
“Kalo lo ada di sini, terus Jasmin pulang sama siapa?” Matahari menatap Langit serius. “Langit, anjir Lo tega banget ngebiarin sahabat gue pulang sendirian,” gerutunya, kesal.
“Gue nyuruh Dimas nganterin Jasmin pake motor gue,” jawab Langit datar.
“Kok malah nyuruh Dimas, sih. Jasmin kan maunya lo yang anterin dia.”
Langit tak menjawab, dia malah mengendikkan kedua bahunya tak acuh.
“Lo sendiri kenapa bohongin gue?”
Matahari mendongak, menatap Langit dengan sebelah alis menaik. “Bohong apaan dah?”
“Katanya dijemput sopir lo. Di mana dia sekarang?” ujar Langit sembari mengedarkan pandangannya hingga berakhir di satu titik yaitu Matahari.
“Eh, itu ....”
“Coba kalo tadi gue jadi anterin Jasmin balik, lo di sini bakal sendirian. Lo gak takut?”
Langit sengaja memotong perkataan Matahari yang hendak beralasan atas kebohongannya yang disadari Langit.
Matahari diam sembari menggigit bibir bawahnya. Benar yang dikatakan Langit, andai lelaki itu jadi pergi dengan Jasmin, dia akan sendirian di halte bus itu. Dan sudah pasti Matahari ketakutan.
“Gue gak takut. Gue berani kok di sini sendirian,” ucap Matahari bersamaan dengan kilat dan suara petir yang menggema.
Matahari yang terkejut sekaligus takut pun refleks langsung memeluk Langit, menyembunyikan wajahnya pada dada bidang lelaki itu sembari memejamkan mata erat-erat.
Langit menunduk lantas tersenyum sangat tipis. Sudah dia duga sebelumnya, Matahari pasti akan ketakutan terjebak hujan sendirian.
“Katanya berani,” ucap Langit, meledek Matahari.
Tersadar akan kelakuannya sendiri yang refleks memeluk Langit, Matahari langsung menjauhkan tubuhnya dari lelaki di hadapannya itu dengan bibir memberengut kesal.
“Gue kaget anjir,” ucap Matahari ketus.
Lagi-lagi Langit mengulas senyum yang sangat tipis.
“Mau peluk lagi gak? Sini gue peluk.” Langit merentangkan tangannya hendak memeluk Matahari, namun gadis itu segera menghindar dan menepisnya.
“Apaan sih, Langit. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan,” ujar Matahari ketus.
Sontak saja Langit terkekeh geli melihat ekspresi Matahari yang sangat menggemaskan di matanya.
__ADS_1
Dan, petir itu kembali menggema sekali lagi. Saking kaget bercampur takut Matahari kembali memeluk Langit dan bersembunyi di dada bidangnya.
“Gue takut, Langit,” lirihnya.
“Gue tau. Makanya gue ada di sini sekarang,” ucap Langit.
Dia mendekap Matahari, memberikan perlindungan serta rasa nyaman untuk gadis itu.
“Tenang aja, gue nggak akan ngebiarin lo melewati semua ini sendirian, Matahari,” ucap Langit lagi.
Setelahnya tak ada percakapan lagi. Keduanya sama-sama diam hingga suasana menjadi hening. Hanya suara hujan deras bersamaan dengan angin yang terdengar jelas saat ini.
Hingga Matahari mulai merasa lebih tenang dari sebelumnya. Gadis itu tersadar akan yang dia lakukan sekarang. Refleks gadis itu mendorong Langit dan menjauh darinya.
“Ini salah. Ini gak seharusnya terjadi,” gumam Matahari dalam hati.
“Sorry, Langit. Gue—“
“Gue gak keberatan. Gue dengan suka rela siap ada buat lo kapan pun lo butuh gue,” ucap Langit memotong perkataan Matahari.
Sepasang netra itu saling bertubrukan lantas terkunci cukup lama dengan pikiran berputar di otak masing-masing. Keduanya seolah saling mencari sesuatu di dalam benak masing-masing, walaupun pada akhirnya baik Langit ataupun Matahari tak mendapatkan apa pun.
