Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 40


__ADS_3

Jasmin terpaku melihat pemandangan yang membuat dadanya mendadak sesak. Niat hati ingin mengejar Langit, namun dia malah melihat lelaki itu sedang memeluk gadis lain.


Hatinya berdenyut ngilu. Perlahan cairan bening menembus pertahanannya bersamaan dengan air hujan yang sedari tadi sudah membasahi seluruh tubuhnya.


Mulutnya mendadak kelu, kakinya pun sulit digerakkan. Seketika itu pikiran Jasmin kosong, dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.


“Lo gila ya? Malah sengaja ujan-ujanan gini kaya bocil tau gak,” ucap Dimas kepada Jasmin.


Gadis itu tetap diam mematung tak berbicara sepatah kata pun. Pandangannya terpaku pada satu objek yang ada di seberang sana.


Penasaran, Dimas pun mengikuti arah pandangan Jasmin. Dia menyadari gadis itu sedang memerhatikan Langit dan Matahari.


Mengerti akan situasi yang terjadi, Dimas pun membawa Jasmin pergi dari sana.


***


“Nih, minum dulu.”


Dimas memberikan segelas teh hangat kepada Jasmin yang menggigil karena kehujanan. Sebelumnya gadis itu sudah mengganti seragamnya dengan pakaian yang dipinjamkan Dimas.


Karena tak tahu rumah Jasmin dan gadis itu pun tidak mau berbicara, jadi Dimas terpaksa membawa Jasmin ke apartemennya.


Masih tak mau berbicara, gadis itu menerima teh yang baru saja dibuat oleh Dimas. Jasmin meniup teh tersebut lalu meminumnya sedikit demi sedikit.


Dimas duduk di sofa berseberangan dengan Jasmin, menatap gadis itu dalam diam.. Wajah gadis itu terlihat sembab, Dimas yakin dia menangis sepanjang jalan tadi.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa lo nangis lihat Langit dan Matahari?” tanya Dimas.

__ADS_1


Jasmin mendongak menatap Dimas. Mulutnya masih terasa kelu, enggan berbicara. Namun pendar matanya kembali berkilat bagaikan kaca, siap menumpahkan air yang menggenang di pelupuk matanya.


“Lo suka sama Langit? Lo cemburu melihat Langit sama Matahari?” tebak Dimas.


Bukannya menjawab, Jasmin malah menangis. Bahkan suara tangisnya sangat keras hingga membuat Dimas kebingungan dan salah tingkah.


“Kok malah nangis? Gue salah ngomong ya? Sorry, Jasmin. Udah ya, lo jangan nangis lagi,” ucap Dimas.


Demi apa pun yang ada di dunia ini, Dimas baru pertama kali menghadapi perempuan menangis. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Jasmin supaya berhenti menangis.


Dimas beranjak dari duduknya berpindah ke sebelah Jasmin. Dengan ragu-ragu Dimas mengusap pundak Jasmin yang masih menangis tanpa berbicara apa pun kepadanya.


“Emang gue gak cantik ya, Dim?” tanya Jasmin tiba-tiba dengan suara serak. Air matanya masih meleleh membanjiri wajahnya.


Menggaruk kepalanya yang tak gatal, Dimas tak mengerti mengapa Jasmin bertanya seperti itu kepadanya.


“Lo ... lumayan cantik kok,” jawab Dimas jujur.


Dimas mengangguk.


“Berarti gue gak jelek-jelek banget kan, ya? Gue masih pantes kan kalo jadi pacarnya Langit?”


Diam diam sejenak sembari menatap Jasmin dalam-dalam. Dia paham sekarang yang menjadi alasan gadis di sampingnya ini menangis.


“Menurut gue kalian cukup serasi jadi pasangan,” jawab Dimas jujur.


“Tapi kenapa sahabat lo itu gak suka sama gue? Dia selalu nolak gue jadi pacarnya,” ucap Jasmin dengan penuh emosi.

__ADS_1


“Hah? Lo nembak si Langit?”


Jasmin mengangguk seraya mengusap ingusnya yang meleleh keluar dari hidungnya.


“Tapi dia nolak gue,” ucap Jasmin.


Bukan pertama kalinya Jasmin mengungkapkan perasaannya kepada Langit. Sudah terhitung tiga kali dan dia terus mendapat penolakan.


Alasannya selalu sama. Ada seseorang yang sudah terpatri kuat di relung hati Langit dan takkan tergantikan oleh siapa pun.


Dan Jasmin baru benar-benar menyadarinya, gadis yang dimaksud Langit adalah Matahari, sahabatnya sendiri.


“Elah, si Langit ditangisin. Masih banyak cowok di dunia ini, ngapain lo nyiksa diri sendiri maksain orang yang gak suka sama lo,” ucap Dimas.


Sahabat Langit yang satu ini kalau berbicara akan mengatakan sesuatu isi pikirannya tanpa difilter terlebih dulu. Kadang menyebalkan, tapi kadang juga yang dia katakan memang ada benarnya.


Jasmin mencebukkan bibirnya, menatap Dimas dengan tatapan kesal.


“Kok lo nyebelin sih. Bukannya nenangin gue malah bikin suasana hati gue tambah kacau,” ujar Jasmin ketus sembari memukul dad4 Dimas.


“Loh? Gue Cuma ngomong apa adanya kok,” sahut Dimas.


“Keliatan banget jadinya, lo pasti belum pernah jatuh cinta sama seseorang. Makanya lo gak ngerti apa yang gue rasain sekarang,” ujar Jasmin masih bernada ketus. Dia kembali mengusap ingus di hidungnya.


Dimas berdecak, ekspresinya seketika berubah menjadi dingin dan datar. Enggan membalas perkataan Jasmin baru saja.


Jasmin kembali menangis. Tak peduli walau mungkin setelah ini dia akan merasa malu oleh Dimas.

__ADS_1


“Lupain Langit. Mending lo cari cowok lain aja,” ucap Dimas dengan nada dingin.


“Sekeras apa pun usaha lo dapetin dia, itu akan sia-sia karena di hati Langit hanya ada Matahari.”


__ADS_2