Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 6


__ADS_3

“Ada apa?” tanya Jasmin jutek.


Gadis itu menatap Venus yang sedang berdiri di hadapannya. Pagi ini tiba-tiba saja Venus menghalangi jalannya saat dia hendak ingin masuk kelas.


“Lo tahu di mana Sunny sekarang?” tanya Venus.


Satu alis Jasmin terangkat ke atas, tatapan dingin dan ekspresi jutek tergambar di wajahnya. Setelah itu dia menghela napas panjang sebelum berbicara, “Lo tanya gue?”


“Lo kan sahabatnya, pasti lo tahu di mana Sunny sekarang. Apa dia baik-baik saja? Gue gak bisa ngehubungi dia seminggu ini,” ucap Venus.


“Dan lo kan cowoknya. Harusnya lo lebih tahu tentang Sunny dibanding gue,” jawab Jasmin sinis.


“Kalau gue tahu gak mungkin gue repot-repot tanya ke lo. Lagian, meskipun gue cowoknya bukan berarti gue harus tahu semuanya tentang dia,” ujar Venus.


“Venus, Venus. Gue gak habis pikir sama lo.” Jasmin yang sudah muak dengan Venus pun mulai habis kesabaran.


Jasmin melipat tangannya di depan dada lalu memalingkan wajahnya ke samping, sesaat kemudian gadis itu kembali menatap Venus dengan sorot yang terkesan meremehkan. Dengan sikap yang angkuh Jasmin maju mendekat ke arah Venus.


“Lo saja yang ngaku cowoknya enggak tahu di mana Sunny sekarang, apa kabar gue?” ujarnya sinis. Kemudian gadis itu menunjuk ke arah otaknya sendiri sembari masih menatap Venus sinis seolah dirinya sedang mengatakan kepada Venus “MIKIR”.


Venus memalingkan wajah ke arah lain. Kedua tangannya mengepal, dia sekuat tenaga menjaga kesabarannya agar tidak emosi atas sikap Jasmin yang tiba-tiba menjadi sinis kepadanya.


“Plis, Jasmin, kasih tahu gue di mana Sunny sekarang. Gue mau ketemu sama dia,” ucap Venus.

__ADS_1


“Kalau sudah ketemu mau apa?” Bukannya menjawab, Jasmin malah balik bertanya. Dan, nada bicara gadis itu terkesan sangat menyebalkan bagi Venus sekarang. “Mau lo sakitin lagi?”


“Bukannya akhir-akhir ini lo selalu cuekin dia, ya? Bahkan lo gak peduli dan gak ada di saat Sunny butuh lo kemarin,” ujar Jasmin lagi.


Venus terdiam.


“Kenapa? Terlalu sibuk sama selingkuhan lo?” desak Jasmin sembari menatap Venus sinis. Jelas, genderang perang terpancar pada sorot matanya.


“Ck, jaga ucapan lo, Jasmin! Lo ... gak perlu ikut campur urusan hubungan gue sama Sunny!” tegas Venus.


Mendengar hal itu membuat Jasmin tak bisa menahan tawa. Gadis itu terkekeh, lalu menggeleng-geleng kepala. Dia benar-benar tak habis pikir dengan lelaki yang kini sedang berhadapan dengannya.


Benar-benar tidak tahu malu!


“Lo harus ingat, Venus, dulu yang ngejar duluan itu, lo. Bukan Sunny!”


Venus tak menjawab. Dia hanya diam sembari menatap Jasmin tajam. Tak ada yang salah dengan perkataan Jasmin. Memang dulu dirinyalah yang mendekati dan mengejar cinta Matahari. Perasaan Venus terhadap Matahari benar-benar tulus.


Bahkan walau saat ini dia sudah menjalin hubungan dengan Bulan, Venus masih belum benar-benar mengerti apakah dia benar-benar mencintai Bulan atau hanya sekadar pelampiasan atas rasa bosan yang mendera pada hubungannya dengan Matahari.


Jasmin melirik ke belakang Venus. Dia melihat seorang gadis sedang berjalan menuju ke arahnya. Jasmin menggerakkan kepalanya sebagai isyarat agar Venus melihat ke arah belakang sehingga Venus pun refleks mengikuti arah penglihatan Jasmin. “Selingkuhan lo tuh,” ucap Jasmin.


Setelah mengatakan semua itu Jasmin langsung melenggang melewati Venus yang masih berdiam di tempatnya. Bahkan Jasmin sempat dengan sengaja menabrak bahu Venus. Namun, baru saja beberapa langkah gadis itu berjalan, dia mendadak berhenti kemudian berbalik lagi melihat ke arah Venus.

__ADS_1


“Oh, ya, gue lupa. Lain kali kalau mau ciuman itu jangan di tempat umum! Dasar, gak tahu malu!” ujarnya masih bernada sinis.


Jasmin melanjutkan langkahnya. Dia sempat berpapasan dengan Bulan dan menatap adik kelasnya itu dengan tatapan tajam dan sinis hingga membuat Bulan menjadi takut dan menunduk.


Kedua tangan Venus mengepal erat, rahangnya mengeras. Namun Venus tidak mengatakan apa pun kepada Jasmin. Dia hanya diam sembari menatap kepergian Jasmin yang hendak ke kelasnya.


Jadi, seseorang yang membunyikan klakson sore itu ketika Venus hendak berciuman dengan Bulan ialah Jasmin. Gadis itu tak sengaja melihat mereka dan merasa geram atas perbuatan Venus yang telah mengkhianati Matahari—sahabatnya.


“Sial!” umpat Venus.


Sejujurnya kemarin Jasmin ingin memberi tahu Matahari tentang pengkhianatan Venus. Namun Jasmin merasa tidak tega mengatakannya, lebih baik Matahari mengetahuinya sendiri dari pada harus tahu dari orang lain termasuk dirinya.


Matahari, sebenarnya Jasmin tahu di mana gadis itu  berada. Namun dia tidak mau memberi tahu Venus untuk memberinya pelajaran. Jasmin ingin tahu seberapa besar usaha Venus untuk mencari Matahari. Sayangnya, lelaki itu justru malah sibuk dengan selingkuhannya.


“Kak,” panggil Bulan.


Venus tersadar dari lamunannya, dia menatap Bulan dengan sorot datar.


“Itu Kak Jasmin kan? Kakak abis apa sama dia?” tanya Bulan.


“Hm,” gumam Venus. “Aku abis tanya tentang Matahari ke dia,” sambungnya.


“Terus? Kakak sudah tahu di mana Kak Matahari sekarang?”

__ADS_1


Venus menggelengkan kepalanya. Jasmin tidak memberitahu informasi apa pun tentang Matahari, sedangkan dirinya juga tidak bisa menghubungi kekasihnya itu sejak seminggu yang lalu. Lebih tepatnya sejak dia menolak permintaan Matahari untuk menjemput sore itu.


__ADS_2