Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 56


__ADS_3

Matahari memicingkan pandangannya menatap sosok lelaki yang tidak dia kenali. Ragu, dia bertahan di sana mengurungkan niat untuk pergi menemui papanya.


"Maaf, siapa ya?" tanya Matahari dengan sopan.


Lelaki paruh baya yang usianya diperkirakan tidak jauh beda dengan Hadi itu berjalan mendekati Matahari. Lantas dengan sigap Langit dan Venus berdiri di belakang Matahari bagaikan bodyguard yang siap untuk melindungi gadis itu.


"Perkenalkan saya Gio, sekretaris sekaligus orang kepercayaan Pak Hadi." Lelaki itu memperkenalkan dirinya kepada Matahari. "Apa benar Nona ini putrinya Pak Hadi yang bernama Matahari?" tanyanya kemudian untuk memastikan.


Matahari mengangguk. "Iya, saya Matahari. Maaf, ada apa ya?" ujarnya kemudian.


"Saya datang untuk menjenguk Pak Hadi sekaligus ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Non Matahari," ucap Gio.


"Bisakah kita bicara sebentar sekarang?" tanya lelaki itu kemudian.


Langit yang tak ingin hal buruk terjadi kepada Matahari pun langsung maju satu langkah. Begitupun juga dengan Venus. Mereka ingin memastikan dulu bahwa Gio bukan orang jahat yang ingin menyakiti Matahari.


Matahari tak langsung menjawab, dia menelisik sosok pria paruh baya yang ada di hadapannya sebelum akhirnya gadis itu mengangguk setuju untuk berbicara.


"Apa harus sekarang? Saya mau melihat papa dulu soalnya," ucap Matahari.


"Ya sudah tidak apa-apa. Saya juga mau menjenguk Pak Gio sekarang. Kita bisa ngobrol nanti kalau kamu sudah siap," jawab Gio.


Matahari mengangguk. Setelah itu mereka pergi bersama-sama untuk melihat keadaan Hadi setelah berhasil melakukan operasi jantung. Mereka secara bergantian memasuki ruang Hadi dan hanya mempunyai waktu beberapa menit saja.


"Pa, syukurlah operasi Papa berhasil. Matahari harap setelah ini Papa sehat seperti sedia kala," ucap Matahari.

__ADS_1


Digenggamnya tangan Hadi lalu mengusapnya dengan lembut. Satu bulir air mata terjatuh mengenai punggung tangan Hadi.


Tersadar, Matahari langsung mengusapnya dengan lembut. Setelah itu, dia memeluk tubuh lemah Hadi dengan hati-hati.


"Maaf, Papa. Matahari lancang peluk Papa. Matahari kangen Papa. Matahari tau kalo Papa udah bangun, Papa gak akan mau dipeluk seperti ini sama aku," ucap Matahari.


Bulir air matanya kembali terjatuh membasahi sebelah pipi Hadi. Matahari benar-benar merindukan papanya yang hangat.


"Cepet sembuh ya, Papa," ucap Matahari lagi setelah dia berdiri tegap sembari menatap Hadi. Seulas senyum dia perlihatkan sembari mengusapnya jejak air mata di pipinya.


***


"Jadi, hal penting apa yang ingin Om Gio bicarakan sama aku?" tanya Matahari.


"Ini mengenai perusahaan," ucap Gio.


Sebelah alis Matahari menaik, menatap Gio dengan serius. "Ada apa dengan perusahaan?" tanyanya kemudian.


Gio menghela napas kasar. "Saham perusahaan turun drastis sejak papamu sakit. Kondisi papamu sekarang ini sedang dimanfaatkan oleh perusahaan lawan untuk menjatuhkannya."


Matahari terdiam beberapa saat sembari mencerna setiap kata-kata yang baru saja diucapkan oleh asisten sekaligus orang kepercayaan Hadi untuk mengurus perusahaan.


"Lalu hubungannya sama aku apa, Om?" tanya Matahari.


Jujur saja, Matahari sangat tidak mengerti akan dunia bisnis. Mungkin memang kedepannya dia yang akan meneruskan perusahaan, tetapi untuk saat ini Matahari belum mengerti apa pun.

__ADS_1


Gio kembali menghela napas kasar. "Matahari, sebenarnya Om gak yakin kamu akan mengerti hal ini, tapi Om harus mengatakannya—"


"Seseorang sepertinya bermain curang sehingga menyebabkan kerugian besar. Jika dibiarkan maka perusahaan terancam gulung tikar," jelas Gio.


"Apa Om mencurigai seseorang?" tanya Matahari.


"Sebenarnya ada. Hanya saja Om belum memiliki bukti," jawab Gio.


"Siapa?"


Gio diam sebentar, dia meneguk minuman di cangkir miliknya sebelum menjawab perkataan Matahari.


"Om belum bisa mengatakannya sekarang. Om harus mencari bukti-buktinya dulu," jawab Gio serius.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan perusahaan, Om. Jujur saja aku gak ngerti apa pun tentang bisnis, gimana caranya aku bisa bantu? Aku gak mau perusahaan bangkrut karena itu dirintis oleh mama dan papa dari nol," ucap Matahari.


Gio membenarkan posisi duduknya menjadi tegap sembari menatap Matahari dengan serius. Beberapa saat kemudian lelaki itu mengeluarkan sebuah amplop berisi beberapa lembar kertas yang Matahari sendiri belum tahu isinya.


"Om perlu tandatangan kamu di sini. Om perlu persetujuan dari pewaris perusahaan untuk mengelola perusahaan sementara waktu hingga papamu sembuh," ucap Gio.


Matahari mengambil kertas yang diberikan Gio kepadanya lalu membaca sekilas tulisan yang tertera di sana.


"Ini semua demi keamanan perusahaan dari para musuh. Selain itu juga Om gak akan ragu-ragu untuk mencari bukti kecurangan seseorang di perusahaan," ucap Gio lagi.


Matahari terdiam. Dia menatap Gio dengan serius lalu kembali menatap kertas di tangannya. Dia ingin menandatanganinya, tetapi hati kecilnya merasakan keraguan.

__ADS_1


__ADS_2