Akhirnya dia punya keberanian nyata untuk mengungkapkan perasaannya secara jelas kepada Matahari. Langit ingin gadis itu menjadi kekasihnya dan dia akan senantiasa menjaganya selamanya.
Mendengar hal tersebut membuat Matahari refleks menggelengkan kepalanya.
“Nggak, Langit. Lo gak boleh suka sama gue,” ucap Matahari.
Sebelah alis Langit menaik menatap Matahari serius. “Kenapa?”
“Lo gak akan bahagia sama gue.”
Matahari berucap dengan nada bergetar. Pendar matanya sendu dan mulai berkaca-kaca menatap Langit dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
“Kita temenan aja ya. Seperti yang pernah gue bilang, gue bakal terus pura-pura seakan lo gak pernah mengatakan ini ke gue,” ucap Matahari.
Diraihnya tangan Langit yang terasa dingin, dia menggenggam lalu mengusapnya lembut.
“Coba buka hati lo buat cewek lain ya, Lang,” ucap Matahari lembut.
Langit menggelengkan kepalanya. “Gue gak bisa. Cinta gue udah habis di lo, Matahari,” ucapnya. “Asal lo tau, gue udah pernah coba tapi gak berhasil. Pada akhirnya gue tetep mau lo, Matahari.”
__ADS_1
Matahari menghela napas panjang. Mulutnya tercekat, tak bisa berkata-kata. Matahari menyadari seseorang mencintainya dengan sangat hebat, tapi dia tak bisa menyambutnya karena sesuatu hal.
Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain, melihat Langit yang masih belum berhenti menurunkan air dengan derasnya. Tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti dalam waktu dekat. Bahkan hari sudah semakin sore.
“Lo masih ada perasaan sama Venus?” tanya Langit tiba-tiba.
Matahari mengalihkan pandangan dari hujan ke arah Langit lagi.
“Dia punya tempat tersendiri di hati gue,” jawab Matahari.
“Kalian balikan?” tanya Langit lagi.
Matahari menggelengkan kepalanya.
“Terus kenapa Lo nolak gue?”
“Gue udah pernah bilang kan, gue gak nolak lo. Gue Cuma mau kita temenan aja, seenggaknya dengan begitu hubungan di antara kita bisa langgeng. Gak akan ada perasaan bosen yang bikin kita jauh, lalu putus dan berakhir seperti orang asing yang tak saling mengenal.”
Kali ini Langit yang meraih tangan Matahari, menggenggamnya dengan lembut dengan pandangan terus menatap Matahari dalam-dalam.
“Kasih tau gue, gimana caranya supaya lo bisa suka sama gue? Gue bakal ngelakuin apa pun agar lo mau kasih kesempatan buat gue,” ucapnya serius.
Hati Matahari berdenyut ngilu. Bukan. Bukan dia tak memiliki perasaan apa pun kepada Langit.
Matahari bahkan sudah menyadari bahwa lelaki di hadapannya itu memiliki perasaan kepadanya sejak lama. Namun selama ini dia diam dan berpura-pura tidak tahu apa pun.
Selain saat ini Matahari masih berstatus pacar Venus, dia juga tahu sahabatnya menyukai Langit.
Dan hal yang menjadi pertimbangan besar Matahari tak menerima Langit ialah penyakitnya. Matahari takut dirinya tak bisa sembuh.
“Lang, gue—“
“Plis, Matahari. Kasih gue satu kali kesempatan buat buktiin kalo gue benar-benar cinta sama lo,” ucap Langit memotong perkataan Matahari.
Langit menarik Matahari ke dalam dekapannya hingga gadis itu terkejut.
“tiga bulan.”
Matahari yang tak membalas dan tak menerima pelukan Langit mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Langit.
“Kasih gue waktu tiga bulan jadi pacar lo. Setelah itu terserah, lo mau terus berjuang sama gue atau berhenti, gue gak akan maksa lagi,” jelas Langit.
__ADS_1