Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 48


__ADS_3

Langit terlihat begitu cerah di sore hari itu. Matahari bersinar dengan gemilang, mengirimkan sinarnya yang hangat ke seluruh penjuru bumi. Namun, ada satu tempat di mana langit dan matahari bertemu untuk menciptakan keindahan yang tak tergambarkan.


Sepasang mata berwarna cokelat, milik seorang gadis terpaku pada pemandangan yang indah di bawah langit. Dia duduk di sebuah bukit yang terhampar di pinggiran kota kecil. Bukit itu dibalut oleh padang rumput hijau yang melambai-lambai tertiup angin sepoi-sepoi. Di kejauhan, terlihat pegunungan menjulang tinggi, memberikan latar belakang yang menakjubkan untuk melihat pemandangan matahari terbenam.


Sementara Matahari tengah terpesona oleh keindahan alam yang mengelilinginya, tanpa disadari langit telah membawanya ke suatu tempat yang jauh dari keramaian kota. Dia merasa seperti terbang bersama angin, jauh dari segala kecemasan dan masalah hidup sehari-hari. Hanya ada dia dan dunia yang bisa dia lihat di depan mata.


Lalu, suara langkah kaki menghampiri dari belakang. Matahari mengalihkan pandangannya dan melihat Langit tersenyum kepadanya. Lelaki itu berjalan dengan tenang, seperti menyatu dengan lingkungan sekitarnya.


"Pemandangan yang indah, bukan?" ucap Langit sambil tersenyum manis.


"Ya, sungguh indah," jawab Matahari dengan suara lembut. "Kamu sering ke sini ya, Lang?" tanyanya kemudian.


"Hm," gumam Langit.


"Tempat ini cocok dikunjungi ketika kamu sedang memiliki masalah dan ingin menenangkan diri," ucap Langit.


Matahari mengalihkan pandangannya ke arah Langit. Dia terdiam selama beberapa detik sembari memerhatikan wajah kekasihnya itu.


"Kamu punya banyak masalah ya, Lang?" tanya Matahari secara tiba-tiba.


Refleks Langit menoleh ke arah Matahari hingga pandangan mereka beradu dan terkunci selama beberapa detik.


"Kamu bilang, tempat ini cocok untuk menenangkan diri. Dan kamu sering berkunjung ke sini, itu artinya kamu sering nggak baik-baik aja kan?" ucap Matahari.


Diam sejenak. Langit tak langsung menjawab pertanyaan Matahari dengan masih menatap wajah cantik gadis itu dalam-dalam.


"Sebelum-sebelumnya, iya. Aku ke sini untuk menenangkan diri. Tapi sekarang aku ke sini bukan untuk itu," jawab Langit.

__ADS_1


Sebelah alis Matahari terangkat mencerna maksud perkataan Langit.


"Sekarang aku datang untuk memamerkan kamu kepada semesta bahwa aku tak sendirian lagi. Bahwa aku sudah menemukan matahariku yang hilang," ucap Langit.


Matahari tersipu malu mendengarnya lantas memalingkan wajah ke arah lain untuk menyembunyikan pipinya yang sudah merona kemerahan.


"Gombal," gumam Matahari.


Langit tersenyum. Lalu tiba-tiba saja dia memeluk Matahari dari belakang dan menaruh dagunya pada bahu gadis itu. Tentu saja hal tersebut membuat Matahari kaget, tetapi tak berlangsung lama karena selanjutnya dia menikmati dekapan hangat dari Langit.


"Makasih, Sayang, kamu udah ngasih aku kesempatan untuk masuk dalam kehidupan kamu," ucap Langit. "Aku mencintaimu, Matahari. Sangat," sambungnya lagi.


Matahari tercekat. Dia tidak menolak Langit dan pelukannya, tetapi dia masih belum bisa membalas kata cinta dari Langit. Sebab separuh hatinya masih diisi oleh Venus, cinta pertamanya. Matahari masih bingung dengan perasaannya sendiri.


Lalu di sisi lain ada kebimbangan yang sedang dirasakan Matahari. Dia tahu sahabatnya, Jasmin juga mencintai Langit. Dan gadis itu meminta bantuannya untuk bisa dekat dengan Langit.


Sepasang remaja itu menatap senja yang semakin mempesona. Tak ada sepatah katapun yang mereka ucapkan, namun kehadiran mereka saling memberikan kedamaian. Seperti dua jiwa yang bertemu dalam kesunyian, menikmati keindahan ini.


Saat kegelapan semakin merajai langit, matahari terbenam dengan perlahan, membiarkan langit berubah menjadi kekayaan warna-warni yang samar-samar. Biru, ungu, jingga, dan merah menyatu menjadi jalinan cahaya yang mempesona.


"Indahnya senja ini membuat hatiku terasa hangat," kata Matahari dengan bisik lembut.


"Hm, Indah. Sama sepertimu," ucap Langit.


Matahari refleks memukul tangan Langit yang masih melingkar di perutnya.


"Gombal terus," ucap Matahari.

__ADS_1


Langit terkekeh pelan lantas dia membalikkan tubuh Matahari hingga gadis itu menghadap ke arahnya dengan jarak yang sangat dekat. Pandangan mereka bertemu dan terkunci, menyelami kedalaman isi pikiran masing-masing.


"Senja bisa memberikan pengharapan baru yang tak terduga. Seperti cahaya yang bersinar dalam kegelapan, hatimu pun bisa menyinari masa depan yang cerah," ucap Langit sembari mengusap anak rambut yang menghalangi wajah Matahari dan menyelipkannya di belakang telinga gadis itu.


Kata-kata itu menggetarkan hati Matahari. Ia terdiam sejenak, memandang mata Langit dan meyakini bahwa mereka bertemu dengan takdir yang lebih besar. Keindahan senja di sore hari itu tak hanya membawa kedamaian, tapi juga membawa Matahari dan Langit untuk bersua.


Diatas bukit yang indah itu, mereka menghabiskan waktu bersama, mengobrol tanpa ada batas waktu. Kebersamaan mereka tanpa kata-kata lebih berarti daripada ribuan kalimat yang bisa diucapkan. Hanya dengan hadir, mereka saling memberikan kehangatan dan keajaiban yang tidak terbayangkan sebelumnya.


"Lang,"


"Hm?"


Langit menatap Matahari, menunggu gadis itu mengatakan sesuatu kepadanya.


"Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku bicarain sama kamu. Ini tentang Jasmin," ucap Matahari.


Langit diam, masih menunggu Matahari melanjutkan perkataannya.


"Jasmin kenapa?" tanya Langit.


"Dia suka sama kamu sejak lama."


"Lalu?"


Matahari berdecak karena respons Langit biasa-biasa saja.


"Ya dia suka sama kamu, Lang," ucap Matahari. Dia menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan perkataannya. "Dia minta tolong sama aku buat jadi Mak comblang kalian."

__ADS_1


__ADS_2