
Lagi-lagi Matahari tersenyum miring. Dia menatap Venus dengan tatapan dingin. “Jadi, ini alasan lo mau putus?Karena dia?” tanyanya kepada Venus.
Matahari merasa benda tajam tak kasat mata sedang menyayat hatinya. Dadanya terasa sangat sesak hingga sulit untuk bernapas.
Dua laki-laki yang paling dia percayai di dunia ini telah mengkhianatinya secara bersamaan.
Tubuh Matahari mendadak lemas bagai tak bertulang. Dia hampir saja ambruk ke tanah, tetapi Langit dengan sigap menahannya agar tidak jatuh.
“Sunny.” Venus ingin meraih Matahari, tetapi niatnya didahului oleh Langit yang bergerak lebih cepat darinya.
“Lo gak papa?” tanya Langit sembari merangkul tubuh ramping Matahari.
Gadis itu mengangguk meski sebenarnya tak ada yang baik-baik saja dalam hidupnya sekarang.
“Kak, Kakak gak papa?” tanya Bulan sok polos.
“Jangan panggil gue kakak. Gue bukan kakak lo! Gue ... gak sudi punya adik kaya lo!” tegasnya sembari menatap Bulan tajam.
Pandangan Matahari pun kini beralih ke arah Indira yang berdiri tepat di samping Hadi. “Dan lo ... jangan ngaku-ngaku jadi mama gue. Lo itu hanya orang asing di sini. Mama gue hanya satu yaitu Mama Melati dan beliau sudah meninggal!” tegasnya lagi.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat mulus tepat di pipi kanan Matahari hingga gadis itu berpaling ke arah kiri. Gadis itu langsung menutup pipinya. Dia merasakan cairan hangat dan berbau amis di mulutnya.
“MATAHARI!” teriak Hadi. “Jaga bicaramu!”
Perlakuan Hadi baru saja sukses membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Mereka merasa iba kepada Matahari.
“Apa? Masih kurang? Pukul aja pukul. Matahari udah biasa diperlakukan kayak gini sama papa,” ucap Matahari menantang emosi Hadi.
__ADS_1
Hadi yang terpancing emosinya ingin menampar Matahari lagi. Namun kali ini niatnya tertahan. Langit mencengkeram lengan lelaki paruh baya itu dengan erat.
“Maaf, Om. Mungkin saya tidak sopan, saya juga gak tau permasalahan kalian, tapi saya tidak setuju adanya kekerasan,” ujar Langit sembari menatap Hadi tanpa rasa takut.
Hadi terdiam, dia menurunkan tangannya. Lelaki paruh baya itu menghela napas panjang, dia merasa sangat menyesal karena tidak bisa menahan emosinya.
Langit menoleh ke arah Matahari. Perasaannya terasa nyeri melihat gadis itu terluka. Sadar situasinya sudah tak kondusif, Langit yang masih ada di antara mereka langsung berniat untuk segera pergi dari sana. Dia merasa tidak enak kepada Matahari, takut gadis itu merasa malu karena dia mengetahui permasalahan keluarganya.
“Ikut gue!” Tak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi, Langit menarik lengan Matahari untuk ikut bersamanya.
Venus tak terima melihat Langit membawa Matahari pergi. Dia ingin menyusul mereka, tetapi Bulan segera menahannya. Gadis itu menarik lengannya lalu menggelengkan kepala tanda tidak mengizinkan Venus pergi menyusul Matahari.
Langit terpaku melihat Matahari yang tengah duduk di bangku taman sendirian. Gadis itu tertunduk sembari meremas jemarinya sendiri. Dia tak menangis, tetapi Langit yakin di dalam hati gadis itu sedang berteriak kesakitan.
Tak disangka, pertemuan tak disengaja sore tadi telah membawa Langit menyaksikan sisi gelap kehidupan pribadi Matahari. Sesuatu yang seharusnya tak dia ketahui, entah mengapa seolah takdir malah ingin memperlihatkan semua itu kepadanya.
