
“Kapan Kakak mau pulang?” tanya Nina.
Langit yang sedang menyantap makanan hasil masakan Nina pun seketika itu menghentikan aktivitasnya sesaat. Dia menatap gadis itu dengan pandangan datar cukup lama seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Ini rumah gue,” jawabnya singkat.
Nina menghela napas panjang. “Kakak gak mau kumpul sama kita? Tinggal bareng sama Papa?”
Tangan yang hendak memasukkan sendok berisi makanan ke mulut Langit langsung terhenti. Dia kembali menyimpan sendoknya di atas piring lalu menatap Nina dengan sorot yang sulit dimengerti. Selera makan Langit seketika itu hilang.
“Buat apa? Buat denger kalian semua hina gue dan mama?” tanya Langit sarkas.
Ada yang berdenyut sakit bagai ditusuk ribuan jarum di dalam hati Langit. Emosinya bergejolak, ingin meluap ke permukaan. Namun sebisa mungkin Langit menahannya.
“Kak—“
“Udah malem, mending lo pulang sekarag. Sebentar lagi Kakak lo jemput lo,” ucap Langit dingin.
Dia beranjak dari duduknya hendak pergi ke kamar meninggalkan Nina bersamaan dengan suara bel pintu berbunyi.
Langit menoleh ke arah Nina. “Lo tau kan harus apa sekarang?” ujarnya sembari mengkode keras mengusir Nina dari apartemennya.
Mata Nina berkaca-kaca. Dia tak menyangka sikap Langit akan seperti ini kepadanya. Meskipun tak ada hubungan darah, tetapi Nina benar-benar menganggap Langit sebagai kakaknya sama seperti dia kepada Venus.
Gadis itu beranjak dari duduknya lalu pergi dengan perasaan kesal. Begitu dia membuka pintu, Venus sudah berdiri di sana sembari menatapnya tajam.
“Balik!”
Satu kata perintah itu keluar dari mulut Venus kepada Nina. Gadis itu tak menyahuti, dia menatap sang kakak selama beberapa detik lalu pergi begitu saja tanpa berbicara.
Venus menatap pintu apartemen milik Langit sesaat, lalu segera menyusul Nina yang sudah pergi lebih dulu.
“Ngapain kamu di apartemen dia?” tanya Venus.
“Maksud Kak Venus, Kak Langit?” Bukan menjawab, Nina malah mempertegas siapa ‘dia' yang dimaksud oleh Venus.
Nina menatap Venus yang tetap fokus dengan kemudinya. Setelah itu dia menghela napas kasar.
“Aku cuma mau nengok Kak Langit, dan ternyata pirasatku benar dia gak baik-baik aja,” ucap Nina.
Venus mendengarkan tetapi tidak peduli dengan hal yang dibahas oleh Nina sekarang. Dia tetap memfokuskan diri pada kemudinya.
“Kak Langit pulang dengan banyak luka di tubuhnya. Kayanya dia abis berantem sama seseorang,” ucap Nina sembari menatap Venus.
__ADS_1
Venus mendengarkan tetapi dia masih diam saja.
“Kak, kenapa sih Kakak harus benci sama Kak Langit? Di sini tuh Kak Langit gak salah apa-apa sama kita.”
Perkataan Nina itu berhasil menyulut emosi Venus. Dia yang sedari tadi hanya fokus pada kemudinya langsung menoleh ke arah Nina, menatapnya dengan tajam.
“Kamu masih nanya kenapa Kakak benci sama dia?” Venus tak percaya adiknya akan bersikap seperti ini. “Apa kamu gak lihat gimana kondisi mama waktu itu? Dia dan wanita itu udah ngancurin keluarga kita,” ujarnya sinis.
Nina tercekat. Dia kembali mengingat kejadian dua tahun yang lalu saat mama dan papanya bertengkar hebat karena Angkasa kedapatan memiliki hubungan spesial dengan wanita lain di masa lalu hingga memiliki anak. Dan anak itu adalah Langit.
Keluarganya hancur dalam hitungan detik. Mamanya langsung drop dan ingin bercerai karena tidak terima atas pengkhianatan suaminya sendiri. Dan tentunya Nina dan Venus pun menjadi korban atas kehancuran keluarganya itu.
