
Dokter Agustina memberikan penjelasan singkat, tetapi cukup membuat Matahari terdiam. Ayahanda Hadi, orang yang selama ini ia anggap sebagai sosok pahlawan dalam hidupnya, menderita penyakit jantung yang telah mencapai tahap parah. Dokter menyatakan bahwa Hadi membutuhkan transplantasi jantung secepat mungkin jika ingin memperoleh harapan hidup yang lebih baik.
Matahari terpaku di tempat, mencoba menyerap semua informasi yang diberikan. Ia menutup matanya, berusaha mengumpulkan kekuatan dalam dirinya.
Matahari memandangi Hadi yang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Pria itu tampak rapuh di antara rangkaian tabung medis yang melekat pada tubuhnya.
Meskipun hubungan di antaranya dan Hadi tak harmonis selayaknya seperti anak dan ayah pada umumnya, namun tak lantas membuat Matahari membenci Hadi. Bagaimanapun salah satu wish list yang ingin Matahari penuhi ialah bisa merasakan hangat pelukan papanya.
Matahari mencari-cari jawaban dalam benaknya, mencoba mengingat apa pun yang pernah diutarakan Hadi tentang kesehatannya. Tapi, tak seorang pun dari mereka berdua pernah menyadari akan adanya penyakit serius yang membayangi nyawa Hadi.
Matahari terisak lirih, berharap bahwa waktu akan berhenti dan membiarkan mereka hidup bahagia. Hati Matahari pun dipenuhi oleh sebuah ketakutan besar dan perasaan takut kehilangan yang amat dalam.
Dokter Agustina memasuki ruangan itu dengan wajah serius. “Maaf mengganggu, Matahari. Tapi saya ada kabar lain yang perlu saya sampaikan pada Anda.”
“Ada apa lagi, Dokter?” tanya Matahari dengan ketegangan yang semakin memuncak.
“Setelah kami melakukan pemeriksaan mendalam, kami menemukan bahwa Hadi juga mengidap penyakit gagal ginjal. Ini bisa saja disebabkan oleh penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu yang lama,” jelas Dokter Agustina dengan suara yang tenang.
"Apa, Dok? Jadi suami saya mengidap penyakit gagal ginjal?" ulang Indira yang sangat terkejut mendengar kabar tersebut.
Indira tahu suaminya sakit jantung tetapi dia tidak menyangka Hadi juga mengidap gagal ginjal. Seketika itu air mata Indira menerobos pertahanannya membasahi wajahnya. Dia benar-benar takut kehilangan suaminya.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?" lirih Indira sembari terisak. Dia mendekati Hadi lantas memandangi wajah lemah suaminya itu.
Di sisi lain Matahari masih shock atas kabar yang dia dengar dari dokter mengenai kesehatan papanya. Langit yang masih menemani Matahari langsung merangkul pundak gadis itu, berusaha menyalurkan kekuatan kepadanya.
__ADS_1
"Matahari, aku di sini untukmu. Aku tau keadaanmu tidaklah baik-baik saja. Tapi, kamu nggak sendiri dalam menjalani semua ini," kata Langit dengan suara lembut.
Matahari menatap Langit sendu lalu dia memeluknya erat. Matahari menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Langit dan menangis dalam pelukannya.
"Aku takut, Langit. Aku takut kehilangan Papa," lirihnya dalam tangis.
Langit melihat Matahari dengan keprihatinan yang mendalam. Sebuah kerinduan menyelimuti hatinya, karena dia tahu betapa sulitnya keadaan Matahari saat ini.
"Semua akan baik-baik saja. Aku yakin papa kamu pasti sembuh," ucap Langit sembari mengusap punggung Matahari dengan lembut.
Bulan menyaksikan semuanya. Dia berada dalam kehancuran serta rasa benci yang mendalam terhadap Matahari. Sebab bagi Bulan, semua kesulitan yang menimpa papanya itu karena ulah Matahari.
Sebab Matahari sudah memberi tahu Hadi tentang kehamilan Bulan hingga membuat papanya itu murka dan berujung sakit jantungnya kambuh.
Tak tahan lagi, Bulan menarik Matahari secara paksa hingga membuat gadis itu terkejut. Begitupun juga dengan Langit yang masih memeluk Matahari saat itu. Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada Matahari, Langit pun mengikuti Bulan yang menyeret Matahari keluar dari ruang rawat Hadi.
