Peluk Aku

Peluk Aku
Bab 35


__ADS_3

“Lo yakin mau balik ke rumah lo? Gak mau ke rumah gue dulu aja gitu? Takutnya nanti si lampir sama emaknya nyakitin lo lagi,” ucap Jasmin.


Jasmin menemani Matahari beres-beres karena hari ini Matahari sudah boleh pulang dari rumah sakit.


“Gue gak papa. Gue masih sanggup ngadepin mereka. Lagian kalo gue gak di rumah, gue khawatir sama Papa,” ucap Matahari.


“Elah, bokap lo udah gede kali, bisa jaga dirinya sendiri. Lagian selama ini bokap lo juga gak pernah peduli sama lo,” sahut Jasmin.


Matahari menghela napas panjang. Tak ada yang salah dengan perkataan Jasmin, namun tetap saja Matahari tidak bisa bersikap tak acuh pada keselamatan papanya dari kelicikan Indira.


“Anggap aja semua ini bentuk bakti terakhir gue buat Papa,” ucap Matahari sembari mengulas senyum manis meyakinkan Jasmin bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja.


“Sudah mau pulang, ya?”


Seketika itu Matahari dan Jasmin langsung melihat ke arah sumber suara. Dokter Kevin berjalan mendekati Matahari dengan senyum manis terukir di wajahnya.


“Hem,” gumam Matahari sembari mengulas senyum tipis nan manis. “Makasih ya, Dok, udah rawat aku sampe sembuh,” ucapnya kemudian.


“Itu sudah tugas saya, Matahari,” jawab Sang Dokter. “Jangan lupa minum obatnya teratur dan cukup istirahat,” sambungnya lagi.


Matahari mengangguk lalu gadis itu berpamitan kepada Dokter Kevin. Dia pulang bersama dengan Jasmin.


“Sunny, lo kaya akrab banget sama dokter ganteng tadi?” tanya Jasmin.


“Maksud lo, Dokter Kevin?”


Jasmin mengangguk. “Iya. Interaksi kalian kaya bukan sebagai dokter ke pasien. Apa cuma perasaan gue aja, ya?”


“Perasaan lo aja kali,” ucap Matahari.

__ADS_1


Dia tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya tentang Dokter Kevin yang merupakan dokter yang menangani penyakitnya.


Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di rumah Matahari. Jasmin turun dari mobilnya membantu Matahari hingga sahabatnya itu masuk ke kamarnya.


Saat mereka melewati ruang tengah, mereka melihat Indira dan Bulan ada di sana sedang bersantai. Ibu dan anak itu melihat kedatangan Matahari dengan tatapan tidak suka. Namun Matahari tak menghiraukannya.


“Sunny, are you oke?” tanya Jasmin sekali lagi. Dia benar-benar ingin memastikan sahabatnya itu baik-baik saja.


Matahari mengangguk lantas mengulas senyum manis. “Gue baik-baik aja, Jasmin,” katanya.


Jasmin menghela napas panjang lalu melihat ke sekeliling kamar Matahari. Rasanya dia enggan meninggalkan sahabatnya itu sendirian. Namun sekarang dia harus segera pulang karena orang tuanya sudah menunggu di rumah.


“Sebenernya gue mau nemenin lo, tapi ortu gue udah nunggu di rumah,” ucap Jasmin, sedih.


“Udah gak papa, lo pulang aja. Gue janji kejadian kaya kemarin gak akan terulang,” ucap Matahari sembari mengulas senyum yang meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.


“Ya udah, gue balik dulu. Nanti kalo butuh sesuatu lo kabarin gue aja,” ucap Jasmin yang langsung dibalas anggukkan oleh Matahari.


Dia hanya sedang mencoba menenangkan hati dan pikiran, meraup semangat sebanyak-banyaknya karena jujur saja saat ini dia sudah merasa sangat lelah dengan hidupnya.


Andai Matahari tak mengetahui kelicikan Indira terhadap papanya, mungkin Matahari akan lebih memilih keluar dari rumah meskipun itu artinya dia harus kehilangan kenangan tentang mamanya di rumah ini.


Namun sekarang Matahari tak bisa pergi sebelum dia berhasil membongkar kejahatan Indira.


Sejujurnya diam-diam Matahari meminta bantuan seseorang untuk mencari informasi tentang Indira sebanyak-banyaknya. Dan baru-baru ini Matahari mendapatkan kabar tentang latar belakang Indira dan tujuannya menikah dengan Hadi.


“Non, boleh Mbok masuk? Mbok bawa susu sama makanan buat Non Matahari.”


Mendengar seseorang memanggil, Matahari langsung membuka matanya.

__ADS_1


“Masuk aja, Mbok,” sahut Matahari.


Tak lama setelah itu Simbok masuk ke kamar Matahari dengan membawa nampan berisi segelas susu dan sepiring makanan untuk Matahari.


“Non Matahari harus makan dulu, setelah itu minum obatnya,” ucap Simbok.


Matahari menoleh ke arah nakas tempat makanannya disimpan.


“Iya, Mbok. Nanti Matahari makan. Makasih ya, Mbok,” ucap Matahari.


“Sama-sama, Non. Kalau gitu Mbok pamit ke dapur lagi. Kerjaan Mbok belum beres, Non,” ucap Simbok.


Baru saja beberapa langkah kakinya berjalan, Simbok kembali melihat Matahari yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Wanita tua itu lantas kembali menghampiri Matahari.


“Ada apa, Mbok? Ada yang ketinggalan, ya?” tanya Matahari.


“Bukan, Non. Ini hp Non Matahari. Kemarin temen Non nitipin ini sama Simbok. Dia juga yang bawa Non Matahari ke rumah sakit,” ucap Simbok.


Matahari mengambil ponselnya. Jujur saja dia bahkan tak ingat dengan keberadaan benda pipih itu saking merasa tidak terlalu membutuhkannya.


“Venus ya, Mbok?” tanya Matahari.


“Bukan, Non. Bukan Den Venus. Ini temen Non Matahari yang lain,” jelas Simbok.


Matahari bergeming, tersadar bahwa bukan Venus yang menolongnya kemarin tetapi orang lain. Dan Matahari yakin itu adalah Langit.


“Oh, makasih ya, Mbok.”


Matahari menghidupkan ponselnya lalu membuka ruang chat dengan Langit.

__ADS_1


Me :


[Lo tau gue sakit, tapi kenapa gak jenguk gue?]


__ADS_2