
Pada dasarnya sesuatu yang terjadi di dunia ini bukan hanya sekadar kebetulan semata, melainkan ada campur tangan takdir.
***
Pagi ini kabar tentang putusnya hubungan antara Venus dan Matahari membuat gempar seisi SMA Garuda. Banyak orang yang menyayangkan mereka putus, tetapi ada juga yang merasa senang dengan kabar ini salah satunya adalah Bulan.
Gadis itu menjadi pusat perhatian para siswa yang melihatnya datang ke sekolah bersama Venus. Sedikit dari mereka merasa iri, tetapi yang lainnya merasa jijik. Pasalnya satu sekolahan tahu kalau Matahari adalah pacar Venus. Dan hadirnya Bulan sudah bisa ditebak sebagai orang ketiga tang menyebabkan hubungan Matahari dan Venus kandas.
“Cantikan juga Matahari,” celetuk salah satu siswi ketika Bulan melewatinya dan teman-temannya.
“Ya jelas lah, cantik Matahari ke mana-mana. Udah gak perlu diragukan lagi itu mah,” sahut temannya sembari melirik Bulan dengan tatapan sinis.
“Yaelah, kalian kayak yang nggak tau aja, kan syarat jadi pelakor itu gak perlu cantik yang penting murah.”
Seketika itu telinga Bulan mendadak terasa panas. Rahangnya mengeras disertai dengan kedua tangan mengepal erat mencengkeram tali tasnya.
Bulan berbalik badan, menatap tiga siswi yang baru saja menyindirnya. Bulan ingin menghampiri mereka untuk menegurnya. Namun niatnya urung karena ditahan oleh Venus.
“Udah, jangan didengerin,” ucap Venus.
"Tapi mereka baru aja ngehina aku. Mereka ngebanding-bandingin aku sama Kak Matahari," adu Bulan sembari menatap Venus dengan tatapan sedih.
"Cuekin aja, nanti juga diem sendiri," ucap Venus lagi.
Dia menggenggam tangan Bulan lalu menariknya pergi dari sana. Venus mengantarkan Bulan sampai ke kelasnya karena dia takut ada orang yang mengganggunya.
“Makasih ya, Kak, udah anter aku sampai ke kelas,” ucap Bulan.
“Hm. Sana masuk,” sahut Venus. Tak lupa, lelaki itu mengusap puncak kepala Bulan dengan lembut.
Bulan tersenyum lalu mengangguk patuh. Venus belum beranjak sebelum memastikan pacar barunya itu masuk ke kelasnya dengan aman. Setelah itu barulah dia pergi dari sana menuju ke kelasnya.
__ADS_1
Venus berdiri di antara teman-temannya, bersama dengan seluruh siswa di lapangan sekolah yang terang benderang. Upacara bendera yang menjadi rutinitas setiap senin pagi menjadi momen paling menyebalkan bagi kebanyakan siswa, karena mau tidak mau mereka harus mendengarkan ceramah pemimpin upacara yang sangat panjang .
Saat semua orang sedang mendengarkan wejangan dari Pak Kepala Sekolah, lain hal dengan Venus. Hati lelaki itu tidak berada di tempat yang seharusnya.
Dengan seragam putih dan abu-abu yang rapi, Venus melihat sekelilingnya. Ekspresi suntuk dan rasa bosan menghiasi wajah-wajah teman-temannya. Venus mengalihkan pandangan, kini matanya tertuju pada dua sosok yang tak terduga, Matahari dan Langit, yang sedang berjalan berdampingan di koridor sekolah menuju ke UKS.
“Sunny?” gumam Venus.
Sesaat, Venus merasa jantungnya berdegup kencang. Matanya memandang mereka dengan penuh perhatian. Langit, cowok populer di sekolah dengan senyumnya yang menawan dan rambut cokelat yang keren, selalu menjadi pusat perhatian. Sedangkan Matahari, cewek cantik dengan rambut hitam panjang dan mata cokelat yang memikat, seringkali menjadi sorotan semua orang.
Venus tak bisa menahan rasa cemburu yang menyelimuti hatinya. Ia bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di antara Matahari dan Langit? Pikiran-pikiran cemburu terus menghantuinya.
Padahal perasaan tersebut seharusnya tak dirasakan oleh Venus sekarang. Pasalnya dirinya sendirilah yang sudah membuat keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Matahari.
"Kenapa mereka berdua tiba-tiba pergi ke UKS?" gumam Venus dalam hati, mencoba mencari jawaban yang logis. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada salah satu dari mereka?
