
“Udah bangun?”
Langit beranjak duduk ketika kesadarannya sudah terkumpul semuanya. Lelaki itu meringis memegangi kepalanya yang sakit akibat terbentur ubin di lapangan basket.
Langit melihat ke arah sumber suara. Tak jauh dari tempat tidurnya terlihat Matahari sedang menuangkan air ke dalam gelas. Gadis itu berjalan mendekati Langit lalu duduk di atas ranjang sembari memberikan gelas berisi air minum beserta obat pereda nyeri.
“Ini, minum dulu obatnya!”
“Thanks,” ucap Langit yang hanya dibalas anggukkan ringan oleh Matahari.
Ada jeda selama beberapa menit hingga membuat suasana di dalam UKS terasa hening. Langit meneguk air beserta obat yang diberikan Matahari kepadanya. Setelah itu dia melihat Matahari yang sedari tadi hanya diam sembari menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan.
“Masih sakit?” tanya Matahari.
Langit diam sesaat lalu menggelengkan kepalanya. Ada jeda kembali sehingga suasana menjadi hening dalam beberapa detik sebelum akhirnya Langit ingin membuka suara.
“Sunny, gue—“
Perkataan Langit terpotong, lelaki itu tak jadi berbicara karena tiba-tiba saja Matahari menjewer telinganya sangat kuat hingga terasa panas.
“Aduh duh, sakit.” Langit mengaduh sembari memegangi telinganya yang dijewer Matahari supaya tidak lepas dari tempatnya. “Lo apa-apaan sih? Kenapa lo jewer telinga gue?” gerutunya.
“Sumpah ini sakit banget, Sunny. Lepas,” ucap Langit. Dia merengek karena telinganya benar-benar sakit.
“Sukurin!” ujar Matahari ketus.
Dia melepaskan tangannya dari telinga Langit. Lelaki itu mengusap-usap telinganya yang terlihat merah, bibirnya cemberut sembari menatap Matahari dengan sorot memprotes.
“Untung telinga gue made in Tuhan. Coba kalau made in cina, udah copot kayaknya lo jewer kaya gitu,” gerutu Langit.
Matahari mengerlingkan matanya. “Udah bagus cuma gue jewer,” sahutnya ketus. Kedua tangan gadis itu melipat di depan dadanya. “Maksud lo apa jadiin gue bahan taruhan, heh? Lo pikir gue apaan?”
Langit meringis sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia terdiam sejenak sembari menatap Matahari, mengumpulkan kata-kata untuk berbicara dengan gadis itu.
“Sumpah, gue gak maksud kaya gitu,” ucap Langit.
“Terus?”
Satu alis Matahari menaik menatap Langit intens. Dia menunggu lelaki di hadapannya itu menjelaskan semuanya.
Ya, tentu saja Matahari kesal karena dirinya dijadikan objek sebagai bahan taruhan oleh Langit dan Venus. Entah apalah maksud dua lelaki itu melibatkannya? Matahari benar-benar tidak tahu.
Mendapat tatapan seperti itu membuat nyali Langit seketika menciut. Entah bagaimana ceritanya dan entah sejak kapan Langit menjadi tidak bisa berkutik jika itu tentang Mataharinya.
Ya, walaupun gadis itu belum resmi menjadi miliknya, tetapi nama Matahari sudah terpatri di relung hati terdalam Langit sejak lama. Terlepas semesta akan mendukung atau tidak, Matahari tetap satu-satunya gadis yang dia sukai.
“Gue ....” Saking gugupnya Langit sulit berkata-kata. Dia menjadi bingung harus memulai ceritanya dari mana hingga perdebatan di antaranya dengan Venus bisa terjadi seperti tadi.
“Gue apa? Kalau ngomong tuh yang jelas.”
Langit menghela napas panjang dan membuangnya secara perlahan. Dia kembali menatap Matahari yang juga sedang melihat ke arahnya begitu intens. Sedetik kemudian Langit berdecak pelan. Dia juga memalingkan wajahnya untuk menetralkan kegugupannya.
“Gue gak terima mantan lo mau deketin lo lagi. Jelas-jelas dia udah ada cewek, dia juga yang ngehianatin lo duluan. Ngapain coba pake sok sok an gak terima lo deket sama gue,” jelas Langit.
__ADS_1
Tanpa sadar secara tidak langsung Langit baru saja mengatakan kalau dia tidak rela Matahari balikan sama Venus. Lelaki itu terkejut ketika menyadari perbuatannya tersebut ditambah melihat tatapan Matahari yang sulit diartikan, membuat perasaan Langit semakin gugup.
“Ta-tadi skor akhir gimana? Siapa yang menang?” tanya Langit. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
Matahari memalingkan wajah ke arah lain, lalu menghela napas panjang. Setelah itu dia kembali menatap Langit.
“Siapa yang menang, itu nggak penting,” ucapnya singkat.
Langit meneguk ludahnya sendiri yang mendadak menyangkut di tenggorokannya.
Hening, Matahari terus menatap Langit hingga membuat lelaki itu semakin gugup.
“Lo suka sama gue?”
Uhuk!
Langit terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Matahari yang tepat sasaran.
“Nih, minum!”
Matahari menyodorkan segelas air minum kepada Langit. Lelaki itu menerimanya tanpa ragu lalu langsung meneguknya hingga tandas.
Setelah itu pandangan Langit kembali melihat Matahari yang sedang berjalan hendak keluar UKS.
