Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 8


__ADS_3

Matahari langsung diam. Suaranya tercekat di kerongkongan sehingga dia tidak bisa berkata-kata. Jantungnya terasa sangat sesak. Bukannya mendapat respons baik dari Venus yang sangat dia rindukan, malah rasa sakit yang dia dapatkan.


“Kenapa Kak Venus bicara seperti itu? Aku ada salah ya sama Kakak?” tanya Matahari lirih. Sekuat tenaga gadis itu berusaha untuk tidak menangis meskipun hatinya sudah terasa sangat sesak dan matanya mulai memanas.


Terdengar suara helaan napas dari seberang sana. Matahari tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Venus tentangnya saat ini.


‘Kamu di mana sekarang?’


Daripada menjawab pertanyaan Matahari, Venus malah mengalihkan pembicaraan.


“Di rumah,” jawab Matahari sembari menggigit bibir bawahnya. “Kakak ada waktu sekarang? Aku mau ketemu,” ucapnya kemudian.


‘Hm. Sebentar lagi aku jemput kamu di rumah.’


“Kak,” panggil Matahari. “Di rumah sekarang ada Papa. Kak Venus tunggu aku di depan gang saja ya?”


Hening sesaat, Venus tak langsung menjawab perkataan Matahari.


‘Oke,’ ucap Venus kemudian.


Tak lama setelah itu panggilan suara pun berakhir. Matahari beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap ingin bertemu dengan Venus.


Tak butuh waktu lama bagi Matahari untuk bersiap. Setelah memastikan penampilannya sudah rapi gadis itu pun keluar dari kamarnya.


“Mau ke mana lagi kamu, Matahari?” tanya Hadi.


Langkah Matahari terhenti, gadis itu melihat ke arah Hadi yang masih di ruang keluarga bersama istrinya.


“Aku mau ke mana itu bukan urusan Papa,” jawab Matahari datar.


“Matahari!” pekik Hadi. Pria itu merasa geram atas kelakuan Matahari yang tidak menghormatinya sebagai orang tua.

__ADS_1


Matahari tak menggubris teriakan Hadi. Gadis itu meneruskan langkahnya menuju keluar rumah, tak peduli walau papanya itu tengah murka kepadanya.


“Kak Venus,” panggil Matahari.


Gadis itu berlari kecil menghampiri Venus yang sedang berdiri di samping mobilnya sembari memainkan ponselnya. Tanpa rasa sungkan Matahari langsung berhambur memeluk Venus, melepas rasa rindu kepada kekasihnya itu.


“Aku kangen Kak Venus,” ucap Matahari sembari mengeratkan pelukannya hingga dirinya bisa mencium wangi aroma parfum yang dipakai oleh Venus.


Gadis itu terdiam sesaat, dia menyadari Venus tak membalas memeluknya. Namun, Matahari mencoba untuk tidak mempermasalahkannya karena saat ini dia sangat senang bisa bertemu dengan Venus lagi.


“Aku senang akhirnya Kakak punya waktu ketemu sama aku,” ucap Matahari.


Venus mencengkeram kedua pundak Matahari lalu menjauhkan gadis itu dari tubuhnya. “Jangan lebai. Kita bisa bertemu setiap hari di sekolah,” ucapnya datar.


Matahari menatap Venus, dia merasa tak habis pikir dengan sikap kekasihnya sekarang. Matahari benar-benar sudah tidak mengenalinya lagi. Matahari telah kehilangan Venus yang dulu dan sekarang dia sangat merindukannya.


Tanpa memedulikan perasaan Matahari, Venus berjalan setengah memutari mobil bagian depan lalu masuk di kursi kemudi. Sementara itu Matahari masih bergeming di tempatnya, memerhatikan sikap Venus yang teramat dingin tak tersentuh olehnya.


“Ah, ya.”


Matahari tersadar dari lamunannya, dia langsung membuka pintu mobil bagian depan lalu segera masuk. Dalam diam sembari memasang sabuk pengaman Matahari terus memerhatikan Venus yang bersikap dingin kepadanya.


Hingga mobil yang dikendarai Venus itu melaju, suasana masih hening. Tak ada yang membuka suara baik itu Matahari atau pun Venus.


“Kita mau ke mana Kak?” Akhirnya Matahari memberanikan diri membuka percakapan dengan Venus.


“Terserah,” jawab Venus singkat.


“Ke toko buku saja gimana? Aku mau beli buku baru soalnya.” Meski respons Venus tidak sehangat seperti yang diharapkan Matahari, tetapi dia tetap berusaha untuk mencairkan suasana.


“Oke.”

__ADS_1


Matahari menatap Venus yang sedang fokus mengemudi. Dia ingin bercerita tentang banyak hal kepada kekasihnya itu tetapi sikap Venus malah dingin dan cuek. Bahkan Matahari mulai merasa bingung harus berbicara apa lagi dengan Venus.


“Kak,”


“Sunny.”


Matahari dan Venus berbicara secara berbarengan sehingga membuat keduanya langsung diam saling menunggu satu sama lain untuk berbicara lebih dulu.


“Kamu mau ngomong apa?” tanya Venus.


“Enggak ada, Kakak duluan saja. Tadi mau ngomong apa?” sahut Matahari. Dia masih mempertahankan senyum dan keceriaan di wajahnya meskipun pada kenyataannya saat ini hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja.


Venus tak langsung menjawab. Dia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu di tengah-tengah fokus mengemudi mobil.


“Kak?” panggil Matahari.


Venus menoleh menatap Matahari sekilas karena dia harus kembali melihat ke depan. Tiba-tiba saja Venus menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi.


“Loh, kenapa berhenti di sini Kak?” tanya Matahari, merasa heran.


Masih tak menjawab, Venus mematikan mesin mobilnya kemudian menyandarkan punggungnya pada penyangga kursi lalu memejamkan matanya.


Matahari merasa heran dengan sikap Venus ini. Dia masih menatap Venus, menunggu kekasihnya itu mengatakan sesuatu yang hendak dibicarakan.


“Ada apa? Apa ada hal buruk terjadi sama Kakak akhir-akhir ini?” tanya Matahari.


Venus membuka mata lalu membenarkan posisi duduknya. Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya menatap Matahari yang juga sedang menatapnya.


“Sunny.”


“Ya?”

__ADS_1


“Aku mau kita putus.”


__ADS_2