
Matahari mulai merasa tidak tenang karena Langit masih belum kembali dari toilet padahal dia sudah pergi sejak satu jam yang lalu. Bahkan diskusinya dengan Angkasa, papanya Venus sudah selesai, tetapi Langit belum juga menampakkan batang hidungnya.
Matahari sudah menghubungi Langit, tetapi nomornya tidak bisa dihubungi. Bahkan pesan yang dikirim Matahari pun belum mendapatkan balasan. Jangankan dibalas, dibaca saja belum.
"Oh iya, Matahari, Om hampir saja lupa."
Ucapan Angkasa berhasil membuyarkan lamunan Matahari. Dia mendongak menatap pria paruh baya di hadapannya.
"Ada apa, Om?" tanyanya.
"Kamu dapat salam dari mamanya Venus. Kapan kamu mau main ke rumah? Katanya tantemu udah kangen banget sama kamu," ucap Angkasa.
Venus diam mendengarkan perkataan papanya kepada Matahari. Dia memerhatikan ekspresi gadis itu ketika papanya meminta untuk datang ke rumah.
"Eh, iya, Om. Sampein salam dari aku juga ke Tante Mery ya. Nanti kapan-kapan aku mampir," ucap Matahari.
Angkasa tersenyum mendengarnya lalu dia menoleh ke samping ke arah putranya. "Ve, ajakin Matahari main ke rumah dong. Udah lama kita nggak kumpul, kamu tau kan mamamu pengen ketemu sama calon mantunya," ujarnya kepada Venus.
"Eh?" Matahari mengejapkan matanya mendengar pernyataan Angkasa baru saja. Jujur saja dia merasa seketika atmosfer di sekitarnya menjadi tidak nyaman.
Sementara itu Venus hanya menyeringai sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia baru saja akan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun niatnya tertahan oleh perkataan Matahari.
"Maaf Om, tapi aku sama Kak Venus udah lama putus. Sekarang kami hanya berteman saja," ucap Matahari.
Perkataan itu sukses membuat hati Venus berdenyut sakit. Sebuah kenyataan yang selalu ingin dia tepis, namun Matahari malah mempertegas status barunya itu di hadapan Angkasa.
"Benarkah?"
Sebelumnya Angkasa memang sudah mendengar kabar tersebut dari putranya sendiri. Namun, karena melihat hari ini Venus dan Matahari masih nampak akrab membuat Angkasa berpikir bahwa mereka kembali berpacaran.
"Sekarang pacar aku bukan kak Venus lagi, tapi lelaki yang baru saja duduk bersama aku. Namanya Langit," aku Matahari.
Angkasa terdiam sejenak lalu dia menoleh ke arah Venus yang sedari tadi hanya diam. Dapat dia pastikan putranya itu sedang mati-matian berusaha menahan rasa sakit di hatinya serta cemburu karena gadis yang masih dicintainya itu telah memiliki kekasih baru.
Namun di sisi lain, lebih tepatnya jauh di lubuk hati terdalam Angkasa, dia merasa lega karena gadis manis nan baik hati itu tidak jatuh pada orang lain tetapi pada putranya yang lain. Setidaknya, Angkasa tidak akan kehilangan Matahari sebagai sosok calon menantunya.
__ADS_1
"Tapi di mana dia sekarang? Kenapa dia pamit ke toilet lama sekali?" tanya Angkasa.
"Kayaknya dia sadar diri, pembicaraan kita nggak bakal nyambung sama dia, makanya dia menghindar," ujar Venus.
Matahari melirik Venus sejenak. Dia merasa tidak senang dengan perkataan Venus baru saja. Matahari beranjak dari duduknya berniat untuk menyusul Langit ke toilet sekaligus memastikan bahwa kekasihnya itu baik-baik saja.
"Om, aku permisi ke toilet sebentar," pamit Matahari.
Venus mendengkus kesal selepas Matahari pergi. Hal tersebut tertangkap oleh penglihatan Angkasa. Dia tersenyum lantas meneguk minuman miliknya yang hanya tinggal sedikit. Setelah itu Angkasa menepuk bahu Venus.