“Lo mau ke mana?” tanya Langit.
Matahari menoleh. “Balik. Emangnya lo mau nginep di sini?”
Matahari menatap Langit selama beberapa detik. Setelah itu dia kembali pada niat awalnya yang hendak pergi dari sana.
“Kalo gue bilang gue suka sama lo, apa lo mau nerima gue?” gumam Langit.
Tentu saja pertanyaan itu tak tersampaikan pada orang yang dituju. Dia hanya berbicara sendiri dan mendengarnya sendiri karena Matahari telah pergi.
***
“Maksud Kak Venus tadi apa? Kenapa Kakak bersikap seolah-olah menyesal putus dari Kak Matahari?”
Bulan menatap Venus serius, meminta penjelasan atas perbuatan Venus tadi. Di dadanya sudah bergemuruh rasa cemburu yang hampir memuncak. Dia tidak rela kekasihnya itu masih memerhatikan dan memedulikan mantannya.
Venus diam tak menggubris perkataan Bulan. Dia memalingkan wajah ke arah lain lalu mengambil tasnya dan berjalan begitu saja melewati Bulan tanpa merasa bersalah sedikit pun.
“Kak, jawab dulu pertanyaan aku.”
“Kak Venus gak nyesel kan ngejalin hubungan sama aku?”
Bulan mengejar Venus lalu menarik lengan Venus hingga lelaki itu terpaksa berhenti berjalan dan menoleh ke arahnya. Pandangan mereka beradu dan terkunci selama beberapa detik seperti sedang sama-sama menyelami ke dalaman otak dan hati masing-masing.
Venus menghela napas panjang. Dia memegang tangan Bulan lalu menurunkannya.
“Kita bicarain ini lain kali aja, ya. Sekarang aku cape,” ucap Venus.
“Kok jadi gini sih, Kak?” protes Bulan.
__ADS_1
“Kak, aku gak suka ya dengan sikap Kak Venus tadi. Kakak harus ingat, aku udah ngasih segalanya buat kakak. Jadi, aku berharap Kak Venus gak berniat ninggalin aku dan kembali lagi ke Kak Matahari.”
“Gak akan,” jawan Venus sekenanya.
Dia melanjutkan langkahnya menuju ke tempat parkir motornya. Namun, Bulan kembali menghalanginya.
“Gak akan apa, Kak?”
Mata Bulan berkaca-kaca. Demi apa pun juga dia sangat takut Venus akan meninggalkannya.
Venus tak menggubris perkataan gadis itu. Dia mengambil helm lalu memakainya, setelah itu Venus naik ke motor kesayangannya. Tanpa berkata apa pun lagi dia memberikan helm satunya lagi kepada Bulan.
Gadis itu terdiam sembari menatap Venus dengan ekspresi cemberut. Bulan mengambil helm dan memakainya lalu naik ke motor meski dengan suasana hati yang kesal. Dia memilih menurut dari pada ditinggalkan Venus.
Tak lama motor yang dikemudikan Venus pun melesat membelah jalan raya meninggalkan area sekolah mereka. Selama di perjalanan Venus terus memikirkan kedekatan Matahari dan Langit.
Faktanya meski dirinya sendiri yang menyudahi hubungan mereka, tetapi kenyataannya Venus cemburu melihat Matahari bisa semudah itu dekat dengan lelaki lain. Apa lagi lelaki itu adalah Langit.
Semakin dia mengingatnya, semakin kencang Venus menjalankan motornya.
“Kakak mau mampir dulu?” tanya Bulan.
Venus melepas helm lalu menyimpannya di motor. Dia melihat ke sekitar rumah sebelum menjawab pertanyaan Bulan.
“Aku mau langsung pulang,” jawab Venus.
Bulan diam sesaat. Dia masih terus menatap Venus dalam-dalam seperti ingin membaca isi pikiran lelaki itu. Bulan ingin benar-benar meyakinkan dirinya sendiri kalau Venus tidak akan mengkhianati kepercayaannya.
“Kak Venus, janji gak akan ninggalin aku kan?”
Venus diam sesaat sembari menatap Bulan dengan sorot yang sulit dimengerti. Entah kenapa? Tetapi mulutnya terasa kelu sehingga rasanya begitu sulit hanya untuk berjanji kepada gadis di hadapannya itu.
“Kak,” panggil Bulan.
“Iya.”
“Janji?”
“Hm,” gumam Venus.
“Katakan janji dulu baru aku percaya,” ucap Bulan.
“Janji.”
Bulan tersenyum lega setelah mendengarnya.
“Makasih, Kak.”
Satu kecupan singkat mendarat di pipi kanan Venus. Bulan menatap Venus dalam-dalam sembari mengulas senyum manisnya.
Dan tepat saat itu terjadi bersamaan dengan kedatangan Matahari yang baru saja pulang sekolah dijemput oleh sopir pribadinya. Matahari langsung turun dari mobilnya dan berjalan melewati Bulan dan Venus seperti tidak ada kejadian apa pun yang dilihatnya.
Namun begitu Matahari sudah sampai di samping Venus, langkahnya pun terhenti. Dia menoleh melihat mantan kekasihnya itu lalu tersenyum meremehkan.
__ADS_1
“Etikanya dipake. Ini tempat umum, gak seharusnya kalian berciuman di tempat terbuka seperti ini,” ucap Matahari tepat sasaran hingga membuat pasangan itu sama-sama merasa malu.