
Lelah, rasanya tak berguna meladeni orang-orang toxic seperti Venus dan Bulan. Matahari melengos, dia memilih pergi meninggalkan mereka demi kedamaian otak dan hatinya.
“Kamu gak papa?” tanya Venus kepada Bulan.
Bulan menggelengkan kepalanya. Dia menatap Venus dengan sorot mata yang terlihat meneduhkan bagi Venus.
“Aku gak papa kok, Kak. Kita berangkat sekarang aja ya, nanti keburu telat,” ucap Bulan mengalihkan perhatian Venus dari Matahari.
Meskipun hatinya merasa sedikit kesal atas sikap Matahari yang kasar, tetapi Venus tak bisa benar-benar marah kepada mantan kekasihnya itu. Pandangan Venus terus mengiringi kepergian Matahari hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.
Venus terpaksa mengalihkan pandangannya ke arah Bulan. Dia menganggukkan kepalanya kepada Bulan, kemudian mereka berjalan beriringan menuju ke motor Venus. Tak lama kemudian mereka pergi.
Tanpa sepengetahuan Venus, Matahari melihatnya yang sedang menunjukkan perhatian kepada Bulan. Hati Matahari berdenyut nyeri, matanya mulai memanas ingin menumpahkan cairan bening tetapi sekuat tenaga Matahari menahannya.
Kedua tangan Matahari mengepal erat, matanya memejam sesaat.
“Kamu sudah pulang, Matahari.”
Matahari membuka matanya saat suara Indira menyapa pendengarannya. Dia melihat ke arah sumber suara dengan tatapan datar.
“Kebetulan sekali mama baru aja selesai masak, kamu makan dulu ya,” ucap Indira sembari menyimpan piring berisi makanan yang dia masak di atas meja makan.
“Papa di mana?” tanya Matahari dingin.
Dari pada menyahuti perkataan Indira, Matahari malah mengalihkan percakapan dengan menanyakan keberadaan papanya.
“Papa sudah berangkat ke kantor tadi pagi-pagi sekali,” jawab Indira masih dengan ekspresi ramah.
__ADS_1
Matahari hanya mengangguk. Tanpa memedulikan Indira gadis itu berjalan melenggang ingin ke kamarnya yang berada di lantai dua. Namun, baru saja kakinya menginjak anak tangga, langkahnya terpaksa terhenti karena Indira kembali berbicara kepadanya.
“Matahari,” panggil Indira.
Matahari bergeming tetapi posisinya masih membelakangi Indira.
“Mulai hari ini kamu harus bersedia berbagi tempat tinggal dengan Bulan,” ucap Indira. Ada jeda selama beberapa detik sebelum wanita itu melanjutkan perkataannya. “Suka atau pun gak suka kenyataannya akan tetap sama, Bulan itu adik kamu. Jadi, kamu harus belajar untuk menerimanya mulai sekarang.”
Matahari tersenyum simpul. Dia berbalik hingga posisinya saling berhadap-hadapan dengan Indira. Matahari menatap Indira serius dengan satu alisnya terangkat ke atas.
“Adik, ya?” Matahari mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian gadis itu melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan masih tertuju pada Indira. “Yakin dia anak kandungnya Papa Hadi? Apa Tante bisa kasih bukti kalau Bulan itu adik aku?”
Kedua bola mata Indira membulat sempurna. Rahangnya mengeras seiring dengan kedua tangannya mengepal erat.
“Jaga bicaramu, Matahari! Jangan membuat fitnah sembarangan,” geram Indira.
“Aku gak fitnah, kok. Aku itu lagi bertanya sama Tante, tapi melihat respons Tante yang seperti ini malah bikin aku semakin yakin dengan pikiranku kalau Bulan memang bukan anak Papa Hadi,” ucap Matahari sembari mengulas senyum miring terkesan mengejek.
Mata Indira melotot sempurna. Dia benar-benar merasa tersinggung dengan perkataan Matahari yang berani meragukan status Bulan sebagai anak kandung Hadi.
