Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 51


__ADS_3

Langit menghampiri Matahari yang baru saja keluar dari ruang dokter. Wajah Matahari masih terlihat pucat dan lemah, memberi kesan bahwa beban yang dia emban terlalu berat. Langit langsung melangkah mendekatinya, penuh perhatian.


"Ada apa? Apa yang dikatakan dokter tadi?" tanya Langit dengan nada khawatir.


Tapi seolah tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, Matahari hanya menundukkan kepalanya, tenggelam dalam kesedihan yang tak bisa diungkapkannya. Tangisan yang tertahan di balik rasa sakit tampak mencoba pecah di sudut matanya.


Langit memahami betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh Matahari dan dia ingin memberinya dukungan yang tak terbandingkan. Dalam senyap, dia memeluk Matahari erat-erat, memberi tempat bagi gadis itu untuk melepaskan segala rasa takut dan kekhawatirannya.


"Tenanglah, Matahari. Aku di sini untukmu. Aku akan selalu mendukungmu, dan bersamamu melalui ini semua," bisik Langit dengan penuh kasih sayang.


Setelah beberapa saat berlalu, Matahari mengangkat wajahnya yang masih basah oleh air mata. Matanya tersirat keragu-raguan, tetapi juga ada kekuatan yang muncul dari dalam dirinya. Sedikit demi sedikit, Muara kembali menemukan suaranya yang hilang.


"Kenapa, hm? Kamu bisa ceritakan masalahmu sama aku, Sayang. Kamu boleh bagi penderitaanmu sama aku," ucap Langit.


"Dokter bilang ada seseorang yang sengaja mengganti obat papa, itu sebabnya kondisi papa bukan membaik tapi malah sebaliknya," ungkap Matahari.


Kening Langit mengernyit dalam. "Maksudmu seseorang ingin mencelakai papamu?"


Matahari mengangguk. "Kemungkinan iya," jawabnya.


"Tapi siapa?"


Matahari menghela napas panjang. Dia menatap Langit lalu menggelengkan kepalanya. Sama hal nya dengan Langit, Matahari pun tak tahu siapa orang yang tega menyakiti Hadi.

__ADS_1


"Kamu tenang dulu ya, Sayang. Aku pasti bakal bantu kamu buat cari tau pelakunya," ucap Langit.


Matahari merasa hangat di hatinya saat mendengar kata-kata itu. Sungguh menakjubkan bagaimana Langit bisa mengerti dan menerima penderitaannya. Dia merasa nyaman dan aman, seperti berada di pelukan Langit adalah tempat yang takkan pernah tergantikan.


"Makasih, Langit," Matahari menjawab dengan lesu namun penuh harapan. "Kamu adalah secercah cahaya yang mampu menerangi setiap gelap dalam hidupku. Aku bersyukur memiliki seseorang seperti kamu.


***


Matahari memasuki ruang kerja papanya dengan perasaan gelisah yang sulit digambarkan. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar, memberikan kehangatan pada ruangan yang penuh dengan buku-buku tebal dan foto-foto keluarga yang tersusun rapi.


Dengan hati-hati, Matahari mulai menyisir ruangan kerja Hadi yang tertata rapi, mencari kemungkinan tanda-tanda bahwa ada orang lain yang terlibat dalam penukaran obat milik Hadi. Dia tahu ada seseorang yang dengan sengaja mengganti obat jantung papanya dengan obat lain yang mungkin malah menyebabkan kondisi papanya semakin memburuk.


Tidak ada yang terlihat mencurigakan saat Matahari mulai menggeledah kotak dokumen dan memeriksa rak-rak buku. Dia tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan obat jantung atau kejanggalan lainnya. Matahari merasa putus asa dan hampir menyerah pada pencariannya. Namun, matahari melihat sudut ruangan yang tertutup oleh tirai.


Matahari mengambil botol obat tersebut dan membacanya. Ternyata, obat yang tergantung di tangannya adalah benar-benar obat jantung ayahnya, tetapi labelnya telah diganti oleh nama lain. Panas marah memenuhi dirinya saat Matahari menyadari bahwa seseorang telah sengaja mengganti obat jantung ayahnya untuk menyebabkan kondisinya semakin parah.


"Ternyata benar dugaan gue, seseorang ingin membuat penyakit papa semakin parah," gumam Matahari sembari menggenggam erat botol obat di tangannya.


Dalam kebingungan yang kemudian muncul, Matahari bertanya-tanya tentang motif seseorang yang begitu jahat ini. Mengapa ada orang yang dengan sengaja ingin menyakiti papanya? Apakah ini mungkin konsekuensi dari bisnis papanya yang sukses? Atau ada tangan jahil yang berusaha menghancurkan keluarganya?


Matahari tahu ini hanya permulaan dari perjuangannya mencari kebenaran dan melindungi Hadi dari bahaya yang tidak diketahui. Dia bersumpah untuk mengungkap penyebab di balik obat-obatan yang ternyata membahayakan nyawa Hadi.


Dalam perasaan tegang, Matahari menggenggam botol obat itu dengan erat. Dia harus tetap berhati-hati, sekaligus berani, dalam menghadapi masa-masa sulit ini.

__ADS_1


"Lo ngapain di ruang kerja papa?" tanya Bulan.


Matahari terperanjat kaget. Dia menyembunyikan botol obat di tangannya ke dalam saku rok miliknya sebelum Matahari berjalan mendekati Bulan yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Gue ngapain, bukan urusan lo," ujar Matahari sinis. Tanpa menunggu sahutan dari Bulan, Matahari langsung pergi meninggalkan ruang kerja papanya.


***


Matahari berjalan gontai menuju ke kelasnya. Dia datang bersama Langit, tetapi kekasihnya itu dipanggil oleh temannya sehingga dia tidak menemani Matahari hingga ke kelas.


Seulas senyum manis terukir di bibir Matahari ketika dia melihat Jasmin ada di depannya sedang berbicara dengan teman sekelasnya. Dengan semangat dan penuh percaya diri Matahari melambaikan tangan sembari memperlihatkan senyum kepada Jasmin.


"Jasmin," panggil Matahari.


Namun tanpa diduga, Jasmin malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia bersikap seolah-olah tidak mendengar panggilan Matahari kepadanya.


Kening Matahari mengernyit dalam. Dia merasa bingung dan heran akan sikap Jasmin yang terasa berbeda dari biasanya. Namun, Matahari langsung menepis pikiran buruknya itu jauh-jauh. Matahari langsung berjalan mendekati Jasmin.


"Hai Jasmi—"


"Mending kita lanjut ini di kelas deh," ajak Jasmin kepada Hera, teman sekelasnya tanpa menghiraukan Matahari.


Hera diam sejenak, dia menatap Jasmin lalu beralih ke arah Matahari dengan tatapan yang bingung kepada dua bersahabat itu.

__ADS_1


"Hera, ayo!" Jasmin menarik tangan Hera untuk ikut bersamanya meninggalkan Matahari dalam kebingungan akan sikap Jasmin yang aneh.


__ADS_2