Kedua tangan Langit refleks mengepal. Dadanya terasa sesak seolah merasakan sakit yang sedang Matahari rasakan. Dia menghela napas panjang sebelum melanjutkan langkahnya menghampiri Matahari sembari membawa kantung kresek berisi air mineral dan kompres yang dia beli dari apotek.
Langit menatap Matahari. Terdengar suara helaan napas keluar dari mulut lelaki itu ketika mendengar Matahari memintanya untuk pergi. Bukan tak mengerti akan perasaan gadis itu sekarang, hanya saja situasinya sangat tidak memungkinkan untuk meninggalkannya sendirian.
“Gue gak bisa pergi,” ucap Langit.
Matahari mendongak melihat lelaki yang sedang berdiri di hadapannya. Sorot matanya menyiratkan perasaan tak senang akan keputusan Langit. Bukannya pergi, Langit malah ikut duduk bersamanya.
“Langit, plis. Gue butuh waktu sendiri sekarang,” ucap Matahari.
Langit tak menggubris perkataan Matahari. Dia menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dia beli beberapa saat yang lalu kepada Matahari. “Sekarang udah malem, gak aman buat cewek di luar seperti ini sendirian,” katanya. Ada jeda selama beberapa detik hingga Langit kembali berkata, “Minum dulu supaya lo ngerasa sedikit lebih tenang.”
Matahari tak langsung menerima pemberian Langit. Gadis itu malah menatap Langit dengan sorot yang sulit dijelaskan. Tak menyerah, Langit kembali menyodorkan botol berisi air mineral itu hingga Matahari terpaksa menerimanya.
__ADS_1
“Makasih,” ucap Matahari lirih yang langsung dibalas anggukkan oleh Langit.
Hening, untuk beberapa saat tak ada percakapan tercipta di antara Langit dan Matahari. Keduanya hanya diam, bergelut dengan lamunan masing-masing. Embusan angin malam yang menerpa tubuh mereka membuat suasana semakin terasa dingin.
Suasana di taman kota saat ini sudah sepi dari lalu lalang orang-orang. Pantas saja, selain karena hujan melanda ibu kota sore tadi juga karena hari sudah semakin malam. Kebanyakan orang mungkin sudah tertidur pulas di rumah masing-masing.
Suara berdering diiringi getaran berasal dari ponsel berhasil menyita perhatian Matahari dan Langit. Membuyarkan lamunan keduanya.
Matahari melihat layar ponselnya yang menyala tanpa melakukan apa pun. Gadis itu membiarkan benda pipih di tangannya berhenti berdering dengan sendirinya.
“Kenapa gak diangkat?” tanya Langit.
“Males.”
“Bokap lo?”
“Hm.”
Belum sampai lima menit, ponsel Matahari kembali menyala. Namun, kali ini bukan Hadi pelakunya, melainkan Venus.
Jika sebelum ini Matahari akan merasa senang dan akan langsung menjawab panggilan dari Venus. Tak sabar ingin membagi cerita dengan lelaki itu, tetapi lain hal sekarang. Bahkan tangan Matahari terasa berat sekadar untuk menggeser icon berwarna hijau pada layar ponselnya itu.
Tak berselang lama, banyak notifikasi pesan masuk ke ponsel Matahari. Namun, gadis itu enggan untuk melihatnya. Dia langsung menonaktifkan benda pipih tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
Matahari butuh waktu untuk bisa berdamai dengan perasaannya sendiri terhadap Venus yang sudah mengkhianatinya.
“Maaf.” Matahari menoleh ke arah Langit begitu pun sebaliknya, Langit melihat Matahari sehingga pandangan mereka beradu dan terkunci selama beberapa detik. “Lo seharusnya gak melihat kejadian tadi,” ucap Matahari.
Ada jeda selama beberapa detik sebelum Matahari kembali melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
“Kalau lo mau sebarin semua ini ke temen-temen gue gak akan marah kok,” ucapnya kemudian.