Matahari.
‘Harusnya aku yang bertanya, kamu ke mana seminggu ini? Nomor kamu juga sulit dihubungi.’
“Aku—“
‘Bisa enggak kamu itu gak mendrama lagi. Bersembunyi sampai enggak bisa dihubungi seperti ini buat apa? Mau cari perhatian biar semua orang nyariin kamu?’
__ADS_1