
Matahari bersama Langit dan Venus berjalan tergesa memasuki gedung rumah sakit. Di sana Dokter Kevin sudah menunggu kedatangan mereka sedari tadi.
"Dokter Kevin," panggil Matahari. "Gimana keadaan papa sekarang?" tanyanya kemudian dengan tidak sabar.
"Operasinya masih sedang berjalan. Berdoa saja semoga papa kamu baik-baik saja," jawab Dokter Kevin.
"Bagaimana ini semua bisa terjadi? Bukannya kemarin kondisi papa sudah membaik?" tanya Matahari.
"Justru itu yang ingin saya bicarakan sama kamu," ucap Dokter Kevin.
Sebelah alis Matahari menaik, menatap sang dokter dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa?" tanya Matahari.
Dokter Kevin melihat Langit dan Venus lalu beralih menatap Matahari. Seolah mengerti, Matahari pun menganggukkan kepalanya seraya berkata, "mereka bisa dipercaya kok."
"Mari ke ruangan saya dulu. Saya akan menjelaskan semuanya di sana," ucap Dokter Kevin.
Matahari beserta Langit dan Venus mengikuti Dokter Kevin menuju ke ruangannya. Mereka semua sangat penasaran akan hal penting yang akan sang dokter sampaikan kepada Matahari.
Begitu sudah berada di ruangan Dokter Kevin, sang dokter pun langsung mengambil beberapa lembar kertas hasil pemeriksaan lalu memberikannya kepada Matahari sembari menjelaskannya. Langit dan Venus turut mendengarkan dan menyimak percakapan antara Dokter Kevin dengan Matahari.
"Hasil pemeriksaan menemukan adanya racun di dalam cairan infus papa kamu, Matahari. Kami menduga ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai papa kamu," jelas Dokter Kevin.
"Ra-racun?" ulang Matahari. Dia merasa tak percaya dengan yang didengarnya.
"Gimana bisa itu terjadi?" tanya Matahari dengan suara bergetar.
Matahari memang kecewa kepada Hadi, tetapi dia tidak pernah menginginkan hal buruk terjadi papanya. Justru Matahari ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk sang papa sebelum semesta mengambil nyawanya.
"Bukannya papa kamu dijaga sama tante Indira ya? Gimana bisa seseorang masuk begitu saja ke ruang rawat papa kamu," ucap Venus.
"Kami sudah memeriksa cctv. Ada seorang pria masuk ke ruangan Pak Hadi beberapa saat setelah istri Pak Hadi keluar," jelas Dokter Kevin.
Dokter tampan itu memperlihatkan rekaman cctv yang dia dapatkan kepada Matahari, Langit dan Venus. Benar saja, ada seorang pria paruh baya memasuki ruangan Hadi beberapa menit setelah Indira keluar dari ruangan Hadi.
Dalam rekaman tersebut juga memperlihatkan orang itu menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan infus yang terpasang ke tubuh Hadi. Setelah itu dia pergi dengan terburu-buru dari sana.
"Apa kamu mengenal orang itu, Ay?" tanya Langit kepada Matahari.
__ADS_1
"Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi aku lupa," jawab Matahari.
Gadis itu berusaha mengingat wajah pria jahat yang terasa sangat familiar, namun dia tidak bisa mengingatnya.
"Mungkin kamu ada menaruh curiga sama seseorang?" tanya Dokter Kevin.
"Ada."
"Siapa?" tanya Langit dan Venus secara berbarengan.
"Tante Indira," jawab Matahari.
Ketiga lelaki tampan itu mengerutkan alisnya sembari menatap Matahari dengan sorot yang sulit dijelaskan.
"Kenapa tante Indira? Dia istri papa kamu, Sunny. Apa mungkin tante Indira tega melakukannya?" tanya Venus.
Matahari menatap ketiga lelaki di hadapannya secara bergantian lalu menghela napas panjang. "Aku hanya punya firasat buruk tentang tante Indira," ucapnya kemudian.
"Ah iya. Aku menemukan ini kemarin di ruang kerja papa." Matahari merogoh tasnya, mencari sesuatu di dalam sana.
Setelah mendapatkan benda yang dicarinya Matahari langsung memberikannya kepada dokter Kevin.
"Aku menemukan botol obat jantung milik papa tetapi obat di dalamnya berbeda," ucap Matahari seraya memberikan dua botol obat merek yang sama tetapi isi di dalamnya berbeda kepada Dokter Kevin.
"Baiklah, Matahari, saya akan membawa ini ke laboratorium. Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kita tidak bertindak gegabah untuk menangkap orang yang jahat terhadap Pak Hadi," ucap Dokter Kevin. "Kita akan mengumpulkan bukti-bukti sembari menyelidiki siapa pelakunya."
