
Niat hati ingin berbaikan, mengenyampingkan perasaannya demi persahabatan. Namun nyatanya Jasmin tak sekuat itu saat harus melihat dengan mata kepalanya sendiri perhatian Langit kepada Matahari.
Belum selesai dengan kecemburuannya, Jasmin juga harus melihat betapa sahabatnya, Matahari menjadi gadis idaman dua lelaki populer di sekolahnya.
Tangan Jasmin mencengkram kantung kresek berisi roti yang sengaja dia beli untuk diberikan kepada Matahari. Tiba-tiba saja Jasmin merasa terasingkan. Dia merasa selalu kalah dalam hal apa pun dibandingkan dengan Matahari.
"Loh, Jasmin? Lo ngapain berdiri di sini?" tanya Matahari.
Gadis itu kaget mendapati Jasmin ada di depan UKS ketika dia hendak pergi dari sana. Kemudian kedua lelaki tampan turut mengikuti Matahari.
Jasmin menatap Langit dan Venus terlebih dulu sebelum dia menjawab pertanyaan Matahari.
"Gue ... gue mau ngasih ini buat lo." Jasmin memberikan kantung kresek berisi roti di tangannya kepada Matahari lantas dia langsung pergi begitu saja.
Hal tersebut tentu saja membuat Matahari bingung. Namun detik berikutnya seulas senyum terbit di bibir gadis itu menatap kepergian sahabatnya.
Jasmin memang marah bahkan kecewa kepadanya, tetapi Matahari yakin seiring waktu Jasmin akan bisa mengerti dan menerima kenyataan mengenai hubungan Matahari dengan Langit. Nanti ketika keadaannya sudah membaik, Matahari akan menjelaskan semuanya kepada Jasmin.
"Ayo, Sayang, kita harus segera ke rumah sakit sekarang," ucap Langit menyadarkan Matahari dari lamunannya.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk lantas bergegas pergi. Sebelumnya Venus sudah meminta izin pulang lebih awal untuk mengantar Matahari ke rumah sakit.
Beberapa saat yang lalu Matahari mendapat kabar tentang kondisi papanya yang semakin memburuk dan akan dilakukan operasi. Itu sebabnya gadis itu pergi terburu-buru.
"Beruntung banget jadi lo, Sunny. Bahkan walau sedang ada di titik terendah sekalipun, masih ada seseorang yang mau peduliin lo," gumam Jasmin menatap Matahari yang pergi bersama Venus dan Langit.
"Sunny, ayo ikut aku, mobilnya ada di sana," ajak Venus sembari menarik lengan Matahari.
Tak terima, Langit menahan lengan Matahari satunya lagi sehingga langkah Matahari tertahan.
"Gak bisa, Matahari ikut gue. Gue pacarnya kalo lo lupa," ujar Langit sembari menatap Venus tajam.
Langit ingin membawa Matahari bersamanya, namun niat itu tertahan karena Venus juga tidak mau mengalah begitu saja. Venus tak mau melepaskan tangan Matahari sehingga terjadi tarik menarik antara Langit dan Venus, sementara Matahari menjadi objek yang diperebutkan.
"Lo yang egois. Gue cowoknya, gue ada hak bawa Matahari pergi bareng gue," sahut Langit.
Berdecak kesal. Matahari segera menarik diri dari kedua lelaki yang tiba-tiba menjadi menyebalkan, bahkan di saat dirinya sedang dalam keadaan cemas karena harus segera sampai di rumah sakit.
"Stop!" ujar Matahari. Ditatapnya dua lelaki itu secara bergantian dengan tatapan kesal. "Kalian nggak usah anterin gue ke rumah sakit. Gue bisa pergi sendiri," ujarnya lagi.
__ADS_1
"Tapi, Ay—"
"Nggak ada tapi tapi. Pokoknya gue pergi sendiri," tegas Matahari memotong perkataan Langit yang ingin protes.
"Lo juga, diem!" tegasnya lagi kepada Venus.
Menghentakkan kakinya, Matahari meninggalkan Langit dan Venus dengan mulut tak berhenti menggerutu. Sementara itu Langit dan Venus saling beradu tatapan sinis, saling menyalahkan satu sama lain.
"Gara-gara lo Matahari jadi marah," ujar Langit kesal kepada Venus.
"Gara-gara lo juga," sahut Venus tak mau mengalah.
Entah mengapa hari ini kedua lelaki tampan itu seketika berubah menjadi sangat kekanak-kanakan dan menyebalkan.
Langit bergegas menyusul Matahari begitupun juga dengan Venus. Tepat saat Matahari masuk ke dalam taksi kedua lelaki itu pun ikut menyerobot masuk. Berdesak-desakkan di dalam kursi penumpang belakang.
"Kalian—"
"Jalan, Pak!" ujar Langit dan Venus secara berbarengan memotong perkataan Matahari yang ingin protes atas kehadiran mereka berdua.
__ADS_1
Tak ingin berdebat, meski kesal namun Matahari mencoba untuk meredamnya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk meladeni dua lelaki menyebalkan itu. Yang dipikirkan Matahari hanyalah dia harus segera ke rumah sakit untuk memastikan keadaan papanya baik-baik saja.
Meskipun selama dalam perjalanan Matahari mati-matian bersabar menghadapi sikap Langit dan Venus yang tidak mau akur. Selalu saja ada bahan bagi mereka untuk saling berdebat. Tentu saja yang menjadi perdebatan tak lain dan tak bukan adalah Matahari