
Langkah Matahari terhenti sesaat, tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang ada Venus yang sedang berjalan ke arahnya. Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk meneruskan langkahnya.
Pandangan gadis itu lurus, berpura-pura tak melihat adanya Venus yang akan berpapasan dengannya.
Begitu jarak di antara mereka sudah sangat dekat, Venus mengangkat tangannya berniat menyapa Matahari, tetapi gadis itu melewatinya begitu saja.
“Langit!” teriak Matahari menyerukan nama teman sekelasnya sembari berlari kecil menghampirinya.
Venus terpaku menatap punggung Matahari yang mulai menjauh menghampiri lelaki yang dia kenali. Kedua tangannya refleks mengepal bersamaan dengan pandangannya beradu dengan netra Langit.
Pandangan mereka terkunci selama beberapa detik hingga salah satu dari mereka memutusnya dengan melihat ke arah lain.
“Mau ke kelas?” tanya Matahari kepada Langit yang langsung dibalas anggukkan oleh lelaki itu.
“Yuk,” ucap Matahari mengajak Langit pergi ke kelas bersamanya.
Langit kembali melihat ke arah Venus sesaat sebelum dia memutuskan pergi bersama Matahari.
“Kenapa sekarang kita jadi seperti orang asing yang tak saling kenal, Sunny?” gumam Venus. “Gue kangen sama lo. Gue mau kita kaya dulu lagi,” gumamnya lagi.
Venus menghela napas kasar. Dia merasakan sesak di dadanya.
Benar kata orang, penyesalan itu selalu datang di akhir dan sangat menyesakkan.
“Kenapa lo gak balas chat gue?” tanya Matahari.
Langit menoleh ke arah gadis yang mengajaknya berbicara. Mereka berjalan beriringan, menciptakan kehebohan di sekelilingnya karena banyak yang kagum sekaligus iri dengan kedekatan mereka.
“Sorry.” Hanya satu kata tersebut yang keluar dari mulut Langit.
Tak seperti biasanya, pagi ini sikap Langit sangat berbeda. Dia lebih banyak diam dengan sorot mata yang sulit untuk ditebak. Entah itu hanya perasaan Matahari saja atau memang sedang ada sesuatu pada Langit.
Hening, setelahnya tak ada percakapan di antara Matahari dan Langit. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing masih berjalan beriringan menuju kelas mereka.
“Thanks ya, Lang,” ucap Matahari beberapa saat kemudian.
“Untuk?”
Langit menoleh ke arah Matahari hingga netra mereka terkunci selama beberapa detik.
__ADS_1
“Untuk kesekian kalinya lo udah nyelamatin gue,” ucap Matahari. “Gue tau semuanya dari Simbok,” sambungnya lagi.
Matahari menatap Langit dan menangkap seulas senyum tipis nan manis di bibir lelaki itu.
“Lo tau gue masuk rumah sakit tapi kenapa gak jenguk gue?” tanya Matahari.
“Gue liat lo lagi sama Venus, jadi gue balik lagi,” jelas Langit.
“Hah? Kenapa balik lagi?” tanya Matahari.
“Takut ganggu.”
Hening, Matahari terdiam sembari menatap Langit dalam-dalam. Sedetik kemudian kedua sudut bibir gadis itu tertarik ke atas mengulas sebuah senyum manis.
“Lo cemburu, ya? Hayo ngaku,” ucap Matahari menggoda Langit.
“Gak.”
Langit mempercepat langkahnya tak ingin Matahari melihat wajahnya yang memerah. Tak ingin membiarkan begitu saja, Matahari berlari mengejarnya dengan tawa kecil terdengar ceria.
“Gue gak percaya. Lo itu cemburu, Langit,” ucap Matahari lagi, tak ingin berhenti menggoda Langit.
Matahari tertawa hingga pemandangan itu menarik perhatian Langit dan orang-orang di sekitarnya. Bahkan tawa tersebut menular kepada Langit hingga dia tak bisa untuk tidak tersenyum.
Dan semua itu juga dilihat oleh Venus dan Bulan yang baru saja tiba di sekolah, juga Jasmin yang baru saja kembali dari toilet ingin ke kelasnya.
***
“Sunny, gue boleh nanya sesuatu?” tanya Jasmin.
“Apaan?”
Jasmin terdiam sesaat sembari melihat Matahari yang sedang memasukkan buku ke dalam tasnya.
“Lo sama Langit ada hubungan apa? Kalian deket aja atau udah jadian?” tanya Jasmin dengan sangat hati-hati.
Gerakan tangan Matahari yang sedang memasukkan bukunya ke tas pun terhenti sesaat mendengar pertanyaan tersebut. Dia tak langsung menjawab, begitu semua buku sudah selesai dimasukkan ke tas, barulah Matahari menatap Jasmin dengan sorot yang sulit dijelaskan.
Jam pelajaran sudah berakhir dan semua murid di kelas itu sudah bubar menyisakan Jasmin dan Matahari.
__ADS_1
“Gue sama Langit temenan doang,” sahut Matahari.
“Serius? Tapi gue lihat kalian akrab banget,” ujar Jasmin.
Matahari diam sembari menatap Jasmin seperti ada sesuatu hal yang ingin dia katakan tetapi tertahan.
“Serius, Jasmin. Gue sama Langit cuma temenan,” jawab Matahari.
“Kenapa? Lo cemburu Langit deket sama gue?” tanya Matahari kemudian. Sedetik kemudian gadis itu mengulas senyum manis. “Lo tenang aja, gue gak bakal rebut Langit dari lo.”
“Eh?” Jasmin terkejut mendengar pernyataan Matahari baru saja yang seolah-olah tahu bahwa dirinya menyimpan perasaan kepada Langit.
Matahari terkekeh pelan melihat ekspresi kaget Jasmin.
“Gak usah kaget gitu. Gue tau kok kalo lo diam-diam suka sama si Langit,” ucap Matahari.
“Hah?” Lagi-lagi Jasmin terkejut dengan pernyataan Matahari. “Dari mana tau gue—“
“Kita udah sahabatan dari jaman SD, ya pasti gue tau lah gerakan tubuh lo setiap dekat sama Langit.”
“Gimana? Masih gak mau ngaku?” tanya Matahari.
Jasmin menghela napas panjang. Dia pikir selama ini sudah benar-benar menyembunyikan perasaannya kepada Langit hingga orang-orang tak mengetahuinya. Namun ternyata Matahari berbeda, sahabatnya yang satu ini ternyata dengan mudah bisa menyadarinya.
“Iya, Sunny. Gue udah lama suka sama Langit,” aku Jasmin.
Dan entah kenapa? Dada Matahari mendadak sesak, hatinya terasa berdenyut sakit mendengar pengakuan Jasmin baru saja.
“Bantuin gue jadian sama Langit dong, Sunny. Lo kan sekarang lagi deket sama dia, ya,” ucap Jasmin penuh permohonan. Dia berharap Matahari mau membantunya mendapatkan Langit.
“Dih, kok gue?”
“Kan lo sahabat gue. Mau ya, bantuin gue deket sama Langit. Masa lo tega biarin sahabat lo jadi jomblo selamanya.”
Jasmin merengek sembari menggoyangkan lengan Matahari.
“Iya, iya. Gue bakal bantuin lo,” sahut Matahari.
Matahari tersenyum manis, lalu tiba-tiba saja Jasmin memeluknya erat.
__ADS_1
“Makasih ya, Sunny. Gue sayang lo banyak-banyak,” ucap Jasmin ceria.