Ya, meskipun semuanya sudah berlalu. Mery dan Angkasa sudah membicarakan dan menyelesaikan permasalahan mereka sampai tuntas hingga Mery mau memaafkan dan tidak jadi bercerai. Namun tetap saja, Mery dan Venus masih belum bisa menerima Langit.
Di sisi lain, Langit merenung sendirian di dalam kamarnya. Dia menatap foto mamanya yang sudah lama meninggal dengan sorot sendu.
Tak ada satu pun yang tahu rasa sakit dan juga penderitaan yang Langit rasakan selama ini. Semua orang membenci dan menghinanya karena dia terlahir sebagai anak di luar nikah.
Dada Langit terasa semakin sesak. Dia tak sanggup lagi mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan.
Langit tersenyum miring, dia menertawakan dirinya sendiri yang begitu menyedihkan. Bahkan di masa-masa terpuruknya, Langit tak memiliki siapa pun yang memeluk dan menenangkannya.
Tanpa sadar air matanya luruh dan menetes pada foto yang dia pegang. Langit langsung menghapus cairan bening tersebut.
Suara getaran dari ponselnya menyadarkan Langit dari lamunan. Dia menyimpan foto mamanya di dalam laci lalu mengambil ponselnya di atas nakas.
Langit menghapus jejak air mata di wajahnya lalu menghela napas panjang sebelum menggeser icon berwarna hijau untuk menjawab telepon.
“Lama banget dah lo jawab telepon gue.”
Langit terkekeh pelan mendengar suara nyaring dari seberang sana.
“Udah tidur?”
“Belum,” jawab Langit.
“Eh? Suara lo kenapa?”
“Emang suara gue kenapa?” Bukan menjawab, Langit malah balik bertanya.
Sontak saja hal itu membuat Matahari berdecak dari seberang telepon sana.
“Kaya beda aja. Lo sakit?”
__ADS_1
Langit menggelengkan kepalanya seolah Matahari dapat melihatnya.
“Nggak, gue sehat wal afiat,” jawabnya. “Tumbenan lo telepon gue duluan. Malem-malem pula. Ada apa?”
“Gak boleh ya? Ya udah gue tutup teleponnya.”
“Eeh, jangan.”
Terdengar Matahari terkekeh dari seberang telepon. Hal tersebut membuat Langit langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Andai Matahari melihatnya langsung betapa Langit senang Matahari menghubunginya.
“Gue cuma mau mastiin kalo lo belum mati.”
“Sial!”
Matahari tertawa. “Bercanda,” ucapnya. “Ya udah karena lo baik-baik aja gue tutup dulu teleponnya. Gue mau tidur.”
“Matahari,” panggil Langit.
Beruntung Matahari masih mendengarnya hingga dia tidak jadi mematikan sambungan telepon.
“Ya?”
“Boleh gak jangan matiin dulu teleponnya? Temenin gue sebentar aja.”
Hening, tak ada sahutan dari Matahari. Langit menunduk sesaat lalu mengangkat kepalanya lagi. Setelah itu dia menghela napas panjang.
“Gak papa kalo lo mau tidur, tidur aja. Tapi teleponnya jangan dimatiin.”
“Lo, kenapa?”
Hening, Langit menunduk dengan mata terpejam. Tangannya merem4s ponsel yang masih menempel di telinganya.
"Kalo mau cerita, gue siap kok dengerinnya. Ya, meskipun mungkin gue gak bisa banyak bantu tapi seenggaknya sedikit beban di hati lo berkurang."
"Matahari," ucap Langit dijeda selama beberapa detik. "Makasih."
"Apaan sih, cerita aja belum. Bahkan gue gak bantu apa-apa tapi lo udah bilang makasih aja ke gue."
Langit menunduk lalu tersenyum tipis.
Andai Matahari tahu kehadirannya sangat berarti dalam hidup Langit.
__ADS_1
Andai gadis itu tahu bahwa secara tidak langsung dia sudah memperpanjang hidup Langit yang sejak lama sudah putus asa.
Dan andai Matahari tahu Langit sudah mencintainya sejak lama, bahkan jauh sebelum Venus mengenalnya.