Namun, semakin banyak Venus berpikir, semakin cemburu rasanya. Ia merasa seolah-olah ada ikatan khusus antara Matahari dan Langit yang mengabaikan keberadaannya.
Sebuah tepukan di bahunya membuyarkan lamunan Venus tentang Matahari. Dia mencoba menetralkan ekspresinya sebelum menoleh ke samping pada pelaku yang memanggilnya.
“Lo diliatin ade kelas terus, noh,” bisik Ferdi sembari menggerakkan kepalanya mengkode Venus.
Sebelah alis Venus menaik, dia memalingkan kepala ke arah yang ditunjuk oleh Ferdi. Benar saja, Venus mendapati Bulan sedang melihatnya. Gadis itu langsung memperlihatkan senyumnya kemudian dia kembali fokus bersama teman-temannya.
“Ve, jadi lo beneran udah putus sama Matahari?” tanya Ferdi dengan suara pelan karena takut terdengar oleh pengawas upacara.
“Hm.”
“Anjir, seriusan?” Ferdi langsung menutup mulutnya yang refleks berbicara dengan suara keras. Teman sekelas Venus itu celingukan ke kiri dan kanan memastikan situasi aman. Sesaat kemudian Ferdi kembali melihat Venus yang tengah serius mendengarkan ceramah kepala sekolah.
“Jadi kabar yang beredar pagi ini beneran, ya? Lo selingkuh sama cabe-cabean?”
__ADS_1
Seketika itu Venus langsung melotot tajam membuat nyali Ferdi seketika langsung menciut. Obrolan itu pun tak berlanjut. Selain karena Ferdi takut di hajar Venus, mereka juga harus membubarkan diri dan kembali ke kelas masing-masing karena upacara sudah selesai.
Sementara itu di UKS, Matahari sedang mengobati luka lecet di lengan Langit. Gadis itu melakukannya dengan begitu telaten, dan tentu saja semuanya tak lepas dari perhatian Langit yang sedari tadi berusaha menetralkan jantungnya yang terus berdegup kencang.
“Selesai.” Matahari menatap Langit dan tersenyum manis kepadanya.
Sebuah pemandangan yang begitu nyata indahnya bagi Langit. Ah, lagi-lagi Langit menggumamkan sebuah permohonan di dalam hatinya, berharap semua ini akan terus berlangsung selamanya. Bahwasanya dia akan terus melihat senyum manis yang terbit di bibir Mataharinya.
“Thanks,” ucap Langit. “Padahal lukanya gak serius, gak perlu diobatin kayak gini,” sambungnya lagi sembari melihat tangannya yang baru saja diobati oleh Matahari.
“Gak ada luka yang gak serius, sekecil apa pun luka itu tetap harus diobati.” Matahari berbicara sembari memasukkan obat pada kotak obat lalu menyimpannya kembali ke tempat semula.
“Luka itu kalau dibiarin gitu aja bisa jadi infeksi. Mungkin sepintas terlihat seperti sepele, tapi lo tau gak? Justru hal-hal yang sering kita anggap sepele itu lah malah jadi masalah serius nantinya,” ucap Matahari lagi.
Dalam diam Langit mendengarkan setiap kata yang dikatakan oleh Matahari. Menatap wajah gadis itu dalam-dalam, lalu dia tersenyum.
Menyadari sedang diperhatikan Matahari pun melihat ke arah Langit. Alisnya mengernyit dalam mendapati lelaki di hadapannya itu sedang senyum-senyum sendiri.
“Lo ngapain senyum-senyum gitu? Otak lo masih waras kan, Lang?”
Matahari mengulurkan tangannya hendak menyentuh dahi Langit, tetapi Lelaki itu segera memundurkan kepalanya. Langit mencekal lengan Matahari. Refleks pandangan keduanya saling beradu dan terkunci.
Jantung Langit berdegup kencang. Sadar akan kelakuannya, Langit langsung melepaskan tangan Matahari.
“Gue sehat, Sunny,” ucap Langit.
“Ya abis lo senyum-senyum gitu, gue pikir lo kesambet penunggu UKS.”
“Amit-amit. Pait pait pait,” ucap Langit sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
Matahari tertawa kecil. Sejenak dia lupa akan permasalahan hidupnya yang pelik. Bersama Langit, dia mendapat pengalaman baru. Apa lagi kalau bukan naik pagar sekolah yang tinggi demi terhindar dari bolos sekolah.
__ADS_1