
“Woy, ke lapang sekarang. Si Langit sama kakel mau tanding basket!”
Matahari dan Jasmin yang baru saja beranjak dari duduknya hendak pergi ke kantin sontak langsung melihat ke arah sumber suara. Di ambang pintu kelasnya Gilang berdiri dengan napas terengah-engah karena habis berlari dari lapang ke kelas.
“Apaan dah, gak penting banget info lo, Gilang,” ujar Sari, salah satu siswi penghuni kelas itu.
“Iya, kayak yang baru liat si Langit maen basket aja.” Jasmin menimpali dengan nada ketus.
“Ini beda, Sayang,” sahut Gilang kepada Jasmin.
“Sayang sayang pala lu peyang.”
Gilang terkekeh pelan melihat Jasmin memelototinya.
“Beda kenapa coba?” tanya Sari.
“Pokoknya beda. Udah mending lo liat sendiri, yang lainnya juga udah pada ngumpul di lapangan,” sahut Gilang.
Gilang menoleh ke arah Matahari yang masih bergeming tak begitu tertarik dengan informasi tersebut.
“Sunny, lo juga harus ke lapang sekarang,” ucap Gilang.
“Gue?”
Gilang mengangguk. “Lawan Langit itu mantan lo, Kak Venus,” ucapnya.
Jasmin dan Matahari saling melihat dengan tanya memenuhi otak mereka. Detik berikutnya kedua gadis itu melihat ke arah Gilang lagi, meminta kejelasan dari temannya itu.
Di lapangan, Venus tiba-tiba menghampiri Langit yang sedang bermain basket dengan teman-temannya. Venus mengambil alih bola, dia menatap Langit tajam. Sementara orang yang dia tatap terlihat santai dan tenang.
Kedua lelaki berparas tampan itu saling berhadap-hadapan di tengah lapangan. Satu pemandangan langka dan ini sangat menarik untuk ditonton.
__ADS_1
“Sikap lo kayak gini, mau lo apa?” tanya Langit.
“Jauhin Matahari!” tegas Venus.
Sebelah alis Langit menaik, matanya menyipit menatap serius pada lawan bicaranya.
“Kasih gue alasan kenapa gue harus menjauh dari Matahari?”
Venus menghela napas kasar lalu menatap Langit tajam. Dia maju satu langkah hingga jaraknya sangat dekat dengan Langit.
“Gak perlu alasan gue nyuruh lo jauhin dia!” tegas Venus. “Gue gak suka ada orang yang deketin Matahari dan manfaatin dia.”
“Kalau gue gak mau?”
Tatapan Venus semakin tajam. Rahangnya mengeras diiringi kedua tangan mengepal erat seperti siap untuk menghajar Langit.
“Bukannya kalian udah putus? Lo sendiri yang selingkuin dia. So, lo gak punya hak nyuruh gue jauhin dia,” ucap Langit. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum smirk.
“Lo pikir gue gak tau selama ini lo suka sama Matahari.”
Perkataan Venus baru saja berhasil menghentikan langkah Langit. Selama beberapa detik suaranya tercekat di tenggorokan sehingga Langit tidak bisa berkata-kata. Dia tak menyangka Venus mengetahui semuanya.
Venus tersenyum miring. Dia berbalik lalu berjalan mendekati Langit dan mengambil kembali bola basketnya.
“Kenapa? Lo kaget karena gue tau rahasia lo?” tanya Venus sinis.
Langit masih bergeming, tatapan keduanya terkunci dengan sorot tajam siap saling menerkam musuh.
“Lo pikir selama ini gue bodoh, gak ngerti bahasa tubuh lo?” Venus tersenyum miring. “Gue tau lo suka cari alasan buat bisa deketin Matahari. Sayangnya, Matahari gak pernah liat lo. Dari sini seharusnya lo sadar diri!”
Kedua tangan Langit mengepal erat. Hatinya nyeri, seseorang dengan sengaja menyinggung harga dirinya.
__ADS_1
Venus menatap Langit serius dengan sorot tajam. Pandangan mereka masih beradu, sama-sama tajam seperti mengobarkan api peperangan.
“Menurut lo apa jadinya kalo sampai Matahari tau setiap momen yang dia lewati bersama lo semuanya udah direncanain dan bukan hanya kebetulan termasuk kejadian pagi tadi?”
Langit semakin mengepalkan kedua tangannya dengan masih saling bertatapan dengan Venus. Detik berikutnya Langit memalingkan wajah ke arah lain sejenak lalu kembali melihat Venus. Dia menghela napas panjang kemudian tersenyum santai.
“Gue gak nyangka sampai segitunya lo perhatiin gue,” ucap Langit, mengejek. “Ah ... gue tau. Lo nyesel kan putus sama Matahari? Kenapa? Berharap bisa balikan lagi? Gagal move on?” sambung Langit lagi. Seulas senyum miring terukir di bibirnya.
Kemudian Langit melihat ke belakang Venus. Di sana ada gadis yang sedang melihat ke arahnya dan Venus. Terlihat dari bahasa tubuh gadis itu seperti sedang mencemaskan sesuatu.
“Dari pada ngurusin gue sama Matahari, mending lo urus cewek baru lo itu,” ucap Langit.
Seketika itu Venus langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Langit. Di ujung lapangan ada Bulan yang sedang melihatnya.
Gadis itu berjalan menuju ke tengah lapangan bersamaan dengan datangnya Matahari untuk melihat yang terjadi di antara Langit dan Venus.
“Kak Venus,” panggil Bulan.
Sebelumnya Bulan sudah mendengar kabar kalau Venus dan Langit sedang memperebutkan Matahari. Semua orang di sekolah membicarakan dua lelaki tampan itu. Bahkan di antara mereka ada yang sengaja memanas-manasi Bulan.
Venus menatap Bulan. Entah kenapa? Kali ini dia merasa tidak suka dengan kehadiran gadis itu.
“Kak Ve, aku—“
Melihat Langit akan pergi, Venus langsung menahannya. Secara sadar Venus mengabaikan Bulan yang akan mengatakan sesuatu kepadanya.
“Tanding basket sama gue sekarang. Kalo gue menang, lo harus menjauh dari Matahari!”
Kedua tangan Bulan mengepal. Dadanya terasa sesak menyadari bahwa Venus masih memedulikan Matahari. Seketika itu matanya langsung berkaca-kaca, ingin menangis tetapi ditahan sekuat tenaga.
Kedua alis Langit mengernyit dalam, menatap Venus dengan sorot yang sulit diartikan. Kemudian Langit melirik ke belakang Venus, dia melihat Matahari dan Jasmin sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
“Kalo lo yang kalah?”