***
Matahari, Langit dan Venus berjalan menuju ke ruang operasi. Di sana ada Indira dan Bulan yang terlihat cemas menantikan operasi itu selesai.
Bulan melirik sinis kepada Matahari yang datang ditemani oleh Langit dan Venus.
"Dalam keadaan darurat begini masih aja sempat-sempatnya pacaran," cibir Bulan.
Matahari mendelik melirik Bulan. Meski geram, namun Matahari tak berminat meladeni sindiran Bulan. Dia hanya ingin segera mendapat kabar baik tentang operasi papanya.
Indira melirik Matahari namun wanita itu tak mengatakan apa pun. Ketika ponselnya tak berhenti berdering, dia menjauh dari orang-orang untuk menerima telepon dari seseorang.
Tiga jam berlalu namun lampu tanda operasi sedang berjalan masih menyala. Matahari benar-benar cemas akan kondisi papanya sekarang. Dia sangat berharap Tuhan memberi pria paruh baya itu kesempatan untuk menghirup udara segar di dunia ini.
__ADS_1
"Lang, kamu pasti capek. Mending kamu pulang dulu aja, istirahat," ucap Matahari kepada Langit.
"Aku nggak capek kok, Ay. Aku mau di sini temenin kamu," jawab Langit. Dia mengulas senyum manis seraya mengusap puncak kepala Matahari dengan lembut.
"Tapi kayanya ini masih lama. Nggak papa kok kalo kamu mau pulang dulu. Takutnya nanti orang tua kamu nyariin kamu," ucap Matahari lagi.
Mendengar kata orang tua membuat relung hati Langit merasa sedih. Namun, kesedihan itu dapat tertutupi dengan sikap tenang serta senyum manis di bibirnya.
"Mereka nggak bakalan nyariin, kamu tenang aja. Pokoknya aku bakal tetap di sini sama kamu," ucap Langit, lembut.
Langit tersenyum getir, hatinya tercubit. Matahari tidak tahu, tak akan ada yang mencari atau mengkhawatirkan Langit karena dirinya hanya sebatang kara di dunia ini. Menyedihkan, tapi itulah kenyataan.
"Lang, aku takut," gumam Matahari.
"Semua akan baik-baik aja. Papa kamu pasti orang yang kuat, dia akan berhasil melewati semua ini," ucap Langit.
Dia menarik Matahari ke dalam pelukannya, mengusap rambut hitam panjang gadis itu dengan lembut. Menciptakan rasa aman dan nyaman yang sudah lama tak Matahari rasakan sejak hubungannya dengan Venus kandas.
Cemburu. Satu kata itu yang dirasakan oleh Venus dan Bulan melihat interaksi Langit kepada Matahari yang begitu perhatian.
Mata Venus memerah, rahangnya mengeras bersamaan tangan mengepal erat di atas kursi besi yang dia duduki. Rasanya dia tidak rela melihat Matahari menumpahkan kesedihan dan kesaktiannya kepada lelaki lain selain dirinya.
Dan akhirnya lampu operasi padam pertanda aktivitas di dalam ruangan itu sudah selesai. Matahari tak sabar ingin segera menemui dokter untuk menanyakan keadaan papanya sekarang.
"Dokter, gimana operasi papa saya? Apa semuanya berjalan lancar? Gimana keadaan papa saya sekarang, Dok?" tanya Matahari dengan tidak sabar.
"Gimana keadaan suami saya, Dok? Semuanya baik-baik saja kan?" tanya Indira.
"Dok, papa saya baik-baik aja kan, Dok?" tanya Bulan.
Sang dokter bername tag Hendra Irawan itu membuka maskernya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari keluarga pasiennya.
"Operasi berjalan lancar walaupun tadi pasien sempat mengalami pendarahan, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Pasien sudah keluar dari masa kritis, tetapi masih belum sadar," jelas Dokter Hendra.
Matahari, Bulan dan Indira bernapas lega mendengar kabar tersebut. Begitu juga dengan Langit dan Venus yang masih setia di sana menemani Matahari.
"Sebentar lagi perawat akan memindahkan pasien ke ruangan lain," ucap Dokter Hendra lagi.
"Terima kasih, Dokter," ucap Matahari yang dibalas anggukkan oleh sang dokter. Setelah itu Dokter Hendra pun berpamitan pergi.
__ADS_1
Tak lama setelah itu beberapa perawat membawa Hadi menuju ke ruangan lain. Matahari tak sabar ingin segera melihat papanya.
Namun, tepat saat Matahari akan pergi tiba-tiba saja seseorang yang tak dia kenal memanggilnya. Menahan keinginan gadis itu untuk segera melihat keadaan papanya.