"Gimana? Menyesal nggak udah nyia-nyiain gadis sebaik Matahari?" tanya Angkasa kepada Venus.
"Papa apaan, sih." Venus menggerutu kesal. "Kalo Papa pikir aku bakal diam aja, Papa salah. Aku pasti bakal rebut lagi Matahari dari anak itu," ujarnya kemudian.
"Matahari bukan barang yang bisa seenaknya kamu rebut, Ve," ucap Angkasa.
"Ve nggak pernah anggap Matahari seperti itu. Dia segalanya bagi kehidupan Ve," sahut Venus serius. Dia diam sejenak sembari menatap papanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Pa," panggil Venus.
"Ve ada satu permintaan. Apa Papa mau mengabulkannya?"
Kening Angkasa mengerut dalam, dia mencoba menebak arah percakapannya dengan Venus.
Di sisi lain, Matahari mencari Langit di sekitar toilet tetapi tidak bisa menemukan keberadaan Langit.
"Langit ke mana sih?" gerutunya pada dirinya sendiri. "Apa mungkin dia udah balik duluan? Tapi kenapa dia nggak pamit dulu sama aku?"
Matahari memutuskan kembali ke mejanya tanpa Langit. Dia mendapati Venus masih setia di sana sementara Angkasa sudah tidak terlihat keberadaannya.
"Om Angkasa ke mana, Kak?" tanya Matahari.
Venus mendongak menatap Matahari yang baru saja datang. "Papa kembali ke kantor, katanya ada meeting penting," jawabnya.
Dahi Venus mengernyit dalam ketika dia tidak melihat orang yang dicari Matahari. "Dia ninggalin kamu gitu aja?" tanyanya.
__ADS_1
Matahari mengerti siapa yang dibicarakan oleh Venus. "Mungkin dia punya urusan mendadak," jawabnya berusaha meluruskan.
"Sepenting apa pun urusan dia di luar sana, kalo dia cowok baik pasti bakal pamit dulu sama kamu."
Matahari terdiam, dia tidak mau menanggapi perkataan Venus. Meskipun yang dikatakan oleh Venus memang ada benarnya. Namun Matahari menepis pikiran buruk itu jauh-jauh. Dia percaya Langit tidak berniat buruk kepadanya.
***
"Matahari," panggil Dokter Kevin.
Matahari yang baru saja tiba di rumah sakit pun langsung menghampiri orang yang memanggilnya.
"Papa kamu sudah siuman," ucap Dokter Kevin.
Kedua bola mata Matahari berbinar seiring senyum manis terukir di kedua sudut bibirnya.
"Benarkah?" tanya Matahari.
Dokter Kevin mengangguk mengiakan. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju ruang rawat Hadi.
"Masuklah. Papamu sudah menunggu di dalam." Dokter Kevin membukakan pintu untuk Matahari lalu mempersilakan gadis itu segera menemui papanya.
Matahari diam sejenak sembari menatap sang dokter dengan keheranan, namun dokter itu langsung menganggukkan kepala seolah paham apa yang tengah dipikirkan Matahari.
"Pa," gumam Matahari.
Langkahnya terpaku sebentar menatap sosok paruh baya yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Hadi menoleh ke arah Matahari, dia tersenyum lantas memanggil gadis itu untuk mendekat.
Seolah terhipnotis, Matahari tak bisa menahan perasaannya ketika melihat senyum hangat di bibir Hadi terukir untuknya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Matahari langsung bergegas mendekati Hadi.
"Pa. Papa udah bangun. Gimana perasaan Papa sekarang? Apa masih sangat sakit?" ujar Matahari.
Tak ada kata yang terucap dari mulut Hadi. Lelaki paruh baya itu terdiam dengan tatapan yang sulit dijelaskan mengarah kepada Matahari.
Matahari pikir, Hadi masih membencinya. Papanya itu tidak senang dengan keberadaannya di sini dan akan mengusirnya. Namun, dia salah.
__ADS_1
"Maafkan Papa, Nak."