
Suatu saat nanti kan kugenggam erat tangannya dan takkan kubiarkan terlepas. Aku akan menjaganya sepenuh hati hingga dia tidak memiliki alasan untuk pergi.
***
Langit terus mengikuti langkah Matahari. Menatapnya dalam diam dengan senyum tipis terukir di bibirnya.
Kali ini seolah semesta benar-benar menakdirkan Sang Matahari menjadi dewa penyelamatnya.
Untuk kesekian kalinya, Langit tersenyum tipis.
Rasa sakit yang sedari tadi dia rasakan seolah menghilang dalam sekejap mata. Sesak di dalam dada berganti menjadi getaran aneh yang menebarkan bunga-bunga.
“Woy! Berhenti kalian!”
Suara teriakan menyadarkan Langit dari lamunannya. Dia melihat ke belakang, tiga lelaki yang menghajarnya tadi masih mengejarnya dan Matahari.
Langit kembali melihat ke depan, sementara tangannya masih berpegangan erat dengan Matahari. Dia melihat ada gang sempit tak jauh dari tempatnya sekarang.
Begitu akan melewati gang tersebut, Langit langsung menarik lengan Matahari ke arahnya hingga gadis itu akan terjatuh, namun Langit segera menahannya.
Langit mendorong tubuh Matahari hingga menempel di tembok dan dirinya berada tepat di hadapan gadis itu dengan jarak yang sangat dekat.
Pandangan Langit dan Matahari beradu. Keduanya terpaku dalam beberapa detik, terhanyut dalam suasana yang ambigu.
Deru napas mereka saling bersahut-sahutan seperti berebut oksigen sebanyak-banyaknya.
“Lang—“
Langit membungkam mulut Matahari dengan tangannya hingga gadis itu refleks diam.
Saat Langit melihat ke samping, memastikan tiga lelaki yang mengejarnya itu pergi tanpa melihatnya, Matahari justru terpaku menatap Langit.
Entah kenapa? Matahari merasakan getaran aneh yang menyerupai sengatan listrik secara singkat.
“Sepertinya mereka udah pergi,” ucap Langit sembari memalingkan wajahnya ke arah Matahari.
Langit terkejut mendapati tangannya menutupi mulut Matahari dengan posisi tubuh mereka sangat dekat, bahkan hampir rapat. Dia segera menjauhkan tangannya sekaligus memberi jarak dengan Matahari.
“Sorry,” ucap Langit.
Tubuh Matahari merosot, lututnya sangat lemas. Gadis itu tak henti mengatur napasnya yang sesak.
“Lo gak papa?” tanya Langit.
Matahari mendongak menatap Langit lalu kepalanya menggeleng pelan.
Setelah mendapatkan kekuatannya kembali, Matahari beranjak berdiri. Dia menatap wajah Langit yang terluka akibat terkena pukulan.
“Tadi itu siapa? Kenapa mereka mukulin lo?” tanya Matahari.
“Mereka dari sekolah tetangga,” jawab Langit.
“Musuh lo?”
Kedua bahu Langit menaik. Dia enggan menjelaskan apa pun kepada Matahari. Sedetik kemudian dia menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Langit mengusapnya sembari meringis merasakan perih.
__ADS_1
“Ayo ikut gue!” ajak Matahari.
“Ke mana?”
“Udah ikut aja.”
Meski bingung dengan sikap Matahari, namun Langit tetap mengikuti gadis itu hingga mereka sampai di taman. Matahari meminta Langit menunggunya sebentar di bangku panjang yang ada di sana.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Matahari pergi dengan berlari kecil meninggalkan Langit seorang diri.
Tak lama kemudian gadis itu kembali lagi dengan membawa kantung kresek di tangannya.
Matahari menyodorkan sebotol air mineral beserta sapu tangan kepada Langit.
“Bersihin dulu luka lo pake air ini,” ucap Matahari.
Langit menerima pemberian Matahari tanpa berkata apa pun. Dia langsung membuka tutup botol air mineralnya lalu menumpahkan sebagian air di dalamnya ke sapu tangan.
Langit membersihkan lukanya sendiri. Sementara itu Matahari menyiapkan salep dan juga plester yang baru saja dia beli.
“Mau gue bantu olesin obatnya atau lo bisa sendiri?” tanya Matahari.
Langit yang masih mengelap bagian wajahnya yang memar dengan sapu tangan langsung menoleh ke arah Matahari. Dia diam sejenak sembari menatap gadis itu.
“Lo aja,” ucapnya.
“Dih, manja,” ledek Matahari. “Mau ambil kesempatan dalam kesempitan lo ya?” sambungnya lagi.
“Nggak lah. Kan lo sendiri yang nanya,” jawab Langit.
“Elah, ngeles aja,” ucap Matahari. “Dasar modus.”
“Aduh duh, sakit sakit.”
“Masih bisa ngerasain sakit?” tanya Matahari.
