
Matahari dan Venus tiba di tempat tujuan. Mereka berjalan beriringan memasuki kafe lalu memilih meja paling pojok dekat jendela yang sedikit jauh dari pengunjung lain.
"Kayaknya bentar lagi Papa sampe sini," ucap Venus. "Kamu mau pesan dulu?" tanyanya kemudian.
"Nanti aja," jawab Matahari.
"Aku udah kasih dokumen punya kamu ke Papa dan kami sempat membahasnya semalam," ucap Venus.
Matahari yang semula menatap layar ponselnya pun mendongak melihat ke arah sumber suara yang sedang berbicara dengannya.
"Papa bilang, Papa merasa ada yang janggal," ucap Venus lagi.
Kening Matahari mengerut, menatap Venus dengan serius. "Maksudnya ada yang janggal gimana, Kak?"
Belum sempat Venus menjawab, fokus Matahari teralihkan pada seseorang yang baru saja memasuki kafe. Matahari langsung melambaikan tangan, memberi tahu keberadaannya.
"Langit, sini," panggil Matahari.
Venus refleks menoleh ke arah yang dilihat Matahari. Sedetik kemudian dia kembali menatap Matahari.
"Kamu ngajak dia ke sini?" tanya Venus.
Matahari mengangguk mengiakan. "Nggak papa kan?" tanyanya kemudian.
"Ya nggak papa sih, itu hak kamu. Tapi aku nggak yakin nanti dia bakal tertarik sama apa yang akan kita bahas," ujar Venus.
Matahari tak menjawab perkataan Venus. Dia melihat Langit yang baru saja tiba di meja mereka.
"Duduk sini, Lang." Matahari menggeser kursi kosong tepat di sampingnya.
Tak banyak bicara, Langit pun langsung duduk di kursinya. Masih dalam mode diam Langit menatap Venus dengan tatapan datar hingga pandangan mereka beradu dan terkunci selama beberapa detik.
"Gue saranin, mending lo balik. Di sini juga lo nggak bakal ngerti apapun," ujar Venus.
Langit menoleh ke arah Matahari. "Emang kalian mau bahas apa?" tanyanya.
Matahari tersenyum tipis. "Kita mau bahas masalah perusahaan Papa aku, Lang."
__ADS_1
"Kamu masih ingat sama orang yang kemarin menemuiku di rumah sakit?"
Langit menganggukkan kepalanya.
"Om itu meminta aku buat tandatanganin dokumen semacam surat kuasa gitu. Nah karena itu aku minta tolong sama Kak Venus, karena kebetulan Pap—"
"Maaf Papa sedikit terlambat. Kalian belum lama menunggu kan?"
Perkataan Matahari terpotong oleh suara lelaki paruh baya yang baru saja tiba di meja mereka. Seketika itu pandangan tiga remaja tersebut mengarah ke arah sumber suara.
Venus dan Matahari tidak terkejut akan kehadiran Angkasa, tetapi lain dengan Langit. Lelaki itu seketika menegang melihat sosok paruh baya di hadapannya sekarang.
Matanya terpaku hingga pandangan mereka bertemu lalu terkunci selama beberapa detik sebelum akhirnya Angkasa yang lebih dulu memutuskan kontak mata mereka.
Seolah tidak mengenal Langit, Angkasa duduk di kursi kosong tepat di samping Venus dan di hadapan Langit.
Ruang atmosfir di ruangan itu seketika berubah menjadi tidak nyaman bagi Langit. Pertemuannya dengan Angkasa bukanlah hal yang dia inginkan.
"Nggak papa kok, Om. Kami juga baru dateng," ucap Matahari kepada Angkasa diiringi senyum ramah.
Angkasa pun memanggil pelayan untuk memesan minuman.
"Kalian pesan aja apapun yang kalian mau, nanti semuanya saya yang bayar," ujar Angkasa.
Venus dan Matahari mulai memesan, sementara itu Langit beranjak dari duduknya.
"Aku permisi ke toilet dulu," ucap Langit.
"Eh, kamu nggak mau mesen dulu?" tanya Matahari.