Matahari melangkah dan berhenti tepat di depan Indira yang masih menatapnya dengan sorot penuh kebencian.
“Tante gak perlu pura-pura baik sama aku. Lagi pula sekarang Papa gak ada di rumah, gak akan tau juga sifat asli Tante yang sebenarnya,” ucap Matahari, menyebalkan.
Rahang Indira mengeras, kedua tangannya mengepal erat. Dia merasa sangat ingin mencabik-cabik Matahari hingga tubuhnya hancur berkeping-keping. Namun, Indira berusaha sekuat tenaganya supaya tetap bersikap tenang dalam menghadapi Matahari. Dia tidak mau sampai terpancing oleh anak tirinya itu.
Setelah puas memancing emosi Indira, Matahari pun berbalik lalu berjalan melanjutkan niatnya yang sempat tertahan. Dia pergi menuju kamarnya. Masih ada waktu, Matahari akan bersiap untuk pergi ke sekolah.
__ADS_1
***
Andai waktu dapat diputar ulang dan Matahari bisa menawar pada takdir maka dia akan memilih untuk tidak dilahirkan ke dunia ini. Terlebih ketika kenyataan telah menampar Matahari bahwa kehadirannya di alam semesta ini tidak diharapkan, terutama oleh papanya.
Tak seperti namanya, takdir kehidupan Matahari tak secerah matahari yang selalu bersinar. Dia tak bisa menyinari dan menghangatkan hati papanya sendiri. Sedari kecil dia tidak pernah merasakan perhatian dari seorang ayah, hanya mamanya yang selalu ada. Bahkan tak jarang Matahari mendengar kedua orang tuanya itu bertengkar hebat. Dan pemicunya ialah dirinya.
Saat itu Matahari tidak tahu alasan mengapa Hadi membencinya. Bahkan walaupun dia sering kali bertanya kepada sang mama, tetapi tak urung mendapat jawaban.
“Papa gak benci kamu, Sayang. Papa hanya sedang lelah karena banyak kerjaan di kantor,” jawab sang mama waktu itu ketika Matahari bertanya tentang papanya.
“Tapi Papa gak sayang sama Matahari, Ma. Buktinya Papa gak pernah mau main sama Matahari.”
Mamanya menggelengkan kepala. Dia mengusap puncak kepala Matahari dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. “Papa sayang sama kamu, Sayang.”
“Nggak, Papa gak sayang Matahari. Apa Matahari bukan anaknya Papa? Makanya Papa selalu cuekin Matahari.”
Lagi-lagi sang Mama menggelengkan kepalanya, menyangkal pikiran buruk Matahari. “Mana ada seperti itu. Kamu ini putri kami, anak kandung Papa Hadi.”
“Kalau mau Papa sayang sama kamu, kamu harus jadi anak baik dan rajin belajar. Bikin Papa bangga dengan prestasi kamu di sekolah.”
Matahari tersenyum simpul setelah menarik diri dari lamunannya. Sedetik kemudian dia menghela napas kasar.
Mamanya berbohong. Faktanya meskipun Matahari sudah jadi anak yang baik dan rajin belajar, bahkan sejak TK sampai detik ini dia selalu mendapat peringkat satu di sekolah, tapi papanya masih tetap tak peduli kepadanya.
Dan ada satu hal yang selama ini disembunyikan oleh mamanya tetapi Matahari berhasil mengetahuinya yaitu fakta bahwa papanya tidak menginginkan anak perempuan. Ya, Matahari tahu semua itu secara tak sengaja saat mendengar percakapan antara kedua orang tuanya yang berujung pertengkaran di antara mereka.
Mengingat semua itu tiba-tiba saja dada Matahari terasa berdenyut ngilu seperti disayat benda tajam tak kasat mata. Refleks gadis itu mengepalkan kedua tangannya di atas pahanya.
__ADS_1