“Makanya jangan sok jagoan jadi cowok,” ujar gadis itu lagi sembari mengoleskan salep di wajah Langit. Setelah itu dia menempelkan plester di area lukanya.
Matahari mendongak, dia mendapati Langit sedang menatapnya. Dengan cepat Langit memalingkan wajah ke arah lain seraya meraba area wajah yang baru saja diobati oleh Matahari.
“Gue gak habis pikir sama lo, Lang,” ucap Matahari kemudian.
Langit menoleh, sebelah alisnya menaik. “Maksudnya?”
“Gue pikir lo itu cowok kalem, gak suka berantem-berantem gitu. Eh, taunya ... sama aja kayak cowok-cowok pada umumnya.” Matahari menggeleng-geleng kepalanya.
“Ck, gak sama lah. Gue berantem karena terpaksa asal lo tau,” sahut Langit.
“Kenapa sih?” tanya Matahari.
Langit diam sejenak, tak langsung menjawab pertanyaan Matahari. Lelaki itu mengingat sesuatu sebelum dia berkelahi dengan mantan teman-temannya, lalu menghela napas panjang.
“Cewek mah gak usah tau, soalnya ini urusan cowok,” ucap Langit.
Matahari berdecak lantas memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
“Tau gitu gak gue tolongin tadi,” gumam Matahari pelan tetapi masih bisa didengar oleh Langit.
“Jadi gak ikhlas nih ceritanya,” goda Langit.
Seulas senyum tipis terukir di bibirnya saat dia melihat Matahari cemberut. Begitu menggemaskan.
Ada jeda beberapa saat sehingga tercipta suasana hening di antara Langit dan Matahari.
Tanpa mereka sadari sejak tadi ada seseorang yang memerhatikan mereka dengan kecemburuan terpampang jelas pada sorot matanya.
“Gue juga gak abis pikir sama lo,” ucap Langit.
Kening Matahari mengernyit seraya menatap Langit.
“Gue pikir lo beneran bisa berantem tadi.” Langit menatap Matahari. “Sumpah, gue sempat kagum lihat keberanian lo ngelawan mereka. Eh, tau taunya malah ngajakin gue kabur.”
Matahari tertawa ketika Langit mengingatkannya tentang kejadian tadi. Sebenarnya sejak awal Matahari takut, namun keberanian itu muncul secara tiba-tiba saat melihat Langit dikeroyok.
Dan entah kenapa? Tawa Matahari menular kepada Langit.
“Ngomong-ngomong, lo abis dari mana? Kok bisa tau gue ada di sana tadi,” tanya Langit beberapa saat kemudian seraya menatap Matahari dalam-dalam.
“Gak sengaja lihat,” jawab Matahari tanpa melihat lawan bicaranya.
Suara getaran disertai dering berasal dari ponsel Matahari mengalihkan perhatian. Matahari segera merogoh ponsel dari dalam tasnya untuk melihat siapa yang ingin menghubunginya.
Dia beranjak berdiri seiring menggeser icon hijau dan menempelkan benda elektronik itu di telinganya.
Sebelum itu, Langit sempat melihat nama orang yang menghubungi Matahari.
“Lo mau langsung pulang sekarang?” tanya Matahari beberapa saat setelah dia selesai berbicara dengan seseorang melalui sambungan teleponnya.
“Bisa pulang sendiri kan? Gue gak bisa nganter soalnya ada urusan mendadak,” ucap Matahari lagi.
Langit diam sembari memerhatikan Matahari yang bersiap-siap akan pergi.
“Kalau gue bilang gue gak bisa pulang sendiri, lo mau gak nganter gue pulang?”
Matahari tak menjawab, dia malah diam sembari menatap Langit dengan sorot yang sulit diartikan. Sesaat kemudian gadis itu menghela napas panjang.
“Gak bisa deh. Gue kudu buru-buru pergi,” jawab Matahari.
“Ke rumah sakit?”
Matahari tak menjawab.
“Gue gak sengaja lihat nama orang yang ngehubungin lo barusan,” ucap Langit. “Siapa yang sakit? Mau gue anter?”
Matahari menghela napas panjang. “Gak usah, gue bisa pergi sendiri. Mending lo balik, terus obatin luka lo yang bener di rumah. Perut lo juga luka kan ditendang sama berandal tadi,” ucapnya serius.
Tanpa menunggu sahutan dari Langit, Matahari langsung bergegas pergi dari sana dengan langkah terburu-buru. Hari sudah semakin sore, bahkan sebentar lagi gelap akan menyambut.
Namun tanpa diduga tiba-tiba saja Langit menggenggam tangan Matahari erat lalu berjalan beriringan dengannya. Hal tersebut membuat Matahari terkejut.
Dia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan terus menatap tangan yang digenggam erat.
__ADS_1
Sesaat, Matahari merasakan sesuatu berdesir di hatinya seperti arus listrik yang mengalir melalui urat nadinya.
“Gue anter lo sekalian mau berobat juga,” ucap Langit sembari tersenyum.