"Puas lo, Kak? Puas bikin Papa sakit kayak gitu?" bentak Bulan.
Sebelah alis Matahari menaik, matanya dengan tajam menatap Bulan.
"Gara-gara kakak ngasih tau papa kalo aku hamil, papa shock sampe penyakit jantungnya kambuh," ujar Bulan.
Matahari tersenyum miring. "Nah itu lo tau. Penyebab papa sakit itu ya lo, bukan gue. Karena ulah lo ini yang udah bikin malu keluarga, pake acara hamil diluar nikah segala," ujarnya tanpa filter.
Langit terkejut mendengar perkataan Matahari baru saja. Dia lantas langsung menatap Bulan dengan tatapan aneh hingga membuat Bulan langsung merasa malu.
__ADS_1
Tangan Bulan mengepal erat bersamaan dengan tatapan tajam mengarah kepada Matahari. Demi apa pun juga Bulan sangat membenci Matahari.
"Dari pada sibuk menyalahkan orang lain, mending lo introspeksi diri," ucap Matahari lagi bernada sinis.
Tanpa menunggu sahutan dari Bulan, Matahari berniat untuk kembali melihat papanya. Namun niatnya tertahan ketika tiba-tiba saja Dokter Kevin memanggilnya.
"Matahari, bisa ikut saya sebentar? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan sama kamu," ucap Sang Dokter.
Matahari diam sejenak. Dalam kebingungan gadis itu menganggukkan kepalanya lalu pergi bersama Dokter Kevin menuju ke ruang kerja sang dokter. Sementara itu Langit memilih untuk menunggu Matahari.
"Duduklah, Matahari," kata dokter Kevin seraya menunjukkan kursi di depannya. "Saya punya sesuatu yang harus saya sampaikan padamu. Saya yakin ini akan membuatmu shock, tapi saya percaya bahwa kamu harus tahu ini."
Matahari mengernyitkan dahi, wajahnya mencerminkan ketakutan dan kecemasan. "Ada apa, Dok?" tanya Matahari gemetar.
Dokter Kevin menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, "Saya telah berbicara dengan dokter yang memeriksa papamu. Dia memberi tahu bahwa obat yang ditemukannya dalam sistem tubuh papamu bukanlah obat yang biasa diberikan di rumah sakit ini. Obat itu berasal dari luar, dan itulah yang menyebabkan gagal ginjal."
Matahari terdiam, matanya berkaca-kaca. Dia tak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar. "Apa maksudnya, Dok? Adakah seseorang yang mencoba meracuni papaku?"
Dokter Kevin mengangguk pelan. "Saya tidak bisa memastikannya, tapi sepertinya itulah yang sedang terjadi. Saya akan melakukan segala yang bisa saya perbuat untuk mencari tahu siapa yang melakukan ini dan menghentikannya."
Matahari menangis, air mata jatuh bebas di pipinya. Kesedihan dan marah menyatu dalam ekspresi wajahnya. "Kenapa ada orang yang begitu jahat, Dok? Mengapa mereka melakukan ini pada papa?"
Dokter Kevin meraih tangan Matahari dengan lembut. Ia bisa merasakan sakit dan kehilangan yang sedang dirasakan gadis di depannya. "Saya tidak punya jawaban pasti untuk pertanyaanmu, Matahari. Tapi saya janji, saya akan menemukan orang yang bertanggung jawab atas ini. Kamu berhak mendapatkan keadilan dan kedamaian."
Matahari menyeka air matanya dengan telapak tangannya, berusaha meredakan tangisnya. Ia kemudian memandang Dokter Kevin dengan tatapan tulus. "Terima kasih, Dok. Aku percayakan semuanya padamu."
__ADS_1
Dokter Kevin tersenyum padanya. "Kamu tidak perlu berterima kasih, Matahari. Ini adalah pekerjaanku sebagai dokter dan juga sebagai temanmu. Saya berjanji akan tetap ada untukmu, selalu."
"Oh ya, satu lagi. Kamu harus menjaga kesehatan kamu juga, Matahari. Jangan lupa minggu depan jadwal kamu periksa. Kamu harus datang," ucap Dokter Kevin.