Sejenak Langit menatap Angkasa dengan ekspresi datarnya lalu kembali menatap Matahari. "Samain aja sama kamu, Ay," ujarnya kemudian.
"Oh, oke," sahut Matahari. Dia pun memesan minuman dan makanan yang sama dengannya untuk Langit.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka sudah tersaji di meja. Karena tidak mau membuang waktu lama-lama Angkasa pun mulai membuka percakapan serius dengan Matahari dan Venus.
"Matahari, sebelumnya Venus sudah memberi tahu Om tentang dokumen yang diberikan orang kepercayaan papa kamu di perusahaannya," ucap Angkasa.
__ADS_1
"Iya, Om. Jadi gimana menurut Om?" tanya Matahari.
Angkasa membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak lalu melihat Venus terlebih dulu sebelum dia mulai berbicara.
"Menurut Om, ada yang janggal dalam dokumen tersebut." Angkasa mengeluarkan dokumen milik Matahari lalu memperlihatkannya kepada gadis itu untuk dia jelaskan isinya.
"Kalau benar orang itu adalah orang kepercayaan papamu, seharusnya dia tidak perlu meminta tanda tangan kamu di sini," jelas Angkasa.
"Ya, memang sepintas tak ada yang salah dalam surat ini. Isi di dalamnya menjelaskan orang itu meminta persetujuan pewaris sah perusahaan untuk mengelola perusahaan sementara waktu. Namun anehnya, kenapa dia malah menyisipkan tanda tangan kamu pada lembar kosong. Bukankah ini patut dicurigai?" ujar Angkasa.
"Dengan kata lain, orang itu bisa saja menjebak kamu, Sunny. Dia akan menyalahgunakan tanda tangan kamu dan akan menyebabkan kerugian bagi perusahaan tentunya buat kamu dan papa kamu," jelas Venus kemudian.
Venus bisa berpendapat seperti ini karena sebelumnya dia sudah berdiskusi dengan papanya mengenai dokumen milik Matahari.
Matahari diam menatap ayah dan anak yang duduk di hadapannya. Gadis itu berusaha mencerna dengan baik setiap kata yang mereka katakan kepadanya.
"Jadi maksudnya Om Gio itu orang jahat? Tapi kenapa dia bisa dipercaya sama Papa?" tanya Matahari. OtakMatahari pun berputar mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Om sudah mengirim seseorang untuk masuk ke perusahaan Papa kamu, Matahari. Dan Om menemukan kecurangan terjadi di dalam sana. Seseorang melakukan korupsi hingga menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan," ujar Angkasa.
"Dan ... Om mendapatkan informasi sangat penting. Mungkin kamu akan terkejut mendengarnya," ucap Angkasa lagi.
"Apa itu, Om?" tanya Matahari.
Angkasa menghela napas panjang sebelum dia kembali berbicara.
"Dana perusahaan mengalir ke rekening atas nama Indira Larasati dan juga Algio Pratama. Ini bukti-bukti yang orang kepercayaan Om dapatkan. Kamu bisa melihatnya sendiri." Angkasa memberikan beberapa lembar kertas berisi laporan keuangan selama beberapa tahun di perusahaan Hadi.
Matahari mulai melihat dan membaca semuanya. Dia benar-benar terkejut akan fakta yang baru saja dia ketahui tentang ibu tirinya yang ada di balik penyebab perusahaan papanya mengalami krisis keuangan.
"Di sini lo rupanya. Bisa-bisanya selama ini lo sembunyi dan lari dari tanggungjawab." Langit terkejut ketika dia tak sengaja bertemu dengan orang yang selama ini selalu dia hindari ketika dia baru saja keluar dari toilet.
"Bawa dia!" titah lelaki paruh baya berbadan besar itu kepada anak buahnya yang selalu ikut ke manapun dia pergi.
Langit ingin menghindar dan kabur, namun orang-orang itu terlalu cepat menahan Langit hingga dia tidak bisa berkutik lagi.
Angkasa, Matahari dan Venus terlalu fokus pada pembahasan yang sedang mereka bicarakan hingga tak menyadari Langit tidak kembali lagi setelah beberapa saat lalu berpamitan ke toilet.
__ADS_1